Suamiku bilang dia sedang “pergi dinas” — tapi ketika aku pergi ke rumah sakit menjenguk

Aku melangkah keluar dari koridor rumah sakit dengan dagu tegak, meskipun dadaku terasa seperti dihantam palu godam. Setiap langkah di atas lantai marmer yang dingin itu memperkuat tekadku. Air mata yang sempat mengalir langsung mengering, digantikan oleh hawa dingin yang menuntut pembalasan.

Adrian mengira dia adalah dalang yang cerdas. Dia lupa bahwa semua bidak catur yang dia mainkan adalah milikku.

Malam itu juga, aku tidak pulang ke rumah kami. Aku menyewa kamar hotel bintang lima di pusat kota Bandung dan membuka laptopku. Sebagai pewaris tunggal dinasti bisnis keluargaku, aku memiliki akses penuh ke sistem keuangan utama. Aku menghubungi Pak Arman, kepala keamananku yang setia, dan pengacara pribadi keluarga kami, Pak Baskara.

“Pak Baskara,” kataku saat telepon tersambung. Suaraku tidak bergetar sedikit pun. “Kumpulkan semua bukti transaksi keluar dari rekening perusahaan yang diotorisasi oleh Adrian dalam enam bulan terakhir. Aku baru saja mengirimkan rekaman video ke ponselmu. Gunakan itu untuk menjeratnya atas pasal penggelapan dana dan penipuan.”

Di seberang telepon, Pak Baskara menarik napas panjang setelah melihat bukti yang kukirim. “Ini lebih dari cukup untuk menjebloskannya ke penjara, Ibu Nadira. Kita bisa membekukan seluruh asetnya besok pagi pukul sembilan.”

“Lakukan,” jawabku dingin. “Dan pastikan dia tidak bisa mengambil satu rupiah pun.”

Keesokan harinya, drama yang sesungguhnya dimulai.

Aku kembali ke Jakarta, duduk manis di ruang kerja rumah mewah kami yang sepi. Sekitar pukul sebelas siang, ponselku bergetar. Nama “Adrian ❤️” muncul di layar. Aku mengangkatnya dengan nada suara yang biasa—lembut dan tanpa curiga.

“Sayang!” suara Adrian terdengar panik, napasnya memburu. “Ada masalah di bank. Semua kartu kreditku ditolak saat aku mau bayar biaya hotel di Surabaya. Rekeningku dibekukan! Apa ayahmu melakukan sesuatu pada sistem perusahaan?”

Aku tersenyum tipis, menatap kuku-kukuku yang terawat rapi. “Surabaya, Adrian? Bukankah cuaca di Bandung sedang sangat bagus hari ini? Terutama di sekitar kamar 305 rumah sakit?”

Hening yang mencekam langsung menyelimuti ujung telepon. Aku bisa mendengar deru napasnya yang tiba-tiba tertahan.

“Na… Nadira? Apa maksudmu?” suaranya bergetar, kepanikannya kini murni karena ketakutan.

“Aku sudah melihat semuanya, Adrian. Rekaman videomu menyuapi Maya, obrolan manis kalian tentang ‘pesawat kecil’, bayimu yang ada di perutnya, hingga rencana jeniusmu untuk menjadikanku bank pribadimu. Semuanya ada di tanganku. Dan di tangan pihak kepolisian.”

“Nadira, tunggu! Ini salah paham! Aku bisa jelaskan—”

“Tidak ada yang perlu dijelaskan,” potongku tajam. “Saat ini, tim hukumku sedang menuju ke unit apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan—apartemen yang kamu beli menggunakan uang perusahaanku atas nama Maya. Pak Arman dan petugas keamanan sedang mengosongkan tempat itu. Semua barang bermerek, perhiasan, dan mobil yang kamu belikan untuk selingkuhanmu sedang disita.”

“Kamu tidak bisa melakukan itu! Maya sedang hamil!” teriak Adrian, mulai kehilangan kendali diri.

“Oh, aku bisa. Karena semua aset itu dibeli dengan uang hasil penggelapan dana perusahaanku. Secara hukum, itu milikku. Jika kalian ingin tempat tinggal, aku sarankan mencari kolong jembatan yang cukup hangat untuk calon bayimu.”

Aku langsung memutuskan sambungan telepon.

Satu jam kemudian, Pak Arman mengirimkan video langsung. Maya, yang kemarin tampak segar bugar di rumah sakit, kini menangis histeris di lobi apartemennya sementara petugas memindahkan tumpukan tas Hermes dan pakaian desainer miliknya ke dalam truk sitaan. Adrian tiba di sana beberapa menit kemudian dengan taksi—karena mobil sport mewah yang biasa dia kendarai sudah ditarik oleh sopirku menggunakan kunci cadangan.

Adrian mencoba mencaci-maki para petugas, namun Pak Baskara langsung menyodorkan surat panggilan kepolisian atas tuduhan penggelapan dana dalam skala besar. Wajah Adrian seketika pucat pasi, seperti mayat hidup.

Dua minggu kemudian, sidang perceraian kami diputus secara kilat. Adrian tidak mendapatkan sepeser pun harta gono-gini karena perjanjian pranikah yang ditandatanganinya dulu sangat mengikat—sesuatu yang dulu dia setujui dengan mudah demi meyakinkan ayahku bahwa dia “tulus” mencintaiku.

Tidak berhenti di situ, penyelidikan polisi membuktikan bahwa Adrian telah menggelapkan dana sebesar 15 miliar rupiah dari perusahaanku untuk membiayai gaya hidup mewah bersama Maya dan investasi bodongnya.

Pada hari putusan pengadilan pidana dibacakan, aku hadir di ruang sidang. Aku mengenakan gaun hitam elegan, berdiri dengan anggun di baris depan.

Adrian, dengan pakaian tahanan oranye dan tangan diborgol, menatapku dengan mata cekung penuh penyesalan. Dia divonis hukuman 8 tahun penjara. Sementara Maya, yang dibiarkan tanpa uang sepeser pun dan harus menanggung malu karena seluruh skandal ini tersebar di media sosial, terpaksa pulang ke kampung halamannya dengan reputasi yang hancur total.

Saat Adrian digiring keluar dari ruang sidang oleh petugas, dia sempat berhenti di hadapanku.

“Nadira… tolong, maafkan aku. Aku mencintaimu, aku khilaf…” ratapnya dengan air mata berlinang.

Aku menatapnya datar, lalu tersenyum tipis—senyuman paling dingin yang pernah kuberikan pada seorang manusia.

“Terima kasih atas pelajarannya, Adrian. Tapi seperti yang kubilang… kamu menyatakan perang kepada wanita yang salah.”

Aku berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan bayang-bayang masa laluku di belakang. Nadira yang polos telah mati, dan dari abunya, lahir seorang wanita yang tidak akan pernah membiarkan siapa pun menginjak-injak harganya dirinya lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang