Mereka mengumumkan bahwa dia telah meninggal dalam sebuah konferensi pers yang dingin di tengah kawasan finansial Makati.

Semua orang percaya bahwa Arga Prasetyo telah meninggal.

Berita itu memenuhi layar televisi, portal berita, dan media sosial selama berhari-hari. Pendiri sekaligus pemilik Prasetyo Capital, salah satu perusahaan investasi terbesar di Indonesia, disebut tewas akibat kecelakaan kapal saat melakukan perjalanan menuju sebuah pulau pribadi di Kepulauan Seribu. Tidak ada jenazah yang ditemukan, tetapi penyelidikan resmi menyatakan peluang selamat nyaris mustahil.

Di Jakarta, para petinggi perusahaan mengenakan pakaian hitam, menyampaikan belasungkawa, lalu mulai membicarakan pembagian saham dan penggantian posisi direksi.

Tak seorang pun menyadari bahwa ratusan kilometer dari ibu kota, seorang pria terbangun di sebuah rumah kayu sederhana di kaki Gunung Slamet tanpa mengetahui siapa dirinya.

“Akhirnya sadar juga,” kata seorang perempuan paruh baya sambil menyodorkan semangkuk bubur hangat.

Pria itu menatap wajah perempuan tersebut dengan bingung.

“Siapa saya?”

Perempuan itu saling berpandangan dengan suaminya.

“Kami juga tidak tahu,” jawab sang suami pelan. “Kami menemukanmu di tepi sungai setelah banjir besar tiga hari lalu.”

Karena tidak memiliki identitas apa pun, mereka memanggilnya Bima, diambil dari nama sungai tempat ia ditemukan.

Hari-hari berlalu perlahan.

Bima membantu keluarga itu menggarap sawah. Ia belajar memperbaiki pompa air, memanen cabai, memberi makan kambing, bahkan mengantar hasil panen ke pasar menggunakan sepeda motor tua.

Anehnya, meski tidak mengingat masa lalunya, tangannya bergerak sangat terampil ketika memperbaiki mesin rusak. Ia juga mampu menghitung keuntungan penjualan dengan sangat cepat tanpa menggunakan kalkulator.

“Dulu kamu pasti orang sekolah tinggi,” canda Pak Hasan.

Bima hanya tersenyum tipis.

“Aku bahkan tidak ingat namaku.”

Setiap malam ia memandangi langit yang dipenuhi bintang.

Di kepalanya sering muncul kilatan-kilatan aneh.

Gedung-gedung tinggi.

Ruang rapat.

Suara tepuk tangan.

Dan seorang pria berkata dengan nada penuh kebencian.

“Kalau dia masih hidup, semua rencana kita hancur.”

Namun setiap kali mencoba mengingat lebih jauh, kepalanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.

Suatu sore hujan turun sangat deras.

Sungai yang membelah desa meluap.

Seorang anak kecil terpeleset saat mengejar sandal yang hanyut.

“Tolong! Tolong!”

Tanpa berpikir panjang, Bima melompat ke arus deras.

Air menghantam tubuhnya berkali-kali.

Ia berhasil meraih tangan anak itu beberapa meter sebelum terseret lebih jauh.

Setelah sampai di daratan, anak tersebut tidak bernapas.

Entah dari mana, tubuh Bima bergerak otomatis.

Ia melakukan CPR dengan gerakan yang sangat terlatih.

“Satu… dua… tiga…”

Anak itu akhirnya batuk keras.

Semua warga bersorak lega.

Namun saat itulah kepala Bima berdenyut hebat.

Ia melihat pecahan ingatan yang jauh lebih jelas.

Sebuah ruang rapat mewah.

Logo perusahaan.

Tangan seseorang menuangkan cairan ke dalam gelas kopinya.

Suara rem mobil yang memekakkan telinga.

Kemudian kegelapan.

Bima jatuh terduduk sambil memegang kepala.

“Aku… pernah dibunuh…”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Pak Hasan menatapnya dengan cemas.

“Maksudmu apa?”

“Aku tidak tahu… tapi seseorang ingin aku mati.”

Sejak hari itu, potongan-potongan ingatan mulai kembali sedikit demi sedikit.

Ia ingat cara berbicara di depan investor.

Ia ingat istilah keuangan yang rumit.

Ia ingat wajah seorang perempuan yang selalu tersenyum kepadanya.

Namun senyum itu kini terasa sangat dingin.

Seminggu kemudian, seorang pedagang membawa koran bekas untuk membungkus sayuran.

Saat Bima membantu membuka bungkusan, matanya terpaku pada sebuah foto.

Foto itu adalah dirinya.

Judul besarnya berbunyi:

“Miliarder Arga Prasetyo Resmi Dinyatakan Meninggal.”

Tangannya gemetar.

Jantungnya berdegup sangat cepat.

“Aku… Arga…”

Malam itu ia tidak bisa tidur.

Pak Hasan dan istrinya mendengarkan seluruh ceritanya tanpa menyela.

“Kalau benar begitu,” kata Pak Hasan, “berarti orang-orang yang mengincarmu mungkin masih ada.”

“Karena itu aku harus kembali.”

“Berbahaya.”

“Aku tidak bisa membiarkan mereka menghancurkan semuanya.”

Keesokan harinya, keluarga itu mengumpulkan tabungan mereka untuk membelikan tiket bus menuju Jakarta.

Bima menolak berkali-kali.

Namun Pak Hasan hanya tersenyum.

“Dulu kami menyelamatkan nyawamu. Sekarang selamatkan hidupmu sendiri.”

Sesampainya di Jakarta, Arga mendapati dunia telah berubah.

Wajahnya terpampang di foto-foto penghormatan.

Kantornya dipenuhi karangan bunga.

Perusahaannya dipimpin sementara oleh Adrian, wakil direktur yang selama ini dikenal paling setia.

Tetapi justru wajah Adrian muncul dalam ingatan Arga ketika kecelakaan itu terjadi.

Ia mulai menyelidiki diam-diam.

Menggunakan pakaian sederhana dan topi lusuh, ia mengamati kantor lamanya dari kejauhan.

Tak seorang pun mengenalinya.

Suatu malam, ia mengikuti Adrian hingga sebuah restoran eksklusif.

Di sana Adrian bertemu seorang wanita.

Begitu melihatnya, dada Arga sesak.

Wanita itu adalah Maya.

Tunangannya.

“Semua saham sudah hampir selesai dipindahkan,” kata Maya.

Adrian tersenyum puas.

“Untung mayatnya tidak pernah ditemukan. Semua orang percaya dia sudah mati.”

Maya tertawa kecil.

“Kalaupun masih hidup, dia pasti tidak akan bisa membuktikan apa pun.”

Arga mengepalkan tangan.

Kini semuanya jelas.

Mereka bukan hanya mengkhianatinya.

Mereka merencanakan kematiannya.

Namun Arga tidak gegabah.

Ia tahu tuduhan tanpa bukti hanya akan membuatnya dianggap penipu.

Selama beberapa minggu berikutnya, ia menghubungi mantan kepala keamanan perusahaan yang pernah menyelamatkannya dari ancaman penculikan bertahun-tahun lalu.

Pria tua bernama Surya itu hampir pingsan ketika melihat Arga berdiri di depan rumahnya.

“Pak Arga… saya kira Bapak sudah meninggal.”

“Aku juga hampir percaya begitu.”

Bersama Surya, mereka mulai mengumpulkan bukti.

Rekaman CCTV lama.

Percakapan email yang sempat dihapus.

Transfer uang mencurigakan.

Laporan bengkel yang menunjukkan rem mobil Arga telah dirusak beberapa jam sebelum kecelakaan.

Semakin dalam mereka menggali, semakin besar konspirasi yang terungkap.

Beberapa anggota direksi ternyata ikut terlibat.

Mereka ingin mengambil alih perusahaan dengan memanfaatkan kematian Arga.

Puncaknya terjadi pada rapat pemegang saham tahunan.

Seluruh media hadir.

Adrian berdiri di podium.

“Hari ini kita memasuki era baru…”

Kalimatnya terhenti.

Pintu ruang rapat terbuka.

Semua orang menoleh.

Seorang pria berjas hitam berjalan masuk dengan tenang.

Ruangan mendadak sunyi.

Beberapa orang menjatuhkan ponsel mereka.

Adrian memucat.

Maya mundur satu langkah.

“Itu… tidak mungkin…”

Arga berdiri di depan semua orang.

“Selamat pagi.”

Suara itu membuat seluruh ruangan bergemuruh.

Seorang wartawan berteriak, “Pak Arga masih hidup!”

Kamera langsung menyorot ke arahnya.

Adrian mencoba tersenyum.

“Ini pasti orang yang menyamar.”

Arga mengangguk pelan.

“Kalau begitu mari kita lihat buktinya.”

Surya masuk bersama tim penyidik yang telah bekerja sama dengan kepolisian.

Satu demi satu rekaman diputar.

Email ditampilkan.

Dokumen transaksi dibuka.

Rekaman suara Adrian yang memerintahkan sabotase kendaraan terdengar jelas di seluruh ruangan.

Wajah Adrian berubah pucat pasi.

Maya mulai menangis.

“Aku bisa jelaskan…”

Arga hanya memandang mereka dengan tatapan datar.

“Kesempatan menjelaskan seharusnya kalian gunakan sebelum mencoba menghilangkan nyawaku.”

Polisi segera membawa Adrian dan beberapa rekannya keluar dari ruang rapat.

Maya menundukkan kepala tanpa sanggup berkata apa-apa.

Beberapa hari kemudian, Arga resmi kembali memimpin perusahaan.

Para investor menyambutnya dengan tepuk tangan.

Namun semua kemewahan itu terasa berbeda.

Ia teringat rumah kayu sederhana.

Sawah yang hijau.

Semangkuk bubur hangat.

Dan keluarga yang menyelamatkannya tanpa mengetahui bahwa ia adalah seorang miliarder.

Sebulan setelah semuanya selesai, Arga kembali ke desa.

Pak Hasan sedang memperbaiki pagar ketika melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Ia terkejut melihat Arga turun.

“Kamu pulang.”

“Aku memang pulang.”

Arga menyerahkan sebuah map.

Pak Hasan membukanya perlahan.

Di dalamnya terdapat sertifikat lahan baru, bantuan modal pertanian, beasiswa untuk seluruh anak desa, serta rencana pembangunan klinik kesehatan dan jembatan permanen yang selama ini mereka impikan.

Pak Hasan menatap Arga dengan mata berkaca-kaca.

“Kami tidak pernah mengharapkan balasan.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa melakukan semua ini?”

Arga tersenyum hangat.

“Karena saat seluruh dunia percaya aku sudah mati, hanya kalian yang memperlakukanku seperti manusia yang masih layak diselamatkan.”

Angin sore berembus pelan melintasi hamparan sawah.

Untuk pertama kalinya sejak mendapatkan kembali seluruh ingatannya, Arga merasa benar-benar menemukan siapa dirinya.

Bukan karena kekayaan yang berhasil ia rebut kembali.

Melainkan karena ia belajar bahwa nilai seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh jumlah hartanya, melainkan oleh siapa yang tetap mengulurkan tangan ketika ia tidak memiliki apa-apa.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang