Sabtu pagi selalu menjadi hari yang paling dibenci Marites. Bukan karena cuaca yang panas atau karena pasar tradisional di ujung gang selalu macet, melainkan karena setiap Sabtu adalah hari penagihan utang. Sejak suaminya pergi entah ke mana enam bulan lalu, meninggalkan dirinya dan dua anak yang masih sekolah, hidup Marites berubah menjadi serangkaian tagihan, pinjaman, dan kebohongan kecil untuk bertahan hidup.
Pagi itu, suara gedoran keras di pagar rumahnya membuat jantungnya hampir copot.
“Marites! Keluar sekarang!”

Suara Aling Susan menggema ke seluruh gang sempit di kawasan pinggiran Jakarta Timur itu. Semua orang mengenal Susan. Perempuan bertubuh besar dengan suara menggelegar itu adalah rentenir yang ditakuti warga. Tak ada yang berani menunggak terlalu lama.
Marites mondar-mandir di ruang tamunya yang sempit. Uang yang seharusnya dipakai untuk membayar cicilan justru habis semalam. Awalnya dia hanya berniat menemani tetangga bermain kartu, tetapi keberuntungan tidak berpihak kepadanya.
“Bagaimana ini…” gumamnya sambil menggigit bibir.
Gedoran semakin keras.
“Sudah tiga bulan! Jangan pikir aku bisa dibohongi terus!”
Marites melirik televisi yang masih menyala. Semalam dia menonton film horor sampai larut. Tiba-tiba sebuah ide konyol muncul di kepalanya.
Sepuluh menit kemudian, pintu rumah terbuka perlahan.
Rambut Marites kusut tak beraturan. Matanya melotot hingga hanya bagian putihnya yang terlihat. Mulutnya dipenuhi busa pasta gigi.
Susan yang berdiri di depan pagar langsung membeku.
“Hei, kamu kenapa?”
Marites menggeram pelan.
“Aku bukan Marites…”
Suaranya dibuat berat dan serak.
“Aku adalah Valak! Aku datang dari alam kegelapan!”
Beberapa tetangga yang mendengar keributan segera keluar rumah. Dalam hitungan menit, gang kecil itu dipenuhi orang-orang penasaran.
Marites semakin bersemangat. Dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai, merangkak, lalu berteriak dengan bahasa yang bahkan dia sendiri tidak mengerti.
“Ekspektra Patronum! Wingardium Leviosa! Lorem ipsum dolor sit amet!”
Para ibu-ibu saling berpegangan.
“Ya Tuhan! Dia bicara bahasa kuno!”
“Panggil ustaz!”
“Panggil dukun!”
Susan mundur beberapa langkah. Utang tiga juta rupiah yang tadi begitu penting mendadak terlupakan.
Di tengah kepanikan itu, datanglah Pak RT sekaligus kepala lingkungan, Pak Tiyago. Lelaki berusia lima puluhan itu terkenal tenang dan sulit ditipu.
“Ada apa ini?” tanyanya sambil menembus kerumunan.
“Pak, Marites kerasukan!”
Pak Tiyago menatap perempuan yang berguling-guling di lantai itu. Sekilas, dia melihat mata kiri Marites terbuka sedikit, mengintip reaksi orang-orang.
Pak Tiyago langsung mengerti.
Dia menahan senyum.
“Hm,” katanya pelan sambil mengusap dagu. “Ini bukan sembarang kerasukan.”
Semua orang menelan ludah.
“Ini tingkat lima.”
“Ya ampun…” bisik seseorang.
“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan, Pak?” tanya seorang petugas keamanan kompleks.
Pak Tiyago berpura-pura berpikir keras. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan berkata dengan suara lantang, “Kalau memang setan tingkat lima, kita harus panggil tim khusus dari kecamatan.”
Marites yang masih merangkak mendadak berhenti sesaat.
Tim khusus?
Dia tidak pernah mendengar ada tim semacam itu.
“Benarkah, Pak?” tanya Susan.
“Tentu. Mereka punya alat pendeteksi roh.”
Warga langsung gempar.
Pak Tiyago sengaja melanjutkan, “Tapi ada satu masalah. Biasanya, sebelum tim datang, orang yang kerasukan harus dibawa ke balai warga dan diikat agar tidak melukai siapa pun.”
Mata Marites membelalak.
Diikat?
Dia tidak memperhitungkan bagian itu.
Dua petugas keamanan mulai mendekat membawa tali tambang.
Marites buru-buru kembali berakting.
“Jangan sentuh aku! Aku penguasa kegelapan!”
Pak Tiyago mengangguk serius.
“Lihat? Setannya mulai panik.”
Warga semakin yakin.
Dua petugas itu mengangkat tubuh Marites yang kini benar-benar ketakutan. Dia dibawa ke balai warga sambil terus menggeram dan berteriak.
Anak-anak mengikuti dari belakang dengan wajah penasaran.
Sesampainya di balai warga, suasana semakin ramai. Ada yang merekam dengan ponsel, ada yang menelepon kerabat, bahkan ada yang mulai menulis status di media sosial.
Dalam waktu kurang dari satu jam, video “Marites kerasukan setan” sudah menyebar ke mana-mana.
Marites duduk di kursi plastik dengan tangan terikat longgar. Keringat dingin membasahi punggungnya.
Dia mulai menyesali idenya sendiri.
Susan berdiri beberapa meter darinya.
“Kasihan juga dia,” kata Susan pelan.
“Kasihan apanya?” sahut seorang ibu. “Kemarin dia masih belanja lipstik baru.”
Pak Tiyago hanya diam sambil memperhatikan.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering.
Dia menjawab panggilan itu, lalu wajahnya berubah serius.
“Baik, Pak. Saya mengerti.”
Semua orang langsung menoleh.
“Ada apa, Pak?”
Pak Tiyago memasukkan ponselnya ke saku.
“Barusan saya mendapat perintah dari lurah.”
Suasana mendadak hening.
“Katanya, hari ini ada inspeksi mendadak dari dinas sosial. Mereka sedang mencari warga yang benar-benar membutuhkan bantuan untuk program baru pemerintah.”
Marites yang tadinya pura-pura kerasukan langsung memasang telinga.
Pak Tiyago melanjutkan, “Petugas akan datang ke sini dalam lima belas menit.”
Warga mulai berbisik-bisik.
“Kalau begitu, bagaimana dengan Marites?”
Pak Tiyago memandangnya lama.
“Nah, itu masalahnya. Kalau dia memang kerasukan, tentu dia harus dibawa ke rumah sakit jiwa untuk diperiksa. Tapi kalau ternyata dia hanya pura-pura…”
Kalimat itu menggantung.
Marites merasakan tenggorokannya kering.
Selama beberapa detik, tak ada yang berbicara.
Lalu, tiba-tiba, Pak Tiyago berkata dengan suara tegas, “Cepat lepaskan talinya. Suruh dia lari ke rumah dan bersiap. Petugas dari dinas sosial hanya membantu orang yang masih bisa bekerja dan mengurus keluarganya.”
Seolah tersambar petir, Marites langsung berdiri.
“Apa? Petugas bantuan?”
Seluruh warga terdiam melihat perubahan yang terjadi begitu cepat.
Beberapa detik sebelumnya dia mengaku sebagai penguasa kegelapan, tetapi kini matanya kembali normal.
“Astaga…” bisik Susan.
Marites sadar bahwa dia baru saja membuat kesalahan besar.
Dia buru-buru memegangi kepalanya.
“Eh… setannya… sudah pergi.”
“Pergi?” tanya Pak Tiyago polos.
“Iya. Tadi dia bilang ada urusan lain.”
Seorang anak kecil tertawa keras.
“Setannya takut sama bantuan pemerintah!”
Kerumunan langsung meledak oleh tawa.
Wajah Marites merah padam.
Dia berdiri kikuk di tengah balai warga, sementara semua orang mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Susan menyilangkan tangan di dada.
“Jadi selama ini kamu bohong?”
Marites menunduk.
Tidak ada lagi yang bisa dia katakan.
Pak Tiyago meminta semua orang pulang. Setelah balai warga mulai sepi, hanya tersisa Marites, Susan, dan beberapa pengurus lingkungan.
Tak disangka, Susan duduk di samping Marites.
“Kenapa sampai begini?”
Pertanyaan sederhana itu membuat pertahanan Marites runtuh.
Air matanya jatuh begitu saja.
Dia menceritakan semuanya. Tentang suaminya yang pergi tanpa kabar. Tentang anak sulungnya yang membutuhkan uang sekolah. Tentang pekerjaannya mencuci pakaian yang semakin sepi. Tentang rasa malu karena terus meminjam uang.
“Semalam aku kalah main kartu karena berharap bisa menggandakan uang,” katanya sambil terisak. “Aku tahu aku salah.”
Susan terdiam cukup lama.
Tak ada yang tahu bahwa beberapa tahun lalu, Susan juga pernah berada di posisi yang sama. Suaminya meninggal mendadak, meninggalkan utang besar. Dia bertahan hidup dengan meminjam uang dari mana-mana sampai akhirnya membuka usaha pinjaman kecil-kecilan.
“Kalau aku marah, bukan karena uangnya,” kata Susan pelan. “Aku marah karena kamu terus berbohong.”
Marites tidak berani mengangkat kepala.
Pak Tiyago yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara.
“Sebenarnya, telepon dari lurah tadi bukan soal bantuan sosial.”
Marites dan Susan menoleh bersamaan.
“Lalu?”
Pak Tiyago tersenyum kecil.
“Tidak ada petugas yang akan datang.”
Marites tercengang.
“Jadi…?”
“Aku hanya ingin melihat seberapa jauh kamu mau mempertahankan sandiwaramu.”
Marites menutup wajahnya karena malu.
Namun Pak Tiyago belum selesai.
“Tapi ada satu hal yang benar.”
“Apa?”
“Kemarin malam, pengurus RT memang baru menerima dana pelatihan kerja untuk warga yang kesulitan ekonomi. Kami mencari orang-orang yang benar-benar ingin mengubah hidupnya.”
Marites menatapnya dengan mata sembab.
“Kalau kamu mau berhenti mencari jalan pintas dan mulai bekerja sungguh-sungguh, namamu masih bisa dimasukkan.”
Perempuan itu terdiam lama.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, seseorang memberinya kesempatan, bukan sekadar omelan.
Susan berdiri dan menghela napas.
“Utangmu tetap harus dibayar.”
Wajah Marites kembali pucat.
“Tapi bayarlah sedikit demi sedikit. Jangan main kartu lagi.”
Marites mengangguk cepat.
Beberapa minggu kemudian, hidupnya mulai berubah. Dia mengikuti pelatihan memasak yang diadakan kelurahan. Dengan bantuan tetangga, dia mulai berjualan sarapan di depan rumah.
Usahanya kecil, tetapi perlahan berkembang.
Setiap pagi, Susan sengaja mampir membeli lontong sayur. Pak Tiyago sering membantu mempromosikan dagangannya kepada warga.
Anak-anak Marites pun kembali bisa sekolah dengan tenang.
Video dirinya saat pura-pura kerasukan masih sesekali muncul di media sosial. Anak-anak di gang sering menggoda, “Hati-hati, nanti Valaknya datang!”
Awalnya Marites malu setengah mati. Namun lama-kelamaan, dia ikut tertawa.
Suatu sore, ketika sedang membereskan gerobaknya, anak bungsunya bertanya, “Bu, waktu itu Ibu benar-benar kerasukan?”
Marites tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
“Bukan.”
“Lalu kenapa Ibu melakukannya?”
Marites memandang langit yang mulai jingga.
“Karena kadang-kadang, orang yang terlalu takut menghadapi masalah bisa melakukan hal paling bodoh.”
Anaknya mengangguk meski belum sepenuhnya mengerti.
Dari kejauhan, terdengar suara Susan memanggil untuk membeli gorengan.
Marites tertawa kecil. Hari-hari penagihan yang dulu selalu membuatnya gemetar kini berubah menjadi pengingat bahwa kebohongan sekecil apa pun pada akhirnya akan terbongkar.
Dan sejak hari ketika “setan” dalam dirinya tiba-tiba sembuh karena satu perintah dari Pak Tiyago, seluruh kampung sepakat pada satu hal: ternyata yang paling menakutkan bukanlah roh jahat, melainkan utang yang jatuh tempo setiap hari Sabtu.
