Namaku Arga Pratama. Selama bertahun-tahun aku percaya bahwa uang bisa menyelesaikan hampir semua masalah. Karena itulah, ketika istriku, Livia, melahirkan anak pertama kami melalui operasi caesar, aku mengambil keputusan yang menurutku paling bertanggung jawab.
Aku meminta ibuku tinggal bersama kami selama tiga bulan untuk merawat Livia dan bayi kami.
Setiap awal bulan, aku mentransfer lima belas juta rupiah ke rekening ibu.

“Itu untuk kebutuhan Livia. Belikan makanan bergizi, buah, vitamin, apa pun yang dia perlukan. Jangan biarkan dia bekerja sedikit pun,” pesanku berkali-kali.
Ibuku selalu tersenyum hangat.
“Kamu tenang saja. Ibu akan merawat istrimu seperti anak sendiri.”
Aku mempercayainya tanpa sedikit pun keraguan.
Aku bekerja sebagai manajer proyek di sebuah perusahaan konstruksi di Jakarta. Pekerjaanku membuatku sering pulang larut malam. Kadang aku bahkan harus menginap di lokasi proyek.
Setiap kali menelepon rumah, ibu selalu mengatakan hal yang sama.
“Livia sehat.”
“ASI-nya lancar.”
“Bayinya gemuk.”
“Jangan terlalu sering pulang. Fokus kerja saja.”
Kalau berbicara dengan Livia, istriku selalu terdengar pelan.
“Aku baik-baik saja, Mas.”
Aku mengira ia hanya kelelahan karena baru melahirkan.
Sampai hari itu.
Listrik di kantor padam hampir setengah hari sehingga seluruh karyawan dipulangkan lebih cepat.
Aku memutuskan tidak memberi tahu siapa pun.
Aku membeli sekotak susu impor, salmon segar, alpukat, dan beberapa makanan yang menurut dokter bagus untuk ibu menyusui.
Aku membayangkan wajah bahagia Livia ketika melihatku pulang siang.
Namun sesampainya di rumah, semuanya terasa aneh.
Rumah begitu sunyi.
Tidak terdengar suara televisi.
Tidak ada aroma masakan.
Pintu depan bahkan tidak terkunci rapat.
Aku melangkah perlahan menuju dapur.
Dan di sanalah hidupku berubah.
Livia duduk membelakangiku di sudut dapur.
Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding sebulan lalu.
Ia memegang mangkuk plastik yang sudah kusam.
Dengan tergesa-gesa ia menyuapkan nasi yang mulai menguning ke mulutnya.
Di atas nasi itu hanya ada kuah encer, beberapa kepala ikan kecil, dan tulang-tulang yang bahkan nyaris tak memiliki daging.
Tangannya gemetar.
Air matanya jatuh ke dalam mangkuk.
Saat melihatku berdiri di ambang pintu, wajahnya langsung pucat.
“Mas…”
Ia buru-buru menutupi mangkuk itu.
Aku mengambil mangkuk tersebut.
Dadaku langsung sesak.
Nasi itu sudah mulai berbau asam.
Kepala ikan itu jelas merupakan sisa makanan semalam.
“Apa ini?”
Livia menunduk.
“Aku… aku cuma tidak mau membuang makanan.”
Aku menatap matanya.
Selama lima tahun menikah, aku tahu persis kapan istriku berbohong.
“Jawab yang jujur.”
Ia menggigit bibir.
Air matanya semakin deras.
“Mas… jangan marah sama Ibu…”
Kalimat itu justru membuat darahku berdesir.
“Apa hubungannya dengan Ibu?”
Belum sempat Livia menjawab, suara pintu depan terbuka.
Ibuku masuk sambil membawa kantong belanja.
Begitu melihatku, ia tampak terkejut.
“Arga? Kok pulang sekarang?”
Aku mengangkat mangkuk di tanganku.
“Ibu tahu ini?”
Wajahnya berubah sesaat, tetapi kemudian kembali tenang.
“Itu?”
“Iya.”
“Itu makanan kesukaan Livia.”
Aku menoleh ke arah istriku.
Livia langsung menunduk.
Ibuku melanjutkan dengan nada santai.
“Dia memang suka makan nasi dicampur kuah ikan. Dari dulu begitu.”
Aku hampir percaya.
Kalau saja aku tidak melihat tubuh Livia.
Pipinya cekung.
Lingkar matanya hitam.
Lengannya jauh lebih kecil daripada sebelum melahirkan.
Padahal setiap bulan aku mengirim uang yang lebih dari cukup untuk membeli makanan terbaik.
Aku membuka kulkas.
Kosong.
Hanya ada beberapa botol air putih.
Sedikit sambal.
Tempe.
Tidak ada daging.
Tidak ada buah.
Tidak ada susu.
Padahal pagi tadi aku baru menerima notifikasi transfer lima belas juta rupiah ke rekening ibu.
Aku menutup pintu kulkas perlahan.
“Ibu.”
“Ya?”
“Uangnya dipakai untuk apa?”
Ibu tertawa kecil.
“Ya buat kebutuhan rumah.”
“Kebutuhan rumah mana?”
“Listrik, air, belanja…”
Aku membuka aplikasi mobile banking.
“Listrik rumah kita autodebet.”
Ibu terdiam.
“Air juga autodebet.”
Ia mulai gelisah.
“Terus cicilan rumah juga aku yang bayar langsung.”
Raut wajah ibu berubah.
Aku melanjutkan.
“Jadi lima belas juta itu ke mana?”
Ruangan menjadi sunyi.
Livia berdiri sambil menggendong bayi kami yang baru terbangun.
Ia tampak ketakutan.
Ibuku tiba-tiba membentak.
“Kamu sedang menginterogasi ibu kandungmu sendiri gara-gara perempuan itu?”
Aku menarik napas panjang.
“Aku hanya bertanya.”
“Wanita habis melahirkan memang harus belajar prihatin. Dulu ibu melahirkan kamu cuma makan nasi sama garam.”
“Itu pilihan Ibu.”
“Bukan pilihan. Memang keadaan.”
“Kalau begitu kenapa Livia harus mengalaminya juga, padahal aku sudah bekerja mati-matian supaya dia tidak perlu merasakan itu?”
Ibu tidak menjawab.
Aku melihat sebuah tas bermerek baru di kursi ruang tamu.
Aku mengenal merek itu.
Harganya belasan juta.
Lalu aku teringat foto media sosial adikku seminggu lalu.
Ia memamerkan ponsel terbaru.
Katanya hadiah dari ibu.
Jantungku berdetak semakin keras.
Aku mulai menghubungkan semuanya.
Uang yang kukirim setiap bulan.
Kulkas kosong.
Tubuh istriku yang semakin kurus.
Tas baru.
Ponsel baru.
Dan mangkuk berisi nasi basi yang masih berada di tanganku.
Saat itu juga aku sadar bahwa yang kulihat hari itu mungkin baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
