Senin pagi selalu menjadi waktu yang paling dibenci Pak Ruben. Bukan karena ia malas bekerja, melainkan karena jalanan Jakarta berubah menjadi lautan kendaraan yang seolah tidak pernah bergerak. Klakson bersahutan, asap knalpot memenuhi udara, dan wajah-wajah lelah memenuhi setiap sudut kota bahkan sebelum matahari benar-benar tinggi.

Pukul enam lewat tiga puluh menit, angkot tua berwarna biru yang dikemudikannya sudah penuh sesak. Di kursi depan duduk seorang pegawai kantoran bernama Dimas yang terus melirik jam tangannya. Di belakangnya ada tiga mahasiswa yang sibuk membuka catatan kuliah. Seorang ibu muda memangku anaknya yang masih tertidur, sementara beberapa buruh dan pedagang kecil berdiri sambil berpegangan pada besi pegangan.
“Pak, agak cepat sedikit, ya. Saya ada ujian jam delapan,” kata seorang mahasiswi dengan nada cemas.
Pak Ruben hanya tersenyum tipis melalui kaca spion.
“Kalau jalanannya mengizinkan, Nak.”
Usianya sudah enam puluh tahun, tetapi tubuhnya masih tegap. Hampir semua orang di trayek itu mengenalnya. Ia bukan sopir yang banyak bicara, tetapi selalu ramah. Jika ada penumpang yang kekurangan uang, ia sering membiarkannya tetap naik. Jika ada lansia atau ibu hamil, ia akan berhenti lebih dekat agar mereka tidak perlu berjalan jauh.
Namun, tak seorang pun di dalam angkot pagi itu tahu bahwa semalaman Pak Ruben hampir tidak tidur.
Malam sebelumnya, putri satu-satunya, Sarah, menelepon dari rumah sakit daerah di Bogor. Suaminya mengalami kecelakaan kerja dan membutuhkan biaya operasi yang tidak sedikit. Tabungan Pak Ruben sudah habis beberapa bulan lalu untuk membayar pengobatan istrinya yang meninggal karena gagal ginjal.
“Pak, kalau memang tidak ada uang, tidak apa-apa,” kata Sarah di telepon sambil menahan tangis.
Pak Ruben hanya menjawab singkat, “Bapak akan cari cara.”
Padahal, ia sendiri baru saja pulang dari puskesmas beberapa hari sebelumnya. Dokter menyarankan agar ia beristirahat karena tekanan darahnya sangat tinggi dan jantungnya menunjukkan tanda-tanda masalah.
“Jangan terlalu memaksakan diri, Pak,” pesan dokter.
Tetapi bagaimana mungkin ia berhenti bekerja? Menjadi sopir angkot adalah satu-satunya penghasilan yang ia miliki.
Pagi itu, sebelum berangkat, ia sempat duduk sendirian di ruang tamu rumah kontrakannya yang sederhana. Di atas meja terdapat foto istrinya yang tersenyum mengenakan kebaya sederhana.
“Maaf, Bu,” bisiknya. “Sepertinya aku belum bisa istirahat.”
Ia lalu mengambil kunci angkot dan berangkat seperti biasa.
Perjalanan awal berlangsung lancar. Penumpang naik dan turun di beberapa halte kecil. Obrolan ringan terdengar dari bangku belakang. Seorang pedagang mengeluh harga sembako yang naik, sementara dua mahasiswa berdebat soal tugas kelompok.
Namun, saat angkot mulai melewati jalan menurun di kawasan pinggiran kota, Pak Ruben merasakan sesuatu yang aneh.
Dadanya mendadak sesak.
Ia menarik napas panjang, berharap rasa sakit itu akan hilang seperti biasanya.
Tetapi kali ini berbeda.
Rasa nyeri menjalar ke lengan kirinya. Pandangannya mulai kabur. Suara para penumpang terdengar semakin jauh.
Tangannya mencengkeram setir lebih kuat.
“Pak, lampu hijau!” teriak seseorang dari belakang.
Pak Ruben mengangguk pelan, tetapi keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Di depannya, jalan menurun tajam. Sebuah truk besar melaju dari arah berlawanan, sementara di sisi kiri terbentang jurang yang cukup dalam.
Dalam hitungan detik, ia menyadari sesuatu yang mengerikan.
Tubuhnya mungkin tidak akan sanggup bertahan.
Ia teringat wajah Sarah. Ia teringat istrinya. Ia teringat cucunya yang baru berusia empat tahun dan selalu meminta dibelikan roti cokelat setiap kali mereka bertemu.
Lalu, tanpa berpikir panjang, ia mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa.
Tangannya memutar setir ke kanan.
Kaki kirinya menginjak rem sekuat mungkin.
Tangan kanannya menarik rem tangan hingga batas terakhir.
Ban angkot berdecit keras sebelum akhirnya berhenti tepat di pinggir jalan.
Beberapa detik kemudian, tubuh Pak Ruben jatuh tertelungkup di atas setir.
Awalnya, para penumpang marah.
“Apa-apaan ini?”
“Pak, saya bisa terlambat kerja!”
“Tidur saat mengemudi?”
Suara-suara kesal memenuhi angkot.
Dimas, pegawai kantoran yang duduk paling depan, bahkan sempat mengumpat pelan. Ia baru saja menerima peringatan dari atasannya minggu lalu karena datang terlambat.
Karena Pak Ruben tidak menjawab, Dimas akhirnya menepuk bahunya.
Tubuh itu langsung terjatuh ke samping.
Warna wajah Pak Ruben membuat darah Dimas serasa berhenti mengalir.
Ia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan sopir itu.
Tidak ada apa pun.
“Pak… Pak Ruben sudah meninggal.”
Kalimat itu membuat suasana berubah seketika.
Mahasiswi yang tadi mengeluh menutup mulutnya sambil menangis. Ibu muda memeluk anaknya erat-erat. Beberapa penumpang yang sebelumnya marah kini berdiri terpaku.
Tak lama kemudian, seseorang menelepon ambulans dan polisi.
Di tengah kepanikan itu, seorang mahasiswa teknik bernama Arga memperhatikan posisi tubuh Pak Ruben.
“Lihat tangannya,” katanya pelan.
Semua mata tertuju pada rem tangan yang masih digenggam erat oleh jemari Pak Ruben yang mulai dingin.
“Kalau beliau tidak menghentikan angkot ini…” suara Arga tercekat.
Tak ada yang sanggup melanjutkan kalimatnya.
Ambulans datang lima belas menit kemudian. Petugas medis hanya bisa menggeleng pelan setelah melakukan pemeriksaan singkat.
Pak Ruben dinyatakan meninggal karena serangan jantung.
Polisi mulai meminta keterangan dari para penumpang. Salah satu petugas memandang jalan menurun di depan mereka dan berkata lirih, “Beliau menyelamatkan banyak nyawa pagi ini.”
Berita itu menyebar jauh lebih cepat daripada kemacetan Jakarta.
Sore harinya, video rekaman dari salah satu penumpang sudah memenuhi media sosial. Ribuan orang membagikannya. Banyak yang terharu mendengar kisah seorang sopir angkot tua yang memilih memikirkan keselamatan penumpangnya di saat-saat terakhir hidupnya.
Namun, bagi Dimas, berita itu terasa seperti pukulan yang sangat keras.
Sepanjang hari, ia tidak bisa melupakan kata-katanya sendiri.
“Apa sih, Pak? Cepat jalan!”
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Malam harinya, setelah mencari informasi dari polisi, ia memberanikan diri mendatangi rumah duka di sebuah gang sempit di Bogor.
Rumah itu jauh lebih sederhana daripada yang ia bayangkan.
Sarah membuka pintu dengan mata sembab.
“Anda salah satu penumpang ayah saya?”
Dimas mengangguk pelan.
Ia melihat foto Pak Ruben yang diletakkan di atas meja kecil, dikelilingi bunga dan lilin.
“Maafkan saya,” ucap Dimas tiba-tiba.
Sarah tampak bingung.
“Saya sempat marah pada beliau pagi tadi.”
Sarah tersenyum tipis, meski air matanya kembali jatuh.
“Bapak memang seperti itu. Beliau selalu lebih memikirkan orang lain.”
Malam itu, Dimas mengetahui banyak hal yang tidak pernah ia bayangkan.
Pak Ruben ternyata tetap bekerja meski dokter melarangnya. Ia masih mencicil utang rumah sakit menantu dan biaya sekolah cucunya. Bahkan seminggu sebelumnya, ia diam-diam menjual cincin peninggalan istrinya.
Dimas pulang dengan hati yang berat.
Keesokan harinya, ia menghubungi para penumpang lain yang sempat berada di angkot itu. Mereka membuat sebuah grup kecil. Awalnya hanya untuk saling bertukar kabar, tetapi perlahan muncul satu gagasan.
Mahasiswi yang kemarin mengeluh menyumbangkan uang tabungannya. Ibu muda itu mengajak teman-temannya ikut membantu. Arga membuat penggalangan dana di internet.
Tak disangka, dalam beberapa hari, ribuan orang ikut berdonasi.
Cerita Pak Ruben telah menyentuh hati banyak orang.
Uang yang terkumpul cukup untuk melunasi biaya rumah sakit menantu Sarah dan membiayai sekolah cucunya selama beberapa tahun ke depan.
Namun, kejutan terbesar datang seminggu setelah pemakaman.
Dimas menerima telepon dari seorang pengacara.
“Apakah Anda salah satu saksi kejadian yang melibatkan Pak Ruben?”
“Iya.”
“Ada sesuatu yang perlu Anda ketahui.”
Ternyata, beberapa bulan sebelumnya, Pak Ruben pernah membantu seorang pria tua yang pingsan di pinggir jalan. Saat itu hujan deras dan semua orang berlalu begitu saja, tetapi Pak Ruben menghentikan angkotnya dan mengantar pria tersebut ke rumah sakit.
Pak Ruben tidak pernah tahu bahwa pria itu adalah pemilik sebuah perusahaan transportasi besar.
Sebelum meninggal karena sakit beberapa minggu lalu, pria tersebut meninggalkan sebuah surat wasiat sederhana. Ia meminta pengacaranya mencari sopir angkot yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Karena Pak Ruben sudah tiada, bantuan itu dialihkan kepada keluarganya.
Sarah menangis ketika mengetahui bahwa biaya pendidikan anaknya akan ditanggung sepenuhnya hingga lulus kuliah.
“Seandainya Bapak masih ada…” bisiknya.
Beberapa bulan berlalu.
Di halte tempat Pak Ruben biasa menunggu penumpang, warga memasang sebuah plakat kecil.
Bukan plakat mewah.
Hanya sebuah tulisan sederhana.
“Untuk Pak Ruben, yang mengorbankan detik terakhir hidupnya demi menyelamatkan orang lain.”
Setiap pagi, Dimas sengaja melewati tempat itu sebelum berangkat kerja. Kadang-kadang, ia melihat para sopir angkot lain berhenti sejenak untuk membaca tulisan tersebut.
Hidup di kota besar membuat orang terbiasa terburu-buru. Terbiasa marah karena keterlambatan beberapa menit. Terbiasa menganggap orang lain sebagai penghalang perjalanan mereka.
Namun, sejak hari itu, Dimas belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kantor atau sekolah mana pun.
Bahwa setiap orang sedang memikul beban yang tidak terlihat.
Bahwa seseorang yang tampak biasa saja mungkin sedang berjuang mempertahankan hidupnya.
Dan bahwa di pagi yang penuh kemacetan itu, seorang sopir angkot tua telah mengajarkan kepada puluhan orang arti pengorbanan, tepat pada saat jantungnya berhenti berdetak untuk selamanya.
