Koper terakhir kulempar keluar dari pintu apartemen kami di kawasan Sudirman, Jakarta. Dentuman keras saat koper itu menghantam lantai terdengar seperti suara mimpi-mimpi yang runtuh, mimpi yang dulu kubangun bersama Liza, wanita yang kunikahi tiga tahun lalu.
Aku bahkan tidak mau menatap wajahnya yang basah oleh air mata, apalagi perutnya yang telah membesar karena mengandung anak pertama kami yang sudah berusia tujuh bulan di dalam kandungan.
“Marco, tolong… jangan sekarang. Aku harus pergi ke mana bersama anak kita?” pinta Liza sambil menggenggam lenganku erat. Tangannya gemetar dan terasa dingin.

“Pergilah, Liza. Semua sudah berakhir,” jawabku dingin sambil melepaskan genggamannya. “Katrina sudah kembali. Dialah cinta pertamaku. Sekarang dia sudah menjadi janda dan membutuhkan aku. Dua anaknya lebih membutuhkan kehadiranku daripada dirimu.”
Liza tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia hanya berbalik, menyeret koper yang berat sambil menangis di tengah hujan deras yang mengguyur Jakarta malam itu.
Saat itu aku tidak merasa bersalah sedikit pun.
Aku yakin sedang membuat keputusan yang benar.
Bagiku, cinta pertama selalu memiliki tempat yang tak tergantikan.
Seminggu kemudian, Katrina dan kedua anaknya resmi tinggal di apartemenku.
Aku memberikan kamar bayi yang dulu kusiapkan bersama Liza kepada kedua anak Katrina. Boks bayi, mainan, bahkan lemari pakaian yang telah kami beli untuk buah hati kami kini dipenuhi pakaian anak-anak Katrina.
Ia memelukku sambil berkata dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tidak menyangka kamu masih mencintaiku setelah bertahun-tahun.”
Aku tersenyum.
“Sejak dulu, tidak pernah ada yang bisa menggantikanmu.”
Kalimat itu keluar begitu saja tanpa kusadari bahwa aku baru saja mengkhianati wanita yang mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anakku.
Tujuh malam kemudian semuanya berubah.
Aku terbangun karena haus.
Saat berjalan menuju dapur, aku melihat lampu balkon masih menyala.
Katrina berdiri di sana sambil merokok.
Wajahnya berbeda.
Tidak ada kelembutan.
Tidak ada kesedihan seorang janda.
Yang kulihat hanyalah wajah seorang wanita yang penuh perhitungan.
“Ya, si bodoh itu benar-benar percaya,” katanya pelan melalui telepon.
Ia tertawa.
Tawa yang belum pernah kudengar sebelumnya.
“Dia bahkan mengusir istrinya yang sedang hamil. Semua berjalan sesuai rencana. Tinggal menunggu dia menandatangani pengalihan aset. Setelah itu kita pergi ke Singapura. Uangnya cukup untuk hidup nyaman seumur hidup.”
Tubuhku membeku.
Dunia yang kubangun selama beberapa minggu terakhir hancur dalam hitungan detik.
Saat itu juga ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal mengirimkan sebuah foto.
Liza terbaring di ruang operasi.
Tubuhnya dipenuhi darah.
Di bawah foto itu hanya ada satu kalimat.
Kalau kamu masih punya sedikit hati, datanglah sekarang. Mungkin ini kesempatan terakhirmu.
Aku langsung berlari keluar apartemen tanpa memikirkan apa pun.
Di rumah sakit, seorang dokter menghentikanku.
“Anda suaminya?”
Aku mengangguk dengan napas tersengal.
Dokter menatapku lama.
“Istri Anda mengalami pendarahan hebat akibat stres dan tekanan darah yang sangat tinggi. Kami berhasil menyelamatkan bayinya melalui operasi darurat, tetapi kondisi ibunya masih kritis.”
Aku hampir jatuh.
“Anak saya…”
“Selamat.”
Air mataku langsung mengalir.
Anakku lahir lebih cepat dua bulan.
Berat badannya sangat kecil dan harus dirawat di inkubator.
Aku melihatnya dari balik kaca.
Wajah mungil itu sedang berjuang bernapas dengan bantuan alat.
Perawat berkata pelan.
“Selama operasi, ibunya terus memanggil nama Anda. Bahkan ketika kehilangan kesadaran.”
Dadaku terasa diremas.
Aku yang mengusirnya.
Aku yang membuatnya berada di ambang kematian.
Seorang wanita tua menghampiriku.
Itu ibu Liza.
Tanpa berkata apa pun, beliau menamparku sekeras mungkin.
Tamparan itu bahkan tidak terasa sakit dibandingkan rasa bersalah yang menghancurkan dadaku.
“Kamu tahu apa yang dilakukan Liza setelah keluar dari rumahmu?”
Aku hanya diam.
“Dia tidak mau tinggal di rumah kami karena takut membuat kami khawatir. Dia menyewa kamar kecil sambil tetap bekerja secara online agar anakmu tetap punya masa depan.”
Air mataku semakin deras.
“Dia tidak pernah berkata buruk tentangmu.”
Ibu Liza mengeluarkan sebuah amplop.
“Itu surat yang ditulisnya untuk anak kalian.”
Tanganku gemetar saat membuka surat itu.
Tulisan tangan Liza masih rapi.
Nak, kalau suatu hari Ayahmu kembali, jangan membencinya. Mungkin saat ini Ayah sedang tersesat. Orang baik pun bisa salah jalan ketika terlalu mengikuti perasaannya. Jika Ibu tidak ada nanti, peluk Ayahmu untuk Ibu.
Aku menangis sejadi-jadinya.
Untuk pertama kalinya sejak dewasa, aku menangis tanpa mampu menghentikannya.
Aku pulang ke apartemen sebelum pagi.
Katrina sedang tidur.
Aku membuka laptopnya.
Selama bertahun-tahun aku bekerja di bidang keamanan data perusahaan sehingga aku terbiasa memeriksa aktivitas digital.
Aku menemukan folder tersembunyi.
Di dalamnya terdapat puluhan rekaman percakapan.
Video.
Foto.
Transfer uang.
Semuanya menunjukkan satu fakta.
Suami Katrina ternyata tidak meninggal karena kecelakaan seperti yang selama ini ia ceritakan.
Pria itu masih hidup.
Mereka sengaja berpura-pura bercerai dan menyebarkan kabar kematian palsu.
Selama lima tahun terakhir mereka telah menipu tiga pria kaya.
Modusnya selalu sama.
Katrina mendekati korban.
Membuat korban jatuh cinta.
Memisahkan korban dari keluarga.
Lalu menguras seluruh harta mereka.
Aku adalah korban keempat.
Bahkan kedua anak yang kubela mati-matian ternyata sudah dilatih berbohong.
Mereka sengaja memanggilku Ayah agar aku cepat luluh.
Pagi itu aku tidak membuat keributan.
Aku justru berpura-pura tidak tahu apa pun.
Beberapa hari kemudian Katrina menyerahkan sebuah map.
“Sayang, ini hanya pembaruan administrasi apartemen dan investasi kita. Tanda tangan saja.”
Aku tersenyum.
“Tentu.”
Aku mengambil pulpen.
Namun sebelum tanda tanganku menyentuh kertas, bel apartemen berbunyi.
Katrina membuka pintu.
Enam polisi langsung masuk.
Di belakang mereka berdiri seorang pria yang sangat kukenal dari foto-foto di laptop Katrina.
Pria itu.
Suaminya yang katanya sudah meninggal.
Wajah Katrina langsung pucat.
“Apa ini?”
Aku menatapnya tanpa emosi.
“Permainanmu selesai.”
Polisi menunjukkan surat penangkapan atas tuduhan penipuan, pemalsuan identitas, pencucian uang, dan konspirasi kriminal.
Kedua anak Katrina mulai menangis.
Salah seorang polisi wanita memeluk mereka.
Belakangan aku baru tahu.
Anak-anak itu bahkan tidak mengetahui seluruh rencana orang tua mereka.
Mereka hanyalah korban yang diperalat sejak kecil.
Katrina menatapku penuh kebencian.
“Kamu menghancurkan hidupku.”
Aku menjawab pelan.
“Tidak. Kamu menghancurkan hidupmu sendiri.”
Beberapa bulan kemudian, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara yang panjang kepada Katrina dan suaminya.
Seluruh aset hasil penipuan disita.
Aku menjual apartemen itu.
Aku tidak sanggup lagi tinggal di tempat yang menyimpan terlalu banyak dosa.
Setiap hari aku datang ke rumah sakit menemani Liza.
Ia sadar setelah hampir tiga minggu koma.
Saat pertama membuka mata, ia melihatku sedang memegang tangan mungil bayi kami.
Ia tidak marah.
Tidak berteriak.
Hanya bertanya lirih.
“Anak kita sehat?”
Aku menangis sambil mengangguk.
“Maafkan aku.”
Ia memejamkan mata.
“Aku belum bisa memaafkanmu.”
Kalimat itu terdengar lembut.
Namun jauh lebih menyakitkan daripada semua tamparan yang pernah kuterima.
Aku tidak memaksanya.
Selama berbulan-bulan aku hanya datang membantu.
Mengurus bayi.
Mengganti popok.
Menyuapi Liza ketika tangannya masih lemah.
Aku tidak pernah lagi meminta kesempatan.
Aku hanya berusaha menjadi ayah.
Setahun berlalu.
Anak kami, Arka, mulai belajar berjalan.
Suatu sore ia tertawa sambil menggenggam satu tangan ibunya dan satu tangan ayahnya.
Liza memandangku lama.
“Aku belum bisa melupakan semuanya.”
“Aku tahu.”
“Tapi Arka berhak memiliki ayah yang bertanggung jawab.”
Aku mengangguk.
“Aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikan bahwa aku pantas menjadi ayahnya. Bukan untuk meminta cintamu kembali.”
Liza tersenyum tipis.
“Itu jawaban pertama yang benar dari mulutmu.”
Kami tidak langsung kembali menjadi suami istri.
Hubungan kami dimulai lagi dari nol.
Pelan-pelan.
Dengan kepercayaan yang harus dibangun setiap hari.
Beberapa luka memang bisa sembuh.
Namun bekasnya akan selalu ada.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Arka sudah cukup besar untuk memahami banyak hal, ia bertanya mengapa ada bekas luka panjang di perut ibunya.
Liza menatapku.
Aku menghela napas lalu menjawab sendiri.
“Itu bekas luka karena Ibu mempertaruhkan nyawanya demi melahirkanmu.”
“Lalu Ayah waktu itu di mana?”
Aku terdiam cukup lama.
Liza hendak menyela, tetapi aku menggeleng.
“Ayah sedang menjadi orang yang paling bodoh di dunia.”
Arka memandangku polos.
“Lalu kenapa sekarang Ayah selalu pulang cepat?”
Aku tersenyum sambil menggenggam tangan Liza.
“Karena Ayah pernah hampir kehilangan keluarga. Dan orang yang pernah kehilangan cahaya akan menghargai setiap sinar yang masih Tuhan izinkan untuk menerangi hidupnya.”
