SAYA TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKAN PAGI ITU.

Pagi ketika seluruh orang di lantai empat puluh dua menunggu dengan napas tertahan, sementara pria paling berkuasa di perusahaan kami justru menghilang tanpa jejak.

Nama saya Elena.

Selama lima belas tahun terakhir, saya menjadi asisten pribadi Don Alfonso, pendiri sekaligus pemilik Al-Corp Group, salah satu konglomerasi baja terbesar di Indonesia.

Orang-orang mengenalnya sebagai “Raja Baja”.

Media mengenalnya sebagai pengusaha yang tidak pernah kalah dalam negosiasi.

Para pesaing menyebutnya monster bisnis.

Namun hanya saya yang tahu satu hal.

Di balik ketegasan itu, Don Alfonso selalu datang lebih pagi daripada siapa pun.

Pukul enam tiga puluh, ia sudah berada di kantor.

Pukul tujuh, semua agenda hari itu telah selesai ia pelajari.

Pukul delapan tepat, tidak ada seorang pun yang berani terlambat memasuki ruang rapat.

Hari itu bahkan jauh lebih penting.

Sebuah perusahaan baja raksasa asal Jepang dan dua investor dari Singapura siap menandatangani merger yang nilainya mencapai puluhan triliun rupiah.

Kesepakatan itu akan mengubah peta industri Asia Tenggara.

Semua orang hadir.

Kecuali satu orang.

Don Alfonso.

Awalnya saya mengira beliau sedang menerima telepon penting.

Lima menit berlalu.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Teleponnya tidak aktif.

Saya mulai panik.

Kami memeriksa seluruh lantai.

Ruang kerja.

Ruang istirahat.

Gym pribadi.

Helipad.

Tidak ada.

Tim keamanan segera membuka rekaman CCTV.

Terlihat Don Alfonso keluar dari kantornya sambil membawa tas kerja hitam yang selalu menemaninya.

Beliau masuk ke lift pribadi.

Lalu…

Tidak pernah keluar.

“Mustahil,” kata kepala keamanan.

Lift tidak pernah berhenti di lantai lain selain Basement 4.

Namun pintu Basement 4 tidak pernah terbuka lagi menurut sistem.

Seolah seseorang menghilang di dalam lift.

Saya mulai merasakan sesuatu yang aneh.

Beberapa bulan terakhir sebenarnya sudah ada tanda-tanda kecil.

Beliau pernah memanggil saya dengan nama istrinya yang telah meninggal dua puluh tahun lalu.

Beliau juga pernah meminta saya menyiapkan jadwal rapat dengan seseorang yang ternyata sudah meninggal lima belas tahun silam.

Saya sempat menganggapnya hanya kelelahan.

Beliau sudah berusia tujuh puluh delapan tahun.

Tetapi pagi itu…

Semua firasat buruk saya terasa nyata.

Kami menyisir seluruh gedung.

Hampir satu jam berlalu.

Investor mulai meninggalkan ruang rapat.

Harga saham Al-Corp turun hanya karena rumor bahwa Don Alfonso menghilang.

Lalu seorang petugas kebersihan menghampiri saya.

“Bu Elena…”

Ia terlihat gugup.

“Saya tadi dengar suara orang menggosok lantai dari Basement 4.”

Saya langsung berlari.

Basement 4 sudah lama tidak digunakan.

Dulu, sebelum gedung baru dibangun, tempat itu merupakan ruang utilitas dan gudang peralatan kebersihan.

Sekarang hanya dipenuhi barang-barang tua yang nyaris dilupakan semua orang.

Lampunya redup.

Udara lembap.

Bau karat memenuhi ruangan.

Ketika pintu besi didorong terbuka, suara gesekan kain terdengar pelan.

Saya melangkah mengikuti suara itu.

Dan saya berhenti bernapas.

Di sudut ruangan, Don Alfonso sedang berlutut.

Jas mahalnya sudah dilepas.

Lengan kemejanya digulung.

Tangannya penuh debu.

Beliau menggosok sebuah pelat kuningan tua dengan sangat hati-hati.

Pelat itu bertuliskan:

“Alfonso – Maintenance Staff, 1985.”

Saya tidak sanggup berkata apa pun.

Beliau menoleh.

Lalu tersenyum.

Senyum yang tidak pernah saya lihat selama lima belas tahun bekerja.

Hangat.

Tulus.

Seperti senyum seorang pemuda.

“Elena,” katanya.

“Untung kamu datang.”

“Kain lapku sudah mulai kotor.”

“Supervisor pasti marah kalau pelat ini belum bersih.”

Air mata saya langsung menggenang.

“Pak…”

Beliau menggeleng.

“Jangan panggil saya Pak.”

“Saya cuma petugas maintenance.”

“Hari ini pemilik gedung mau datang.”

“Kalau pelat nama saya kusam, saya bisa dipecat.”

Kalimat itu menusuk dada saya.

Saya akhirnya tahu.

Beliau tidak sedang lupa.

Beliau benar-benar hidup di masa lalu.

Saya berlutut di sampingnya.

Mengambil kain lap perlahan.

“Iya, Mas Alfonso.”

“Pelatnya hampir selesai.”

Beliau tersenyum puas.

Seolah saya benar-benar rekan kerjanya.

Hari itu merger dibatalkan.

Tidak ada satu pun media yang mengetahui alasan sebenarnya.

Pihak perusahaan hanya mengumumkan bahwa Don Alfonso mengalami gangguan kesehatan ringan.

Namun bagi saya…

Hari itu adalah awal dari perpisahan panjang.

Dua minggu kemudian, dokter spesialis saraf akhirnya memastikan diagnosis yang selama ini kami takutkan.

Penyakit Alzheimer.

Sudah memasuki tahap awal hingga menengah.

Saya duduk di ruang konsultasi bersama putra tunggal beliau, Adrian.

Pria itu baru pulang dari London setelah bertahun-tahun tinggal di luar negeri.

Ia tampak terpukul.

“Ayah tidak pernah memberi tahu apa pun.”

Dokter menghela napas.

“Orang dengan posisi seperti beliau sering menyembunyikan gejala karena takut dianggap lemah.”

Barulah kami mengerti.

Selama hampir satu tahun terakhir, Don Alfonso diam-diam menulis catatan kecil di setiap sudut kantornya.

Nama orang.

Kode pintu.

Jadwal makan.

Bahkan nama saya.

Saya menemukannya di balik monitor komputer.

“Elena. Orang yang bisa dipercaya.”

Saya menangis membaca kalimat sederhana itu.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin sulit.

Kadang beliau masih sangat tajam.

Beliau mampu membahas laporan keuangan ratusan halaman tanpa satu pun kesalahan.

Namun satu jam kemudian beliau bisa lupa sedang berada di mana.

Suatu sore beliau berdiri di depan jendela kantornya.

“Elena.”

“Iya, Pak.”

“Apakah ibuku sudah pulang dari pasar?”

Saya terdiam.

Ibunya meninggal hampir empat puluh tahun lalu.

Saya hanya menjawab pelan.

“Sebentar lagi, Pak.”

Beliau mengangguk.

“Kalau begitu aku tunggu.”

Sejak hari itu saya belajar.

Tidak semua ingatan yang hilang harus dipaksa kembali.

Kadang yang dibutuhkan hanyalah menemani.

Suatu malam saya memberanikan diri bertanya kepada Adrian.

“Kenapa pelat di Basement 4 begitu berarti?”

Adrian tersenyum sedih.

“Sebelum menjadi miliarder, Ayah hanyalah petugas maintenance di gedung lama.”

Saya terkejut.

Selama ini saya mengira beliau langsung sukses sejak muda.

“Tidak.”

“Ayah yatim sejak usia lima belas tahun.”

“Beliau tidur di gudang.”

“Mengepel lantai.”

“Membersihkan toilet.”

“Kalau ada uang lebih, beliau membeli buku bisnis bekas.”

“Lalu belajar sendiri setiap malam.”

Saya membayangkan pria tua yang setiap hari duduk di ruang direksi.

Ternyata semua kemewahan itu dibangun dari pel dan ember.

Adrian melanjutkan.

“Suatu hari pemilik gedung lama memberi kesempatan Ayah menjadi staf administrasi.”

“Dari situlah hidupnya berubah.”

“Ayah selalu berkata, jangan pernah malu dengan pekerjaan pertama.”

Saya akhirnya memahami mengapa beliau selalu kembali ke Basement 4.

Bukan karena tempat itu kotor.

Tetapi karena di sanalah hidupnya dimulai.

Beberapa bulan kemudian kondisi Don Alfonso semakin menurun.

Beliau tidak lagi menghadiri rapat.

Semua keputusan perusahaan diambil Adrian.

Suatu pagi saya datang ke rumah beliau.

Don Alfonso sedang duduk di taman.

Beliau memandang bunga melati cukup lama.

Lalu bertanya kepada saya.

“Maaf…”

“Siapa namamu?”

Saya tersenyum.

Padahal hati saya hancur.

“Elena.”

Beliau mengangguk sopan.

“Terima kasih sudah datang.”

Saya pulang sambil menangis sepanjang perjalanan.

Saya berpikir beliau benar-benar sudah melupakan saya.

Namun seminggu kemudian terjadi sesuatu yang tidak pernah saya duga.

Beliau kembali menghilang.

Seluruh keluarga panik.

Kami mencari ke mana-mana.

Polisi ikut membantu.

Empat jam kemudian seorang satpam Al-Corp menelepon Adrian.

“Pak…”

“Ayah Bapak ada di Basement 4.”

Kami bergegas ke sana.

Don Alfonso kembali berlutut di depan pelat kuningan itu.

Namun kali ini beliau tidak membawa kain lap.

Beliau hanya duduk memandang pelat tersebut.

Saya menghampirinya.

Beliau menoleh.

Tatapannya kosong beberapa detik.

Lalu perlahan beliau berkata.

“Elena?”

Saya membeku.

Sudah berbulan-bulan beliau tidak pernah mengingat nama saya.

“Iya, Pak.”

Beliau menggenggam tangan saya.

“Tolong…”

“Jangan biarkan siapa pun menghapus pelat ini.”

“Kalau suatu hari aku lupa siapa diriku…”

“Tolong ingatkan bahwa aku pernah memulai dari sini.”

Itu adalah kalimat paling panjang yang beliau ucapkan dalam dua bulan terakhir.

Air mata kami semua pecah.

Beberapa hari sesudahnya…

Beliau tidak pernah lagi mengenali siapa pun.

Bahkan Adrian.

Bahkan dirinya sendiri.

Setahun berlalu.

Don Alfonso meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya.

Seluruh media memberitakan wafatnya seorang konglomerat.

Mereka menulis tentang kerajaan bisnis.

Tentang kekayaan.

Tentang saham.

Tentang miliaran rupiah.

Namun tidak satu pun dari mereka mengetahui cerita yang sesungguhnya.

Tiga bulan setelah pemakaman, Adrian mengumpulkan seluruh karyawan.

Ia membawa kami turun ke Basement 4.

Ruangan itu sudah berubah.

Bersih.

Terang.

Pelat kuningan lama itu dipasang di dalam kotak kaca.

Di sampingnya terdapat sebuah tulisan sederhana.

“Di tempat inilah Alfonso memulai perjalanan sebagai petugas maintenance pada tahun 1985. Jangan pernah merasa kecil karena pekerjaan pertamamu. Yang menentukan masa depan bukan dari mana kamu memulai, melainkan seberapa jujur kamu melangkah.”

Tidak ada satu pun orang yang mampu menahan air mata.

Kini setiap karyawan baru Al-Corp wajib melewati ruangan itu sebelum mulai bekerja.

Bukan untuk melihat sejarah perusahaan.

Tetapi untuk mengingat bahwa pendiri perusahaan terbesar itu pernah mengepel lantai yang sama.

Kadang saya masih datang diam-diam ke Basement 4.

Saya mengusap kotak kaca itu perlahan.

Bukan karena pelatnya kotor.

Melainkan karena saya teringat senyum seorang pria tua yang, di saat semua orang mengenalnya sebagai raja bisnis, justru memilih kembali menjadi petugas maintenance dalam kenangan terakhirnya.

Dan sejak hari itu saya benar-benar percaya, bahwa ketika ingatan perlahan menghilang, hati sering kali tetap tahu ke mana ia harus pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang