Aku pulang tiga hari lebih awal.
Tidak ada yang tahu. Bahkan Laura, istriku, mengira aku masih berada di Surabaya untuk menyelesaikan proyek kantor yang seharusnya baru selesai akhir pekan. Namun, rapat terakhir dibatalkan, pekerjaanku selesai lebih cepat, dan aku memutuskan untuk pulang tanpa memberi kabar. Aku membayangkan malam yang tenang di rumah, secangkir kopi buatan ibuku, dan pelukan Laura setelah hampir dua minggu kami tidak bertemu.
Perjalanan dari bandara menuju rumah terasa biasa saja. Jakarta tetap sibuk seperti biasanya. Lampu kendaraan memantul di jalanan yang basah oleh hujan sore, para pedagang kaki lima masih memenuhi trotoar, dan suara klakson bersahutan dari segala arah. Tidak ada yang tampak berbeda.

Tetapi ketika mobilku berhenti di depan rumah, perasaan aneh mulai muncul.
Aku duduk beberapa menit di balik kemudi, menatap jendela ruang tamu yang gelap. Entah mengapa, aku belum ingin masuk. Rumah itu sunyi. Tidak ada suara televisi yang biasanya dinyalakan ibuku, tidak ada tawa Laura yang sering terdengar hingga ke teras.
Lalu aku mendengar suara pelan dari arah dapur.
Suara sendok yang menyentuh mangkuk.
Aku masuk tanpa bersuara dan berjalan perlahan menuju sumber suara itu.
Pemandangan yang kulihat malam itu mengubah seluruh hidupku.
Ibuku, Marta, duduk di sudut meja makan dengan punggung sedikit membungkuk. Rambutnya yang dulu hitam kini dipenuhi uban. Di depannya hanya ada semangkuk nasi dingin dengan sedikit kecap dan saus Maggi. Tidak ada lauk. Tidak ada sayur.
Sementara itu, Laura duduk tepat di hadapannya. Ia menikmati semangkuk sup iga panas dan sepiring daging semur. Uapnya masih mengepul. Tangannya sibuk menggulir layar ponsel, seolah wanita tua di depannya hanyalah bayangan.
Ketika Laura melihatku, wajahnya sempat berubah.
“Kamu pulang?”
Aku mengangguk singkat.
“Proyeknya selesai lebih cepat.”
“Kenapa tidak bilang dulu?”
“Aku ingin memberi kejutan.”
Laura tersenyum tipis, lalu kembali menatap ponselnya.
Ibuku buru-buru menyembunyikan mangkuknya ke wastafel dan mulai membereskan meja. Seperti biasa, ia selalu berusaha membuat semuanya tampak normal.
Malam itu, aku hampir tidak tidur.
Setelah Laura terlelap, aku membuka laptop dan memeriksa rekening bersama kami. Dalam beberapa bulan terakhir, pengeluaran restoran meningkat drastis. Tagihan makanan di rumah justru turun hampir setengahnya.
Awalnya aku mencoba mencari penjelasan lain. Mungkin Laura sedang sibuk. Mungkin ibuku memang tidak nafsu makan. Mungkin aku terlalu curiga.
Namun, keesokan paginya, semua keraguan itu lenyap.
Aku duduk diam di tangga dan memperhatikan dapur.
Ibuku bangun lebih dulu seperti biasa. Ia merebus air dan membuat kopi. Beberapa menit kemudian, Laura masuk.
“Bu Marta, buatkan telur dan sosis, ya.”
Nada suaranya datar. Tidak ada sapaan.
Ibuku mengangguk.
“Baik.”
Laura duduk sambil memainkan ponselnya. Ketika sarapan siap, ia makan tanpa sekalipun melihat wajah wanita yang memasaknya.
Sementara ibuku hanya mengambil dua potong tempe dingin dan segelas air putih.
Dadaku terasa sesak.
Setelah Laura masuk ke kamar mandi, aku memanggil ibuku ke ruang tamu.
“Sudah berapa lama ini terjadi?”
Ibuku langsung memahami maksudku.
“Tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Ia terdiam beberapa saat.
“Laura sebenarnya baik. Dia hanya sedang banyak pikiran.”
“Bu, jangan lindungi dia.”
Ibuku tersenyum kecil, senyum yang justru membuat hatiku semakin hancur.
“Seorang ibu tidak ingin anaknya bertengkar dengan istrinya.”
Aku menunduk.
Ayah meninggal saat aku masih kuliah. Ibuku bekerja siang malam menjahit pakaian tetangga agar aku dan kedua adikku bisa menyelesaikan sekolah. Saat aku akhirnya sukses sebagai manajer proyek di perusahaan konstruksi, aku berjanji bahwa ia tidak akan pernah hidup susah lagi.
Dan sekarang, di rumah yang kubeli atas namanya, ia makan nasi dingin sendirian.
“Bu, kemasi barang-barang Ibu.”
Ibuku mengangkat kepala.
“Maksudmu?”
“Aku akan membawa Ibu pergi.”
“Tapi ini rumahmu.”
Aku menatap matanya.
“Rumah bukan hanya soal dinding. Rumah adalah tempat seseorang dihargai.”
Saat itulah Laura muncul dari lorong.
“Kalian bicara apa?”
Aku berdiri.
“Kita perlu bicara.”
Laura mengerutkan kening.
“Ada apa?”
Aku menunjuk meja makan.
“Kenapa ibuku makan nasi dingin sementara kamu makan daging?”
Laura tertawa kecil.
“Kamu membesar-besarkan masalah.”
“Jawab pertanyaanku.”
“Itu pilihan ibumu sendiri. Aku tidak pernah melarangnya makan apa pun.”
Aku memandangnya lama.
“Pilihan?”
“Ya. Dia bilang tidak lapar.”
Ibuku buru-buru menyela.
“Sudahlah, Nak. Tidak perlu—”
“Tidak, Bu.”
Laura mulai kehilangan kesabarannya.
“Aku yang mengurus rumah ini saat kamu pergi berminggu-minggu. Aku yang membersihkan semuanya. Kalau ibumu ingin makan sederhana, apa salahku?”
Aku mengangguk pelan.
“Benar. Bukan salahmu jika seseorang ingin hidup sederhana.”
Laura tampak lega mendengar itu.
“Tapi,” lanjutku, “meninggalkan semua pekerjaan rumah kepada perempuan berusia enam puluh delapan tahun sementara kamu menghabiskan uang kami di restoran mewah adalah pilihanmu.”
Wajah Laura berubah pucat.
“Kamu memeriksa rekening?”
“Aku memeriksa semuanya.”
“Jadi sekarang kamu memata-mataiku?”
“Aku hanya mencari tahu kenapa ibuku makan seperti orang asing di rumahnya sendiri.”
Laura melempar ponselnya ke sofa.
“Kamu selalu membela ibumu. Sejak awal pernikahan, aku tidak pernah menjadi prioritas.”
Aku terpaku.
“Tiga tahun lalu, siapa yang memintaku agar ibuku tinggal bersama kita karena ayahmu baru meninggal dan kamu tidak ingin sendirian saat aku bekerja ke luar kota?”
Laura tidak menjawab.
“Siapa yang mengatakan bahwa ibuku seperti ibu kandungmu sendiri?”
Laura menggigit bibir.
“Orang berubah.”
“Ya,” kataku pelan. “Dan hari ini aku melihat perubahan itu.”
Perdebatan berlangsung hampir satu jam. Suara kami semakin keras. Tetangga mulai memperhatikan dari balik pagar.
Akhirnya, Laura menangis.
“Aku lelah hidup seperti ini. Aku lelah berbagi rumah dengan ibumu. Aku ingin hidup bebas.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada apa pun.
Bukan karena marah.
Melainkan karena akhirnya aku mendengar kejujuran.
Selama ini, Laura tidak membenci ibuku. Ia hanya menganggap kehadiran ibuku sebagai beban yang menghalangi kehidupan yang ia inginkan.
“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanyanya.
Aku menatap perempuan yang kunikahi empat tahun lalu. Perempuan yang pernah membuatku percaya bahwa keluarga adalah tempat paling aman di dunia.
Lalu aku menjawab dengan tenang.
“Kita akan berpisah.”
Laura tertawa sinis.
“Hanya karena sepiring nasi?”
Aku menggeleng.
“Bukan. Pernikahan kita berakhir karena aku baru menyadari bahwa rasa hormat dan kasih sayang sudah lama hilang.”
Hari itu, aku membawa ibuku pergi ke apartemen kecil milikku di kawasan Menteng yang selama ini kusewakan. Ibuku menangis sepanjang perjalanan.
“Jangan cerai karena Ibu.”
“Aku tidak bercerai karena Ibu.”
“Lalu karena apa?”
Aku menggenggam tangannya.
“Karena aku tidak mengenali perempuan yang tinggal bersamaku lagi.”
Perceraian kami berlangsung tiga bulan.
Laura tidak melawan. Anehnya, ia justru tampak lega. Kami membagi harta secara adil dan mengakhiri semuanya tanpa drama di pengadilan.
Setelah itu, hidupku berubah.
Aku mulai bekerja dari Jakarta agar lebih sering bersama ibuku. Setiap pagi kami sarapan bersama. Kadang hanya nasi goreng sederhana, kadang bubur ayam dari warung dekat apartemen. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat ibuku makan tanpa terburu-buru.
Kupikir semuanya sudah selesai.
Aku salah.
Enam bulan setelah perceraian, adikku, Dimas, datang menemuiku dengan wajah tegang.
“Aku baru tahu sesuatu.”
“Apa?”
Dia meletakkan sebuah amplop cokelat di meja.
“Aku menemukannya di rumah lama.”
Di dalam amplop itu terdapat beberapa kuitansi rumah sakit atas nama Laura. Tanggalnya dimulai hampir setahun sebelum perceraian kami.
Aku membolak-balik lembaran itu.
Diagnosis gangguan kecemasan berat.
Aku menatap Dimas.
“Apa maksudnya?”
“Aku juga tidak tahu.”
Malam itu, aku mendatangi Laura untuk pertama kalinya sejak perceraian.
Ia tinggal sendirian di apartemen kecil di Tangerang. Tubuhnya tampak lebih kurus. Wajahnya pucat.
Ketika membuka pintu dan melihatku, ia membeku.
“Ada apa?”
Aku mengeluarkan amplop itu.
“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”
Laura terdiam sangat lama.
Lalu ia mempersilahkanku masuk.
Dengan suara pelan, ia akhirnya bercerita.
Setahun sebelum kami bercerai, ia kehilangan bayinya.
Aku merasa dunia berhenti berputar.
“Apa?”
Laura menunduk.
“Aku hamil dua bulan saat kamu mulai sering ke luar kota.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Aku ingin memberitahumu setelah proyekmu selesai. Tapi aku keguguran sebelum sempat mengatakannya.”
Dadaku sesak.
“Kenapa kamu menyembunyikannya?”
“Aku takut kamu menyalahkanku.”
Ia menangis.
“Ayahku baru meninggal saat itu. Kamu selalu bekerja. Aku sendirian di rumah. Aku mulai mengalami serangan panik. Aku makan di luar karena tidak sanggup memasak. Aku menjauh dari ibumu karena setiap kali melihatnya, aku teringat bahwa aku gagal menjadi seorang ibu.”
Aku duduk diam.
Untuk pertama kalinya, potongan-potongan yang selama ini hilang mulai menyatu.
“Aku memang bersikap buruk kepada Bu Marta,” katanya lirih. “Dan aku menyesalinya setiap hari. Tapi aku tidak pernah berniat membuatnya kelaparan. Aku hanya… tenggelam dalam diriku sendiri.”
Aku ingin marah.
Aku ingin menyalahkannya.
Tetapi yang kulihat di hadapanku bukanlah monster.
Hanya seorang perempuan yang terluka, yang menyembunyikan rasa sakitnya hingga semuanya terlambat.
Malam itu, aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Keesokan paginya, aku menceritakan semuanya kepada ibuku.
Ia mendengarkan dalam diam.
Lalu ia berkata pelan, “Ibu sudah tahu.”
Aku menatapnya, tidak percaya.
“Ibu tahu?”
Ibuku mengangguk.
“Laura menangis di kamar Ibu malam setelah dia kehilangan bayinya.”
“Lalu kenapa Ibu tidak pernah bilang?”
Karena ia tersenyum sedih.
“Karena dia memohon kepada Ibu untuk merahasiakannya.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Selama berbulan-bulan, aku yakin bahwa aku telah menyelamatkan ibuku dari seorang istri yang kejam.
Padahal kenyataannya jauh lebih rumit.
Tidak ada orang jahat dalam cerita kami. Hanya orang-orang yang terluka, terlalu bangga untuk meminta pertolongan, dan terlalu diam untuk saling memahami.
Beberapa minggu kemudian, ibuku memasak rendang dan memintaku mengantarkannya ke apartemen Laura.
“Ajak dia makan,” katanya.
“Apa Ibu memaafkannya?”
Ibuku tersenyum.
“Usia membuat seseorang mengerti bahwa memaafkan tidak selalu berarti melupakan. Kadang, itu hanya berarti berhenti membawa beban yang terlalu berat.”
Aku datang membawa makanan itu.
Laura membuka pintu dan terdiam.
“Aku tidak datang untuk kembali,” kataku.
Ia mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
“Tapi ibuku ingin kamu makan malam bersama kami.”
Laura mulai menangis.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku menyadari sesuatu.
Pernikahan kami memang telah berakhir kurang dari satu jam setelah aku melihat semangkuk nasi dingin di atas meja.
Namun, yang benar-benar menghancurkan kami bukanlah nasi itu.
Melainkan semua kesedihan, ketakutan, dan kata-kata yang tidak pernah sempat kami ucapkan.
