Aku selalu mengira bahwa penyesalan terbesar dalam hidup datang dari keputusan-keputusan besar: memilih pekerjaan yang salah, jatuh cinta pada orang yang keliru, atau meninggalkan kesempatan yang tak akan pernah kembali. Namun, aku tidak pernah membayangkan bahwa rasa takut paling besar justru dimulai dari satu dus mangga busuk yang kubeli secara impulsif pada suatu sore yang diguyur hujan.
Malam setelah menemukan kantong berisi tiga mangga di depan apartemen keluarga Reyes, aku nyaris tidak tidur. Setiap kali suara langkah terdengar dari lorong, aku langsung membuka mata dan menatap pintu. Pesan misterius yang masuk ke ponselku terus terbayang.
Jangan hapus ulasan itu.

Kalau ada sesuatu yang ditinggalkan di depan pintumu, jangan disentuh.
Aku berkali-kali mencoba menghubungi nomor pengirim, tetapi hasilnya sama. Nomor itu tidak aktif. Sekitar pukul tiga dini hari, aku akhirnya tertidur di sofa dengan lampu ruang tamu yang masih menyala.
Pagi harinya, suara ketukan keras membangunkanku.
Ketika kubuka pintu, Mila berdiri di sana. Wajahnya jauh lebih pucat dibanding malam sebelumnya. Di belakangnya, Kiko memeluk kaki ibunya sambil memegang mobil-mobilan kecil.
“Aku boleh masuk?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk.
Begitu pintu tertutup, Mila langsung duduk dan menggenggam kedua tangannya erat-erat.
“Lira, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi kau harus mendengarkanku.”
Aku menyodorkan segelas teh hangat.
“Apa sebenarnya yang terjadi?”
Mila terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Enam bulan lalu, Arman pernah bekerja sebagai pengantar barang untuk sebuah gudang buah di pinggiran kota.”
“Gudang milik toko itu?”
Ia mengangguk.
“Awalnya kami pikir itu hanya bisnis buah biasa. Tapi suatu malam, Arman pulang dengan wajah ketakutan. Katanya, ada sesuatu yang aneh.”
Aku menunggu.
“Banyak buah yang sudah busuk tetap dikemas ulang. Stiker tanggal diganti. Beberapa pekerja dipaksa mengirim barang yang tidak layak konsumsi. Orang-orang yang protes langsung dipecat.”
“Itu memang curang, tapi kenapa sampai seperti ini?”
Mila menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Karena bukan cuma itu. Arman pernah melihat beberapa paket yang isinya bukan buah.”
Darahku seolah berhenti mengalir.
“Maksudmu?”
“Aku tidak tahu pasti. Tapi setelah itu, dia berhenti bekerja di sana. Dua minggu kemudian, seseorang datang ke apartemen ini dan menyuruh kami diam.”
Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, pintu apartemen mereka dibuka dari luar. Suara Arman terdengar keras.
“Mila!”
Mila langsung berdiri.
“Aku harus pulang. Tolong, jangan balas pesan siapa pun.”
Sebelum pergi, ia menoleh kepadaku.
“Dan apa pun yang terjadi, jangan hapus ulasanmu.”
Sejak hari itu, hidupku berubah.
Tiga hari kemudian, ada akun anonim yang mengomentari ulasanku.
Pembohong.
Cari perhatian.
Pesaing toko.
Komentar-komentar itu bermunculan begitu cepat hingga ulasanku tenggelam. Anehnya, beberapa pelanggan lain mulai meninggalkan keluhan serupa. Ada yang menerima mangga busuk. Ada yang menemukan ulat. Ada yang mengaku sakit perut setelah memakan buah dari toko itu.
Aku mulai menyimpan tangkapan layar semuanya.
Setiap malam, aku menerima panggilan dari nomor tak dikenal. Tak ada suara di seberang sana. Hanya napas berat dan bunyi gesekan seperti roda troli di lantai semen.
Pada hari keenam, aku menemukan sesuatu di depan pintuku.
Bukan mangga.
Melainkan sebuah foto.
Foto itu memperlihatkan diriku sedang berjalan menuju minimarket dekat apartemen. Di bagian belakang foto tertulis satu kalimat.
Kamu tidak tinggal sendirian.
Tanganku gemetar hebat.
Aku langsung melapor ke pengelola gedung, tetapi kamera pengawas di lorong ternyata rusak sejak seminggu sebelumnya.
“Aneh sekali,” kata petugas keamanan. “Biasanya tidak pernah mati selama ini.”
Malam itu, aku mengetuk pintu keluarga Reyes.
Arman yang membukanya.
Begitu melihat foto di tanganku, wajahnya mengeras.
“Mereka mulai mengawasimu.”
“Siapa mereka sebenarnya?”
Ia menarik napas panjang.
“Aku tidak tahu semuanya. Tapi orang-orang di balik toko itu bukan sekadar penjual buah. Mereka memakai toko online sebagai kedok.”
“Kedok untuk apa?”
Arman menggeleng.
“Aku cuma sopir. Aku tidak pernah berani mencari tahu.”
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di mata pria itu.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti mimpi buruk yang lambat.
Aku mulai pulang sebelum gelap. Aku memeriksa kunci pintu tiga kali setiap malam. Bahkan suara lift berhenti di lantai lima saja sudah cukup membuat jantungku berdebar.
Lalu, pada hari kesebelas, sesuatu terjadi.
Aku pulang kerja dan melihat dua pria berdiri di depan gedung apartemen. Mereka mengenakan jaket hitam dan topi.
Begitu melihatku, salah satu dari mereka tersenyum tipis.
“Mbak Lira?”
Aku pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan.
Namun pria itu berkata lagi, “Mangga yang kemarin rasanya enak?”
Aku berhenti.
“Siapa kalian?”
Ia mengangkat kedua tangan sambil tertawa kecil.
“Tenang saja. Kami cuma ingin bicara.”
Aku berbalik dan masuk ke gedung secepat mungkin. Saat pintu lift tertutup, aku melihat mereka masih berdiri di sana sambil menatap ke arahku.
Malam itu aku hampir menelepon polisi, tetapi apa yang bisa kulaporkan? Dua orang asing yang menanyakan mangga?
Aku mulai berpikir bahwa mungkin semua ini memang berlebihan.
Mungkin aku terlalu takut.
Mungkin Arman dan Mila hanya membesar-besarkan keadaan.
Sampai malam kelima belas tiba.
Sekitar pukul delapan malam, listrik di gedung tiba-tiba padam.
Lorong apartemen menjadi gelap gulita. Dari luar terdengar suara hujan dan klakson kendaraan.
Aku baru saja menyalakan senter ponsel ketika terdengar suara teriakan dari unit keluarga Reyes.
Disusul suara benda jatuh.
Lalu tangisan Kiko.
Aku berlari keluar.
Pintu apartemen mereka terbuka setengah. Dari dalam terdengar Mila menangis histeris.
“Arman! Bangun!”
Aku masuk tanpa berpikir panjang.
Pemandangan di dalam membuat tubuhku membeku.
Arman tergeletak di lantai dapur. Wajahnya pucat. Mila memegangi Kiko yang muntah-muntah di sofa.
Di atas meja ada kantong plastik berisi potongan mangga.
Mangga kuning yang tampak segar.
Aku langsung teringat kantong yang ditinggalkan dua minggu lalu.
“Telepon ambulans!” teriak Mila.
Tanganku gemetar saat menekan nomor darurat.
Dalam hitungan menit, lorong apartemen yang biasanya sunyi berubah menjadi kacau. Petugas medis datang bersama polisi. Tetangga-tetangga berkumpul di depan unit.
Saat petugas membawa Arman dan keluarganya ke ambulans, seorang polisi menghentikanku.
Namanya Inspektur Dimas.
“Kamu Lira?”
Aku mengangguk.
Ia menunjukkan layar ponselnya.
Di sana terpampang tangkapan layar ulasan bintang satu yang kutulis lima belas hari sebelumnya.
“Untung kamu tidak menghapus ulasan itu.”
Aku menatapnya bingung.
“Apa hubungannya dengan semua ini?”
Dimas menatap lorong yang dipenuhi petugas forensik.
“Sudah tiga bulan kami menyelidiki jaringan distribusi makanan ilegal yang menyamar sebagai toko online. Mereka tidak hanya menjual buah busuk.”
Dadaku terasa sesak.
“Apa maksud Anda?”
“Beberapa produk dicampur dengan bahan kimia pengawet berbahaya untuk menekan kerugian. Kami juga menemukan bahwa gudang mereka dipakai untuk menyimpan barang selundupan.”
Aku nyaris kehilangan keseimbangan.
“Lalu ulasan saya?”
“Tim kami menemukan toko itu justru karena ulasanmu. Sebagian besar korban menerima uang untuk menghapus komentar negatif. Tapi kamu menolak.”
Aku terdiam.
Dimas melanjutkan, “Seseorang menghubungi kami secara anonim dan mengirim semua percakapanmu dengan penjual.”
Aku langsung teringat SMS misterius itu.
“Siapa yang mengirim?”
Polisi itu menggeleng.
“Kami belum tahu.”
Malam itu, keluarga Reyes dilarikan ke rumah sakit. Menurut dokter, mereka mengalami keracunan berat akibat zat kimia yang terkandung dalam buah.
Kiko selamat.
Mila selamat.
Arman harus dirawat selama beberapa hari.
Keesokan paginya, polisi menggerebek gudang milik PrutasBayan Fresh di pinggiran kota. Berita itu muncul di televisi dan media sosial. Puluhan ton buah busuk ditemukan di sana, bersama dokumen palsu dan catatan pengiriman.
Toko itu ditutup.
Beberapa orang ditangkap.
Namun satu pertanyaan masih menghantuiku.
Siapa yang mengirim SMS kepadaku?
Seminggu kemudian, aku mengunjungi Arman di rumah sakit.
Ia tampak lebih kurus, tetapi sudah bisa tersenyum.
“Aku dengar semuanya sudah selesai,” kataku.
Arman memandang ke luar jendela.
“Belum tentu.”
Aku duduk di samping ranjangnya.
“Ada sesuatu yang belum kau ceritakan?”
Ia terdiam cukup lama.
Lalu, dengan suara pelan, ia berkata, “Pesan yang kau terima malam itu bukan dari orang asing.”
Aku menoleh cepat.
“Maksudmu?”
Arman menunduk.
“Dulu, saat masih bekerja di gudang itu, aku diam saja. Aku melihat banyak hal buruk dan memilih pura-pura tidak tahu.”
Ia menarik napas panjang.
“Tapi setelah melihat Kiko bermain di lorong setiap hari, aku sadar bahwa suatu saat buah-buah itu bisa sampai ke tangan anakku sendiri.”
Aku merasakan tenggorokanku mengering.
“Jadi…?”
“Aku yang mengirim SMS itu.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Aku memakai nomor prabayar. Aku takut mereka tahu kalau aku membantu polisi.”
“Kenapa tidak bilang dari awal?”
Arman tersenyum pahit.
“Karena aku pengecut.”
Aku terdiam.
Selama berminggu-minggu, aku membayangkan ada sosok misterius yang diam-diam melindungiku. Ternyata orang itu adalah tetangga yang setiap hari kutemui di lorong apartemen.
Sebelum pulang, Arman berkata pelan, “Kadang, keberanian bukan soal melawan orang jahat. Kadang, keberanian cuma berarti tidak menghapus satu ulasan ketika semua orang menyuruhmu diam.”
Beberapa bulan kemudian, aku akhirnya pulang kampung untuk merayakan ulang tahun ibuku. Dalam perjalanan, aku melewati kios buah di terminal.
Seorang pedagang menawarkan mangga manis dengan senyum ramah.
Aku sempat ragu sebelum membelinya.
Lalu aku teringat sesuatu.
Bukan tentang rasa takut.
Melainkan tentang kenyataan bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan, bahkan sekadar menulis kejujuran di kolom ulasan, bisa menyelamatkan orang lain yang tak pernah kita kenal.
Dan setiap kali mendengar suara anak-anak bermain di lorong apartemen, aku masih teringat malam ketika polisi memenuhi lantai lima.
Semua itu bermula dari satu dus mangga busuk yang seharusnya kubuang begitu saja. Namun ternyata, kadang-kadang, hal paling sederhana yang kita pertahankan justru menjadi alasan seseorang tetap hidup.
