Doña Valeria berkacak pinggang, menatapku dengan tatapan paling rendah yang bisa ia berikan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak dengan suara yang menggema ke seluruh penjuru ruangan:
“KAU BUKAN BAGIAN DARI KELUARGA KAMI! Kau hanya benalu yang menumpang di sini! Keluar dari rumah ini sekarang juga sebelum kau mempermalukan kami lebih jauh di depan Tuan Sterling!”

Papa Arturo hanya diam terpaku di sudut ruangan. Ia memalingkan wajah, terlalu pengecut untuk membelaku karena ia tahu kelangsungan hidup perusahaannya berada di tangan Doña Valeria yang memegang kendali atas relasi bisnis malam ini.
Aku berdiri perlahan, merasakan air es yang dingin mengalir di punggungku, berbaur dengan rasa sakit yang mendalam di hatiku. Di tengah tawa riuh Chloe dan tatapan menghina dari para tamu undangan, aku berbalik dan melangkah menuju pintu keluar. Aku tidak menangis. Rasa sedihku sudah lama berubah menjadi mati rasa.
Namun, tepat saat tanganku menyentuh gagang pintu besar kediaman kami, pintu tersebut terbuka dari luar.
Kedatangan sang Miliarder
Dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam mahal melangkah masuk terlebih dahulu, mengamankan jalur. Di belakang mereka, muncullah sesosok pria paruh baya yang memancarkan aura otoritas dan kekayaan yang luar biasa.
Tuan Alexander Sterling.
Suasana ruangan yang tadinya bising oleh tawa ejekan seketika senyap. Doña Valeria langsung memasang senyum paling manis yang ia miliki, menyikut Papa Arturo agar segera maju menyambut sang penyelamat finansial mereka.
“Tuan Sterling! Selamat datang di kediaman kami! Sebuah kehormatan yang luar b—” ucapan Doña Valeria terputus begitu saja.
Tuan Sterling sama sekali tidak melihat ke arah Doña Valeria maupun Papa Arturo. Tatapan matanya yang tajam langsung tertuju padaku—seorang gadis yang basah kuyup, mengenakan pakaian lusuh, dan berdiri gemetar di dekat pintu.
Mata Tuan Sterling terbelalak kaget. Wajahnya yang semula tenang langsung berubah menjadi pucat dan dipenuhi rasa tidak percaya. Ia mengabaikan uluran tangan Papa Arturo, melangkah lebar-lebar melewatiku, lalu membungkuk hormat dengan sangat dalam di hadapanku.
“Nona Maya… Mengapa Anda bisa berada dalam kondisi seperti ini?” tanyanya dengan suara bariton yang bergetar karena marah dan hormat yang mendalam.
Dunia yang Runtuh dalam Keheningan
Seluruh ruangan mendadak membeku. Detik jam dinding terdengar begitu keras dalam keheningan yang mencekam.
Senyum di wajah Doña Valeria runtuh seketika. Chloe menganga lebar, sementara Papa Arturo hampir menjatuhkan gelas anggur yang dipegangnya.
“T-Tuan Sterling?” Papa Arturo terbata-bata, mencoba memecah keheningan. “Anda pasti salah orang. Dia… dia hanyalah pembantu di rumah ini. Dia bukan siapa-siapa.”
Tuan Sterling berbalik dengan perlahan. Tatapannya kini berubah menjadi sedingin es, mampu mengintimidasi siapa saja yang melihatnya.
“Salah orang?” Tuan Sterling mendengus remeh. “Arturo, kau sungguh pria paling bodoh yang pernah kutemui di dunia bisnis. Kau membiarkan istrimu yang tidak tahu diri ini memperlakukan Pemilik Utama Sterling Global seperti seorang pelayan?”
DEGG!
Pernyataan itu bagaikan petir di siang bolong.
“P-Pemilik Utama? Apa maksud Anda? CEO misterius itu…” Doña Valeria terbata-bata, wajahnya kini sepucat kain kafan.
“Benar,” potong Tuan Sterling dengan tegas. “Aku hanyalah tangan kanan yang mengelola aset di lapangan. Pemilik saham mayoritas, pewaris tunggal dari mendiang Ibu kandungnya yang mendirikan Sterling Global, dan CEO yang memegang keputusan mutlak atas nasib investasi perusahaanmu malam ini… adalah Nona Maya Arturo.”
Aku menatap Doña Valeria dan Chloe yang kini gemetar hebat. Lutut Chloe tampak lemas hingga ia harus berpegangan pada sofa. Ibu kandungku memang berasal dari keluarga konglomerat internasional, sebuah rahasia yang sengaja kusembunyikan selama ini untuk melihat sampai di mana batas keserakahan ibu tiriku.
Pembalasan yang Dingin
Aku mengambil kain serbet bersih dari meja terdekat, menyeka wajahku yang basah dengan tenang, lalu menatap langsung ke mata Doña Valeria.
“Tadi Tante bilang… aku bukan bagian dari keluarga ini, kan?” tanyaku dengan nada suara yang sangat tenang, namun menusuk.
“M-Maya… Sayang, Mama tidak bermaksud seperti itu…” Doña Valeria mencoba mendekat, suaranya bergetar hebat, air mata ketakutan mulai mengalir di pipinya yang tebal dengan riasan mahal. “Mama hanya… hanya stres karena masalah perusahaan. Tolong maafkan Mama…”
“Jangan sebut dirimu Ibuku. Dan kau, Chloe,” aku melirik Chloe yang kini menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mataku. “Gaun yang kau kenakan, anggur yang kalian minum, dan rumah tempat kalian berdiri saat ini… semuanya dibeli dengan uang ibuku.”
Aku berbalik menatap Tuan Sterling, yang sedang menunggu instruksiku dengan patuh.
“Tuan Sterling,” panggilku.
“Ya, Nona Maya?”
“Batalkan seluruh rencana investasi bailout untuk perusahaan Arturo Group. Tarik semua saham kita dari mitra bisnis mereka, dan mulai proses penyitaan rumah ini atas nama ibuku besok pagi.”
Papa Arturo langsung berlutut di lantai, memohon dengan air mata yang bercucuran. “Maya! Tolong Papa, Nak! Jika kau melakukan itu, Papa akan dipenjara karena kebangkrutan dan utang!”
Aku menatap pria yang seumur hidupku kusebut ‘Papa’, namun membiarkanku menderita demi wanita lain.
“Kau yang memilih jalan ini, Papa. Saat mereka memperlakukanku seperti binatang, kau diam saja. Sekarang, nikmatilah hasil dari diammu itu,” ucapku dingin.
Aku melangkah melewati mereka semua yang kini meratap hancur. Doña Valeria terduduk lemas di lantai, menyadari bahwa dalam satu malam, kesombongannya telah menghancurkan seluruh hidupnya. Dunia megah yang mereka bangun di atas penderitaanku, kini telah runtuh tak bersisa.
Aku berjalan keluar menuju mobil limosin hitam yang sudah menunggu di depan rumah, siap memulai babak baru hidupku sebagai pemilik takhta yang sesungguhnya.
