Rina terduduk di lantai kamar mandi yang dingin.

Rina Wijaya tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan hancur hanya karena sebuah toilet yang tersumbat.

Siang itu, ia berdiri terpaku di kamar mandi apartemen mewahnya di lantai dua puluh lima, memandangi foto-foto basah yang baru saja ditarik keluar dari pipa oleh seorang tukang ledeng. Bau tak sedap memenuhi ruangan, tetapi ia nyaris tidak merasakannya. Seluruh tubuhnya mati rasa ketika matanya tertuju pada satu sosok yang sangat dikenalnya.

Dimas.

Suaminya.

Pria yang selama lima tahun terakhir memasakkan sarapan setiap pagi, memijat pundaknya setiap malam, dan selalu menyambutnya dengan senyum hangat sepulang kerja.

Namun, dalam foto itu, Dimas sedang memeluk seorang perempuan lain. Di samping mereka berdiri seorang anak laki-laki kecil yang tersenyum lebar sambil menggenggam tangan Dimas.

Di balik foto tertulis kalimat pendek yang menghancurkan semua yang dipercayainya.

Keluarga kita di Boyolali, 2024. Bimo selalu merindukan ayah.

Jari-jari Rina gemetar. Ia membuka surat berikutnya.

“Mas Dimas, uang kiriman bulan lalu sudah kami gunakan untuk biaya sekolah Bimo dan memperbaiki atap rumah. Dia terus bertanya kapan ayahnya pulang.”

Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi.

Pak Budi, tukang ledeng yang berdiri di dekat pintu, menatapnya dengan cemas.

“Bu, saya taruh semuanya di meja saja, ya.”

Rina tidak menjawab. Air matanya mengalir tanpa suara.

Begitu Pak Budi pergi, ia mengunci pintu apartemen dan duduk sendirian di ruang tamu. Hujan turun di luar jendela besar yang menghadap gedung-gedung Sudirman. Jakarta tetap sibuk seperti biasa, sementara dunianya runtuh dalam satu sore.

Lima tahun lalu, ketika bertemu Dimas di sebuah kafe, Rina merasa menemukan seseorang yang berbeda dari pria-pria lain. Ia sudah terlalu sering bertemu lelaki sukses yang arogan dan penuh perhitungan. Dimas tidak seperti mereka.

Ia hanya seorang pelayan dari desa kecil di Boyolali. Pendiam, sederhana, dan selalu mendengarkan dengan sungguh-sungguh.

Semua orang menentang hubungan mereka.

“Apa kamu yakin?” tanya ibunya dulu.

Rina sangat yakin.

Ia bahkan melawan keluarganya demi menikahi Dimas.

Kini, sambil memandangi foto itu, ia bertanya-tanya apakah selama ini ia hanya jatuh cinta pada sebuah kebohongan.

Malam itu, Rina tidak tidur. Ia membuka laptop dan memeriksa rekening bersama mereka selama beberapa tahun terakhir. Selama ini, ia tidak pernah memperhatikan detail pengeluaran rumah tangga. Dimas yang mengurus semuanya.

Satu demi satu transfer muncul di layar.

Transfer ke rekening atas nama Sari Astuti.

Setiap bulan.

Jumlahnya bervariasi, mulai dari dua juta hingga lima juta rupiah.

Jantung Rina berdegup kencang.

Pukul tiga dini hari, ia menelepon sahabatnya, Maya.

“Aku menemukan sesuatu.”

Maya datang satu jam kemudian, masih mengenakan piyama dan jaket tipis.

Mereka duduk di ruang makan. Foto-foto itu terhampar di atas meja.

“Ya Tuhan…” bisik Maya.

“Aku bahkan tidak tahu siapa perempuan ini.”

“Sudah bicara dengan Dimas?”

Rina menggeleng.

“Dia bilang ayahnya sakit dan pulang ke Boyolali tadi malam.”

Maya terdiam.

“Kamu mau apa sekarang?”

Rina memandang hujan di balik kaca.

“Aku akan mencari tahu sendiri.”

Dua hari kemudian, tanpa memberi tahu siapa pun, Rina terbang ke Solo. Dari bandara, ia menyewa mobil menuju Boyolali.

Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Apakah Dimas memang memiliki keluarga lain?

Apakah anak itu darah dagingnya?

Dan yang paling menyakitkan, apakah semua perhatian yang diberikan Dimas selama ini hanya sandiwara?

Alamat pada salah satu surat membawanya ke sebuah rumah joglo besar di pinggir desa.

Rumah itu jauh dari bayangan sederhana yang selama ini diceritakan Dimas.

Halamannya luas. Ada kolam ikan kecil dan beberapa pohon mangga tua.

Seorang anak laki-laki sedang bermain bola di teras.

Rina langsung mengenali wajahnya.

Anak itu memiliki mata yang sama dengan Dimas.

Pintu rumah terbuka.

Seorang perempuan keluar sambil mengusap tangan pada celemeknya. Begitu melihat Rina, ia tampak bingung.

“Cari siapa?”

Rina menelan ludah.

“Apakah ini rumah Dimas Pratama?”

Perempuan itu membeku.

“Benar.”

“Aku istrinya.”

Wajah perempuan itu mendadak pucat.

Mereka duduk berhadapan di ruang tamu selama beberapa menit tanpa bicara.

Perempuan itu bernama Sari.

Tangannya gemetar ketika menuangkan teh.

Lalu, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuat Rina nyaris kehilangan keseimbangan.

“Aku juga istrinya.”

Rina memandangnya, tak percaya.

“Kalian menikah?”

Sari mengangguk pelan.

“Tujuh tahun lalu.”

“Apa?”

“Dimas bilang dia bekerja di Jakarta sebagai manajer proyek. Dia pulang setiap beberapa bulan.”

Rina merasa ruangan berputar.

Mereka saling menatap, sama-sama terluka.

Tak satu pun dari mereka tahu bahwa Dimas menjalani dua kehidupan sekaligus.

Menjelang sore, seorang pria tua masuk ke rumah.

Ia adalah ayah Dimas.

Melihat Rina, wajahnya berubah muram.

“Akhirnya kamu datang juga.”

Rina berdiri.

“Bapak tahu tentang semua ini?”

Pria tua itu duduk perlahan.

“Kami tahu.”

Air mata Rina jatuh lagi.

“Dan Bapak membiarkan saya hidup dalam kebohongan selama lima tahun?”

Pria tua itu memejamkan mata.

“Kami tidak setuju. Tapi Dimas bersikeras.”

“Kenapa?”

Untuk waktu yang lama, tidak ada jawaban.

Kemudian lelaki tua itu berkata pelan, “Karena dia takut kehilangan semuanya.”

Sebelum Rina sempat bertanya lagi, suara mesin mobil terdengar dari luar.

Sari langsung berdiri.

“Itu Dimas.”

Jantung Rina berdetak begitu keras hingga terasa sakit.

Beberapa detik kemudian, Dimas melangkah masuk.

Ia berhenti mendadak ketika melihat Rina berdiri di ruang tamu.

Wajahnya seketika kehilangan warna.

“Rina?”

Tak ada yang bergerak.

Tak ada yang berbicara.

Dimas memandang foto-foto yang tergeletak di meja.

Ia langsung tahu semuanya telah terbongkar.

“Kamu bilang ayahmu sakit,” kata Rina dengan suara dingin.

Dimas menunduk.

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan apa? Bahwa kamu punya istri lain? Anak? Atau bahwa selama lima tahun aku membiayai kehidupan ganda yang bahkan tidak kuketahui?”

“Aku tidak pernah berniat menyakitimu.”

Rina tertawa pahit.

“Lucu sekali.”

Sari berdiri dengan mata merah.

“Kamu juga membohongiku.”

Dimas memegang kepalanya.

“Aku mencintai kalian berdua.”

Kalimat itu justru membuat suasana semakin hancur.

“Mencintai?” suara Rina bergetar. “Orang yang mencintai tidak hidup dalam kebohongan.”

Dimas terduduk.

Lalu, untuk pertama kalinya, ia menceritakan semuanya.

Sebelum bertemu Rina, ia memang sudah menikah dengan Sari. Pernikahan mereka terjadi karena desakan keluarga setelah Sari hamil muda.

Namun, kehidupan mereka tidak pernah bahagia.

Dimas bekerja serabutan, terlilit utang, dan merasa gagal sebagai suami.

Ketika merantau ke Jakarta, ia bertemu Rina.

Untuk pertama kalinya, seseorang memandangnya dengan kagum.

Bersama Rina, ia merasa menjadi pria yang berbeda.

Ia berniat mengakhiri hubungannya dengan Sari, tetapi setiap kali pulang ke desa dan melihat Bimo, ia tidak sanggup pergi.

Akhirnya, ia memilih mempertahankan keduanya.

“Aku tahu aku salah,” katanya pelan.

“Salah?” Rina menatapnya tajam. “Kamu menghancurkan hidup dua perempuan.”

Malam itu, Rina meninggalkan rumah itu.

Ia kembali ke Jakarta dengan perasaan kosong.

Beberapa minggu berikutnya berlalu seperti mimpi buruk.

Ia mengajukan gugatan cerai.

Keluarganya marah, tetapi lebih marah lagi karena dulu Rina mengabaikan semua peringatan mereka.

Di kantor, Rina tetap bekerja seperti biasa, meskipun setiap malam ia pulang ke apartemen yang kini terasa asing.

Yang paling menyakitkan bukanlah pengkhianatan Dimas.

Melainkan kenyataan bahwa selama ini ia begitu percaya.

Hampir tiga bulan setelah perceraian selesai, Rina menerima telepon dari nomor yang tidak dikenalnya.

Itu Sari.

“Aku harus bertemu denganmu.”

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di Solo.

Wajah Sari terlihat lebih kurus.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu.”

Sari meletakkan sebuah map cokelat di atas meja.

Rina membukanya.

Di dalamnya terdapat dokumen rumah, sertifikat tanah, dan beberapa rekening bank.

“Semuanya atas nama Dimas,” kata Sari.

Rina mengerutkan kening.

“Aku tidak mengerti.”

Sari menarik napas panjang.

“Ayah Dimas bukan petani biasa.”

Rina membeku.

“Keluarga mereka memiliki puluhan hektare tanah yang disewakan kepada perusahaan besar. Mereka tidak pernah miskin.”

“Mustahil.”

“Dimas menyembunyikannya dari semua orang.”

Rina terdiam.

Selama ini, ia percaya bahwa Dimas adalah pria sederhana yang bergantung padanya.

Ternyata, semua itu hanyalah peran yang sengaja dimainkan.

“Kenapa dia melakukan itu?”

Sari tersenyum pahit.

“Karena dia menikmati perasaan dibutuhkan.”

Rina tidak mampu berkata-kata.

Semua potongan teka-teki akhirnya tersusun sempurna.

Dimas tidak menikahinya demi uang.

Ia juga tidak bertahan dengan Sari karena cinta semata.

Ia hanya seorang pria yang takut kehilangan tempat di mana ia merasa penting.

Beberapa bulan kemudian, Rina mendengar kabar bahwa Dimas mengalami kecelakaan saat mengemudi larut malam.

Ia selamat, tetapi kehilangan sebagian besar harta keluarganya karena sengketa warisan yang selama ini disembunyikan.

Rina tidak pernah menemuinya lagi.

Suatu sore, hampir setahun setelah semuanya terjadi, Rina berdiri di balkon apartemennya sambil memandangi langit Jakarta.

Ponselnya berdering.

Sebuah pesan masuk dari nomor lama Dimas.

Hanya satu kalimat.

“Aku menyesal bukan karena kehilanganmu, tetapi karena baru menyadari bahwa kejujuran jauh lebih berharga daripada dicintai.”

Rina membaca pesan itu beberapa kali.

Lalu, tanpa membalas, ia menghapus nomor tersebut untuk selamanya.

Angin sore menerpa wajahnya.

Ia teringat hari ketika toilet itu tersumbat, hari ketika kantong plastik hitam muncul dari dalam pipa dan menghancurkan seluruh dunianya.

Dulu, ia menganggap peristiwa itu sebagai musibah terbesar dalam hidupnya.

Kini, ia memahaminya dengan cara yang berbeda.

Kadang-kadang, kebenaran tidak datang dengan cara yang indah.

Kadang-kadang, ia muncul dari tempat paling kotor, paling menyakitkan, dan paling tidak terduga.

Namun justru dari sanalah seseorang akhirnya bisa melihat siapa yang benar-benar ada di sisinya, dan siapa yang selama ini hanya hidup di balik topeng.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang