Apakah Anda Alya?
Aku mengangguk pelan.
Pria tua itu berdiri tegak di depan meja resepsionis kantorku. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun jas yang dikenakannya rapi dan wajahnya memancarkan wibawa. Di tangannya ada sebuah map cokelat yang terlihat sudah cukup lama disimpan.
“Saya Harun,” katanya sopan. “Dulu saya bekerja sebagai pengacara keluarga almarhumah Ibu Laras.”
Nama itu terasa asing.

“Ibu Laras?”
“Ibu kandung Anda.”
Dunia seolah berhenti berputar.
Aku menatapnya beberapa detik tanpa mampu berkata apa-apa. Selama hampir empat puluh tahun hidupku, tak pernah ada seorang pun yang menyebut ibuku dengan nama. Bagiku, ibuku hanyalah seseorang yang pergi dan membuangku.
“Saya rasa Bapak salah orang.”
“Tidak.” Ia mengeluarkan sebuah foto tua dari dalam map. “Ini Anda.”
Tanganku bergetar saat menerima foto itu.
Seorang perempuan muda tersenyum sambil menggendong bayi yang mengenakan gaun kecil berwarna kuning. Bayi itu memiliki tanda lahir kecil di belakang telinga kiri.
Persis sepertiku.
Dadaku terasa sesak.
“Siapa… perempuan ini?”
“Ibu Anda.”
Air mataku langsung jatuh.
“Dia tidak pernah membuang Anda.”
Kalimat itu menghantam seluruh keyakinan yang selama ini kubangun.
Aku menggeleng keras.
“Itu tidak mungkin.”
Pak Harun menghela napas panjang.
“Dua puluh tahun lalu saya datang ke rumah ayah Anda membawa surat dari ibu Anda. Tetapi istri baru ayah Anda mengatakan bahwa Anda tidak ingin bertemu siapa pun yang berhubungan dengan ibu kandung. Saya dipaksa pergi.”
Aku terpaku.
“Mustahil…”
“Ibu Anda sakit keras waktu itu. Beliau sudah mencari Anda selama bertahun-tahun.”
Aku hampir tak bisa bernapas.
Selama ini…
Siapa yang sebenarnya berbohong?
Pak Harun lalu membuka map itu. Di dalamnya terdapat beberapa surat yang masih tersegel, sejumlah foto, dan sebuah amplop putih yang bagian depannya bertuliskan satu kalimat dengan tulisan tangan yang indah.
Untuk Alya, putriku yang paling Ibu cintai.
Aku menangis tanpa suara.
Pak Harun menatapku penuh iba.
“Ibu Anda meninggal delapan belas tahun yang lalu.”
Aku memejamkan mata.
Aku terlambat.
Sangat terlambat.
“Ibu menitipkan semua ini kepada saya. Beliau berkata, kalau suatu hari saya berhasil menemukan Anda, saya harus menyerahkan semuanya.”
Aku memegang amplop itu seolah sedang memegang sesuatu yang paling rapuh di dunia.
Tanganku gemetar hebat.
“Kenapa… kenapa baru sekarang?”
“Saya mencarinya bertahun-tahun. Anda pindah berkali-kali. Nama usaha Anda juga berbeda dari nama keluarga ayah. Baru beberapa minggu lalu saya menemukan jejak Anda.”
Aku mengangguk pelan.
Sebelum pulang, Pak Harun berkata pelan.
“Ada satu hal lagi. Rumah lama ayah Anda masih dihuni oleh Siska dan Nino. Saya rasa mereka belum tahu bahwa saya berhasil menemukan Anda.”
Aku tidak terlalu memikirkan kalimat itu.
Sampai tiga hari kemudian.
Teleponku berdering.
Nomor tak dikenal.
“Alya…”
Suara itu membuat bulu kudukku berdiri.
Siska.
“Darimana kamu dapat nomor saya?”
“Kita keluarga.”
Aku hampir tertawa.
“Keluarga?”
“Iya. Bagaimanapun Mama sudah membesarkan kamu.”
Mama.
Ia baru pertama kali menyebut dirinya begitu.
“Ada apa?”
“Kamu bisa pulang sebentar?”
“Tidak.”
“Ini penting.”
“Tidak ada lagi urusan di antara kita.”
Aku menutup telepon.
Namun malam harinya, seseorang mengetuk pintu rumahku.
Siska.
Wajahnya jauh lebih tua.
Rambutnya mulai dipenuhi uban.
Di belakangnya berdiri Nino yang kini juga sudah dewasa.
Mereka membawa buah dan kue.
Hal yang tidak pernah kulihat selama aku tinggal bersama mereka.
“Alya…” suara Siska terdengar lembut. “Mama kangen.”
Aku hanya memandanginya.
“Silakan langsung bicara.”
Ia tampak gugup.
“Laki-laki tua itu datang ke rumah.”
Dadaku berdegup.
“Pak Harun?”
Ia mengangguk.
“Apa yang dia kasih ke kamu?”
Aku diam.
Siska mencoba tersenyum.
“Cuma surat kan?”
Aku tetap diam.
Sorot matanya berubah panik.
“Dia… dia tidak kasih amplop putih?”
Aku mulai memahami sesuatu.
“Kamu tahu soal amplop itu?”
Wajahnya langsung pucat.
“Tidak…”
“Kamu tahu.”
Ia menelan ludah.
“Nggak.”
Aku melangkah mundur.
“Silakan pulang.”
Namun sebelum pintu kututup, Siska menahan daun pintu.
“Jangan buka amplop itu.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Tolong.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku melihat perempuan itu memohon.
Esok paginya aku menemui Pak Harun.
Beliau mengangguk pelan ketika mendengar semuanya.
“Saya sudah menduga.”
“Lalu sebenarnya apa isi amplop ini?”
Pak Harun tidak menjawab.
“Itu hak Anda.”
Aku membawa amplop itu pulang.
Kupandangi lama.
Tanganku gemetar ketika akhirnya membuka segelnya.
Di dalamnya terdapat sepucuk surat dan beberapa lembar dokumen.
Aku membaca surat itu perlahan.
Putriku Alya.
Kalau surat ini sampai ke tanganmu, berarti Ibu sudah tidak ada.
Maaf karena Ibu tidak bisa menemanimu tumbuh dewasa.
Bukan karena Ibu meninggalkanmu.
Tetapi karena Ibu dipaksa.
Setelah perceraian, pengadilan memberikan hak asuh kepadamu kepada ayahmu. Ibu berusaha menemuimu berkali-kali. Setiap ulang tahunmu Ibu datang membawa hadiah.
Tidak sekali pun Ibu diizinkan bertemu.
Suatu hari, setelah ayahmu menikah lagi, Ibu mendengar kabar bahwa kamu diberitahu kalau Ibu telah membuangmu.
Ibu ingin menjelaskan semuanya.
Namun setiap surat yang Ibu kirim selalu kembali.
Setiap hadiah yang Ibu titipkan tidak pernah sampai.
Ibu terus menyimpan semua bukti.
Jika suatu hari kamu membaca surat ini, berarti akhirnya kamu mengetahui kebenaran.
Tanganku mulai bergetar hebat.
Aku melanjutkan membaca.
Di dalam amplop ini ada salinan rekaman CCTV, surat pengadilan, laporan polisi, serta pengakuan tertulis seseorang yang pernah bekerja di rumah ayahmu.
Dia menyaksikan bagaimana istri baru ayahmu membakar surat-surat yang Ibu kirim.
Dia juga menyaksikan hadiah ulang tahunmu dibuang ke tempat sampah.
Air mataku jatuh tanpa henti.
Aku hampir tidak bisa melihat tulisan berikutnya.
Kalau suatu hari mereka memintamu memaafkan mereka, keputusan ada di tanganmu.
Tetapi jangan pernah lagi percaya bahwa kamu adalah anak yang tidak diinginkan.
Karena selama napas Ibu masih ada, tidak ada satu hari pun Ibu berhenti mencintaimu.
Aku memeluk surat itu sambil menangis sejadi-jadinya.
Empat puluh tahun.
Empat puluh tahun aku membenci orang yang justru mencintaiku sepenuh hati.
Dokumen terakhir membuatku semakin terkejut.
Itu adalah akta hibah.
Ibu meninggalkan sebuah rumah, sebidang tanah di Bogor, dan sejumlah investasi atas namaku.
Selama ini semuanya dikelola oleh kantor hukum Pak Harun.
Nilainya kini mencapai puluhan miliar rupiah.
Beberapa hari kemudian, Siska kembali datang.
Kali ini tanpa membawa apa pun.
Begitu melihat amplop itu berada di meja ruang tamuku, wajahnya langsung kehilangan warna.
“Alya… kamu sudah baca?”
Aku mengangguk.
Ia langsung terduduk lemas.
“Tolong…”
Aku memandangnya tanpa emosi.
“Apa lagi?”
“Jangan laporkan Mama.”
“Kenapa?”
Ia menangis.
“Ayahmu tidak pernah tahu semuanya.”
Aku terdiam.
“Apa maksudmu?”
“Semua surat itu… semua hadiah… semua kebohongan…”
Ia menutup wajahnya.
“Itu semua Mama yang lakukan.”
Dadaku terasa sesak.
“Kenapa?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Aku takut ayahmu kembali kepada ibumu.”
Aku tertawa pahit.
“Jadi kamu menghancurkan hidup seorang anak?”
Tangisnya semakin keras.
“Aku menyesal.”
Aku menatap perempuan yang dulu begitu kuat di mataku.
Kini ia terlihat sangat kecil.
“Aku hidup puluhan tahun dengan keyakinan bahwa ibuku membuangku.”
Ia menangis sambil mengangguk.
“Aku tahu.”
“Aku tidak berani mencintai siapa pun sepenuhnya karena aku percaya aku tidak layak dicintai.”
Tangisnya berubah menjadi isak.
“Aku minta maaf.”
Aku mengambil amplop putih itu.
Begitu melihatnya, Siska langsung berlutut di depanku.
“Tolong… jangan buka ke polisi.”
Perempuan yang selama bertahun-tahun membuatku merasa tidak berharga kini memohon sambil menangis.
Aku menatapnya lama.
Lalu berkata pelan,
“Yang menghancurkan hidupku bukan karena ibuku pergi.”
Ia mendongak.
“Tetapi karena selama puluhan tahun ada seseorang yang terus mengulang kebohongan sampai aku mempercayainya.”
Aku mengambil seluruh dokumen.
“Berdirilah.”
Ia perlahan berdiri.
“Aku tidak akan membalasmu dengan kebencian.”
Wajahnya sedikit berbinar.
“Tapi bukan berarti aku akan melindungimu dari akibat perbuatanmu.”
Beberapa minggu kemudian, proses hukum berjalan berdasarkan bukti-bukti yang tersimpan selama bertahun-tahun. Pengadilan menyatakan bahwa berbagai tindakan pemalsuan, penghalangan komunikasi, dan perusakan dokumen memang pernah terjadi. Siska harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya sesuai hukum.
Aku tidak datang pada sidang terakhir.
Aku memilih pergi ke makam ibuku.
Aku membawa seikat bunga melati.
Duduk di depan nisannya, aku mengeluarkan surat yang sudah mulai kusimpan di dalam plastik bening agar tidak rusak.
“Ibu…”
Angin sore berembus pelan.
“Aku memang terlambat mengenalmu.”
Air mataku kembali jatuh.
“Tapi mulai hari ini, tidak ada lagi yang bisa membuatku percaya bahwa aku adalah anak yang dibuang.”
Aku tersenyum sambil mengusap batu nisan itu perlahan.
“Karena akhirnya aku tahu… sejak awal, selalu ada seseorang yang mencintaiku tanpa pernah berhenti mencariku.”
