Namaku Elena.
Aku tinggal sendiri di apartemen lantai dua puluh satu di Jakarta.
Aku bekerja sebagai arsitek.
Setidaknya…
Begitulah yang kuingat.

Senin pagi aku bangun dan mendapati laptopku berada di meja makan.
Aku yakin semalam kutinggalkan di ruang kerja.
Kupikir aku hanya lupa.
Selasa pagi, tanaman di balkon sudah disiram.
Padahal aku belum sempat melakukannya.
Rabu, gaun hitam yang kusimpan di lemari tiba-tiba tergantung di belakang pintu kamar.
Lalu Kamis…
Aku menemukan secarik kertas di samping tempat tidur.
“Jangan lupa makan siang.”
Tulisan tangan itu…
Persis milikku.
Aku mulai merasa ada sesuatu yang salah.
Aku memasang kamera keamanan di ruang tamu dan kamar.
Malamnya aku sengaja memeriksa aplikasi sebelum tidur.
Normal.
Pukul enam pagi aku langsung memutar rekaman.
Dadaku langsung dingin.
Video memperlihatkan aku bangun pukul dua dini hari.
Berjalan ke dapur.
Menyiram tanaman.
Memindahkan laptop.
Menulis catatan.
Lalu kembali tidur.
Masalahnya…
Aku sama sekali tidak mengingat semua itu.
Aku membawa rekaman itu ke dokter.
“Sleepwalking?”
Dokter menggeleng.
“Gerakan Anda terlalu terarah.”
“Seolah benar-benar sadar.”
Aku pulang semakin bingung.
Sore itu aku bertemu tetangga sebelah, Pak Hendra.
“Kok sudah lama nggak kelihatan keluar?” tanyanya sambil menatapku dengan heran.
Aku tertawa kecil.
“Maksud Bapak? Saya kerja setiap hari.”
Pak Hendra mengernyit.
“Kerja? Bu Elena, saya hampir setiap pagi menyiram tanaman di lorong. Seminggu ini saya nggak pernah lihat Ibu keluar.”
Aku mematung.
“Itu nggak mungkin.”
Beliau mengangkat bahu.
“Saya cuma bilang apa yang saya lihat.”
Aku langsung memesan taksi menuju kantorku.
Gedung itu berdiri megah di kawasan Sudirman, persis seperti yang selalu kuingat.
Begitu memasuki lobi, satpam menghentikanku.
“Maaf, Bu. Ada yang bisa dibantu?”
“Saya Elena. Dari Divisi Desain.”
Satpam menatapku beberapa detik.
“Lantai berapa?”
“Lantai delapan.”
Ia membuka daftar tamu.
“Lantai delapan sudah kosong hampir dua bulan. Perusahaannya pindah.”
Aku tersenyum gugup.
“Mungkin Bapak baru.”
Satpam memanggil supervisor gedung.
Pria paruh baya itu datang sambil memperhatikanku.
“Maaf, Mbak. Firma arsitek yang dulu di sini memang pindah ke BSD sejak dua bulan lalu.”
Aku langsung membuka ponsel.
Aneh.
Tidak ada satu pun grup kantor.
Tidak ada email pekerjaan.
Tidak ada jadwal proyek.
Semua yang kuingat…
Menghilang.
Aku buru-buru menuju alamat kantor baru.
Sesampainya di sana, resepsionis memandangku bingung.
“Maaf, saya ingin bertemu Pak Dion.”
“Nama Mbak?”
“Elena.”
Perempuan itu mengetik beberapa saat.
“Lho…”
“Ada apa?”
“Data Mbak memang ada.”
Aku mengembuskan napas lega.
“Tapi statusnya sudah resign tiga bulan lalu.”
Aku membeku.
“Itu pasti salah.”
Resepsionis menggeleng pelan.
“Bahkan surat pengunduran dirinya ditandatangani sendiri.”
Aku melihat salinan digitalnya.
Benar.
Tanda tangan itu milikku.
Alasannya tertulis singkat.
Mengundurkan diri karena alasan kesehatan.
Aku keluar dari gedung dengan kepala berdenyut.
Kenapa aku tidak mengingat semua ini?
Malam itu aku memeriksa seluruh apartemen.
Di bagian belakang lemari pakaian, aku menemukan sebuah kotak besi kecil.
Aku tidak ingat pernah memilikinya.
Di dalamnya ada beberapa foto.
Foto-foto diriku.
Sebagian besar sedang tidur.
Ada juga foto ketika aku duduk menatap jendela.
Semua diambil dari dalam apartemen.
Tanganku mulai gemetar.
Di dasar kotak terdapat sebuah flashdisk.
Aku segera membukanya.
Isinya hanya satu video.
Tanggal pembuatannya dua minggu sebelumnya.
Aku menekan tombol putar.
Wajahku sendiri muncul di layar.
Rambutku berantakan.
Mataku sembap.
Namun ekspresinya sangat tenang.
“Halo, Elena.”
Aku terpaku.
“Kalau kamu sedang menonton ini, berarti kamu lupa lagi.”
Napas kutertahan.
“Aku adalah kamu.”
“Atau lebih tepatnya… versi dirimu yang masih mengingat semuanya.”
Air mataku mulai mengalir.
Video itu berlanjut.
“Tiga bulan lalu kita mengalami kecelakaan mobil.”
“Kepala kita terbentur cukup keras.”
“Secara fisik kita sembuh.”
“Tapi ada efek yang tidak diperkirakan dokter.”
“Setiap beberapa hari sekali, ingatanmu akan mereset.”
“Otakmu menciptakan hari-hari baru yang sebenarnya tidak pernah terjadi.”
Aku menggeleng pelan.
Tidak…
Ini tidak mungkin.
“Makanya kamu merasa masih bekerja.”
“Padahal sudah berhenti.”
“Makanya kamu merasa setiap hari keluar apartemen.”
“Padahal sebagian besar waktumu berada di rumah.”
Aku terduduk di lantai.
Video itu membuatku semakin sesak.
“Aku sudah mencoba berbagai cara agar kamu tetap bisa hidup normal.”
“Itulah kenapa aku menaruh catatan.”
“Menyiram tanaman.”
“Memindahkan barang.”
“Membuat rutinitas.”
“Semua kulakukan saat ingatanmu masih utuh.”
“Lalu ketika memorimu menghilang, kamu mengira ada orang lain di apartemen.”
Aku menangis tanpa suara.
Tapi satu pertanyaan masih mengganjal.
Kalau video ini direkam oleh diriku sendiri…
Mengapa aku tidak mengingat proses merekamnya?
Jawabannya datang beberapa detik kemudian.
“Masalahnya semakin parah.”
“Kadang aku masih bisa mengambil alih kesadaranmu selama beberapa jam.”
“Kadang tidak.”
“Aku sendiri tidak tahu kapan versi dirimu yang satu lagi akan muncul.”
Aku menatap layar dengan ngeri.
Versi diriku yang satu lagi?
“Bukan kepribadian ganda.”
“Bukan pula kerasukan.”
“Hanya otak yang mencoba menyusun kembali identitas yang hancur.”
“Tapi dua versi ingatan itu tidak bisa saling mengakses.”
Aku mematikan video.
Seluruh tubuhku dingin.
Malam itu aku memutuskan untuk tidak tidur.
Aku ingin membuktikan semuanya.
Pukul satu.
Tidak terjadi apa-apa.
Pukul dua.
Mataku mulai berat.
Aku mencubit tangan sendiri.
Tetap terjaga.
Pukul dua lewat lima belas.
Tiba-tiba kepalaku terasa sangat nyeri.
Pandanganku buram.
Ketika sadar kembali…
Jam menunjukkan pukul lima pagi.
Aku masih duduk di sofa.
Namun secangkir kopi hangat berada di depanku.
Laptopku sudah terbuka.
Di layar terdapat dokumen baru.
Judulnya hanya satu kalimat.
“Kamu akhirnya bertahan sampai jam dua.”
Tanganku gemetar membaca isi dokumen itu.
“Sayangnya, kamu tetap kehilangan waktu.”
“Aku sedang menulis ini sekarang.”
“Aku tahu kamu akan membacanya beberapa jam lagi.”
Aku melihat jam sistem.
Dokumen itu terakhir disimpan pukul tiga lewat dua belas.
Aku sama sekali tidak mengingat satu jam itu.
Isi pesannya membuat bulu kudukku berdiri.
“Aku sudah mencoba mencari bantuan.”
“Dokter belum menemukan penyebabnya.”
“Tapi ada sesuatu yang lebih aneh.”
“Aku mulai menemukan barang-barang yang bahkan bukan milik kita.”
Aku langsung berlari menuju lemari.
Benar.
Di sudut bawah terdapat sebuah syal pria.
Aku tidak pernah memilikinya.
Laci dapur berisi kunci mobil dengan logo yang tidak kukenal.
Ada pula sebuah kartu akses apartemen atas nama orang lain.
Aku menelan ludah.
Semuanya terasa semakin tidak masuk akal.
Malam berikutnya aku kembali berjaga.
Kali ini aku mengikat pergelangan tanganku dengan tali ke kaki meja.
Aku ingin memastikan tidak mungkin bergerak.
Pagi harinya…
Talinya masih terikat.
Namun simpulnya berubah.
Di atas meja terdapat secarik kertas baru.
“Kamu memang tidak bergerak.”
“Tapi kamu salah memahami masalahnya.”
Aku merasakan hawa dingin menjalar ke tengkuk.
Tulisan tangan itu tetap milikku.
Namun gaya bahasanya berbeda.
Lebih singkat.
Lebih dingin.
Aku membuka seluruh rekaman kamera.
Kali ini tidak ada gambar diriku bangun.
Tidak ada siapa-siapa.
Tetapi tepat pukul tiga dini hari…
Seluruh rekaman berhenti selama lima menit.
Lalu kembali normal.
Seolah ada bagian waktu yang dipotong.
Teknisi kamera memastikan perangkat itu tidak rusak.
“Listrik juga stabil, Bu.”
Aku mulai kehilangan kemampuan membedakan mana kenyataan dan mana ingatan.
Hingga suatu sore, Pak Hendra mengetuk pintuku.
“Bu Elena.”
Aku membuka pintu.
Beliau tampak ragu.
“Saya sebenarnya sudah lama mau kasih ini.”
Beliau menyerahkan sebuah amplop.
“Seseorang menitipkan sebelum pindah.”
“Katanya kalau Ibu mulai bertanya-tanya soal waktu, baru boleh saya berikan.”
Aku segera membukanya.
Di dalamnya ada surat.
Tulisan tanganku lagi.
“Kalau kamu membaca ini, berarti semua dugaanku benar.”
“Bukan ingatanmu yang hilang.”
“Melainkan waktu.”
Aku membaca kalimat berikutnya dengan napas tercekat.
“Kita tinggal di apartemen nomor 2108.”
“Tapi setiap pukul tiga dini hari, selama lima menit, apartemen ini berpindah ke waktu yang berbeda.”
“Di sana ada dirimu yang lain.”
“Dia juga menulis surat yang sama.”
“Dia juga mengira akulah bayangan.”
Air mataku jatuh tanpa terasa.
Aku berlari ke balkon.
Di kejauhan, Jakarta mulai diselimuti senja.
Gedung-gedung tetap sama.
Langit tetap sama.
Namun untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa mungkin bukan ingatanku yang rusak.
Mungkin ada dua Elena.
Dua kehidupan.
Dua garis waktu yang setiap malam saling bersentuhan selama lima menit.
Kami saling membereskan rumah.
Saling meninggalkan catatan.
Saling berusaha menjaga satu sama lain.
Tanpa pernah benar-benar bisa bertemu.
Malam itu, tepat pukul tiga, aku duduk di depan meja dengan secarik kertas kosong.
Aku menulis perlahan.
“Aku tidak tahu siapa yang akan membaca ini.”
“Tapi kalau kamu benar-benar ada…”
“Terima kasih karena sudah menjagaku selama ini.”
Keesokan paginya, kertas itu masih berada di tempatnya.
Namun di bawah tulisanku kini terdapat satu kalimat baru yang bukan kutulis.
“Sama-sama.”
“Jangan takut.”
“Aku juga akhirnya tahu… bahwa aku tidak pernah sendirian.”
