Aku masih mengingat senyum di wajahku saat memarkir mobil di depan rumah sore itu. Sudah berbulan-bulan aku hampir tidak pernah pulang sebelum matahari terbenam. Hari itu adalah pengecualian. Rapat terakhirku dibatalkan, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa pulang lebih awal.
Di kursi belakang mobil terletak sebuket mawar merah dan beberapa pakaian bayi yang kubeli tanpa berpikir panjang. Aku membayangkan Clara akan tersenyum sambil memegang perutnya yang sudah membesar. Kami pasti akan makan malam bersama, tertawa, lalu memilih nama untuk anak kami.
Aku membuka pintu rumah dengan perlahan agar bisa mengejutkannya.

“Sayang… aku pulang.”
Tidak ada jawaban.
Rumah terasa terlalu sunyi.
Aku melangkah menuju ruang keluarga. Saat itulah napasku seakan berhenti.
Clara berlutut di lantai dapur. Rambutnya berantakan. Air mata mengalir tanpa henti. Kedua tangannya menggosok lengan sendiri begitu keras hingga kulitnya memerah. Bibirnya gemetar seperti orang yang ketakutan.
Di dekatnya berdiri Minda.
Ia hanya menatap tanpa sedikit pun berusaha menghentikan Clara.
“Clara!”
Aku berlari menghampiri.
Begitu melihatku, Clara justru menangis semakin keras.
“Jangan sentuh aku… jangan sentuh aku…”
Aku memeluknya dengan hati-hati.
“Ada apa? Siapa yang melakukan ini?”
Clara tidak sanggup menjawab. Tubuhnya gemetar hebat.
Yang menjawab justru Minda.
“Ibu sedang emosional saja, Pak. Ibu hamil memang suka berubah-ubah suasana hati.”
Aku menatapnya tajam.
“Lalu kenapa kamu hanya berdiri melihat?”
“Saya sudah berusaha menenangkan.”
Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuatku tidak nyaman.
Aku membawa Clara ke kamar.
Butuh hampir satu jam sampai napasnya mulai tenang.
Saat kubelai rambutnya, ia berbisik sangat pelan.
“Maaf…”
Aku mengernyit.
“Maaf untuk apa?”
“Aku sudah mengotori rumah…”
Hatiku seperti diremas.
Clara bukan tipe orang yang meminta maaf karena hal seperti itu.
Aku menggenggam tangannya.
“Ceritakan semuanya.”
Ia menggeleng.
“Aku capek…”
Aku tidak memaksanya.
Namun malam itu, saat Clara tertidur, aku memeriksa lengannya.
Kulitnya bukan sekadar merah.
Ada bekas goresan.
Bekas yang terlihat seperti akibat digosok berkali-kali menggunakan sikat kasar.
Aku kembali teringat saat tadi ia terus menggosok tubuhnya sendiri.
Kenapa?
Keesokan paginya aku berpura-pura berangkat kerja seperti biasa.
Mobilku keluar dari kompleks.
Lima menit kemudian aku memutar balik dan memarkir mobil beberapa rumah dari rumah kami.
Aku masuk melalui pintu samping yang masih bisa kubuka dengan kunci cadangan.
Rumah begitu sunyi.
Aku berdiri di balik lorong.
Tak lama kemudian terdengar suara Minda.
“Kalau belum selesai mengepel, jangan harap bisa makan.”
Aku membeku.
Pelan-pelan aku mengintip.
Clara yang sedang hamil tujuh bulan ternyata sedang mengepel lantai.
Dengan perut sebesar itu.
Peluh bercucuran di dahinya.
“Minda… dokter bilang aku tidak boleh terlalu capek…”
“Dokter tidak membayar gajiku.”
“Tapi Mark menyuruhmu membantuku…”
“Pak Mark tidak ada di sini.”
Nada suaranya berubah dingin.
“Kalau kamu mengadu, siapa yang akan percaya? Dia terlalu sibuk.”
Aku mengepalkan tangan.
Clara mencoba berdiri.
Belum sempat tegak, Minda menyodorkan ember lain.
“Itu kamar mandi belum disikat.”
“Aku pusing…”
“Kamu pura-pura.”
Air mataku hampir jatuh.
Selama berbulan-bulan aku mengira istriku dirawat dengan baik.
Ternyata ia dijadikan pembantu di rumahnya sendiri.
Aku hampir keluar saat itu juga.
Namun aku menahan diri.
Aku ingin tahu seberapa jauh semuanya.
Siang harinya Minda menerima telepon.
“Tenang saja. Suaminya bodoh. Dia percaya semua laporanku.”
Aku merekam semua pembicaraan itu dengan ponsel.
Belum selesai sampai di situ.
Minda mengambil uang dari laci dapur.
Jumlahnya tidak sedikit.
Ia memasukkannya ke dalam tas.
Aku mulai memeriksa mutasi rekening keluarga melalui aplikasi bank.
Selama empat bulan terakhir, hampir setiap minggu ada transaksi belanja dengan nominal besar.
Padahal isi kulkas di rumah hampir kosong.
Aku langsung menghubungi teman lamaku yang bekerja di divisi investigasi internal bank.
“Bisakah kau bantu melacak beberapa transaksi?”
Malam itu aku berpura-pura tidak tahu apa pun.
Saat makan malam, Clara hampir tidak menyentuh makanannya.
Aku baru sadar tubuhnya jauh lebih kurus dibanding sebulan lalu.
Padahal seharusnya ibu hamil bertambah berat badan.
“Kamu makan sedikit sekali.”
“Aku sudah makan tadi.”
Minda langsung menyahut.
“Ibu memang susah makan akhir-akhir ini.”
Namun ketika aku memegang tangan Clara di bawah meja, ia menuliskan sesuatu dengan jarinya.
Aku lapar.
Dadaku sesak.
Setelah Minda tidur, aku diam-diam membawa makanan ke kamar.
Clara menangis begitu melihatnya.
“Aku benar-benar lapar…”
“Kenapa kamu tidak makan?”
“Minda bilang makanan mahal. Aku tidak boleh boros.”
“Padahal uang belanja selalu cukup.”
Ia mengangguk sambil menangis.
“Dia bilang kamu mulai pelit.”
Aku memejamkan mata.
Minda bukan hanya menyiksa fisik Clara.
Ia juga merusak pikirannya sedikit demi sedikit.
Selama ini Clara percaya bahwa akulah yang berubah.
Dua hari kemudian hasil investigasi keluar.
Lebih dari tujuh puluh persen uang belanja ternyata dipindahkan ke rekening milik adik Minda.
Bukti transfer lengkap.
Masih ada lagi.
Beberapa barang bayi yang kubeli ternyata dijual kembali melalui marketplace.
Aku hampir tidak bisa mengendalikan emosiku.
Tetapi aku memilih menunggu.
Aku ingin semuanya terbongkar sekaligus.
Hari Minggu aku mengatakan akan pergi ke luar kota selama dua hari.
Begitu mobilku keluar, Minda langsung berubah.
“Bangun!”
Ia membentak Clara.
“Kamu pikir hamil itu alasan untuk bermalas-malasan?”
Clara mencoba berdiri.
Tiba-tiba ia kehilangan keseimbangan.
Ia jatuh.
Tangannya memegang perut.
Wajahnya pucat.
“Minda… sakit…”
Bukannya menolong, Minda justru berkata dingin.
“Drama lagi.”
Saat itulah aku masuk.
“Cukup.”
Suara langkah kakiku membuat keduanya menoleh.
Wajah Minda langsung pucat.
“Bapak…”
Aku menunjukkan ponsel.
“Semuanya terekam.”
Ia masih mencoba membela diri.
“Pak, Ibu memang sering berlebihan.”
Aku melemparkan setumpuk dokumen ke meja.
“Bukti transfer.”
“Kwitansi palsu.”
“Rekaman suara.”
“Video.”
“Serta laporan dokter yang menunjukkan Clara mengalami kekurangan gizi selama kehamilan.”
Mulut Minda terbuka tanpa suara.
Aku menatapnya lurus.
“Masih ingin berbohong?”
Ia tiba-tiba berlutut.
“Pak… saya khilaf…”
Clara hanya menangis sambil memegang perut.
Aku langsung membawanya ke rumah sakit.
Dokter mengatakan satu kalimat yang membuat lututku lemas.
“Kalau terlambat beberapa jam lagi, kondisi bayinya bisa sangat berbahaya.”
Aku duduk di luar ruang pemeriksaan sambil menangis untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Aku merasa menjadi suami yang gagal.
Aku bekerja siang malam demi keluarga.
Namun justru meninggalkan orang yang paling kucintai bersama orang yang salah.
Untungnya, setelah beberapa hari dirawat, kondisi Clara dan bayi kami berangsur stabil.
Aku tidak berhenti sampai di situ.
Aku melaporkan Minda ke polisi atas dugaan penggelapan dan kekerasan terhadap orang yang berada dalam tanggung jawabnya.
Penyelidikan mengungkap fakta yang lebih mengejutkan.
Ternyata ini bukan pertama kalinya.
Sebelumnya ia pernah bekerja di tiga rumah lain.
Dua majikannya mencurigai kehilangan uang, sementara seorang lansia pernah dirawat di rumah sakit karena perlakuannya.
Namun tidak ada yang memiliki bukti sekuat yang kami miliki.
Beberapa bulan kemudian, Minda dijatuhi hukuman penjara.
Kasusnya menjadi peringatan bagi banyak keluarga agar tidak menutup mata terhadap orang-orang yang mereka percaya di rumah.
Tiga bulan setelah semua itu berlalu, Clara melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat.
Saat pertama kali menggendong putraku, aku berjanji dalam hati.
Tidak ada promosi.
Tidak ada bonus.
Tidak ada jabatan.
Yang lebih berharga daripada melihat anakku tumbuh dan memastikan istriku merasa aman setiap hari.
Setahun kemudian, aku memutuskan menerima posisi baru di kantor dengan tanggung jawab lebih kecil meski gajinya berkurang.
Banyak rekan menganggapku bodoh.
Namun setiap sore aku bisa pulang sebelum matahari terbenam.
Aku bisa menemani putraku belajar berjalan.
Aku bisa memasak bersama Clara.
Aku bisa tertawa tanpa terganggu bunyi telepon kantor.
Suatu malam, saat kami duduk di teras rumah, Clara menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Aku dulu hampir kehilangan harapan.”
Aku menggenggam tangannya.
“Maaf karena terlalu lama menyadarinya.”
Clara tersenyum tipis.
“Bukan salahmu bekerja keras. Yang salah adalah ketika kita mengira cinta selalu bisa digantikan dengan uang.”
Aku memandang putra kami yang sedang tertawa mengejar gelembung sabun di halaman.
Saat itu aku akhirnya memahami satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh jabatan ataupun dunia kerja.
Rumah bukan menjadi tempat yang aman karena besarnya penghasilan seseorang, melainkan karena orang-orang yang saling hadir, saling menjaga, dan benar-benar memperhatikan satu sama lain.
