Tiga garis merah muda itu seharusnya membawa kebahagiaan terbesar dalam hidup Elena Santiago. Selama beberapa menit, ia hanya duduk di lantai kamar mandi apartemen mewahnya di kawasan Sudirman, Jakarta, sambil memandangi alat tes kehamilan yang masih berada di tangannya. Dadanya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa haru, takut, dan juga ragu.
Sudah tiga tahun ia menunggu saat ini. Tiga tahun pernikahan yang dipenuhi janji-janji tentang masa depan. Tiga tahun pula Daniel selalu meminta waktu.
“Aku ingin perusahaan ini benar-benar stabil dulu.”
“Kita masih muda.”

“Aku ingin memberimu kehidupan terbaik sebelum punya anak.”
Elena percaya pada semua alasan itu. Ia bahkan rela melepaskan posisinya di perusahaan milik ayahnya sendiri demi membantu bisnis keluarga Daniel berkembang. Ia menjadi direktur pasif di perusahaan Santiago Group yang diam-diam menyuntikkan modal besar kepada perusahaan suaminya, meskipun Daniel selalu menganggap kesuksesan itu sepenuhnya hasil kerja kerasnya.
Pagi itu, Elena sempat membayangkan wajah Daniel ketika mendengar kabar bahwa ia akan menjadi ayah. Ia membayangkan pelukan hangat, air mata bahagia, dan rencana-rencana kecil tentang kamar bayi.
Namun sore harinya, semua bayangan itu hancur.
Ia berdiri di depan butik perhiasan hotel tempat acara perusahaan berlangsung. Dari balik kaca, ia melihat Daniel memakaikan cincin ke jari seorang wanita muda bergaun putih. Senyum wanita itu terlalu manis, terlalu akrab, dan terlalu penuh kemenangan.
Elena mengenali wanita tersebut.
Namanya Nadia Prasetyo, manajer pemasaran baru di perusahaan Daniel.
Dua bulan terakhir, Daniel sering menyebut namanya.
“Nadia sangat berbakat.”
“Nadia membantu proyek besar kita.”
“Nadia lembur hampir setiap malam.”
Saat itu Elena tidak pernah berpikir lebih jauh. Hingga ia melihat pemandangan itu dengan mata kepalanya sendiri.
Yang paling menyakitkan bukanlah cincin itu.
Melainkan ekspresi Daniel.
Tatapan lembut yang sudah lama tidak pernah ia berikan kepada istrinya sendiri.
Malam itu, Elena mengemas barang-barangnya tanpa suara. Daniel terus memperhatikannya dari ambang pintu.
“Kamu terlalu membesar-besarkan masalah ini.”
Elena melipat beberapa pakaian kecil bayi yang baru saja ia beli beberapa hari sebelumnya.
“Aku tidak membesar-besarkan apa pun.”
“Itu cuma klien.”
Elena akhirnya menoleh.
“Kalau memang cuma klien, kenapa wajahmu pucat saat melihatku?”
Daniel terdiam.
Untuk pertama kalinya, Elena melihat kepanikan di mata suaminya.
“Aku capek, Daniel.”
“Kita bisa bicara besok.”
Elena menggeleng.
“Sudah tiga tahun aku bicara. Sekarang aku ingin mendengar kejujuran.”
Namun Daniel memilih diam.
Dan diamnya jauh lebih menyakitkan daripada pengakuan apa pun.
Malam itu, Elena pergi.
Bukan ke rumah orang tuanya di Bandung, melainkan ke vila tua milik neneknya di Bogor. Tempat itu jauh dari keramaian dan hampir tidak pernah dikunjungi siapa pun.
Keesokan paginya, ponsel Elena dipenuhi puluhan panggilan dari Daniel.
Ia tidak mengangkat satu pun.
Tiga hari berlalu.
Daniel datang ke rumah orang tua Elena. Ia tampak kusut dan kelelahan.
“Ayah, Ibu, Elena di mana?”
Ayah Elena, Fernando Santiago, hanya menatap menantunya dengan dingin.
“Kau baru mencari istrimu sekarang?”
Daniel menunduk.
“Saya hanya ingin menjelaskan.”
Fernando tertawa pelan.
“Lucu sekali. Tiga tahun lalu, kau datang ke rumah ini dengan janji akan membahagiakan putriku.”
“Ayah…”
“Dan sekarang kau bahkan tidak tahu dia pergi ke mana.”
Daniel keluar dari rumah itu dengan perasaan kacau. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa Elena benar-benar menghilang dari hidupnya.
Sementara itu, di vila Bogor, Elena mulai menjalani hari-harinya dalam kesunyian. Setiap pagi, ia duduk di teras sambil memandangi hujan yang turun di antara pepohonan pinus.
Ia sering berbicara pada bayi dalam kandungannya.
“Ibu tidak tahu apakah keputusan ini benar.”
“Tapi ibu tidak ingin membesarkanmu di tengah kebohongan.”
Seminggu kemudian, Nadia datang menemui Daniel di kantor.
“Kamu belum memberi tahu Elena tentang kita?”
Daniel menatapnya tajam.
“Aku bilang kita harus berhenti.”
Nadia membeku.
“Kamu serius?”
“Aku tidak pernah berencana meninggalkan istriku.”
Wanita itu tertawa sinis.
“Lalu semua janji yang kau berikan padaku?”
Daniel memijat pelipisnya.
Hubungan mereka memang bermula dari proyek besar enam bulan lalu. Awalnya hanya makan malam bisnis, lalu perjalanan dinas, kemudian batas-batas yang perlahan hilang.
Daniel selalu berpikir ia bisa mengendalikan semuanya.
Ia mencintai Elena.
Setidaknya, itulah yang selalu ia yakini.
Tetapi di saat yang sama, ia menikmati perhatian Nadia, kekaguman yang diberikan wanita muda itu, dan perasaan menjadi sosok penting.
Kini semuanya berantakan.
Dua minggu setelah Elena pergi, Daniel akhirnya menemukan lokasi vila itu melalui sopir lama keluarga Santiago.
Ia langsung berangkat malam itu juga.
Hujan deras mengguyur jalanan Bogor ketika mobilnya berhenti di depan gerbang.
Elena sedang duduk di ruang tamu ketika mendengar ketukan pintu.
Begitu melihat Daniel berdiri di sana dengan pakaian basah kuyup, jantungnya berdegup kencang.
“Aku cuma ingin bicara.”
Elena membuka pintu sedikit lebih lebar.
“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
Daniel melangkah masuk.
“Aku salah.”
Elena tersenyum tipis.
“Akhirnya.”
“Aku memang dekat dengan Nadia.”
Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk dada Elena, meskipun jauh di dalam hatinya, ia sudah mengetahui jawabannya.
“Tapi aku bersumpah, tidak ada perasaan.”
Elena tertawa pelan.
“Lucu sekali. Orang-orang selalu bilang tidak ada perasaan setelah semuanya terlambat.”
Daniel menghela napas.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut gagal.”
Elena menatapnya bingung.
Daniel duduk di sofa dan menundukkan kepala.
“Ayahku bangkrut saat aku kecil. Aku melihat ibuku bekerja siang malam. Aku selalu berpikir kalau punya anak sebelum semuanya sempurna, aku akan mengulang hidup ayahku.”
Elena terdiam.
“Aku menunda punya anak bukan karena aku tidak menginginkannya. Aku hanya takut.”
“Lalu Nadia?”
Daniel memejamkan mata.
“Itu kesalahan terbesar dalam hidupku.”
Ruangan kembali sunyi.
Elena menggenggam perutnya tanpa sadar.
Daniel memperhatikan gerakan itu.
Tatapannya berubah.
Perlahan, ia berdiri.
“Elena…”
Wanita itu membeku.
“Ada sesuatu yang belum kau katakan padaku?”
Air mata mulai memenuhi mata Elena.
Untuk beberapa detik, ia mempertimbangkan untuk tetap diam.
Namun akhirnya, ia mengambil map dari atas meja dan menyerahkannya.
Daniel membuka lembar pemeriksaan itu.
Tangannya gemetar.
Usia kehamilan: delapan minggu.
Dunia seolah berhenti berputar.
“Kamu… hamil?”
Elena mengangguk pelan.
Daniel terduduk.
Ia menatap lembar kertas itu berulang kali, seolah berharap tulisan tersebut berubah.
“Kapan?”
“Bahkan sebelum aku melihatmu bersama Nadia.”
Wajah Daniel kehilangan warna.
Air mata yang selama ini ditahannya akhirnya jatuh.
“Aku tidak tahu.”
“Tepat sekali.”
Elena memandangnya dengan mata merah.
“Kau tidak tahu karena selama ini kau terlalu sibuk memikirkan dirimu sendiri.”
Malam itu, Daniel pulang dengan hati hancur.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari bahwa kesuksesan, gedung perkantoran, dan angka-angka di rekeningnya tidak berarti apa pun dibanding kemungkinan kehilangan keluarganya.
Hari-hari berikutnya menjadi masa tersulit bagi mereka.
Daniel terus mengirim pesan.
Mengantar makanan.
Datang ke pemeriksaan kehamilan meski sering ditolak.
Sementara Elena masih bergulat dengan luka dan kekecewaan.
Sampai suatu pagi, telepon dari rumah sakit mengubah segalanya.
Daniel mengalami kecelakaan.
Mobilnya tergelincir saat menuju Bogor.
Elena berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak peduli. Namun satu jam kemudian, ia sudah berdiri di koridor rumah sakit.
Daniel terbaring dengan lengan diperban dan beberapa luka di wajah.
Saat membuka mata dan melihat Elena, pria itu tersenyum lemah.
“Kamu datang.”
Elena duduk tanpa berkata apa-apa.
Beberapa menit kemudian, Daniel mengeluarkan sebuah amplop dari laci samping tempat tidur.
“Aku ingin memberikan ini.”
Elena membukanya.
Di dalamnya terdapat surat pengunduran diri Daniel sebagai direktur utama perusahaan.
Elena menatapnya kaget.
“Apa ini?”
“Aku menjual sebagian sahamku.”
“Kamu gila?”
Daniel menggeleng.
“Aku sudah mengejar karier sepanjang hidupku sampai kehilangan hal yang paling penting.”
Elena tidak mengerti.
Hingga Daniel melanjutkan kalimatnya.
“Ayahmu datang menemuiku minggu lalu.”
Elena membeku.
“Ayahmu mengatakan sesuatu yang tidak pernah kau ceritakan.”
“Apa?”
Daniel tersenyum pahit.
“Modal awal perusahaanku berasal dari tabungan ibumu yang diam-diam diberikan melalui Santiago Group.”
Elena terdiam.
Ia memang menyembunyikan hal itu selama bertahun-tahun. Saat perusahaan Daniel hampir bangkrut di tahun pertama pernikahan mereka, ibunya menjual sebagian aset keluarga untuk menyelamatkan bisnis tersebut.
Daniel baru mengetahui semuanya sekarang.
“Aku selalu berpikir aku membangun semuanya sendiri.”
Elena menunduk.
“Aku tidak pernah ingin membuatmu merasa rendah.”
“Tapi justru karena itu aku semakin merasa kecil.”
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran mereka, Elena melihat seorang Daniel yang benar-benar rapuh.
Bukan pengusaha sukses.
Bukan pria ambisius.
Hanya seorang laki-laki yang menyadari kesalahannya terlalu lambat.
Tiga bulan kemudian, Elena melahirkan seorang bayi perempuan.
Daniel berada di luar ruang bersalin dengan tangan gemetar dan mata sembap.
Saat perawat menyerahkan bayi itu ke pelukannya, ia menangis tanpa malu.
“Elena…”
Wanita itu yang masih lemah hanya memandangnya diam.
Daniel menggenggam tangan istrinya.
“Aku tahu mungkin aku tidak pantas mendapat kesempatan kedua.”
Elena menatap putri kecil mereka.
Anak itu tertidur tenang, tidak tahu bahwa kehadirannya telah mengguncang kehidupan kedua orang tuanya.
“Aku tidak memaafkanmu hanya karena kamu menyesal.”
Daniel mengangguk pelan.
“Aku tahu.”
“Aku memaafkanmu karena aku tidak ingin anak kita tumbuh dengan kebencian.”
Air mata Daniel jatuh sekali lagi.
Namun beberapa detik kemudian, Elena melanjutkan perkataannya.
“Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu.”
Daniel mengangkat wajah.
“Aku tidak akan pernah kembali menjadi perempuan yang dulu.”
Pria itu terdiam.
Dan untuk pertama kalinya, ia memahami arti sebenarnya dari kehilangan.
Kadang, cinta memang bisa bertahan setelah pengkhianatan.
Tetapi kepercayaan yang hancur tidak pernah kembali dalam bentuk yang sama.
Sejak hari itu, Daniel belajar bahwa keluarga bukanlah sesuatu yang bisa ditunda sampai semua impian tercapai. Sebab ada orang-orang yang diam-diam menunggu, diam-diam berkorban, dan diam-diam terluka.
Dan ketika mereka akhirnya memilih pergi, sering kali penyesalan datang tepat pada saat semuanya sudah berubah selamanya.
