Tiga hari.
Tiga hari penuh tanpa satu pun pesan, tanpa panggilan, tanpa kabar.
Setiap jam yang berlalu terasa seperti hukuman bagi Thao. Selama tujuh tahun menikah dengan Minh, suaminya memang bukan pria yang romantis, tetapi ia tidak pernah menghilang begitu saja. Bahkan ketika ada perjalanan dinas mendadak, Minh selalu menyempatkan diri mengirim pesan singkat. Kali ini, tidak ada apa-apa.

Nomornya aktif, tetapi tidak pernah diangkat. Rekan-rekan kantornya hanya mengatakan bahwa Minh mengajukan cuti selama beberapa hari tanpa menjelaskan alasannya. Orang tua Minh juga tidak tahu di mana putra mereka berada.
Semakin lama, kecemasan Thao berubah menjadi ketakutan.
Pada pagi hari ketiga, ia teringat bahwa beberapa bulan sebelumnya Minh pernah menghubungkan akun lokasi mereka untuk mempermudah berbagi jadwal. Dengan tangan gemetar, Thao membuka aplikasi itu.
Sebuah titik biru muncul.
Lokasinya berada di sebuah hotel kecil yang tersembunyi di salah satu sudut Jakarta Selatan.
Tanpa berpikir panjang, Thao memesan taksi.
Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Mungkin Minh sakit. Mungkin ponselnya rusak. Mungkin ia sedang membantu seseorang.
Namun jauh di dalam hatinya, ada suara kecil yang terus berkata bahwa semua ini tidak sesederhana itu.
Sesampainya di hotel, ia mendatangi resepsionis.
“Maaf, apakah ada tamu bernama Minh yang menginap di sini?”
Resepsionis memeriksa komputer beberapa detik sebelum mengangguk.
“Iya, Bu. Sudah tiga malam.”
Jantung Thao terasa berhenti.
“Saya istrinya.”
Raut wajah resepsionis langsung berubah canggung. Setelah mempertimbangkan beberapa saat, akhirnya ia mengantar Thao menuju lantai tiga.
Setiap langkah menuju kamar 307 terasa semakin berat.
Thao mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lebih keras.
Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki.
Klik.
Pintu terbuka perlahan.
Minh berdiri di sana.
Wajahnya pucat.
Matanya membelalak melihat istrinya.
“Thao…”
Namun perhatian Thao bukan tertuju kepada Minh.
Di dalam kamar, seorang perempuan duduk di ranjang dengan tubuh terbalut handuk putih.
Perempuan itu bukan orang asing.
Itu adalah Rina.
Sahabat terbaik Thao sejak SMA.
Perempuan yang selama bertahun-tahun ia anggap seperti saudara kandung sendiri.
Dunia Thao runtuh dalam satu detik.
Air matanya langsung jatuh.
“Jadi… selama ini kalian…”
Minh mencoba menjelaskan.
“Thao, dengarkan aku dulu.”
“Apa lagi yang harus kudengar?” teriak Thao sambil menangis. “Aku melihat semuanya!”
Rina segera berdiri.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Cukup!”
Thao mundur beberapa langkah.
“Kalian berdua benar-benar menghancurkan hidupku.”
Ia berlari meninggalkan hotel tanpa memberi kesempatan siapa pun berbicara.
Malam itu, ia mengemasi sebagian pakaiannya lalu pindah ke apartemen milik sepupunya.
Ia memblokir semua nomor Minh.
Ia juga menghapus semua foto Rina.
Selama seminggu berikutnya, Minh terus mencoba menghubunginya melalui email, surat, bahkan datang ke kantor.
Tidak sekali pun Thao mau bertemu.
Baginya, semua sudah berakhir.
Seminggu kemudian, seorang kurir datang membawa sebuah amplop.
Pengirimnya adalah Rina.
Thao hampir membuangnya ke tempat sampah.
Namun entah mengapa, ia tetap membukanya.
Di dalamnya hanya ada secarik surat.
“Aku tahu kamu membenciku. Tapi kalau setelah membaca surat ini kamu tetap ingin meninggalkanku sebagai sahabat, aku akan menerimanya.
Satu-satunya permintaanku adalah… temuilah Minh sekali saja.
Ada sesuatu yang sengaja kami sembunyikan darimu.
Aku minta maaf.”
Thao merobek surat itu.
Ia menganggap semuanya hanya alasan murahan.
Dua hari kemudian, teleponnya berbunyi.
Nomor rumah sakit.
“Apakah Anda keluarga Bapak Minh?”
Jantung Thao kembali berdegup kencang.
“Iya…”
“Beliau mengalami pingsan setelah menjalani pemeriksaan.”
Tanpa sadar, Thao langsung menuju rumah sakit.
Saat tiba, ia melihat Minh sedang duduk di ruang observasi.
Tubuhnya jauh lebih kurus daripada seminggu lalu.
Wajahnya pucat.
Di sampingnya berdiri Rina.
Begitu melihat Thao datang, Rina langsung berkata pelan.
“Akhirnya kamu datang.”
Thao memalingkan wajah.
“Aku hanya ingin tahu kenapa rumah sakit menghubungiku.”
Dokter keluar membawa map.
“Kalau begitu saya jelaskan sekalian.”
Dokter membuka hasil pemeriksaan.
“Pak Minh didiagnosis mengalami gagal ginjal stadium lanjut sekitar dua bulan lalu.”
Thao membeku.
“Apa?”
“Beliau membutuhkan donor ginjal secepatnya.”
Air mata Minh mulai mengalir.
“Aku tidak ingin kamu tahu.”
“Kenapa?”
“Aku takut.”
Tak satu pun kata mampu keluar dari mulut Thao.
Dokter melanjutkan.
“Selama beberapa minggu terakhir beliau menjalani berbagai pemeriksaan kecocokan donor.”
Thao menoleh kepada Rina.
“Kenapa kalian di hotel?”
Rina menarik napas panjang.
“Itu bukan hotel biasa.”
“Apa maksudmu?”
“Itu adalah apartemen medis yang bekerja sama dengan klinik transplantasi.”
Thao mengernyit.
Rina mengeluarkan beberapa dokumen.
Di sana terdapat logo rumah sakit yang sama.
Ternyata bangunan yang tampak seperti hotel itu memang menyediakan kamar inap sementara bagi pasien dari luar kota yang menjalani serangkaian pemeriksaan intensif.
“Kenapa kamu memakai handuk?”
Rina tersenyum pahit.
“Karena aku baru selesai menjalani CT scan dengan cairan kontras. Aku harus mandi sebelum pemeriksaan berikutnya.”
Thao mulai kehilangan kata-kata.
“Terus… kenapa kalian berdua saja?”
Minh menjawab lirih.
“Karena donor yang paling cocok ternyata adalah…”
Ia menatap Rina.
“…Rina.”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Air mata Thao kembali jatuh.
Rina menunduk.
“Hasil tes menunjukkan ginjalku cocok hampir sempurna.”
“Tapi… kenapa kalian menyembunyikannya dariku?”
Rina tersenyum tipis.
“Karena Minh melarang.”
Minh menggenggam kedua tangannya.
“Aku tahu kamu sangat mencintai sahabatmu.”
“Aku tidak mau kamu berada dalam posisi harus memilih.”
“Kalau operasi gagal… kamu akan kehilangan suami sekaligus sahabat.”
Thao mulai menangis sesenggukan.
“Aku pikir kalian…”
“Aku tahu.”
Minh ikut menangis.
“Makanya waktu melihatmu di hotel… aku bahkan tidak sempat menjelaskan.”
Thao memeluk wajahnya sendiri.
Penyesalan mulai memenuhi dadanya.
Beberapa minggu kemudian, operasi dilakukan.
Selama hampir sepuluh jam, Thao hanya bisa berdoa di luar ruang operasi.
Akhirnya dokter keluar.
“Operasi berhasil.”
Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Thao tersenyum sambil menangis.
Beberapa bulan berlalu.
Minh perlahan pulih.
Rina juga kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa meski harus lebih menjaga kesehatan.
Thao merasa hidupnya kembali utuh.
Namun takdir ternyata masih menyimpan satu kejutan lagi.
Suatu sore, saat membantu Minh merapikan lemari dokumen, Thao menemukan sebuah map cokelat yang belum pernah ia lihat.
Di dalamnya terdapat surat wasiat.
Tanggal pembuatannya tiga bulan sebelum Minh menghilang.
Seluruh tabungan, rumah, investasi, bahkan polis asuransi jiwa bernilai miliaran rupiah telah dialihkan atas nama Thao.
Di halaman terakhir tertulis tulisan tangan Minh.
“Kalau suatu hari aku gagal melewati semua ini, jangan menangis terlalu lama. Aku sengaja menghilang bukan untuk mengkhianatimu, tetapi untuk memastikan saat aku pergi nanti, kamu tidak perlu memikirkan apa pun selain melanjutkan hidup.”
Thao langsung memeluk Minh yang sedang duduk di kursi roda ringan untuk terapi.
“Aku bodoh.”
Minh tersenyum hangat.
“Bukan.”
“Aku hanya terlalu takut kehilanganmu.”
Setahun kemudian, kesehatan Minh benar-benar pulih.
Hubungan mereka juga perlahan menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.
Suatu malam mereka bertiga makan malam bersama.
Thao mengangkat gelas jusnya.
“Kalau hari itu aku memilih percaya pada amarah daripada mencari kebenaran, mungkin aku akan kehilangan dua orang paling berharga dalam hidupku.”
Rina tersenyum.
“Kadang yang terlihat oleh mata hanyalah sepotong cerita.”
Minh menggenggam tangan istrinya.
“Karena itu, sebelum memutuskan sesuatu yang akan mengubah hidup, berikanlah ruang bagi kebenaran untuk berbicara.”
Di malam yang tenang itu, Thao akhirnya mengerti bahwa tidak semua luka lahir dari pengkhianatan. Kadang, luka muncul karena prasangka yang datang lebih cepat daripada penjelasan. Dan sering kali, satu percakapan yang tertunda hampir saja menghancurkan cinta, persahabatan, dan keluarga yang sebenarnya masih berjuang saling menyelamatkan.
