Saat sedang bekerja, aku memutuskan pulang lebih cepat untuk memasakkan makanan bagi istriku yang sedang sakit.

Saat sedang bekerja, aku memutuskan pulang lebih cepat untuk memasakkan makanan bagi istriku yang sedang sakit. Namun begitu melangkah masuk ke rumah, wajahku langsung pucat ketika melihat apa yang ada di kamar mandi.

Sudah lebih dari tiga tahun aku menikah dengan istriku, Anushka.

Selama itu, tidak pernah sekalipun dia memberiku alasan untuk meragukannya.

Anushka adalah perempuan yang lembut, tenang, dan selalu berbicara dengan sabar.

Sering kali aku berpikir bahwa aku adalah pria paling beruntung karena dipertemukan dengan perempuan sebaik dirinya.

Namun sore itu, di sebuah kawasan perumahan yang tenang di Bengaluru, keyakinanku seolah runtuh dalam hitungan detik.

Pagi harinya, Anushka mengirim pesan.

“Aku benar-benar lelah. Kepalaku sakit dan badanku demam. Hari ini aku mau istirahat saja.”

Aku sempat menawarkan untuk mengantarnya ke dokter.

“Tidak usah. Aku hanya butuh tidur.”

Karena ada rapat penting yang tak bisa kutinggalkan, aku tetap berangkat bekerja. Namun sepanjang hari, pikiranku terus dipenuhi rasa khawatir.

Menjelang sore, aku memutuskan pulang lebih awal. Aku ingin membuatkan poha kesukaannya dan memastikan kondisinya benar-benar membaik. Kalau demamnya masih tinggi, aku akan langsung membawanya ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah, suasana terasa begitu sunyi.

Mobil kami masih terparkir di garasi.

Pintu depan terkunci dari dalam, tetapi setelah kubuka dengan kunci cadangan, aku tidak mendengar suara televisi ataupun langkah kaki.

“Anushka?” panggilku.

Tidak ada jawaban.

Aku meletakkan tas kerja di sofa lalu berjalan menuju dapur. Semua terlihat rapi.

Aku mulai merasa ada yang aneh.

Kemudian aku melihat pintu kamar mandi utama sedikit terbuka.

Saat mendorongnya perlahan, tubuhku langsung membeku.

Di lantai kamar mandi berserakan rambut panjang.

Bukan beberapa helai.

Jumlahnya begitu banyak hingga tampak seperti seseorang baru saja memangkas rambutnya sampai habis.

Di wastafel terdapat gunting, mesin cukur rambut, dan handuk yang masih basah.

Jantungku berdetak kencang.

“Anushka?”

Aku berlari menuju kamar.

Istriku sedang duduk di depan cermin dengan mengenakan syal yang menutupi kepalanya.

Begitu melihatku, ia langsung tersenyum kecil.

“Kamu sudah pulang?”

Aku tak mampu berkata-kata.

“Rambutmu…”

Perlahan ia membuka syal itu.

Aku menahan napas.

Kepalanya hampir botak.

Air mataku langsung menggenang.

“Apa yang terjadi?”

Bukankah pagi tadi ia hanya demam?

Siapa yang melakukan ini?

Apakah seseorang menyerangnya?

Aku memeluknya dengan panik.

“Siapa yang menyakitimu? Ceritakan padaku.”

Namun Anushka hanya menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Tidak ada yang menyakitiku.”

“Lalu kenapa?”

Ia meminta kami duduk di tepi ranjang.

Selama beberapa detik ia hanya menggenggam tanganku tanpa berbicara.

“Aku sebenarnya sudah beberapa minggu ingin memberitahumu.”

“Apa?”

“Hasil pemeriksaan kesehatanku keluar bulan lalu.”

Dadaku langsung terasa sesak.

“Aku mengidap kanker.”

Dunia seolah berhenti berputar.

Aku menatap wajahnya tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun.

“Kanker limfoma stadium awal.”

Aku langsung menggeleng.

“Tidak mungkin.”

“Aku juga berharap begitu.”

“Kenapa kamu tidak memberitahuku?”

Anushka menangis pelan.

“Aku takut.”

“Tidak. Kamu tidak boleh menghadapi ini sendirian.”

“Aku tahu.”

Ia menjelaskan bahwa dokter menyarankan kemoterapi secepatnya. Kemoterapi pertama dijadwalkan minggu depan, dan dokter mengatakan rambutnya kemungkinan besar akan rontok sedikit demi sedikit.

“Aku tidak mau melihat rambutku jatuh setiap hari. Aku memilih mencukurnya sekarang.”

Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Selama ini aku sibuk bekerja mengejar target, sementara istriku memikul ketakutan sebesar itu seorang diri.

“Aku minta maaf.”

Justru Anushka yang mengusap pipiku.

“Kamu tidak salah.”

Malam itu kami makan poha bersama sambil menangis dan tertawa bergantian. Aku berjanji akan selalu mendampinginya, apa pun yang terjadi.

Beberapa hari kemudian kemoterapi dimulai.

Hari-hari kami berubah total.

Aku mulai bekerja dari rumah beberapa kali dalam seminggu.

Aku belajar memasak lebih banyak menu sehat.

Aku mengantar Anushka ke rumah sakit, menemaninya saat infus obat masuk perlahan ke tubuhnya, dan memegang tangannya ketika ia mual atau menggigil.

Meski begitu, ada satu hal yang perlahan menggangguku.

Biaya pengobatan.

Asuransi hanya menanggung sebagian.

Tabungan kami mulai terkuras.

Anushka diam-diam mencoba menjual beberapa perhiasannya.

Aku melarangnya.

“Kita akan mencari jalan lain.”

Namun di balik semua perjuangan itu, ada satu kejadian yang membuatku semakin bingung.

Suatu sore saat pulang dari kantor, aku melihat seorang pria keluar dari rumah kami.

Begitu melihatku, ia langsung berjalan cepat menuju mobilnya.

Aku belum pernah melihat wajahnya.

Jantungku kembali dipenuhi kecurigaan.

Siapa dia?

Kenapa datang saat aku tidak ada?

Aku masuk ke rumah dengan kepala penuh pertanyaan.

Anushka sedang beristirahat di sofa.

“Tadi ada tamu?”

Ia tampak sedikit terkejut.

“Oh… iya.”

“Siapa?”

Ia terdiam beberapa saat.

“Hanya teman lama.”

Teman lama?

Kenapa ia tampak gugup?

Malam itu aku tidak bisa tidur.

Keesokan harinya aku memutuskan pulang lebih awal lagi.

Dan benar saja.

Mobil yang sama kembali berhenti di depan rumah.

Aku menunggu hingga pria itu keluar.

Kali ini aku langsung menghampirinya.

“Permisi.”

Pria itu tersenyum sopan.

“Kamu siapa?”

“Aku Arvind.”

“Ada urusan apa dengan istriku?”

Ia terlihat memahami kecurigaanku.

“Maaf kalau membuatmu salah paham.”

“Jawab pertanyaanku.”

Ia mengeluarkan sebuah map dari tasnya.

“Anushka tidak ingin aku menceritakan ini sebelum semuanya selesai.”

Aku membuka map itu.

Di dalamnya ada berbagai dokumen medis dan kuitansi pembayaran rumah sakit.

Jumlahnya sangat besar.

“Apa ini?”

“Aku bekerja di sebuah yayasan yang membantu pasien kanker.”

Aku masih belum mengerti.

“Beberapa bulan lalu Anushka mendaftarkan diri sebagai relawan donor rambut.”

“Donor rambut?”

“Iya.”

Ia lalu menunjukkan beberapa foto.

Ternyata sebelum mencukur rambutnya, Anushka memang memiliki rambut yang sangat panjang.

Rambut itu disumbangkan untuk dibuat menjadi wig bagi anak-anak penderita kanker.

Aku terpaku.

“Bukan hanya itu.”

Arvind melanjutkan.

“Setelah mengetahui dirinya juga mengidap kanker, dia tetap bersikeras menyumbangkan rambutnya. Dia bilang, kalau memang nanti akan kehilangan rambut karena kemoterapi, setidaknya rambutnya bisa membuat seorang anak kembali tersenyum.”

Dadaku terasa semakin sesak.

“Aku datang ke sini karena yayasan kami mengajukan bantuan biaya pengobatan untuk Anushka. Semua dokumen sudah disetujui.”

Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar.

“Disetujui?”

“Iya.”

“Kenapa dia tidak memberitahuku?”

Arvind tersenyum.

“Karena dia tahu kamu sedang bekerja keras. Dia ingin memberikan kejutan.”

Aku berdiri mematung.

Selama beberapa hari terakhir aku sibuk dipenuhi prasangka.

Aku bahkan sempat mengira istriku menyembunyikan sesuatu yang buruk.

Padahal yang ia sembunyikan justru kebaikan yang luar biasa.

Aku masuk ke rumah sambil menahan air mata.

Anushka menatapku cemas.

“Kamu bertemu Arvind?”

Aku mengangguk.

“Kenapa kamu tidak pernah cerita?”

Ia tersenyum pelan.

“Aku tidak ingin kamu melihatku sebagai orang yang harus dikasihani.”

“Aku tidak pernah melihatmu seperti itu.”

“Aku hanya ingin tetap menjadi diriku.”

Aku memeluknya erat.

“Tapi kamu tidak perlu memikul semuanya sendirian.”

Beberapa bulan berlalu.

Kemoterapi memang melelahkan, tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan kabar baik.

Tumornya mengecil secara signifikan.

Dokter bahkan mengatakan peluang kesembuhannya sangat tinggi jika pengobatan terus dilanjutkan.

Pada hari terakhir kemoterapi, yayasan tempat Arvind bekerja mengundang beberapa keluarga pasien.

Di sana, seorang gadis kecil berusia sekitar delapan tahun menghampiri Anushka.

Ia mengenakan wig hitam yang indah.

“Terima kasih, Kak.”

Anushka tersenyum bingung.

Arvind berkata pelan, “Wig yang dipakai anak itu dibuat dari rambutmu.”

Gadis kecil itu memeluk Anushka erat.

“Aku sekarang berani sekolah lagi.”

Saat itulah aku benar-benar mengerti.

Hari ketika aku pulang dan melihat lantai kamar mandi dipenuhi rambut bukanlah hari ketika hidup kami hancur.

Itu adalah hari ketika istriku, meski sedang menghadapi penyakit yang mengancam nyawanya sendiri, tetap memilih memberi harapan kepada orang lain.

Setahun kemudian, rambut Anushka mulai tumbuh kembali.

Tidak sepanjang dulu.

Tidak selebat dulu.

Namun setiap kali aku melihatnya tersenyum di depan cermin, aku sadar bahwa kecantikan yang sebenarnya tidak pernah berasal dari rambut, wajah, ataupun penampilan.

Kecantikan sejati lahir dari hati yang tetap mampu memberi, bahkan ketika dirinya sendiri sedang berjuang untuk bertahan hidup.

Dan setiap kali aku mengenang lantai kamar mandi yang dulu membuatku pucat karena ketakutan, aku justru tersenyum.

Karena di sanalah aku belajar bahwa sebelum kita membiarkan prasangka menguasai hati, ada baiknya kita mendengar penjelasan dari orang yang kita cintai. Sebab di balik sesuatu yang tampak mengerikan, terkadang tersembunyi pengorbanan paling indah yang tidak pernah kita bayangkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang