Bukan Babu! Suami Pengangguran dan Mertua yang Tahu Beres

“Lha katanya minta di orderkan makanan?” jawabku masih dengan gaya santai. Membuat Ibu semakin geram. Karena males gaya ngotot, buang-buang energi saja.

“Maksud Ibu itu makanan jadi, Dewi! Yang tinggal makan! Bukan malah beli sayur mentah! Kamu sengaja ya mau nyiksa Ibu dan suamimu?” pekik Ibu, wajahnya sudah memerah menahan dongkol.

Tepat saat itu, pintu kamar terbuka. Mas Aldi, suamiku, keluar dengan kaos oblong kekecilan dan celana pendek. Bukannya menyambutku dengan senyuman atau menanyakan kabarku yang baru pulang kerja cari nafkah, dia malah langsung memasang wajah keruh.

“Ada apa sih ini? Berisik banget. Mas baru bangun tidur siang, lho, Wi. Kamu ini baru pulang kerja bukannya bikin adem rumah malah bikin Ibu naik darah,” potong Mas Aldi tanpa tahu duduk perkaranya. Selalu begitu. Ibunya selalu benar, dan aku selalu jadi terdakwa.

Aku menghela napas panjang, menatap suamiku yang sudah tiga bulan ini menganggur setelah di-PHK, tapi gengsinya setinggi langit. “Mas, Ibu kelaparan. Tuh, aku sudah pesankan bahan makanan sama Mang Udin. Bentar lagi datang.”

“Kok bahan mentah? Kamu tahu sendiri Ibu nggak bisa masak banyak semenjak kakinya sering linu, lagian Mas kan nggak bisa masak, Wi!” protes Mas Aldi, berkacak pinggang di samping ibunya. Dua orang ini benar-benar kombinasi yang luar biasa untuk menguji keimanan.

“Ya kalau nggak bisa, belajar, Mas. Atau Ibu yang ajarin anak kesayangannya ini. Kan Ibu sendiri yang bilang, Bi Ijah dipecat biar orang di rumah ini ngerti kerjaan rumah,” balasku sengit, tidak mau kalah lagi. “Kebetulan aku capek banget. Hari ini lemburan di kantor numpuk.”

Tak berselang lama, terdengar suara klakson motor dari depan pagar.

“Mbak Dewi! Paket sayurnya!” teriak Mang Udin dari luar.

Aku bangkit, berjalan ke depan, dan menerima satu kantong kresek besar berisi kangkung, tahu, tempe, dan ikan asin. Sengaja aku minta yang paling sederhana. Totalnya hanya habis tiga puluh ribu rupiah. Aku membayarnya, lalu kembali ke dalam dan meletakkan kantong kresek itu di atas meja makan dengan bunyi gedubrak yang cukup kentara.

“Ini bahannya. Silakan diolah,” ujarku tenang.

Ibu mertuaku langsung menghampiri meja, membuka kresek itu dengan kasar. Begitu melihat isinya, matanya hampir melompat keluar. “Ikan asin? Tempe? Kamu sengaja menghina Ibu, ya? Suamimu ini butuh gizi, Dewi! Kamu sengaja mau ngasih makan suami kamu kayak narapidana?”

“Lho, bersyukur, Bu. Di luar sana banyak yang jangankan makan ikan asin, beli beras aja susah. Lagian, uang belanja kan sudah menipis. Mas Aldi belum ngasih uang belanja lagi bulan ini,” sindirku telak, menatap langsung ke arah Mas Aldi yang langsung membuang muka, pura-pura batuk.

“Kamu kan kerja, Wi! Gaji kamu kan besar! Masa belikan mertua rendang atau ayam goreng di restoran depan kompleks aja pelitnya setengah mati? Dasari menantu durhaka!” Ibu mertuaku mulai menggunakan senjata andalannya: tuduhan durhaka dan air mata buaya yang mulai mengenang di pelupuk matanya.

Aku melipat kedua tangan di dada. Rasa capek di sekujur tubuhku mendadak hilang, digantikan oleh rasa muak yang sudah mencapai ubun-ubun. Rumah peninggalan almarhum ayahku, yang dulunya penuh ketenangan, sekarang benar-benar berubah jadi medan perang batin setiap hari.

“Bu, Mas Aldi,” kataku dengan suara yang sengaja kuendapkan, pelan namun menusuk. “Gajiku itu hakku. Tugasku di rumah ini adalah membantu, bukan menanggung seluruh biaya hidup orang-orang yang malas bergerak tapi seleranya selangit. Kalau Mas Aldi dan Ibu mau makan enak, makan mewah, silakan.”

Aku merogoh tas kerjaku, mengeluarkan dompet, lalu mengambil selembar uang seratus ribu rupiah dan melemparnya ke atas meja, tepat di atas tumpukan ikan asin.

“Itu modal. Mas Aldi silakan keluar beli bensin, cari kerja ojek online atau apa pun, lalu belikan Ibumu makanan enak. Aku mau mandi dan istirahat. Tolong jangan ada yang ketuk pintu kamar, atau besok pagi semua fasilitas di rumah ini—termasuk Wi-Fi dan TV kabel—aku putus.”

Tanpa menunggu reaksi dari dua orang yang melongo itu, aku menyambar tas dan jasku, lalu melangkah lebar menuju kamar utama. Menguncinya dari dalam dengan bunyi klik yang tegas.

Begitu tubuhku bersandar di balik pintu, aku mengembuskan napas berat. Aku tahu, ini baru permulaan dari perang dingin yang lebih besar. Tapi satu hal yang pasti: aku tidak akan membiarkan mereka menginjak-injakku lagi di rumahku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang