Seorang ibu tunawisma melangkah gugup masuk ke bank sambil menggenggam kartu tua milik almarhum kakeknya. Ia hanya berharap bisa menarik sedikit uang untuk

Clara tertawa saat itu.

“Apa yang akan terjadi kalau aku membawanya?”

Pak Surya tidak langsung menjawab.

Ia hanya menggeser satu bidak benteng di papan catur.

“Kalau hari itu benar-benar datang,” katanya pelan, “berarti aku sudah tidak ada untuk membantumu. Jadi biarkan kartu itu yang melakukannya.”

“Tapi ini kartu apa?”

“Janji.”

“Janji siapa?”

“Kepada seseorang yang pernah menyelamatkan hidupku.”

Sebelum Clara sempat bertanya lagi, kakeknya hanya tersenyum dan mengakhiri permainan.

Beberapa bulan kemudian, Pak Surya meninggal karena serangan jantung.

Seiring waktu, rumah dijual.

Barang-barangnya dibagikan.

Dan kartu logam itu terlupakan di dasar tas tua yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain selama bertahun-tahun.

Sampai pagi ini.


Clara menarik napas panjang.

“Ayo, Nisa.”

Putrinya mengangguk pelan.

Mereka berjalan menuju meja layanan.

Di balik meja marmer putih, seorang teller muda bernama Rina mengangkat kepala.

Senyumnya otomatis.

“Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?”

Clara mengeluarkan kartu logam itu dengan hati-hati.

“Saya… saya tidak tahu apakah kartu ini masih berlaku.”

Rina menerima kartu itu.

Begitu menyentuh logam dingin tersebut, ia sedikit mengernyit.

“Ini… bukan kartu ATM, Bu.”

“Saya tahu.”

“Kartu debit juga bukan.”

“Saya juga tahu.”

“Apakah Ibu punya buku tabungan?”

“Tidak.”

“Nomor rekening?”

“Tidak.”

“Identitas?”

Clara mengeluarkan KTP yang sudutnya sudah mulai rusak.

Rina melihat lagi kartu itu.

Tidak ada logo Visa.

Tidak ada chip.

Tidak ada pita magnetik.

Hanya sebuah lambang pohon beringin yang diukir sangat halus, serta sederet angka pendek yang tampak dipahat, bukan dicetak.

“Sebentar ya, Bu. Saya coba cek.”

Sejujurnya, Rina hampir yakin mesin mereka tidak akan bisa membaca benda itu.

Tetapi prosedur tetap prosedur.

Ia memasukkan nomor yang terukir ke terminal internal bank.

Layar memproses selama beberapa detik.

Kemudian…

Layar berubah hitam.

Rina mengerutkan dahi.

“Kenapa restart sendiri?”

Komputer menyala kembali.

Logo bank muncul.

Lalu sebuah jendela baru yang belum pernah ia lihat selama lima tahun bekerja muncul memenuhi monitor.

AKSES ARSIP PRIORITAS LEGACY

Rina membeku.

“Apa ini…?”

Ia menekan Enter.

Sistem meminta kode otorisasi tingkat eksekutif.

Belum pernah sekali pun layar seperti ini muncul di mejanya.

Ia memanggil supervisor.

“Pak Budi… bisa sebentar?”

Supervisor datang dengan langkah cepat.

“Ada apa?”

“Komputer saya error.”

Pak Budi melihat layar.

Wajahnya langsung berubah.

“Jangan sentuh apa pun.”

“Tapi, Pak—”

“Jangan.”

Nada suaranya terlalu serius.

Ia sendiri memasukkan kredensial supervisor.

Ditolak.

LEVEL AKSES TIDAK MEMADAI.

Pak Budi menelan ludah.

Ia menghubungi lantai atas.

“Pak Arman? Mohon turun ke teller tiga. Sekarang.”


Lima menit kemudian, Manajer Cabang Arman Wijaya muncul.

Nasabah mulai memperhatikan.

Seorang ibu berpenampilan lusuh.

Dua anak kecil.

Dan kini manajer cabang berdiri di samping mereka.

“Ada masalah?”

Pak Budi menyerahkan kartu logam itu.

Arman memandang sekilas.

Awalnya biasa saja.

Lalu matanya membelalak.

Ia membalik kartu tersebut.

Jari-jarinya sedikit bergetar.

“Dari mana Ibu mendapatkan ini?”

Clara mulai gugup.

“Itu… milik almarhum kakek saya.”

“Siapa nama beliau?”

“Surya Santoso.”

Ruangan terasa mendadak sunyi.

Arman menatap Clara beberapa detik.

“Mohon tunggu sebentar.”

Ia membawa kartu itu sendiri ke ruang belakang.


Di ruang server yang hanya bisa diakses manajemen, Arman memasukkan nomor kartu ke terminal utama.

Layar langsung membuka basis data yang sudah puluhan tahun tidak pernah disentuh.

Satu profil muncul.

PEMILIK: SURYA SANTOSO

STATUS: AKTIF

Arman berkedip.

Aktif?

Mustahil.

Tanggal lahir menunjukkan pria itu seharusnya sudah meninggal lebih dari lima belas tahun lalu.

Namun sistem tidak pernah menandainya sebagai rekening biasa.

Di bawah nama itu terdapat satu kalimat yang membuat napas Arman tercekat.

PROGRAM PERWALIAN ABADI — KELAS FOUNDER

Ia belum pernah mendengar program itu.

Dengan tangan dingin, ia membuka detail rekening.

Lalu angka itu muncul.

Arman merasa jantungnya berhenti berdetak.

Ia menghitung digitnya sekali.

Lalu dua kali.

Kemudian mengambil kalkulator.

Bukan karena sistem salah.

Melainkan karena pikirannya menolak mempercayai apa yang dilihatnya.

Saldo tersebut bukan jutaan.

Bukan miliaran.

Bahkan bukan ratusan miliar.

Angkanya mencapai belasan triliun rupiah.

Di bawah saldo itu terdapat satu instruksi otomatis yang tersimpan sejak tiga puluh dua tahun lalu.

Jika ahli waris sah datang membawa kartu asli, segera hubungi Ketua Dewan Pengawas Bank Nusantara Sentral. Jangan lakukan transaksi apa pun sebelum beliau hadir secara langsung.

Arman perlahan menurunkan monitor.

Di luar ruang server, para pegawai masih mengira hanya ada gangguan sistem.

Tak seorang pun tahu bahwa seorang ibu tunawisma yang datang hanya ingin menarik sedikit uang untuk membeli susu dan obat batuk bagi bayinya… mungkin baru saja menjadi pemilik sah salah satu rekening paling misterius dalam sejarah Bank Nusantara Sentral.

Bersambung…

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang