Setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang mengiris dadaku. Dokter mengatakan tiga tulang rusukku patah, paru-paruku mengalami memar ringan, dan aku harus beristirahat total selama beberapa minggu. Namun, rasa sakit terbesar bukan berasal dari tubuhku. Rasa sakit itu datang dari kenyataan bahwa orang yang melakukan semua ini adalah suamiku sendiri.
Ayah duduk di samping ranjang sejak aku sadar. Wajahnya tetap tenang, tetapi aku mengenalnya lebih dari siapa pun. Semakin diam dia, semakin besar amarah yang disimpannya.
“Ayah sudah tahu semuanya,” katanya pelan.

Aku menoleh dengan mata sembab.
“Ayah tidak akan membalas mereka dengan kekerasan. Mereka akan membayar dengan cara yang tidak bisa mereka hindari.”
Aku menangis tanpa suara. Selama bertahun-tahun aku selalu berusaha melindungi nama baik suamiku, menutupi setiap kebohongan, setiap penghinaan, setiap luka yang ia tinggalkan. Aku terus meyakinkan diriku bahwa suatu hari nanti dia akan berubah. Ternyata aku hanya sedang menipu diriku sendiri.
Keesokan paginya seorang polisi datang bersama penyidik unit perlindungan perempuan dan anak. Mereka mengambil keteranganku dengan hati-hati. Dokter menyerahkan hasil pemeriksaan lengkap, termasuk foto rontgen yang memperlihatkan tiga tulang rusuk yang patah. Semua luka terdokumentasi.
“Apa Ibu bersedia melaporkan pelaku?” tanya penyidik.
Aku memejamkan mata.
Beberapa bulan lalu aku pasti akan berkata tidak.
Namun kali ini aku mengangguk.
“Ya.”
Satu kata itu terasa seperti awal kehidupan baru.
Sementara itu, suamiku, Adrian, sama sekali tidak datang menjengukku. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan. Yang muncul justru unggahan di media sosial dari selingkuhannya, Bianca. Mereka sedang makan malam di restoran mewah sambil tersenyum bahagia.
Bianca bahkan menulis, “Akhirnya tidak ada lagi orang yang mengganggu kebahagiaan kami.”
Saat melihat foto itu, tanganku gemetar.
Ayah mengambil ponselku lalu mematikannya.
“Mulai sekarang, biarkan mereka tertawa. Orang yang terlalu cepat merasa menang sering kali tidak sadar sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri.”
Aku tidak mengerti maksudnya.
Baru tiga hari kemudian semuanya mulai terbuka.
Ayah ternyata tidak hanya membawa dokter malam itu. Ia juga membawa pengacara terbaik yang telah bekerja dengannya selama lebih dari dua puluh tahun. Selama aku dirawat, mereka diam-diam mengumpulkan bukti.
Rekaman kamera keamanan rumah.
Rekaman percakapan.
Laporan medis.
Pesan-pesan ancaman Adrian.
Transfer uang yang diam-diam dikirim Adrian kepada Bianca menggunakan rekening perusahaan.
Bahkan ada saksi, seorang asisten rumah tangga yang selama ini takut berbicara.
Semua bukti mulai tersusun seperti kepingan puzzle.
Aku baru mengetahui sesuatu yang selama ini disembunyikan dariku.
Perusahaanku.
Aku selalu mengira selama menikah kami membangun semuanya bersama.
Ternyata sebagian besar modal berasal dari ayah melalui perusahaan investasi keluarga. Saham yang tercatat atas nama Adrian hanyalah saham pinjaman dengan perjanjian tertentu. Jika terbukti melakukan tindak pidana yang merugikan keluarga atau perusahaan, seluruh hak pengelolaannya otomatis dicabut.
Adrian sama sekali tidak pernah membaca isi perjanjian itu.
Dia terlalu percaya diri.
Seminggu setelah laporanku diterima, polisi memanggil Adrian untuk diperiksa.
Dia datang dengan senyum meremehkan.
“Dia istriku sendiri,” katanya di depan penyidik. “Masalah rumah tangga tidak perlu dibesar-besarkan.”
Namun penyidik meletakkan hasil visum di depannya.
Lalu rekaman CCTV.
Wajah Adrian perlahan berubah pucat.
Dalam video itu terlihat jelas dia mendorongku hingga tubuhku menghantam meja marmer sebelum menendangku ketika aku sudah terjatuh.
Tidak ada yang bisa ia bantah.
Media mulai mencium kasus tersebut karena Adrian dikenal sebagai direktur muda yang sering tampil dalam berbagai acara bisnis.
Berita menyebar dengan cepat.
Investor mulai mempertanyakan kepemimpinannya.
Harga saham perusahaan terus turun.
Pada hari yang sama, rapat luar biasa dewan komisaris digelar.
Aku belum cukup sehat untuk hadir, tetapi ayah datang mewakiliku sebagai pemegang saham terbesar.
Adrian masih mencoba bersikap tenang.
“Saya yakin ini hanya kesalahpahaman.”
Ayah berdiri perlahan.
“Tidak.”
Suasana ruang rapat langsung sunyi.
“Kamu tidak sedang menghadapi kesalahpahaman.”
Ayah menyerahkan map tebal kepada seluruh anggota dewan.
“Saya menghadapi seorang pria yang menganiaya putri saya, menyalahgunakan dana perusahaan, dan berbohong kepada seluruh pemegang saham.”
Satu demi satu dokumen dibuka.
Transfer fiktif.
Kontrak palsu.
Biaya perjalanan pribadi yang dibebankan kepada perusahaan.
Wajah Adrian kehilangan warna.
Bianca yang selama ini bekerja sebagai konsultan pemasaran ternyata menerima pembayaran dalam jumlah fantastis tanpa kontrak yang sah.
Rapat yang semula diperkirakan selesai dalam satu jam berlangsung hampir lima jam.
Hasilnya hanya satu.
Adrian diberhentikan dengan tidak hormat.
Semua akses keuangan diblokir.
Kasus dugaan penggelapan dana langsung dilaporkan.
Ketika berita itu muncul di televisi, Bianca panik.
Ia mencoba menghubungi Adrian puluhan kali.
Tidak dijawab.
Ia kemudian datang ke apartemen mewah yang selama ini diberikan Adrian.
Namun akses kartu elektroniknya sudah dinonaktifkan.
Petugas keamanan menyerahkan surat pemberitahuan.
Seluruh aset yang dibeli menggunakan dana perusahaan disita untuk kepentingan penyelidikan.
Bianca terduduk di lobi apartemen sambil menangis.
Untuk pertama kalinya, tidak ada seorang pun yang datang menyelamatkannya.
Sebulan kemudian aku sudah mulai bisa berjalan meski masih harus menjalani terapi.
Hari itu aku menerima satu amplop.
Isinya surat cerai yang justru diajukan lebih dulu oleh Adrian.
Aku tersenyum kecil.
Pengacaraku berkata, “Dia berharap bisa menyelamatkan sebagian hartanya.”
Aku hanya menggeleng.
“Balas.”
Seminggu kemudian kami mengajukan gugatan balik disertai tuntutan ganti rugi atas kekerasan dalam rumah tangga dan penyalahgunaan aset bersama.
Persidangan berlangsung selama beberapa bulan.
Di ruang sidang, Adrian masih berusaha memainkan peran sebagai korban.
“Aku hanya emosi sesaat.”
Hakim menatapnya tajam.
“Emosi sesaat tidak menyebabkan tiga tulang rusuk patah.”
Ruangan langsung hening.
Lalu datang saksi yang tidak pernah diduga Adrian.
Bianca.
Semua orang mengira dia akan membela Adrian.
Ternyata tidak.
Hubungan mereka sudah hancur setelah seluruh aset dibekukan.
Bianca mengakui bahwa Adrian berkali-kali mengatakan dirinya hanya bertahan menikah denganku demi menguasai perusahaan keluarga.
Ia juga mengakui Adrian pernah menyuruhnya menghapus beberapa dokumen keuangan.
Pengakuan itu menjadi pukulan terakhir.
Beberapa minggu kemudian putusan akhirnya dibacakan.
Perceraian dikabulkan.
Aku memperoleh hak penuh atas seluruh saham yang selama ini dipersengketakan.
Adrian diwajibkan membayar ganti rugi.
Kasus pidananya tetap berjalan terpisah.
Ketika keluar dari ruang sidang, puluhan wartawan mengejarku.
“Apakah Ibu puas dengan putusan hari ini?”
Aku berhenti sejenak.
“Tidak ada perempuan yang merasa menang setelah kehilangan kepercayaan kepada orang yang pernah dicintainya. Tapi hari ini saya mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih penting.”
“Apa itu?”
“Harga diri.”
Beberapa bulan berlalu.
Lukaku mulai sembuh.
Aku kembali bekerja.
Perusahaan perlahan bangkit.
Aku juga mendirikan sebuah yayasan yang memberikan bantuan hukum dan pendampingan psikologis bagi korban kekerasan dalam rumah tangga.
Setiap kali bertemu perempuan yang datang dengan wajah penuh memar dan mata yang kehilangan harapan, aku seperti melihat diriku sendiri beberapa bulan yang lalu.
Suatu sore, saat acara pembukaan pusat layanan baru, ayah menghampiriku.
“Kamu sudah benar-benar pulih.”
Aku tersenyum.
“Bukan karena waktu.”
“Lalu?”
“Karena akhirnya aku berhenti menyalahkan diriku sendiri.”
Ayah mengangguk pelan.
“Terkadang luka terdalam bukan berasal dari pukulan, tetapi dari kebohongan yang kita percaya terlalu lama.”
Aku menggenggam tangan beliau.
“Terima kasih karena malam itu Ayah tidak menuruti kata-kataku.”
Ayah tersenyum tipis.
“Malam itu kamu berbicara dalam rasa sakit. Tugas seorang ayah bukan membalas dendam, melainkan memastikan anaknya mendapatkan keadilan.”
Aku menatap langit Jakarta yang kini cerah setelah hujan panjang.
Dulu aku mengira hidupku berakhir ketika suamiku menghancurkan tubuh dan hatiku.
Ternyata malam itu bukanlah akhir.
Itu adalah awal dari kehidupan yang akhirnya benar-benar menjadi milikku.
