Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu. Jalanan di kawasan elite Pondok Indah dipenuhi pantulan lampu mobil mewah yang baru saja meninggalkan sebuah pesta ulang tahun pengusaha terkenal. Di dalam sebuah SUV hitam, Trixie Prasetyo sibuk memeriksa foto-fotonya di media sosial sambil sesekali mengeluh karena gaun rancangan desainer yang dipakainya terkena cipratan air.
“Lihat, Bojie. Unggahanku baru satu jam, tapi yang memberi komentar baru seratus orang,” katanya sambil mendesah.

Suaminya, Bojie, tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Sabar, Sayang. Besok pasti lebih banyak. Lagi pula, pesta tadi lumayan sukses. Semua orang melihat tas baru yang kamu beli.”
Trixie tersenyum puas. Sejak menikah dengan Bojie, seorang kontraktor yang bisnisnya sedang naik daun, ia sangat menikmati kehidupan sosial kelas atas Jakarta. Setiap akhir pekan diisi dengan pesta, makan malam mewah, dan persaingan diam-diam tentang siapa yang memiliki barang paling eksklusif.
Ketika mobil mereka mendekati gerbang kompleks, Trixie tiba-tiba memekik.
“Berhenti! Berhenti sekarang!”
Bojie menginjak rem mendadak.
Di dekat tempat sampah besar di pinggir jalan, tampak seekor hewan kecil yang menggigil. Tubuhnya kurus, kulitnya merah muda dengan bercak-bercak kehitaman, dan hampir tidak ada bulu sama sekali.
Trixie langsung membuka pintu mobil meski hujan belum reda. Dengan hati-hati, ia mendekati hewan itu sambil memayungi dirinya menggunakan syal mahal yang baru dibelinya di Singapura.
“Ya Tuhan, Bojie! Ini pasti kucing Sphynx!”
Bojie turun dan ikut menatap tak percaya.
“Yang kucing tanpa bulu itu?”
“Iya! Aku pernah lihat di Instagram selebritas. Harganya mahal sekali. Bisa puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah.”
Kucing kecil itu mengeong pelan, terlalu lemah untuk melarikan diri. Trixie segera membungkusnya dengan syal.
“Kasihan sekali. Mungkin dia kabur dari rumah orang kaya.”
Bojie menyeringai. “Kalau memang tidak ada yang mencarinya, berarti sekarang dia milik kita.”
Malam itu, kucing tersebut resmi menjadi anggota baru keluarga mereka. Trixie menamainya Lord Voldemort karena menurutnya wajah kucing itu terlihat misterius dan aristokrat.
Keesokan paginya, rumah besar mereka mendadak sibuk. Trixie memerintahkan para asisten rumah tangga untuk menyiapkan tempat tidur khusus di kamar utama.
“Jangan biarkan dia tidur di lantai. Kulitnya sensitif,” katanya.
Ia bahkan memesan mangkuk makan impor dan mencari artikel tentang cara merawat kucing Sphynx. Meski hanya membaca sekilas, Trixie merasa dirinya sudah menjadi ahli.
Setiap hari, Lord Voldemort diberi potongan salmon Norwegia, daging wagyu, dan vitamin khusus hewan peliharaan premium. AC kamar disetel pada suhu delapan belas derajat karena Trixie yakin hewan mahal harus hidup dalam kenyamanan maksimal.
“Jangan biarkan kakinya menyentuh semen,” katanya kepada Yaya Sari. “Bisa rusak telapak kakinya.”
Yaya Sari, yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun di rumah itu, hanya mengangguk meski dalam hati merasa heran. Menurutnya, kucing itu lebih mirip kucing liar yang sakit daripada hewan eksotis.
Beberapa hari kemudian, Trixie mulai memamerkan Lord Voldemort kepada teman-temannya. Ia mengundang beberapa sosialita ke rumah untuk minum teh sore.
“Lucu sekali,” kata salah satu tamunya sambil memegang tubuh kurus kucing itu.
“Ini ras langka,” jawab Trixie bangga. “Kami menemukannya secara tidak sengaja.”
Seorang tamu lain bertanya, “Sudah dicek ke dokter?”
Trixie tersenyum tipis. “Belum sempat. Tapi lihat saja kulitnya. Sangat unik.”
Para tamu mengangguk, meski sebagian dari mereka tampak ragu.
Sementara itu, Lord Voldemort mulai berubah. Nafsu makannya meningkat. Ia tidak lagi gemetar setiap malam. Luka-luka di kulitnya perlahan mengering. Yang paling aneh, muncul bulu-bulu tipis di sekitar telinga dan punggungnya.
“Bojie, coba lihat,” kata Trixie suatu pagi.
Bojie mendekat dan mengernyit.
“Bukankah kucing Sphynx seharusnya botak?”
“Mungkin ini jenis yang berbeda.”
Mereka tertawa dan melupakan hal itu.
Namun, setiap hari bulu itu tumbuh semakin lebat.
Yaya Sari akhirnya memberanikan diri berbicara.
“Bu, saya takut salah, tapi mungkin sebaiknya dibawa ke dokter hewan.”
Trixie menghela napas panjang.
“Kamu tidak mengerti, Yaya. Kucing mahal memang punya karakteristik berbeda.”
Beberapa hari kemudian, Trixie mengunggah foto terbaru Lord Voldemort ke media sosial. Ia menulis keterangan panjang tentang bagaimana dirinya menyelamatkan seekor kucing langka.
Unggahan itu langsung viral di lingkungan pertemanannya. Banyak yang memuji kebaikannya. Ada pula yang iri karena menganggap Trixie sangat beruntung menemukan hewan bernilai tinggi.
Trixie menikmati semua perhatian itu.
Tetapi semuanya berubah seminggu setelah penemuan tersebut.
Pagi itu, seorang dokter hewan datang ke rumah atas permintaan Bojie yang mulai penasaran. Dokter bernama Arman itu memeriksa Lord Voldemort selama beberapa menit sambil sesekali menahan senyum.
“Bagaimana, Dok?” tanya Bojie.
Dokter Arman melepas sarung tangannya.
“Saya harus mengatakan sesuatu yang mungkin akan mengecewakan Bapak dan Ibu.”
Jantung Trixie berdegup kencang.
“Kucing ini bukan Sphynx.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Maksud Dokter?”
“Ini hanya kucing domestik biasa yang menderita infeksi kulit parah dan kekurangan gizi. Karena kudis, hampir seluruh bulunya rontok. Setelah diberi makanan bergizi dan dirawat dengan baik, tubuhnya pulih sehingga bulunya tumbuh kembali.”
Trixie menatap Lord Voldemort yang sedang tertidur di pangkuannya.
“Jadi… dia bukan kucing mahal?”
Dokter Arman tersenyum lembut.
“Tidak. Tapi dia sangat beruntung bertemu keluarga yang merawatnya.”
Setelah dokter pergi, suasana rumah berubah muram.
Bojie menghitung pengeluaran mereka selama seminggu terakhir dan hampir pingsan. Biaya makanan, vitamin, tempat tidur, mainan, dan perlengkapan lain ternyata mencapai puluhan juta rupiah.
“Kita benar-benar gila,” gumamnya.
Trixie tidak menjawab. Untuk pertama kalinya sejak menemukan kucing itu, ia merasa malu.
Hari-hari berikutnya, ia berhenti mengunggah foto Lord Voldemort. Ia juga menghindari obrolan teman-temannya yang mulai mempertanyakan ras kucing tersebut.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Lord Voldemort yang kini lebih sehat mulai menunjukkan sifat aslinya. Ia suka berlari mengejar bola kecil, tidur di dekat kaki Yaya Sari, dan setiap sore menunggu Trixie pulang dari salon di depan pintu rumah.
Suatu malam, Trixie pulang dalam keadaan lelah setelah bertengkar dengan teman-temannya. Ia baru mengetahui bahwa beberapa orang diam-diam menertawakannya karena salah mengira seekor kucing jalanan sebagai hewan eksklusif.
Begitu memasuki rumah, Lord Voldemort langsung berlari menghampiri dan menggosokkan kepalanya ke kaki Trixie.
Untuk pertama kalinya, Trixie tidak merasa kesal.
Ia duduk di lantai, mengangkat kucing itu, lalu menangis pelan.
“Aku benar-benar bodoh, ya?”
Yaya Sari yang kebetulan lewat tersenyum.
“Bukan bodoh, Bu. Mungkin hanya terlalu sibuk memikirkan apa kata orang.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Trixie.
Sejak kecil, ia memang terbiasa mengejar pengakuan. Ia lahir dari keluarga sederhana dan sering diremehkan oleh teman-temannya yang lebih kaya. Ketika akhirnya berhasil masuk ke lingkungan elite, ia menghabiskan bertahun-tahun untuk membuktikan bahwa dirinya pantas berada di sana.
Tas mahal, mobil mewah, pesta eksklusif, semua dilakukan agar orang lain menghargainya.
Namun seekor kucing jalanan tanpa bulu tiba-tiba membuatnya menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.
Minggu demi minggu berlalu. Bulu Lord Voldemort tumbuh sempurna. Ternyata warnanya abu-abu belang dengan mata kuning cerah. Tidak ada lagi yang tersisa dari penampilannya yang dulu dianggap eksotis.
Anehnya, justru pada saat itulah Trixie semakin menyayanginya.
Ia mulai membiarkan Lord Voldemort bermain di taman, tidur di sofa, bahkan mencuri ikan goreng dari meja makan. Bojie yang awalnya kesal juga diam-diam mulai menyisihkan waktu untuk bermain dengannya sepulang kerja.
Suatu sore, saat mereka sedang menikmati teh di teras, mobil mewah berhenti di depan rumah.
Seorang pria tua turun bersama seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun.
“Permisi,” kata pria itu sopan. “Apakah benar Bapak dan Ibu menemukan seekor kucing di dekat gerbang kompleks beberapa minggu lalu?”
Trixie dan Bojie saling berpandangan.
Anak kecil itu maju dengan mata berkaca-kaca.
“Namanya bukan Lord Voldemort,” katanya pelan. “Namanya Oyen.”
Jantung Trixie berdegup kencang.
Ternyata, Oyen adalah kucing peliharaan keluarga penjaga taman di kompleks sebelah. Beberapa bulan sebelumnya, ia terkena penyakit kulit dan menghilang saat hujan deras. Keluarga itu sudah mencarinya ke mana-mana, tetapi tidak pernah menemukannya.
Anak itu mengeluarkan foto lama dari sakunya. Meski kini bulunya berbeda, tanda kecil di telinga kiri kucing itu sama persis.
Bojie terdiam.
Trixie menatap Lord Voldemort—atau Oyen—yang sedang bermain di halaman.
Anak itu berlutut dan memanggil pelan.
“Oyen.”
Tanpa ragu, kucing itu langsung berlari ke arahnya.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.
Trixie merasakan tenggorokannya tercekat. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa hewan yang selama ini dianggap miliknya ternyata sudah memiliki keluarga yang mencintainya jauh sebelum mereka menemukannya.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menyerahkan Oyen kepada anak itu.
“Rawat dia baik-baik.”
Anak itu memeluk kucingnya erat-erat.
“Terima kasih karena sudah menyelamatkannya.”
Mobil itu akhirnya pergi meninggalkan rumah besar mereka.
Malam itu, Trixie duduk sendirian di ruang tamu yang terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Ia mengira akan merasa kehilangan karena telah menghabiskan begitu banyak uang dan perhatian untuk seekor kucing yang ternyata bukan apa-apa.
Namun yang ia rasakan justru sesuatu yang berbeda.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun mengejar gengsi dan pengakuan, ia merasa telah melakukan sesuatu yang benar tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Bojie duduk di sampingnya.
“Kamu menyesal?”
Trixie menggeleng pelan.
“Tidak. Justru aku baru sadar bahwa selama ini kita terlalu sibuk mencari sesuatu yang mahal sampai lupa menghargai hal-hal sederhana.”
Di luar, hujan kembali turun membasahi jalanan Jakarta, persis seperti malam ketika mereka menemukan seekor kucing kurus di dekat tempat sampah.
Bedanya, kali ini Trixie tidak lagi memikirkan harga, status, atau penilaian orang lain.
Karena seekor kucing jalanan yang dulu ia kira bernilai ratusan juta telah mengajarinya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang: bahwa kasih sayang tidak pernah ditentukan oleh seberapa mahal sesuatu, melainkan oleh ketulusan orang yang merawatnya.
