Besok paginya, langit Jakarta masih diselimuti kabut tipis ketika aku berangkat menuju Puncak. Selama perjalanan, Mas Budi beberapa kali mengirim pesan.
“Sayang, hari ini aku lembur. Jangan tunggu makan malam.”
Aku membaca pesan itu tanpa sedikit pun emosi.

Lelaki yang selama ini kupanggil imam ternyata masih sanggup berbohong bahkan ketika seluruh kebohongannya sudah terbuka di depan mataku.
Aku hanya membalas singkat.
“Hati-hati di jalan.”
Tidak lama kemudian muncul balasan dengan emoji hati.
Aku menatap layar ponsel beberapa detik sebelum mematikannya.
Ironis sekali.
Lelaki yang sedang bersiap menikahi perempuan lain masih sempat mengirim simbol cinta kepada istrinya yang sedang mengandung tujuh bulan.
Sesampainya di sebuah resort mewah di kawasan Puncak, udara pegunungan terasa dingin. Beberapa pekerja sedang sibuk memasang rangkaian bunga putih dan lampu gantung kristal.
Pernikahan itu memang dirancang sangat mewah.
Aku turun dari mobil sambil membawa kotak besar berisi gaun pengantin.
Indah sudah menungguku.
Ia lebih muda dariku, cantik, berpakaian sederhana, dan wajahnya dipenuhi senyum antusias.
“Mbak Siti!”
Ia memelukku hangat.
Pelukan yang membuatku hampir muntah karena muak.
“Aku sudah tidak sabar melihat hasil akhirnya.”
Aku hanya mengangguk.
“Ayo kita mulai fitting.”
Indah mengenakan gaun itu perlahan.
Saat resleting terakhir kutarik, ia berdiri di depan cermin.
Matanya langsung berkaca-kaca.
“Masya Allah… ini lebih indah dari yang kubayangkan.”
Aku menatap pantulan dirinya.
Gaun itu memang sempurna.
Tubuhnya terlihat anggun.
Namun dalam pikiranku hanya ada satu kalimat.
Gaun itu dijahit oleh istri dari calon suamimu sendiri.
Beberapa menit kemudian, seorang pria masuk ke ballroom.
Aku mengenali langkah kaki itu bahkan sebelum melihat wajahnya.
Mas Budi.
Ia membeku.
Kotak cincin yang sedang dipegangnya hampir terjatuh.
Wajahnya berubah pucat.
“Siti…”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Indah menoleh sambil tersenyum.
“Kalian saling kenal?”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku tersenyum tenang.
“Tentu.”
Mas Budi segera memotong.
“Sayang… dengarkan dulu…”
Indah mengernyit.
“Sayang?”
Ia menoleh bergantian ke arah kami.
Aku mengeluarkan buku nikah dari dalam tas.
Lalu meletakkannya di atas meja.
“Perkenalkan. Saya Siti.”
Aku menarik napas panjang.
“Istri sah Mas Budi selama tujuh tahun.”
Suara benda jatuh terdengar keras.
Kotak cincin itu benar-benar terlepas dari tangan Mas Budi.
Wajah Indah kehilangan warna.
Ia menatap buku nikah.
Lalu melihat perutku yang membesar.
Tatapannya berubah menjadi kebingungan.
“Ini… ini pasti salah…”
Mas Budi mencoba mendekat.
“Siti, tolong jangan lakukan ini.”
Aku mundur satu langkah.
“Kenapa? Bukankah hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia untuk kalian?”
Indah mulai gemetar.
“Mas… apa yang dia katakan benar?”
Mas Budi terdiam.
Ia tidak mampu menjawab.
Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Air mata Indah langsung mengalir.
“Kamu bilang sudah duda dua tahun!”
Mas Budi memejamkan mata.
“Aku bisa jelaskan.”
“Jelaskan apa?”
Suara Indah mulai meninggi.
“Kamu bilang mantan istrimu meninggal karena sakit!”
Semua pekerja dekorasi berhenti bekerja.
Wedding organizer ikut mendekat.
Suasana berubah kacau.
Aku mengeluarkan beberapa lembar hasil cetakan email.
“Aku rasa kalian berdua sama-sama pantas mengetahui semuanya.”
Aku menyerahkan sebagian kepada Indah.
Sebagian lagi kuberikan kepada wedding organizer.
Di dalam email itu bukan hanya terdapat rencana pernikahan.
Ada juga percakapan Mas Budi dengan perempuan lain.
Bukan hanya Indah.
Ada nama berbeda.
Rina.
Maya.
Clara.
Tanggalnya tersebar selama beberapa tahun terakhir.
Indah membaca satu per satu.
Tangannya bergetar semakin hebat.
“Ini… siapa mereka?”
Aku menatap Mas Budi.
“Mungkin suamiku lebih mampu menjelaskan.”
Mas Budi berusaha merebut kertas itu.
Namun Indah langsung mendorongnya.
“Jangan sentuh aku!”
Tangisnya pecah.
“Aku meninggalkan keluargaku demi kamu!”
Mas Budi mulai panik.
“Semuanya tidak seperti yang kalian pikirkan.”
Aku tertawa pelan.
“Lima tahun selingkuh. Mau dijelaskan seperti apa lagi?”
Indah terduduk di lantai.
Ia memegang kepalanya.
“Aku benar-benar tidak tahu kalau dia masih punya istri.”
Aku memperhatikannya.
Untuk pertama kalinya aku melihat rasa sakit yang tulus di wajah perempuan itu.
Ia ternyata juga korban.
Mas Budi selama ini tidak hanya membohongiku.
Ia juga membohonginya.
Bahkan mungkin membohongi banyak perempuan lain.
Wedding organizer menghampiri kami.
“Pak Budi, apakah acara ini tetap dilanjutkan?”
Belum sempat ia menjawab, Indah berdiri.
“Tidak.”
Suara itu tegas.
“Batalkan semuanya.”
Mas Budi langsung menggenggam lengannya.
“Indah, jangan seperti ini.”
Indah menepis tangan itu.
“Jangan pernah menyentuhku lagi.”
Aku mengira semuanya sudah selesai.
Namun ternyata Tuhan masih menyimpan kejutan lain.
Saat aku hendak meninggalkan ballroom, seorang perempuan paruh baya datang tergesa-gesa.
Aku mengenalnya.
Bu Rahayu.
Ibu kandung Mas Budi.
Wajahnya tampak bingung melihat kekacauan itu.
“Ada apa ini?”
Indah menangis sambil menyerahkan buku nikahku.
Wanita tua itu membaca beberapa detik.
Lalu menoleh ke arah anaknya.
“Budi… apa ini?”
Mas Budi hanya menunduk.
Tamparan keras langsung mendarat di pipinya.
Semua orang terdiam.
“Ayahmu dulu menghancurkan hidup ibuku dengan cara yang sama.”
Suara Bu Rahayu bergetar.
“Aku membesarkanmu sendirian supaya kamu tidak menjadi laki-laki seperti ayahmu.”
Air mata beliau mengalir.
“Ternyata kamu bahkan lebih buruk.”
Mas Budi akhirnya ikut menangis.
“Ibu… maafkan aku…”
“Jangan minta maaf kepadaku.”
Beliau menunjuk ke arahku.
“Minta maaf kepada istrimu.”
Mas Budi berjalan perlahan menghampiriku.
Ia berlutut.
“Siti… aku salah.”
Aku menatap lelaki itu lama.
Dulu, melihatnya berlutut mungkin sudah cukup membuatku memaafkan semuanya.
Namun hari itu…
Tidak ada lagi cinta yang tersisa.
Hanya luka.
Aku berkata pelan.
“Aku memaafkanmu.”
Wajahnya langsung berbinar.
Namun aku melanjutkan kalimatku.
“Aku memaafkanmu bukan supaya kita kembali bersama.”
Harapannya langsung runtuh.
“Aku memaafkanmu supaya aku bisa hidup tanpa terus membawa kebencian.”
Aku mengusap perutku.
“Anakku tidak pantas tumbuh bersama ayah yang menjadikan kebohongan sebagai cara hidup.”
Aku berbalik meninggalkan ballroom.
Di belakangku terdengar suara tangisan.
Suara kursi bergeser.
Suara orang-orang membereskan dekorasi yang tak jadi dipakai.
Tidak ada pesta.
Tidak ada pengantin.
Tidak ada musik.
Yang tersisa hanyalah bunga-bunga putih yang perlahan layu sebelum sempat menjadi saksi sebuah pernikahan.
Tiga bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat.
Aku menamainya Ibrahim.
Anak itu lahir sehat dengan tangisan yang begitu keras, seolah menghapus seluruh kesedihan yang pernah kualami.
Proses perceraianku berjalan tanpa banyak perlawanan.
Mas Budi tidak pernah mempersulit.
Ia menyerahkan hak asuh sepenuhnya kepadaku dan tetap diwajibkan memenuhi tanggung jawabnya sebagai ayah.
Beberapa minggu setelah melahirkan, aku menerima sebuah paket.
Di dalamnya terdapat gaun pengantin yang pernah kujahit.
Disertai sepucuk surat.
“Siti,
Aku mengembalikan gaun ini karena gaun itu tidak pernah menjadi milikku.
Terima kasih karena tanpa sengaja kau telah menyelamatkanku dari lelaki yang salah.
Aku juga memilih mengakhiri hubungan itu selamanya.
Semoga suatu hari nanti kita sama-sama menemukan kebahagiaan yang lebih pantas.
Maafkan aku karena tanpa sadar pernah menjadi bagian dari lukamu.
Indah.”
Aku menutup surat itu perlahan.
Lalu kulipat gaun tersebut dengan hati-hati.
Aku tidak membuangnya.
Aku menyimpannya sebagai pengingat bahwa karya yang dibuat dengan cinta tidak selalu berakhir pada kisah yang indah.
Beberapa tahun kemudian, butik kecilku berkembang menjadi salah satu studio gaun pengantin yang cukup dikenal.
Banyak calon pengantin datang membawa impian mereka.
Dan setiap kali mengukur sehelai kain putih, aku selalu berdoa dalam hati.
Semoga gaun yang kujahit kali ini benar-benar mengantarkan seseorang menuju cinta yang jujur, bukan menuju kebohongan yang dibungkus janji manis.
Karena aku telah belajar bahwa pengkhianatan memang mampu menghancurkan sebuah rumah tangga dalam sekejap.
Namun kejujuran, keberanian, dan harga diri mampu membangun kembali kehidupan yang jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
