Enam bulan setelah perceraian kami, mantan suamiku tiba-tiba mengundangku ke pernikahannya

Arga berdiri membeku.

Tatapannya tidak pernah lepas dari bayi kecil yang sedang tertidur pulas di ranjang transparan rumah sakit.

“Aku… aku tidak tahu,” suaranya nyaris tak terdengar.

Aku menggeleng pelan.

“Tidak, Arga. Jangan bilang kamu tidak tahu. Kamu memilih untuk tidak tahu.”

Ruangan itu hening.

Ibuku memeluk bahuku, berusaha menahan emosinya.

Perawat yang tadi hendak masuk perlahan menutup kembali pintu, memberi kami ruang.

Arga menelan ludah.

“Aku benar-benar percaya apa yang dikatakan Rania.”

Nama itu membuatku mengangkat kepala.

Rania.

Wanita yang muncul hanya dua minggu setelah kami resmi bercerai.

Wanita yang menurut Arga “lebih memahami mimpi-mimpinya.”

Wanita yang kini menjadi calon istrinya.

“Apa tepatnya yang dia katakan?” tanyaku datar.

Arga mengusap wajahnya.

“Dia bilang kamu mengalami keguguran beberapa minggu setelah perceraian.”

Aku tertawa kecil.

Tawa yang lebih mirip tangisan.

“Lalu kamu percaya begitu saja?”

Dia menunduk.

“Aku… waktu itu aku ingin percaya.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada hinaan apa pun.

Karena akhirnya dia jujur.

Bukan karena tidak tahu.

Melainkan karena lebih nyaman mempercayai kebohongan daripada menghadapi tanggung jawab.

Aku memandang putriku.

“Namanya Alya.”

Arga mengulang pelan.

“Alya…”

Air matanya mulai menggenang.

“Boleh… boleh aku menggendongnya?”

“Tidak.”

Jawabanku begitu cepat hingga bahkan ibuku terkejut.

“Kamu kehilangan hak itu enam bulan lalu.”

Arga memejamkan mata.

“Aku pantas mendapatkannya.”

Aku tidak menjawab.

Saat itulah ponsel Arga berbunyi.

Nama Rania muncul di layar.

Ia menatapku sejenak sebelum mengangkatnya.

“Sayang, kamu di mana? Vendor sedang menunggumu.”

Arga tidak langsung menjawab.

“Arga?”

“Aku di rumah sakit.”

“Hah? Kenapa?”

“Aku baru tahu kalau Maya melahirkan.”

Di ujung telepon terdengar keheningan.

Lalu suara Rania berubah panik.

“Jangan percaya dia! Dia pasti berbohong!”

Arga memandang bayi itu lagi.

“Aku sedang melihat bayinya sekarang.”

Rania langsung meninggikan suara.

“Itu bukan anakmu!”

Arga menarik napas panjang.

“Rania… bayi itu lahir tiga hari lalu.”

“Iya, lalu kenapa?”

“Perceraian kami enam bulan yang lalu.”

“Terus?”

“Dokter baru saja menunjukkan tanggal pemeriksaan kehamilan Maya.”

Ia berhenti sejenak.

“Usia kandungannya sembilan bulan.”

Tidak ada jawaban.

Arga melanjutkan.

“Artinya dia sudah hamil saat kami masih menjadi suami istri.”

Keheningan di telepon menjadi sangat panjang.

Akhirnya Rania berkata pelan,

“Kamu tidak mengerti.”

“Oh, sekarang aku mulai mengerti.”

Suara Arga berubah dingin.

“Yang tidak kumengerti adalah kenapa kamu mengatakan Maya keguguran.”

Rania mulai gugup.

“Aku… aku hanya tidak ingin kamu kembali padanya.”

Dadaku langsung menegang.

Arga menutup mata.

“Kamu membohongiku selama enam bulan?”

“Karena aku mencintaimu!”

“Bukan.”

Suara Arga tegas.

“Itu bukan cinta.”

“Itu manipulasi.”

Klik.

Telepon diputus.

Arga berdiri beberapa saat tanpa bergerak.

Kemudian ia perlahan berlutut di samping tempat tidurku.

“Aku tahu kata maaf tidak akan memperbaiki apa pun.”

Aku diam.

“Tapi izinkan aku bertanggung jawab.”

Aku menatapnya lama.

“Lucu sekali.”

“Apa?”

“Enam bulan lalu aku menangis memohon agar kamu percaya bahwa aku mengandung anakmu.”

“Dan sekarang…”

Aku mengusap pipi Alya dengan lembut.

“…kamu datang memohon agar aku percaya kamu bisa menjadi ayahnya.”

Arga tidak sanggup menjawab.

Saat itulah seseorang mengetuk pintu.

Seorang pria berjas memasuki ruangan.

“Permisi.”

Ia memandang Arga.

“Pak Arga Pratama?”

“Ya.”

“Saya dari firma hukum Wijaya & Partners.”

Semua orang menoleh.

Pria itu mengeluarkan sebuah map cokelat.

“Saya sudah mencari Anda sejak pagi.”

“Mengenai apa?”

Pria itu membuka dokumen tersebut.

“Ini berkaitan dengan wasiat almarhum ayah Anda.”

Wajah Arga langsung berubah.

“Ayah saya meninggal lima tahun lalu.”

“Benar.”

“Namun ada satu syarat dalam wasiat yang baru dapat dijalankan hari ini.”

Ruangan kembali sunyi.

Pengacara itu memandang bayi kecil yang tertidur.

Lalu berkata perlahan,

“Almarhum meninggalkan seluruh saham keluarganya kepada cucu biologis pertamanya.”

Tatapan semua orang serentak tertuju pada Alya.

Dan sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa, pengacara itu menambahkan kalimat yang membuat wajah Arga semakin pucat.

“Nilai warisan tersebut saat ini diperkirakan mencapai Rp480 miliar.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang