Saya menatap wajah Ibu lekat-lekat. Kerutan di sudut matanya yang biasanya memancarkan kehangatan seorang ibu rumah tangga biasa, kini tampak seperti garis-garis strategi yang matang.
“Ibu… apa maksud Ibu?” tanya saya, menyeka sisa air mata di pipi.
Ibu Ratna tidak langsung menjawab. Beliau berjalan ke kamarnya yang kecil, lalu kembali dengan sebuah kotak kayu tua berdebu yang terkunci rapat. Dari saku daster lusuhnya, beliau mengeluarkan sebuah kunci kecil berwarna tembaga dan membuka kotak itu.
Di dalamnya tidak ada perhiasan emas atau berlian mewah. Hanya ada tumpukan map berkas berwarna cokelat yang sudah agak menguning, serta sebuah stempel resmi berwarna merah tua.
“Rizky mengira dia sangat pintar karena menguasai semua dokumen atas namanya,” Ibu berkata sambil mengusap permukaan map teratas. “Dia lupa siapa yang memodifikasi seluruh kontrak dan struktur hukum perusahaannya saat dia pertama kali merintis bisnis dua belas tahun lalu. Dia pikir ibu hanya pedagang pasar biasa yang tidak mengerti hukum.”
Saya tertegun. Saya baru ingat, sebelum ayah meninggal dan sebelum Ibu memilih hidup tenang dengan berdagang di pasar, Ibu adalah seorang pensiunan ahli hukum korporasi dan kurator kepailitan yang sangat disegani di masanya.
“Vila di Menteng itu,” Ibu tersenyum tipis, “dibangun di atas tanah yang sebenarnya milik keluarga besar kita secara turun-temurun. Sertifikat tanahnya masih atas nama kakekmu, yang sudah dihibahkan kepada Ibu sebelum kamu menikah. Rizky hanya memegang sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) atas nama perusahaannya yang dibangun di atas tanah itu. Dan tebak apa? Masa berlaku HGB itu habis tepat tiga hari sebelum hari pernikahannya.”
Napas saya tertahan. “Jadi…”
“Jadi, secara hukum, bangunan di atas tanah tersebut sekarang berstatus ilegal jika tidak ada pembaruan kontrak sewa tanah dengan pemilik sahnya—yaitu Ibu,” lanjut Ibu dengan nada dingin namun puas. “Bukan hanya itu. Ibu juga memegang surat pengakuan utang pribadi Rizky yang dia tanda tangani sepuluh tahun lalu saat perusahaannya hampir bangkrut. Nilainya, jika diakumulasikan dengan bunga majemuk hingga hari ini, jauh melampaui harga vila 55 miliar itu.”

Ibu menutup kotak kayu itu dengan bunyi klik yang mantap. “Dia ingin memamerkan kemenangan di rumah yang dia curi dari putriku. Maka kita akan memberinya panggung terbaik untuk mempermalukan dirinya sendiri di depan seluruh rekan bisnis dan keluarga barunya.”
Hari pernikahan itu tiba.
Saya mengenakan gaun sutra berwarna hitam pekat—pilihan Ibu. Bukan untuk berkabung, melainkan untuk menegaskan bahwa saya datang bukan sebagai korban yang meratap, melainkan sebagai pembawa petaka bagi hari bahagia mereka. Ibu mendampingi saya dengan kebaya sederhana namun memancarkan wibawa yang luar biasa.
Saat mobil taksi kami berhenti di depan gerbang vila mewah di Menteng, dekorasi bunga-bunga mawar putih senilai ratusan juta rupiah tampak menghiasi setiap sudut. Para tamu undangan dari kalangan pengusaha dan sosialita Jakarta memenuhi halaman rumput yang luas.
Di atas panggung pelaminan, Rizky tampak gagah dengan setelan jas desainer ternama, merangkul pinggang Alya yang tersenyum lebar dengan gaun pengantinnya yang menjuntai mewah.
Begitu melangkah masuk, keheningan sempat tercipta di area terdekat. Beberapa tamu berbisik-bisik, mengenali saya sebagai mantan istri yang baru saja didepak tanpa sepeser pun uang.
Rizky menyadari kehadiran kami. Alih-alih panik, dia justru tersenyum meremehkan. Dia membisikkan sesuatu kepada Alya, lalu mereka berdua turun dari pelaminan, berjalan menghampiri kami dengan segelas sampanye di tangan.
“Wah, lihat siapa yang datang,” sindir Rizky, suaranya cukup keras hingga memancing perhatian tamu-tamu di sekitar. “Aku tidak menyangka kamu punya keberanian untuk datang, Sarah. Oh, dan Ibu Ratna juga ikut? Maaf ya, hidangan di sini mungkin agak terlalu mewah untuk lidah orang pasar.”
Alya menutup mulutnya sambil tertawa kecil, bersandar manja di bahu Rizky. “Sudahlah, Sayang. Mbak Sarah kan datang untuk memberikan restu. Kita harus sopan pada… tamu undangan dari masa lalu.”
Saya mengepalkan tangan, menahan emosi yang membakar dada. Namun, Ibu Ratna dengan tenang menepuk pundak saya. Beliau menatap Rizky dengan pandangan merendahkan yang sangat tajam.
“Kami datang bukan untuk memberikan restu, Rizky,” ujar Ibu dengan suara tenang namun bergema tegas. “Kami datang untuk mengambil kembali apa yang menjadi hak kami. Dan sepertinya, waktu sewa tanahmu sudah habis.”
Rizky mengernyitkan dahi, lalu tertawa terbahak-bahak. “Sewa tanah? Ibu tua, sepertinya ingatanmu sudah pikun karena terlalu lama di pasar. Vila ini atas namaku! Semua sertifikat ada di tanganku!”
“Sertifikat bangunan, ya. Tapi tanah di bawah kakimu saat ini… adalah milik saya,” Ibu mengeluarkan sebuah map merah dari tasnya dan membukanya di hadapan Rizky. “Ini sertifikat hak milik tanah nomor 402 atas nama keluarga besar dinasti Ratna. Dan ini surat pemberitahuan resmi dari pengadilan negeri yang menyatakan bahwa izin HGB atas nama perusahaanmu telah kedaluwarsa per tanggal 13 bulan ini, dan permohonan perpanjanganmu ditolak karena pemilik tanah menuntut pengembalian aset.”
Wajah Rizky yang tadinya memerah karena tertawa, mendadak berubah pucat pasi. Dia merebut map itu dari tangan Ibu, membaca baris demi baris dengan mata yang membelalak panik.
“I-ini tidak mungkin… ini pasti palsu!” pekik Rizky.
“Tidak hanya itu, Rizky Pratama,” Ibu memberi isyarat ke arah gerbang.
Beberapa saat kemudian, tiga orang pria berjas rapi bersama dua petugas kepolisian masuk ke dalam area pesta. Para tamu undangan mulai kasak-kusuk dengan panik. Salah satu pria berjas maju dan mengeluarkan sebuah dokumen resmi.
“Selamat sore, Saudara Rizky Pratama,” ujar pria berjas itu, yang ternyata adalah juru sita pengadilan. “Kami dari Pengadilan Negeri Jakarta Pusat membawa surat perintah penyitaan jaminan atas seluruh aset pribadi Anda, termasuk bangunan vila ini, atas tuntutan wanprestasi hutang piutang senilai 70 miliar rupiah yang diajukan oleh Ibu Ratna.”
“Hutang apa?! Aku tidak punya hutang!” teriak Rizky histeris. Tamu-tamu mulai mundur, beberapa di antaranya mulai merekam kejadian tersebut dengan ponsel mereka.
“Surat promes tahun 2016 yang Anda tanda tangani di atas meterai saat menerima suntikan dana darurat dari modal pribadi Ibu Ratna,” jelas sang juru sita dengan lugas. “Karena Anda gagal melakukan pembayaran setelah somasi ketiga dikirimkan ke alamat kantor Anda—yang sengaja Anda abaikan—maka pengadilan telah memutuskan eksekusi sita jaminan hari ini.”
“Rizky… apa maksud semua ini?! Rumah ini kan milik kita!” Alya mulai panik, memegangi lengan jas Rizky dengan histeris saat melihat polisi mulai menempelkan stiker segel penyitaan di pilar-pilar mewah vila tersebut.
“Diam kamu!” bentak Rizky pada Alya, frustrasi menguasai dirinya. Dia menatap saya dengan mata merah penuh amarah. “Sarah! Kamu dalang di balik semua ini, kan?! Dasar wanita licik!”
Dia hendak menerjang ke arah saya, namun petugas polisi dengan sigap menahan tubuhnya.
Saya melangkah maju satu tapak, menatapnya dengan senyum dingin yang selama ini dia berikan pada saya saat perceraian kami.
“Aku tidak licik, Rizky. Aku hanya terlalu percaya padamu dulu. Tapi ibu saya mengajarkan satu hal: keadilan mungkin datang terlambat, tapi dia tidak pernah lupa jalan pulang,” kata saya dengan nada berbisik namun penuh penekanan.
“Pesta selesai, semuanya,” Ibu Ratna mengumumkan kepada para tamu dengan pengeras suara yang diambilnya dari meja DJ terdekat. “Silakan meninggalkan tempat ini secara tertib. Mulai menit ini, properti ini berada di bawah pengawasan hukum keluarga kami. Dan bagi pengantin baru… silakan mencari kontrakan baru sebelum matahari terbenam.”
Alya menangis histeris di lantai, gaun pengantin putihnya yang mahal kini kotor terkena tanah becek sisa hujan sore tadi. Rizky terduduk lemas di sampingnya, menyadari bahwa dalam sekejap mata, dia tidak hanya kehilangan rumah, melainkan juga harga diri, reputasi bisnis, dan seluruh masa depannya.
Ibu merangkul pundak saya, mengajak saya berbalik untuk berjalan meninggalkan kekacauan di belakang kami.
“Bagaimana, Sarah?” tanya Ibu lembut sambil tersenyum penuh kemenangan. “Pertunjukannya menarik, kan?”
Saya memeluk Ibu dengan erat. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan dirundung kesedihan, saya akhirnya bisa tertawa lepas.
“Sangat menarik, Bu. Terima kasih.”
