Seorang miliarder bersikeras mengatakan bahwa ia telah menghabiskan semalam bersamaku di sebuah hotel mewah.

Namaku Alina Prasetyo. Sudah tujuh tahun aku mengajar di sebuah taman kanak-kanak kecil di Bandung. Hidupku nyaris tidak pernah berubah. Bangun sebelum matahari terbit, menyiapkan bahan belajar, menemani anak-anak bernyanyi, lalu pulang dengan bus kota sambil membawa tas berisi buku gambar yang sering penuh coretan krayon.

Aku selalu percaya hidup sederhana adalah hidup yang tenang.

Sampai suatu pagi, ketenangan itu runtuh.

Dua orang penyidik datang ke sekolah tepat saat murid-murid sedang bermain di halaman. Mereka menunjukkan kartu identitas, lalu meminta izin kepada kepala sekolah untuk berbicara denganku.

“Bu Alina, apakah Ibu mengenal seorang bernama Dimas Atmaja?”

Aku menggeleng.

Nama itu tidak asing. Siapa pun yang mengikuti berita bisnis pasti mengenalnya. Pendiri Atmaja Group. Salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.

“Tidak.”

“Apakah Ibu pernah menginap di Hotel Maheswara Jakarta?”

“Belum pernah.”

Tatapan kedua penyidik itu saling bertemu.

Salah seorang membuka tablet.

“Sebaiknya Ibu melihat ini.”

Video CCTV mulai diputar.

Aku melihat seorang perempuan turun dari sebuah mobil hitam mewah.

Wajahnya membuat napasku berhenti.

Itu wajahku.

Ia berjalan berdampingan dengan Dimas memasuki hotel, tersenyum, lalu menghilang di dalam lift menuju lantai paling atas.

Aku memegang meja agar tidak jatuh.

“Itu bukan saya.”

“Tanggal rekaman sesuai dengan malam ketika Pak Dimas menghilang selama hampir dua belas jam.”

“Aku sedang di Bandung.”

“Apakah ada yang bisa membuktikannya?”

Aku terdiam.

Malam itu ibuku sedang menjaga kakakku yang baru melahirkan di Garut. Aku sendirian di rumah kontrakan.

Tidak ada satu orang pun yang benar-benar melihatku sepanjang malam.

Dalam hitungan jam, berita itu menyebar ke media sosial.

Guru TK Diduga Wanita Misterius Pendamping Miliarder.

Foto wajahku dibandingkan dengan tangkapan layar CCTV.

Sekolah memintaku cuti sementara.

Orang-orang yang dulu ramah mulai menjauh.

Saat sedang kebingungan, seseorang mengetuk pintu rumah.

Pria itu mengenakan kemeja sederhana, masker, dan topi.

Namun aku langsung mengenalinya.

Dimas Atmaja.

“Aku hanya ingin bicara lima belas menit.”

Aku hampir menutup pintu.

“Silakan pergi.”

“Aku yakin perempuan di hotel itu bukan kamu.”

Tanganku berhenti.

“Masuklah.”

Ia duduk tanpa banyak bicara.

Beberapa detik kemudian ia mengeluarkan map berisi foto-foto.

“Aku baru sadar setelah melihat semua rekaman dari berbagai sudut.”

Ia menunjuk sebuah gambar.

“Lihat telinganya.”

Aku memperhatikan.

Perempuan itu memakai anting kecil.

“Aku tidak punya lubang anting.”

“Benar.”

Ia mengangguk.

“Dan ada satu lagi.”

Ia memperbesar gambar lain.

“Dia sedikit pincang saat berjalan.”

Aku mengingat masa kecilku.

Aku tidak pernah mengalami cedera.

“Kalau begitu kenapa semua orang mengira itu aku?”

“Itulah yang sedang ingin kucari.”

Aku menatapnya.

“Mengapa Bapak begitu peduli?”

Karena kalau benar ada seseorang yang mampu menggandakan identitasmu, berarti aku juga sedang dijebak.”

Kalimat itu membuat bulu kudukku berdiri.

Dimas menjelaskan bahwa malam di hotel itu ia bertemu seorang perempuan yang mengaku memiliki informasi tentang penggelapan dana besar di salah satu anak perusahaannya.

Perempuan itu meminta semua telepon dimatikan.

Saat Dimas bangun keesokan pagi, perempuan tersebut telah menghilang bersama flashdisk yang dibawanya.

Beberapa hari kemudian muncul berita bahwa ia menghabiskan malam bersama perempuan misterius.

Tidak lama setelah itu, rekening perusahaan kehilangan hampir dua ratus miliar rupiah.

Seseorang sengaja menghubungkan dua peristiwa tersebut.

“Kamu dan aku sama-sama korban.”

Aku mulai mempercayainya.

Kami memutuskan mencari perempuan dalam CCTV itu.

Penyelidikan membawa kami ke Jakarta.

Seorang petugas parkir hotel mengingat sesuatu.

“Perempuan itu sempat naik mobil putih setelah keluar hotel.”

“Kau ingat plat nomornya?”

“Tidak. Tapi ada stiker klinik kecantikan.”

Petunjuk itu membawa kami ke sebuah klinik bedah estetika.

Pemilik klinik menolak memberi informasi.

Namun malam itu klinik tersebut terbakar.

Beruntung tidak ada korban.

Yang mengejutkan, seluruh arsip pasien ikut lenyap.

“Seseorang menghapus jejak.”

Dimas mulai curiga bahwa kasus ini jauh lebih besar.

Beberapa hari kemudian aku menerima paket tanpa nama.

Di dalamnya hanya ada sebuah foto lama.

Seorang bayi perempuan.

Di belakang foto tertulis satu kalimat.

Cari Rumah Kasih Bunda.

Ibuku langsung pucat ketika melihat foto itu.

“Bu… Ibu kenal tempat ini?”

Air mata mulai mengalir di pipinya.

“Aku berharap rahasia ini terkubur selamanya.”

Aku belum pernah melihat ibuku menangis seperti itu.

Ternyata sebelum mengadopsiku, beliau pernah menjadi perawat sukarela di sebuah panti bayi bernama Rumah Kasih Bunda.

Pada suatu malam, dua bayi perempuan ditinggalkan bersamaan.

Mereka bayi kembar.

Salah satunya adalah aku.

Satunya lagi diadopsi keluarga lain beberapa hari kemudian.

Aku tidak sanggup bicara.

“Jadi… aku punya saudara kembar?”

Ibuku mengangguk pelan.

“Aku tidak pernah tahu siapa yang membawa bayi satunya.”

Dunia seakan berhenti.

Kalau begitu perempuan di CCTV…

Mungkin benar-benar saudara kembarku.

Kami mencari semua data lama panti asuhan.

Sebagian besar sudah hilang.

Namun seorang biarawati tua masih hidup.

Beliau mengingat satu nama.

“Bayi kedua dibawa pasangan dari Surabaya.”

Pencarian berlanjut.

Beberapa minggu kemudian kami menemukan keluarga angkat tersebut.

Sayangnya mereka sudah meninggal.

Tetangga hanya mengetahui anak perempuan mereka bernama Karina dan telah pergi bertahun-tahun lalu.

Tidak ada alamat.

Tidak ada nomor telepon.

Yang tersisa hanya foto wisuda.

Aku menatap foto itu lama sekali.

Seolah sedang melihat diriku sendiri mengenakan toga.

Perasaan aneh memenuhi dada.

Aku tidak mengenalnya.

Namun wajah itu terasa begitu dekat.

Malam berikutnya seseorang menyusup ke rumahku.

Untung Dimas yang sedang berjaga berhasil mengejar pelaku.

Meski lolos, pelaku menjatuhkan sebuah kartu akses gedung.

Gedung milik Atmaja Group.

Kami segera menuju kantor pusat.

Di ruang arsip bawah tanah, kami menemukan server rahasia yang selama ini tidak diketahui banyak orang.

Di sana tersimpan dokumen penelitian sebuah perusahaan teknologi.

Mereka mengembangkan perangkat lunak manipulasi identitas berbasis kecerdasan buatan.

Tujuannya bukan membuat wajah palsu.

Melainkan menciptakan identitas baru yang dapat menggantikan seseorang dalam transaksi keuangan.

Foto wajahku dipakai sebagai model uji coba.

Seseorang sengaja memilih Karina karena wajah kami identik.

Dengan begitu tidak ada yang akan meragukan rekaman CCTV.

Sebelum kami sempat membawa dokumen itu keluar, alarm berbunyi.

Sekelompok orang bersenjata mengepung kami.

Pemimpinnya berjalan perlahan.

Aku membeku.

Karina.

Wajahnya benar-benar sama denganku.

Ia tersenyum tipis.

“Akhirnya kita bertemu.”

Aku nyaris tidak mampu mengeluarkan suara.

“Kenapa?”

“Karena hidupmu jauh lebih beruntung.”

“Apa maksudmu?”

“Aku dibesarkan oleh keluarga yang menjualku kepada jaringan kejahatan sejak umur tiga belas tahun. Kau mendapat ibu yang mencintaimu.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Tapi semua ini bukan pilihanku.”

Dimas melangkah maju.

“Kalau begitu hentikan semuanya.”

Karina tertawa pahit.

“Aku sudah terlalu dalam.”

Saat itulah terdengar suara tembakan.

Bukan dari pihak kami.

Melainkan dari anak buah yang selama ini bekerja untuk dalang utama.

Mereka ingin membungkam Karina.

Tanpa berpikir aku menarik tubuhnya hingga peluru hanya mengenai bahuku.

Karina menatapku dengan mata membelalak.

“Kenapa kau menyelamatkanku?”

Aku menggenggam tangannya.

“Karena kita saudara.”

Untuk pertama kalinya sejak bertemu, air mata mengalir di pipinya.

Ia akhirnya menyerahkan seluruh bukti kejahatan yang selama ini disembunyikan.

Dalang sebenarnya ternyata adalah direktur keuangan Atmaja Group yang telah bertahun-tahun mencuri dana perusahaan dan menggunakan teknologi manipulasi identitas untuk mengalihkan semua tuduhan kepada orang lain.

Penangkapan berlangsung malam itu juga.

Kasus besar tersebut menggemparkan Indonesia.

Namaku akhirnya dipulihkan.

Sekolah memintaku kembali mengajar.

Orang-orang yang dulu menghujat datang meminta maaf.

Namun yang paling sulit bukan memaafkan mereka.

Melainkan belajar menerima kenyataan bahwa aku memiliki saudara kembar yang tumbuh dalam kehidupan yang sama sekali berbeda.

Karina dijatuhi hukuman lebih ringan karena membantu mengungkap seluruh jaringan kejahatan.

Selama menjalani masa pembinaan, ia rutin menulis surat kepadaku.

Isinya selalu sederhana.

Tentang bunga yang mekar di halaman.

Tentang buku yang sedang dibaca.

Tentang harapan untuk memulai hidup baru.

Setiap bulan aku datang menjenguknya.

Aku membawa gambar-gambar dari murid-murid TK.

Anak-anak itu bahkan menggambar dua perempuan yang sedang bergandengan tangan.

“Bu Guru punya saudara sekarang,” kata salah seorang murid dengan polos.

Aku tersenyum.

Untuk pertama kalinya, kata “saudara” tidak lagi terasa asing.

Aku pernah kehilangan nama baik karena wajah yang sama.

Namun pada akhirnya, wajah yang sama pula yang mempertemukanku dengan bagian hidup yang selama ini hilang.

Aku akhirnya mengerti bahwa keluarga bukan hanya tentang darah yang sama, melainkan tentang siapa yang memilih untuk saling menyelamatkan ketika seluruh dunia memutuskan untuk tidak percaya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang