IBU TIRIKU MEMAKSAKU MENIKAH DENGAN SEORANG PEMULUNG DEMI MEREBUT WARISAN AYAH DAN MEMPERMALUKANKU DI DEPAN PARA PEJABAT JAKARTA. TAPI SAAT “PENGEMIS” ITU MELEPAS PENYAMARANNYA DI DEPAN PENDETA, SEMUA ORANG LANGSUNG BERLUTUT KETAKUTAN!

Suara bariton pria itu bergema lembut, namun cukup kuat hingga membuat seluruh isi katedral membisu. Bahkan Pendeta yang sejak tadi memegang Alkitab tampak terpaku, seolah merasakan sesuatu yang tidak biasa dari sosok pria yang berdiri di hadapannya.

Aku menatap wajahnya tanpa berkedip.

Wajah yang tadi dipenuhi debu kini berubah menjadi wajah seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan rahang tegas, mata tajam, dan sorot yang memancarkan ketenangan luar biasa.

Namun sebelum aku sempat bertanya siapa dirinya sebenarnya, terdengar suara tawa mengejek dari bangku paling depan.

“Hebat juga. Habis cuci muka tetap saja pemulung,” sindir Indah sambil bertepuk tangan.

Beberapa tamu ikut tertawa.

Ratih tersenyum sinis.

“Mau setampan apa pun dia, tetap saja orang miskin.”

Pria itu tidak bereaksi sedikit pun.

Ia hanya memandang Pendeta.

“Maaf, Pendeta. Upacara ini tetap bisa dilanjutkan.”

Pendeta mengangguk perlahan, meski masih tampak kebingungan.

Saat Pendeta hendak melanjutkan pemberkatan, pintu utama katedral mendadak terbuka.

Suara langkah kaki yang teratur memenuhi ruangan.

Lebih dari dua puluh pria dan wanita mengenakan setelan hitam memasuki gereja dengan rapi.

Mereka bukan polisi.

Bukan pula pengawal biasa.

Cara mereka berjalan menunjukkan disiplin yang luar biasa.

Seluruh tamu spontan menoleh.

Salah seorang di antara mereka berjalan menuju altar sambil membawa sebuah koper hitam.

Begitu tiba di hadapan pria yang selama ini dipanggil Budi, seluruh rombongan langsung membungkukkan badan hampir sembilan puluh derajat.

“Selamat pagi, Tuan Adrian.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ratih mengernyit.

“Adrian?”

Indah tertawa.

“Apaan lagi sandiwara ini?”

Pria itu menghela napas pelan.

“Aku memang memperkenalkan diri sebagai Budi.”

Ia membuka jas lusuh yang dikenakannya.

Di balik pakaian compang-camping itu ternyata terdapat setelan formal berwarna abu-abu gelap yang masih sangat rapi.

Salah seorang pengawal menyerahkan sebuah jam tangan mewah.

Begitu jam itu melingkar di pergelangan tangannya, auranya berubah seketika.

Aku bahkan tanpa sadar mundur setapak.

Pria yang tadi tampak seperti pemulung kini terlihat seperti seseorang yang terbiasa memimpin ribuan orang.

Ratih mulai kehilangan senyumnya.

“Apa… apa maksud semua ini?”

Pria itu menatapnya tanpa emosi.

“Perkenalkan.”

Namanya ternyata bukan Budi.

Melainkan Adrian Prasetyo.

Nama itu membuat beberapa pengusaha senior langsung berdiri dari kursinya.

Salah satu di antaranya bahkan menjatuhkan gelas hingga pecah.

“Mustahil…”

“Itu… Adrian Prasetyo?”

“Pemilik Arka Nusantara Group?”

Bisik-bisik mulai memenuhi ruangan.

Aku sama sekali tidak mengenal nama itu.

Namun dari raut wajah semua orang, aku tahu pria di sampingku bukan orang biasa.

Ratih masih mencoba tertawa.

“Kalau benar sehebat itu, kenapa menyamar jadi pemulung?”

Adrian tersenyum tipis.

“Karena saya ingin melihat siapa yang masih memiliki hati.”

Ia menoleh kepadaku.

“Dan ternyata saya menemukannya.”

Aku memandangnya bingung.

“Aku tidak mengerti…”

“Ayahmu pernah menyelamatkan hidupku dua puluh tahun lalu.”

Aku terdiam.

Adrian melanjutkan.

“Saat perusahaan ayahku bangkrut, semua orang meninggalkan kami. Hanya ayahmu yang tetap membantu. Beliau tidak pernah meminta balasan.”

Ia mengeluarkan sebuah surat tua dari dalam koper.

“Itu sebabnya sebelum beliau meninggal, beliau datang menemuiku.”

Dadaku berdegup kencang.

“Beliau memintaku melakukan satu hal.”

Adrian menyerahkan surat itu kepadaku.

Tulisan tangan Ayah langsung membuat air mataku jatuh.

“Jika suatu hari Putri berada dalam bahaya, lindungilah dia. Jangan biarkan siapa pun merampas masa depannya.”

Tanganku gemetar.

Surat itu benar-benar tulisan Ayah.

Ratih mendadak berteriak.

“Itu palsu!”

Namun belum sempat ia mendekat, seorang pria tua berkacamata memasuki gereja.

Aku langsung mengenalinya.

Notaris keluarga.

Pak Herman.

Ia mengangkat sebuah map bersegel.

“Maaf, Ibu Ratih.”

Suara beliau terdengar tegas.

“Yang palsu justru surat wasiat yang selama ini Ibu gunakan.”

Seluruh tamu langsung gaduh.

Ratih memucat.

“Apa maksud Anda?”

Pak Herman membuka dokumen asli.

“Surat wasiat asli baru boleh dibuka apabila Putri telah menikah.”

Ratih berteriak.

“Tidak mungkin!”

“Di dalamnya dijelaskan bahwa seluruh saham perusahaan memang diwariskan kepada Putri.”

Beliau berhenti sejenak.

“Namun terdapat syarat lain.”

Semua orang menunggu.

“Jika dalam waktu satu tahun setelah kematian Pak Wijaya terdapat upaya pemalsuan dokumen, intimidasi terhadap ahli waris, atau penyalahgunaan jabatan oleh pengurus perusahaan, maka seluruh pelaku otomatis kehilangan hak atas seluruh aset keluarga.”

Wajah Ratih berubah pucat pasi.

Pak Herman mengeluarkan beberapa berkas lagi.

“Kami juga telah menerima rekaman suara, bukti transfer, ancaman kepada Putri, serta bukti percobaan penghentian biaya pengobatan neneknya.”

Aku memandang Adrian.

“Kamu…”

Ia mengangguk.

“Sudah tiga minggu semua aktivitas mereka dipantau.”

Ratih mencoba kabur.

Namun dua penyidik dari Direktorat Tindak Pidana Ekonomi yang sejak tadi duduk sebagai tamu berdiri menghentikannya.

“Ibu Ratih.”

“Kami memiliki surat perintah pemeriksaan.”

Indah mulai menangis.

“Bukan salahku!”

Penyidik itu menjawab tenang.

“Saudari Indah juga diduga ikut terlibat dalam pemalsuan dokumen dan penggelapan dana perusahaan.”

Jeritan mereka menggema di dalam gereja.

Semua kamera wartawan kini berbalik mengarah kepada Ratih dan Indah.

Ironis.

Mereka mengundang media untuk mempermalukanku.

Kini justru mereka sendiri yang menjadi berita utama.

Di tengah kekacauan itu, Pendeta tersenyum lembut.

“Apakah kalian masih ingin melanjutkan pemberkatan?”

Aku menoleh kepada Adrian.

“Kenapa kamu benar-benar bersedia menikah denganku? Bukankah ini hanya permintaan Ayah?”

Ia memandangku beberapa detik.

“Awalnya memang begitu.”

“Awalnya?”

“Aku sengaja mendekatimu sebagai pemulung.”

Aku terkejut.

“Aku ingin tahu apakah putri dari sahabat lamaku masih memiliki hati seperti ayahnya.”

Ia tersenyum kecil.

“Kamu memberiku makanan ketika mengira aku benar-benar pemulung.”

Aku teringat beberapa minggu lalu.

Saat pulang dari rumah sakit nenek, aku pernah memberikan kotak makan siang kepada seorang pria lusuh di pinggir jalan.

Ternyata…

Itu dia.

“Aku juga melihatmu diam-diam membayar biaya sekolah seorang anak tukang parkir.”

Air mataku kembali jatuh.

“Aku melihatmu membantu orang tanpa pernah berharap dipuji.”

Adrian menggenggam tanganku.

“Dan saat dipaksa menikah dengan orang yang kau kira pemulung, yang kau tangisi bukan hartamu.”

Ia tersenyum hangat.

“Kau menangisi makam ibumu dan keselamatan nenekmu.”

“Itulah alasan aku tidak mundur.”

Pendeta kembali bertanya.

“Apakah kalian bersedia?”

Aku menatap Adrian.

Untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, aku merasa benar-benar aman.

“Aku bersedia.”

“Aku juga bersedia.”

Beberapa tamu mulai bertepuk tangan.

Banyak yang menangis.

Setelah pemberkatan selesai, Adrian mengajakku keluar dari gereja.

Di halaman, puluhan kendaraan hitam telah menunggu.

Aku baru sadar bahwa semua pengawal tadi bukan sekadar pengawal pribadi.

Mereka berasal dari berbagai perusahaan yang bekerja sama dengannya.

Di perjalanan menuju rumah sakit untuk menemui Nenek, Adrian berkata pelan,

“Ada satu hal lagi yang belum kau ketahui.”

“Apa?”

“Enam bulan lalu dokter mendiagnosisku mengidap penyakit yang kemungkinan besar tidak bisa disembuhkan.”

Aku menoleh kaget.

“Tapi setelah bertemu denganmu, aku memutuskan menjalani pengobatan yang selama ini kutolak.”

Aku menggenggam tangannya lebih erat.

“Kita hadapi bersama.”

Ia tersenyum.

“Ternyata ayahmu benar.”

“Tentang apa?”

“Bahwa kekayaan terbesar bukan perusahaan, melainkan seseorang yang tetap memilih berbuat baik saat hidupnya sedang dihancurkan.”

Setahun kemudian, Ratih dan Indah dijatuhi hukuman penjara atas pemalsuan dokumen, penggelapan dana perusahaan, serta berbagai tindak pidana ekonomi lainnya.

Wijaya Corporindo kembali berdiri dengan kepemimpinan baru.

Aku menjadi direktur utama.

Namun setiap keputusan penting selalu kami ambil bersama.

Adrian tetap memilih hidup sederhana.

Sesekali ia bahkan masih mengenakan pakaian lusuh dan berjalan ke sudut-sudut kota untuk membantu para pemulung, gelandangan, dan anak-anak jalanan tanpa memperkenalkan siapa dirinya.

Suatu sore aku bertanya mengapa ia masih melakukan semua itu.

Ia hanya tersenyum sambil memandang langit Jakarta.

“Karena wajah manusia bisa disamarkan oleh debu.”

“Lalu?”

“Tapi hati seseorang akan selalu terlihat oleh cara mereka memperlakukan orang yang dianggap tidak memiliki apa-apa.”

Saat itu aku akhirnya benar-benar memahami warisan terbesar yang ditinggalkan Ayah.

Bukan saham.

Bukan gedung pencakar langit.

Melainkan keyakinan bahwa kebaikan mungkin tampak lemah untuk sementara waktu, tetapi pada akhirnya selalu menemukan jalannya sendiri untuk menang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang