SIANG HARI DI ROYALE JEWELRY & PAWNSHOP.

Siang itu, Royale Jewelry & Pawnshop di kawasan elit Jakarta tampak seperti biasa. Pendingin ruangan bekerja tanpa henti, aroma parfum mahal memenuhi setiap sudut, dan cahaya lampu kristal memantulkan kilau berlian di balik etalase kaca. Para pelanggan datang dengan pakaian bermerek, tas mewah menggantung di lengan mereka, sementara beberapa pria berjas sibuk memilih jam tangan eksklusif untuk koleksi pribadi.

Pintu kaca otomatis terbuka perlahan.

Seorang anak laki-laki berusia sekitar dua belas tahun melangkah masuk.

Namanya Popoy.

Tubuhnya kurus. Kaus tanpa lengan yang dikenakannya telah robek di beberapa bagian. Celananya penuh tambalan. Ia bahkan tidak memakai sandal. Kaki kecilnya yang dipenuhi lumpur meninggalkan jejak di lantai marmer yang mengilap.

Semua mata langsung memandangnya dengan jijik.

Pak Kardo, satpam yang sudah bertahun-tahun bekerja di sana, buru-buru menghampiri.

“Heh, Nak! Di sini bukan tempat mengemis. Keluar!”

Popoy tidak menjawab. Ia hanya memeluk erat kantong plastik hitam yang dibawanya.

“Sudah dengar belum? Keluar!”

Pak Kardo hendak menarik lengannya.

Namun sebelum tangan itu menyentuh tubuhnya, Popoy membalikkan kantong plastik tersebut di atas etalase kaca.

Suara dentingan logam memenuhi ruangan.

Ribuan keping uang receh menggelinding ke segala arah.

Koin lima ratus, seribu, dua ratus, bahkan seratus rupiah yang sudah jarang terlihat bercampur menjadi satu. Sebagian kusam, sebagian penuh goresan.

Semua pelanggan terdiam.

Bu Carla, manajer toko yang sedang berada di ruang administrasi, keluar karena mendengar keributan.

“Ada apa?”

Pak Kardo langsung memberi hormat.

“Maaf, Bu. Saya kira anak ini mau mengemis.”

Popoy menatap Bu Carla dengan mata merah karena kurang tidur.

“Saya… saya tidak mengemis.”

“Lalu untuk apa membawa semua uang ini?” tanya Bu Carla lebih lembut.

Anak itu menarik napas panjang.

“Saya mau beli cincin.”

Beberapa pelanggan langsung tertawa.

Seorang wanita bergaun mahal bahkan berbisik cukup keras.

“Dengan recehan sebanyak itu? Mungkin dia pikir ini pasar malam.”

Tawa kecil terdengar dari beberapa sudut.

Namun Popoy tetap berdiri tegak.

“Saya sudah menabung tiga tahun.”

Kalimat itu membuat Bu Carla mengangkat alis.

“Tiga tahun?”

Popoy mengangguk.

“Saya memungut botol bekas. Kadang bantu cuci motor. Kalau ada orang kasih uang kembalian, saya simpan. Semua ini buat beli cincin ibu.”

Suasana mendadak sunyi.

“Ibumu ulang tahun?” tanya Bu Carla.

Popoy menggeleng pelan.

“Ibu saya sakit ginjal.”

Semua orang mulai memperhatikannya.

“Dokter bilang umur ibu mungkin tidak lama.”

Suara Popoy mulai bergetar.

“Waktu kecil ibu pernah bilang, kalau suatu hari nanti hidup kami lebih baik, beliau ingin sekali punya cincin emas. Katanya bukan karena ingin kelihatan kaya. Beliau cuma ingin sekali seumur hidup merasakan memakai cincin seperti yang dipakai pengantin.”

Popoy menunduk.

“Tapi kami selalu miskin.”

Bu Carla merasakan dadanya sesak.

“Sekarang ibu sudah sering tidak sadar. Saya takut nanti ibu pergi sebelum sempat merasakan mimpinya.”

Tak ada lagi yang tertawa.

Bahkan wanita yang tadi mengejek mulai memalingkan wajah.

Bu Carla melihat tumpukan koin itu.

“Berapa uangmu?”

“Saya tidak tahu persis.”

“Mari kita hitung.”

Seluruh kasir ikut membantu.

Mesin penghitung uang logam bekerja hampir empat puluh menit.

Hasil akhirnya membuat semua orang terdiam.

Rp18.734.500.

Popoy sendiri terkejut.

“Saya… sebanyak itu?”

Bu Carla tersenyum tipis.

“Kamu benar-benar menabung selama bertahun-tahun.”

Popoy mengangguk malu.

“Tapi saya tidak tahu harga cincin.”

Bu Carla membuka etalase.

Ia mengeluarkan beberapa cincin emas sederhana.

“Harga yang ini dua puluh tiga juta.”

Wajah Popoy langsung pucat.

“Kurang ya…”

Ia mulai memasukkan kembali semua koin ke kantong plastik.

“Tidak apa-apa. Saya cari lagi.”

Saat itulah seorang pria tua yang sejak tadi duduk diam di sofa pelanggan berdiri.

Ia mengenakan kemeja putih sederhana tanpa logo merek apa pun.

Tak seorang pun menyadari bahwa pria itu adalah pemilik seluruh jaringan Royale Jewelry.

Namanya Pak Arman.

Selama beberapa minggu terakhir, ia memang sering datang diam-diam untuk mengamati pelayanan karyawannya.

Pak Arman menghampiri Popoy.

“Boleh saya lihat uangmu?”

Popoy menyerahkan kantong itu tanpa ragu.

Pak Arman memandang koin-koin tersebut lama.

Di sela-sela recehan ada beberapa kertas kecil.

Ia mengambil salah satunya.

Ternyata itu daftar pengeluaran.

Tulisan anak kecil.

“Hari ini dapat dua ribu.”

“Hari ini tidak makan siang supaya bisa tambah tabungan.”

“Hari ini jual kardus tujuh belas ribu.”

Di bagian paling bawah tertulis,

“Jangan menyerah. Demi Ibu.”

Tangan Pak Arman bergetar.

Ia teringat masa kecilnya sendiri yang juga penuh kemiskinan.

Tak ada yang tahu bahwa sebelum menjadi miliarder, ia pernah hidup di kolong jembatan.

Ia memandang Bu Carla.

“Cincin yang mana paling bagus?”

Bu Carla menunjukkan sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil.

“Harga empat puluh juta.”

Pak Arman menggeleng.

“Bungkus.”

Popoy langsung panik.

“Pak… uang saya tidak cukup.”

Pak Arman tersenyum.

“Siapa bilang saya menjualnya?”

Semua orang memandang.

“Saya menghadiahkannya.”

Popoy membelalak.

“Sungguh?”

Pak Arman mengangguk.

“Tapi dengan satu syarat.”

“Apa, Pak?”

“Kamu harus terus sekolah.”

Popoy menunduk.

“Saya sudah berhenti sekolah.”

“Kenapa?”

“Saya kerja buat beli obat ibu.”

Pak Arman menoleh ke Bu Carla.

“Hubungi yayasan pendidikan kita.”

“Baik, Pak.”

“Mulai minggu depan, anak ini sekolah lagi.”

Popoy menangis.

“Pak… saya tidak bisa membalas.”

Pak Arman tersenyum.

“Balas nanti kalau sudah sukses.”

Belum selesai rasa haru memenuhi ruangan, seorang perawat menelepon ponsel Popoy.

Anak itu langsung panik.

“Ibu saya…”

Ia mendengarkan beberapa detik.

Wajahnya semakin pucat.

“Ibu pingsan lagi.”

Tanpa berpikir panjang, Pak Arman berkata,

“Ayo.”

Mereka langsung menuju rumah sakit.

Di ruang perawatan kelas tiga, seorang wanita kurus terbaring lemah dengan selang infus.

Matanya perlahan terbuka ketika Popoy menggenggam tangannya.

“Ibu…”

Wanita itu tersenyum sangat pelan.

“Kamu sudah pulang.”

Popoy mengeluarkan kotak cincin.

“Saya berhasil.”

Ibunya memandang bingung.

Ketika cincin itu dikenakan di jarinya yang kurus, air mata wanita itu langsung mengalir.

“Indah sekali.”

Popoy menangis sambil memeluk ibunya.

“Sekarang ibu sudah punya cincin.”

Wanita itu mengusap kepala anaknya.

“Ibu tidak pernah benar-benar menginginkan emas.”

Popoy terdiam.

“Ibu hanya ingin tahu bahwa anak ibu tidak pernah menyerah.”

Ruangan itu dipenuhi isak tangis.

Pak Arman berdiri di dekat pintu sambil menghapus air mata diam-diam.

Beberapa hari kemudian, Pak Arman diam-diam menyelidiki kondisi keluarga Popoy.

Barulah ia mengetahui fakta mengejutkan.

Ayah Popoy dahulu adalah karyawan di pabrik tekstil milik keluarganya yang bangkrut dua puluh tahun lalu.

Ayah itu meninggal saat berusaha menyelamatkan rekan-rekannya ketika terjadi kebakaran besar.

Karena kekacauan administrasi saat itu, uang santunan tidak pernah sampai kepada keluarganya.

Pak Arman merasa dadanya sesak.

Ia memanggil seluruh direksi perusahaan.

“Saya baru tahu kita pernah berutang kepada keluarga yang paling tidak mampu.”

Beberapa hari kemudian, seluruh hak yang belum pernah diterima keluarga Popoy dihitung kembali beserta bunga dan kompensasinya.

Jumlahnya mencapai lebih dari tiga miliar rupiah.

Ketika Pak Arman menyerahkan dokumen itu kepada ibu Popoy, wanita tersebut menangis tanpa suara.

“Saya tidak meminta sebanyak ini.”

Pak Arman menggeleng.

“Ini bukan hadiah.”

“Ini utang kami yang terlambat dibayar.”

Beberapa bulan berlalu.

Kesehatan ibu Popoy membaik setelah mendapatkan perawatan terbaik dan donor ginjal dari seorang kerabat yang akhirnya ditemukan melalui program pencarian nasional yang dibiayai yayasan Pak Arman.

Popoy kembali bersekolah.

Ia menjadi salah satu murid terbaik di kelasnya.

Suatu sore, ia kembali datang ke Royale Jewelry.

Kali ini mengenakan seragam sekolah yang rapi.

Pak Kardo langsung mengenalinya.

Satpam tua itu menunduk malu.

“Maafkan saya, Nak.”

Popoy tersenyum.

“Tidak apa-apa, Pak.”

“Saya menilai orang dari pakaiannya.”

“Sekarang saya tahu saya salah.”

Popoy mengulurkan tangan.

Pak Kardo menjabatnya erat.

Bu Carla melihat pemandangan itu sambil tersenyum.

Di dinding toko kini terpasang sebuah bingkai kecil berisi tulisan yang dibuat atas permintaan Pak Arman.

“Jangan pernah menilai nilai seseorang dari penampilannya. Karena sering kali, yang tampak paling miskin membawa kekayaan terbesar di dalam hatinya.”

Setiap pelanggan yang masuk membaca kalimat itu.

Tidak banyak yang tahu bahwa inspirasi tulisan tersebut berasal dari seorang anak tanpa sandal yang pernah datang membawa ribuan keping uang receh.

Bukan untuk membeli kemewahan.

Melainkan untuk memenuhi satu impian sederhana seorang ibu yang telah mengajarkannya bahwa cinta yang tulus selalu lebih berharga daripada emas paling murni.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang