Aku tidak pernah membayangkan bahwa satu pesanan Grab yang terlihat biasa akan menghancurkan semua keyakinanku tentang rumah tangga yang selama ini kupertahankan.
Namaku Ignacio. Usia tiga puluh lima tahun. Sudah hampir tujuh tahun aku menjadi pengemudi Grab di Jakarta setelah pindah dari Pasig bersama istriku, Laura. Kami memulai hidup baru di Indonesia karena perusahaan tempat Laura bekerja membuka kantor regional di Jakarta. Aku mengikuti keputusan itu dengan harapan kami bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Sebelas tahun kami menikah.

Sebelas tahun aku percaya bahwa kami sedang berjalan menuju mimpi yang sama.
Kami bukan pasangan sempurna. Kami sering kelelahan. Laura bekerja sebagai agen layanan pelanggan dengan jadwal malam, sementara aku mengemudi dari pagi hingga larut malam. Kadang kami hanya bertemu beberapa menit sebelum salah satu dari kami tertidur.
Aku selalu berpikir semua pasangan yang berjuang mencari nafkah pasti mengalami hal seperti itu.
Sampai malam itu datang.
Aplikasi Grab mengarahkanku ke sebuah motel di kawasan Sudirman.
Aku menunggu di depan gerbang.
Beberapa menit kemudian, seorang pria berpakaian rapi keluar bersama seorang wanita.
Begitu wanita itu mengangkat wajahnya, napasku seakan berhenti.
Laura.
Istriku.
Untung bagian belakang mobil cukup gelap. Aku memakai masker dan topi. Mereka masuk tanpa sedikit pun mengenaliku.
“Pak, ke kawasan SCBD,” kata pria itu.
Aku hanya mengangguk.
Sepanjang perjalanan, aku tidak sanggup berhenti melihat kaca spion.
Pria itu menggenggam tangan Laura.
Laura tidak menolak.
Justru ia menggenggam balik.
Rasanya seperti ada seseorang yang perlahan menusukkan pisau ke dadaku.
Aku ingin berteriak.
Aku ingin menghentikan mobil dan bertanya kenapa.
Tetapi aku hanya menggenggam setir semakin erat.
Di tengah perjalanan, pria itu berkata pelan.
“Aku sudah menemukan apartemen.”
Laura menghela napas panjang.
“Jangan dulu.”
“Sampai kapan kita sembunyi?”
“Aku masih belum siap.”
“Dia tidak akan pernah tahu.”
Laura terdiam cukup lama.
Lalu menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Aku tahu.”
Kalimat itu menghancurkan seluruh tubuhku.
Setelah mengantar mereka, aku mematikan aplikasi Grab.
Aku duduk sendirian di dalam mobil hampir satu jam.
Aku menangis.
Bukan karena marah.
Melainkan karena selama ini aku merasa sudah memberikan seluruh hidupku untuk seseorang yang ternyata menjalani kehidupan lain di belakangku.
Saat Laura pulang menjelang pagi, ia bersikap seperti biasa.
“Masih kerja?” tanyanya.
Aku mengangguk.
“Kamu capek?”
“Iya.”
Ia tersenyum tipis lalu masuk kamar mandi.
Aku berdiri di depan pintu, memandangi bayangannya.
Orang yang paling kukenal selama sebelas tahun mendadak terasa seperti orang asing.
Aku tidak langsung menuduhnya.
Selama beberapa minggu berikutnya aku mulai memperhatikan.
Ia semakin sering lembur.
Sering membawa pulang hadiah yang katanya dari kantor.
Lebih sering tersenyum sendiri ketika membaca pesan.
Yang paling membuatku sakit, ia mulai menjaga jarak dariku.
Aku masih berharap semua yang kulihat malam itu memiliki penjelasan.
Mungkin pria itu hanya teman.
Mungkin ada sesuatu yang tidak kupahami.
Aku ingin mempercayainya.
Namun hati kecilku sudah mengetahui jawabannya.
Suatu malam aku mengikuti mobil taksi online yang ditumpangi Laura setelah selesai bekerja.
Ia turun di sebuah kafe.
Pria yang sama sudah menunggu.
Mereka duduk hampir dua jam.
Mereka tertawa.
Mereka saling menatap seperti dua orang yang sedang jatuh cinta.
Aku berdiri di luar, hanya dipisahkan oleh kaca.
Tidak ada air mata lagi.
Yang tersisa hanya kehampaan.
Aku pulang tanpa menemui mereka.
Besok paginya aku berkata kepada Laura.
“Aku dapat bonus lumayan. Bagaimana kalau akhir pekan kita jalan berdua?”
Ia tersenyum canggung.
“Aduh, akhir pekan aku ada pelatihan kantor.”
Aku mengangguk pelan.
Padahal aku tahu hari itu ia akan bertemu pria tersebut.
Seminggu kemudian aku mengambil keputusan.
Aku menghubungi seorang pengacara.
Bukan untuk langsung bercerai.
Aku hanya ingin tahu apa saja hak kami bila itu benar-benar terjadi.
Pengacara itu berkata dengan tenang.
“Jangan mengambil keputusan saat emosi. Kumpulkan fakta. Baru tentukan langkah.”
Aku mengikuti sarannya.
Beberapa hari kemudian kesempatan itu datang.
Laura lupa membawa laptop.
Ia meneleponku.
“Sayang, bisa antar laptop ke kantor?”
Aku mengiyakan.
Sesampainya di kantor, resepsionis berkata, “Bu Laura sedang cuti hari ini.”
Aku terdiam.
“Tapi katanya dia masuk.”
Resepsionis menggeleng.
“Hari ini beliau memang mengajukan cuti.”
Aku langsung tahu ke mana ia pergi.
Aku menuju apartemen yang dulu kudengar dari percakapan mereka.
Setelah menunggu hampir satu jam, Laura muncul bersama pria itu.
Mereka keluar sambil membawa beberapa kantong belanja.
Pria itu memeluk bahunya.
Laura tersenyum bahagia.
Aku mengambil napas panjang lalu turun dari mobil.
Laura membeku.
Wajahnya seketika pucat.
“Ignacio…”
Pria itu juga terkejut.
Aku berdiri tepat di depan mereka.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada tamparan.
Aku hanya bertanya satu kalimat.
“Sudah berapa lama?”
Laura langsung menangis.
“Hampir delapan bulan.”
Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada semua dugaan.
Delapan bulan.
Berarti saat kami masih merayakan ulang tahun pernikahan.
Saat kami masih makan malam bersama.
Saat aku mengantarnya ke kantor.
Saat aku percaya semuanya baik-baik saja.
Pria itu mencoba berbicara.
“Pak, saya…”
Aku mengangkat tangan.
“Saya tidak sedang bicara dengan Anda.”
Laura menangis semakin keras.
“Aku minta maaf.”
“Apa yang kurang dariku?”
Ia menggeleng.
“Tidak ada.”
“Lalu kenapa?”
Laura menutup wajahnya.
“Aku merasa sendirian.”
Aku tertawa kecil.
“Bukankah aku juga sendirian?”
Ia tidak mampu menjawab.
Kami akhirnya berbicara di sebuah taman.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami benar-benar saling mendengarkan.
Laura mengaku bahwa hubungan itu bermula dari pertemanan di kantor.
Saat aku semakin sibuk mengejar target sebagai pengemudi Grab, ia merasa tidak lagi punya tempat bercerita.
Setiap kali pulang, aku terlalu lelah.
Setiap kali ia ingin bicara, aku sudah tertidur.
Sementara pria itu selalu mendengarkan.
Awalnya hanya teman makan siang.
Lalu teman curhat.
Lalu semuanya berubah.
Aku berkata pelan.
“Kamu bisa memilih pergi kapan saja. Kenapa harus berbohong?”
Laura menangis.
“Aku takut menyakitimu.”
Aku menggeleng.
“Kebohonganmu justru membuat luka ini jauh lebih dalam.”
Kami berpisah hari itu tanpa kepastian.
Selama seminggu kami tinggal serumah tetapi seperti dua orang asing.
Akhirnya Laura mengajukan permintaan.
“Aku akan menandatangani surat cerai kalau itu yang kamu inginkan.”
Aku memandang wajahnya lama sekali.
Perempuan yang dulu menemaniku dari masa sulit.
Perempuan yang pernah membuatku percaya bahwa keluarga adalah tempat paling aman.
Kini semua itu tinggal kenangan.
Dua bulan kemudian perceraian kami selesai.
Aku pindah ke apartemen kecil dekat pangkalan Grab.
Laura keluar dari perusahaan lamanya dan tinggal bersama pria tersebut.
Kupikir cerita kami selesai.
Namun hidup ternyata masih menyimpan kejutan.
Enam bulan setelah perceraian, aku menerima telepon dari nomor yang tidak kukenal.
Suara di seberang membuatku langsung mengenalinya.
Laura.
“Aku di rumah sakit.”
Aku datang.
Ia tampak jauh lebih kurus.
Di samping tempat tidurnya tidak ada siapa-siapa.
“Mana dia?” tanyaku.
Laura tersenyum pahit.
“Sudah pergi.”
“Tidak menemanimu?”
“Ia meninggalkanku ketika tahu aku terkena penyakit autoimun dan harus berhenti bekerja.”
Aku tidak berkata apa-apa.
Laura menunduk.
“Aku baru sadar, selama ini aku mengejar seseorang yang hanya mencintaiku saat semuanya mudah.”
Aku duduk di kursi.
Ia menatapku dengan mata penuh penyesalan.
“Aku tidak berharap kita kembali bersama.”
“Aku tahu.”
“Aku hanya ingin meminta maaf sekali lagi.”
Aku menarik napas panjang.
“Aku sudah memaafkanmu sejak lama.”
Ia menangis.
“Tapi aku tidak akan pernah bisa melupakan apa yang kulakukan.”
Aku mengangguk.
“Begitu juga aku.”
Beberapa minggu kemudian, aku membantu mengurus administrasi rumah sakit karena Laura sudah tidak memiliki keluarga di Jakarta.
Bukan karena aku masih mencintainya seperti dulu.
Melainkan karena sebelas tahun yang pernah kami jalani tidak bisa dihapus begitu saja.
Aku belajar bahwa memaafkan tidak selalu berarti kembali.
Kadang memaafkan hanyalah cara agar kita bisa melanjutkan hidup tanpa terus membawa beban kebencian.
Setahun kemudian aku bertemu seseorang yang berbeda.
Seorang guru taman kanak-kanak bernama Maya.
Ia bukan wanita yang sempurna.
Tetapi ia selalu berkata apa adanya.
Saat pertama kali kuceritakan masa laluku, ia menggenggam tanganku dan berkata, “Aku tidak bisa mengubah masa lalumu. Tapi kalau kamu mengizinkan, aku ingin menjadi alasanmu percaya lagi pada masa depan.”
Kalimat itu membuatku sadar.
Pengkhianatan memang bisa menghancurkan sebuah pernikahan.
Namun pengkhianatan tidak boleh menghancurkan kemampuan seseorang untuk kembali percaya, mencintai, dan memulai hidup yang baru.
Malam ketika aku menjemput istriku dari sebuah motel pernah menjadi malam paling gelap dalam hidupku.
Tetapi justru dari kegelapan itulah aku akhirnya menemukan jalan menuju kehidupan yang jauh lebih jujur daripada yang pernah kubayangkan.
