“Pak Rahman, beras injakan orang juga mau Bapak kumpulin? Memangnya anak Bapak nggak bisa kasih makan?”
Kalimat itu memecah riuh pasar tradisional yang sejak pagi dipenuhi suara tawar-menawar. Tawa langsung meledak dari berbagai penjuru. Beberapa orang bahkan sengaja mendekat hanya untuk melihat lelaki tua yang sedang jongkok di lantai becek.
Pak Rahman tidak membalas.

Tangannya yang penuh keriput tetap memunguti butiran beras yang tercecer, meniup pelan setiap genggamannya sebelum memasukkannya ke dalam plastik hitam.
“Masih bisa dicuci,” gumamnya pelan.
“Dicuci? Harga diri juga bisa dicuci, Pak?” sahut seseorang.
“Katanya punya anak perempuan. Cantik lagi. Kok bapaknya sampai mulung begitu?”
Bu Sari langsung menyambung dengan nada penuh kemenangan.
“Lah, bagaimana mau bantu bapaknya? Kuliah saja si Sekar nggak selesai. Beda sama anakku, lulus sarjana, sekarang kerja di Jakarta. Orang tua juga nggak dibikin malu.”
Tangan Pak Rahman berhenti.
Bukan karena kata-kata itu terlalu menyakitkan. Ia sudah terlalu sering mendengarnya.
Namun karena tepat di depannya berdiri Sekar.
Gadis berkerudung sederhana itu menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.
“Bapak… sudah.”
Ia segera berdiri di depan Pak Rahman, seolah ingin menutupi tubuh ayahnya dari semua tatapan yang merendahkan.
“Ayo pulang.”
Pak Rahman tersenyum kecil.
“Ini masih bagus, Nak. Nasi tetap nasi walaupun jatuh.”
“Tapi Bapak bukan sampah yang pantas diinjak-injak!”
Suara Sekar pecah.
Pasar mendadak sunyi.
Saat itulah seorang pria berkemeja biru tua melangkah masuk.
“Berapa harga semua beras yang ada di sini?”
Pedagang yang semula ikut menonton sempat kebingungan.
“Kalau mau beli, beli yang di karung, Mas. Jangan yang di lantai.”
“Berapa semuanya?”
Nada suaranya tenang, tetapi cukup dingin hingga membuat beberapa orang menghentikan tawanya.
Pedagang menghitung cepat.
“Ada dua puluh karung. Total sembilan juta tiga ratus tujuh puluh lima ribu.”
“Saya beli semuanya.”
Ia menyerahkan sebuah amplop.
“Di sini ada sepuluh juta. Sisanya buat ongkos kirim. Antar semuanya ke rumah Bapak ini.”
Semua orang terdiam.
Bu Sari bahkan sampai lupa menutup mulutnya.
Pak Rahman buru-buru menggeleng.
“Den, terlalu banyak… saya tidak bisa menerima…”
Pria itu tersenyum tipis.
“Lebih baik terlalu banyak daripada terlalu sedikit. Supaya Bapak tidak perlu lagi memungut beras di depan orang-orang yang kehilangan rasa kemanusiaan.”
Beberapa wajah langsung menunduk.
Pria itu kemudian memandang Sekar beberapa detik.
“Oh ya, kalau anak Bapak belum punya pasangan… saya ingin melamarnya.”
Kalimat itu membuat seluruh pasar membeku.
“Apa?” seru Bu Sari.
Sekar sendiri tidak mampu berkata apa-apa.
Pria itu mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.
“Saya Arga Pradipta.”
Tidak ada satu pun yang mengenali nama itu.
Hanya pedagang beras yang tiba-tiba membelalak.
“Pak… Arga Pradipta? Yang punya jaringan supermarket Arga Mart?”
Arga hanya mengangguk pelan.
Suasana langsung berubah.
Orang-orang yang tadi tertawa kini saling berpandangan.
Pak Rahman buru-buru mengembalikan kartu itu.
“Maaf, Den. Saya orang miskin. Anak saya juga cuma lulusan SMA. Dia bahkan tidak sempat menyelesaikan kuliahnya.”
Arga memandang Sekar.
“Memang kenapa tidak selesai?”
Sekar menunduk.
“Karena Bapak sakit. Semua tabungan habis untuk operasi. Saya berhenti kuliah supaya bisa bekerja.”
Pak Rahman langsung menyela.
“Dia bohong. Dia sebenarnya anak pintar. Nilainya selalu bagus.”
Sekar menggenggam tangan ayahnya.
“Sudah, Pak.”
Arga memperhatikan mereka lama.
Lalu ia berkata pelan.
“Besok pagi saya akan datang ke rumah Bapak. Kalau setelah itu Sekar tetap menolak, saya tidak akan memaksa.”
Ia pergi begitu saja.
Tak lama kemudian truk pengangkut beras benar-benar mengikuti mobilnya menuju rumah kecil Pak Rahman.
Hari itu menjadi pembicaraan satu kampung.
Sebagian orang yakin Arga hanya sedang membuat konten.
Sebagian lagi menduga Sekar sebenarnya sudah mengenalnya sejak lama.
Bu Sari paling keras menyebarkan gosip.
“Mana ada orang kaya mau nikah sama anak pemulung.”
Namun keesokan paginya, enam mobil berhenti di depan rumah Pak Rahman.
Tetangga langsung memenuhi gang sempit.
Arga turun bersama seorang wanita paruh baya yang anggun.
“Ayah saya sudah meninggal,” katanya.
“Ini ibu saya.”
Wanita itu langsung menghampiri Pak Rahman.
“Saya sudah mendengar semuanya dari Arga.”
Pak Rahman semakin bingung.
Arga menghela napas.
“Tiga bulan lalu saya pernah kecelakaan di jalan tol.”
Pak Rahman mengernyit.
“Saya tidak ingat.”
“Memang Bapak tidak mengenali saya.”
Arga tersenyum.
“Saat itu mobil saya terbakar. Banyak orang hanya merekam dengan ponsel.”
Sekar mulai mengingat sesuatu.
“Tapi ada seorang bapak yang memecahkan kaca mobil dengan batu…”
“Itu Bapak.”
Pak Rahman terdiam.
“Saya tidak pernah tahu siapa yang saya tolong.”
“Karena setelah ambulans datang, Bapak pergi begitu saja.”
Arga mengangguk.
“Saya mencari Bapak selama berbulan-bulan.”
Semua tetangga saling memandang.
“Bagaimana akhirnya menemukan rumah ini?”
Arga tersenyum kecil.
“Kemarin.”
Ia menatap Pak Rahman.
“Saya mengenali wajah Bapak saat melihat Bapak memungut beras.”
Pak Rahman menggeleng.
“Saya hanya melakukan apa yang seharusnya.”
“Justru itu.”
Arga menghela napas panjang.
“Orang yang rela mempertaruhkan nyawanya demi orang asing, lalu tetap rendah hati meski hidup susah… tidak banyak.”
Ia menoleh kepada Sekar.
“Saya tidak jatuh cinta karena wajahmu.”
Sekar memerah.
“Saya jatuh hormat karena melihat bagaimana kamu memperlakukan ayahmu.”
Suasana menjadi hening.
Arga kemudian mengeluarkan sebuah map.
“Ini surat penerimaan kembali kuliah.”
Sekar membelalak.
“Saya menghubungi kampusmu. Nilaimu masih aktif. Kamu bisa melanjutkan semester depan.”
Air mata Sekar langsung jatuh.
“Tapi saya tidak punya biaya.”
“Sudah saya lunasi.”
Pak Rahman buru-buru berdiri.
“Tidak… kami tidak bisa terus menerima bantuan.”
Arga tersenyum.
“Kalau begitu anggap ini pembayaran utang saya.”
“Utang?”
“Nyawa saya.”
Pak Rahman menangis untuk pertama kalinya.
Hari-hari berikutnya berubah sangat cepat.
Sekar kembali kuliah.
Pak Rahman tidak lagi memungut beras karena Arga memintanya menjadi penasihat program sosial di yayasannya.
Tugasnya sederhana.
Mengawasi distribusi beras untuk warga miskin agar tidak ada yang kelaparan.
Pak Rahman sempat menolak.
“Apa saya pantas?”
Arga tertawa.
“Kalau orang yang menghargai sebutir nasi tidak pantas, siapa lagi?”
Program itu berkembang ke berbagai kota.
Banyak relawan ikut bergabung.
Nama Pak Rahman mulai dikenal.
Bukan sebagai pemulung beras.
Melainkan sebagai lelaki yang mengajarkan bahwa makanan bukan untuk disia-siakan.
Sementara itu, kehidupan Bu Sari justru berubah.
Anak yang selama ini ia bangga-banggakan ternyata terjerat pinjaman online.
Utang menumpuk.
Pekerjaannya hilang.
Rumah yang dibeli dengan cicilan hampir disita.
Suatu sore, Bu Sari datang ke rumah Pak Rahman.
Matanya sembab.
“Aku… mau pinjam uang.”
Pak Rahman mempersilahkannya masuk.
Tidak ada sindiran.
Tidak ada balas dendam.
Ia hanya menuangkan teh hangat.
“Aku malu.”
Bu Sari menangis.
“Dulu aku menghina Bapak setiap hari.”
Pak Rahman tersenyum.
“Kalau saya masih mengingat semua hinaan itu, berarti saya lebih miskin daripada dulu.”
Kalimat sederhana itu membuat Bu Sari menangis semakin keras.
Pak Rahman tidak meminjamkan uang.
Sebaliknya, ia menawarkan pekerjaan kepada anak Bu Sari di gudang distribusi beras milik yayasan.
“Bekerja dulu. Pelan-pelan lunasi utangnya.”
Bu Sari berlutut.
Namun Pak Rahman segera mengangkatnya.
“Jangan begitu. Kita sama-sama manusia.”
Enam bulan kemudian, Sekar lulus kuliah dengan predikat cum laude.
Di hari wisuda, Pak Rahman mengenakan jas sederhana yang dipinjamkan Arga.
Ia berdiri paling belakang sambil tersenyum.
Saat nama Sekar dipanggil, seluruh ruangan bertepuk tangan.
Namun kejutan belum selesai.
Di depan semua tamu, Arga naik ke panggung.
Ia mengambil mikrofon.
“Saya ingin meminta izin kepada seorang ayah.”
Ia berjalan turun menuju Pak Rahman.
Lalu, tanpa memedulikan tatapan ribuan orang, Arga berlutut.
“Pak… dulu Bapak menyelamatkan hidup saya.”
“Saat semua orang memandang rendah Bapak, saya justru melihat kemuliaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.”
“Kalau Bapak berkenan… izinkan saya menjaga Sekar seumur hidup saya.”
Pak Rahman tidak langsung menjawab.
Ia memandang putrinya.
Sekar mengangguk sambil menangis.
Pak Rahman menggenggam tangan Arga.
“Saya tidak pernah bermimpi punya menantu kaya.”
“Saya hanya berharap anak saya diperlakukan sebagai manusia.”
Arga mengangguk mantap.
“Itu janji saya.”
Beberapa bulan kemudian mereka menikah secara sederhana.
Tidak ada pesta mewah.
Tidak ada kemewahan berlebihan.
Hanya keluarga, tetangga, dan orang-orang yang pernah menerima bantuan beras dari yayasan.
Di akhir acara, Pak Rahman mengambil segenggam beras dari sebuah mangkuk kecil.
Ia mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Dulu orang menertawakan saya karena memungut butiran beras yang jatuh.”
“Padahal yang saya pungut bukan sekadar makanan.”
Ia tersenyum menatap semua tamu.
“Saya sedang menjaga rasa syukur.”
Ruangan menjadi sunyi.
Banyak orang menundukkan kepala.
Karena hari itu mereka akhirnya mengerti, harga diri seseorang tidak pernah ditentukan oleh pekerjaannya, melainkan oleh ketulusan hati yang tetap ia jaga bahkan ketika dunia memilih untuk merendahkannya.
