Di bawah terik matahari Jakarta yang membakar aspal, Dimas hampir menyerah mengejar target pengantaran hari itu. Sejak pukul tujuh pagi, ia sudah berkeliling membawa makanan, dokumen, dan paket kecil ke berbagai sudut kota. Ponselnya terus berbunyi, aplikasi pengiriman menampilkan pesanan demi pesanan, sementara cicilan motor, biaya kontrakan, dan pengobatan ibunya seolah tidak pernah memberi kesempatan untuk bernapas.
Dimas pernah menjadi montir selama hampir tujuh tahun. Namun setelah bengkel tempatnya bekerja gulung tikar, ia memilih menjadi kurir. Pekerjaan itu tidak mudah, tetapi setidaknya memberinya kebebasan untuk menentukan berapa lama ia ingin bekerja. Satu hal yang tidak pernah berubah adalah kebiasaannya memperhatikan kondisi kendaraan. Mata seorang montir selalu menangkap sesuatu yang luput dari orang lain.

Ketika melintas di jalan layang yang ramai, ia melihat iring-iringan kendaraan dinas melaju di jalur kanan. Mobil SUV hitam dengan pengawalan ketat bergerak rapi, sirene sesekali berbunyi agar kendaraan lain memberi jalan. Dari berita yang sering ia baca, Dimas tahu itu adalah rombongan Wali Kota Surya, sosok yang sedang gencar membersihkan praktik mafia proyek dan perjudian daring di kotanya.
Dimas berniat menepi agar rombongan lewat lebih dulu. Namun sesaat ketika salah satu SUV melewatinya, cahaya matahari memantul dari bawah kendaraan.
Kilatan itu terasa aneh.
Bukan karena benda logam biasa.
Ada sebuah kotak kecil berwarna gelap menempel di rangka bawah mobil. Yang membuat bulu kuduknya berdiri adalah adanya lampu indikator hijau yang sesekali berubah merah, lalu kembali hijau.
Ia spontan memperlambat motor.
“Kenapa ada modul seperti itu?” gumamnya.
Sepanjang menjadi montir, ia pernah memasang GPS pelacak, sensor parkir, hingga perangkat keamanan kendaraan. Tetapi bentuk benda itu berbeda. Penempatannya pun terlalu sembunyi untuk sekadar aksesori.
Dimas mencoba mengabaikannya.
Mungkin perangkat resmi.
Mungkin bagian dari sistem keamanan.
Namun semakin dipikirkan, semakin tidak masuk akal.
Beberapa bulan sebelumnya, ia pernah membantu polisi membongkar mobil curian. Pelaku memasang alat pelacak magnetik yang bentuknya hampir serupa, hanya ukurannya sedikit lebih besar.
Kalau itu benar alat pelacak, mengapa dipasang di mobil wali kota tanpa sepengetahuan pengawalnya?
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Ia mempercepat laju motor sambil melambaikan tangan.
“Pak! Tolong!”
Tidak ada yang memperhatikan.
Pengawal justru mengira ia ingin mendekat secara paksa.
Salah seorang mengangkat tangan memberi isyarat agar ia menjauh.
Dimas terus mencoba.
“Lihat bagian bawah mobil!”
Suara knalpot dan hiruk-pikuk jalan menelan teriakannya.
Dalam beberapa detik, ia harus memilih.
Diam dan berharap semuanya baik-baik saja.
Atau mengambil risiko dianggap ancaman.
Ia menarik napas panjang.
Motor dipacunya melewati sisi kiri konvoi. Ban motornya sedikit tergelincir saat berpindah jalur, tetapi ia berhasil menyalip kendaraan paling depan.
Lalu ia mengerem mendadak tepat beberapa meter di depan mobil wali kota.
Suara rem memekik.
Konvoi berhenti.
Mobil-mobil lain ikut mengerem panik.
Klakson bersahutan dari segala arah.
Empat pengawal langsung turun dengan sigap.
Pistol mereka belum diarahkan, tetapi tangan sudah siap di dekat sarung senjata.
“Turun!”
Dimas mengangkat kedua tangan.
“Saya tidak berniat jahat!”
“Kamu menghalangi pejabat negara. Apa maumu?”
“Di bawah mobil… ada sesuatu.”
Komandan pengawal menatapnya tajam.
“Kalau ini lelucon, kamu akan menyesal.”
Dimas menggeleng.
“Saya mantan montir. Tolong percaya sebentar saja.”
Beberapa detik kemudian, pintu belakang SUV terbuka.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun turun dengan tenang.
Dialah Wali Kota Surya.
“Ada apa?”
Komandan menjelaskan singkat.
Wali kota memandang Dimas.
Tatapan mereka bertemu.
Dimas melihat kelelahan di wajah pria itu, tetapi juga ketegasan yang sulit dijelaskan.
“Kalau saya salah,” kata Dimas pelan, “saya siap ditangkap. Tapi kalau saya benar, jangan hidupkan mobil ini lagi sebelum diperiksa.”
Suasana mendadak sunyi.
Komandan akhirnya memberi isyarat.
Dua pengawal mengambil cermin teleskopik untuk memeriksa bagian bawah mobil.
Belum sampai lima detik, salah seorang membeku.
“Pak…”
“Ada apa?”
“Ada benda asing.”
Wajah komandan langsung berubah.
Tim pengamanan meminta semua orang menjauh.
Area di sekitar mobil dikosongkan.
Lalu datang unit penjinak bahan peledak yang kebetulan sedang bertugas tidak jauh dari lokasi.
Semua orang menunggu dalam ketegangan.
Sepuluh menit terasa seperti satu jam.
Akhirnya kepala tim penjinak keluar membawa kotak hitam itu.
“Ini bukan bom.”
Semua mengembuskan napas lega.
“Tapi ini alat pelacak dengan baterai berkapasitas besar. Dilengkapi pemancar satelit dan mikrofon jarak dekat.”
Komandan terdiam.
“Itu berarti…”
“Seseorang mengikuti seluruh pergerakan wali kota.”
Wajah Surya berubah serius.
Dimas merasa lututnya lemas.
Ia tidak menyangka firasatnya benar.
Namun kejutan sebenarnya baru dimulai.
Tim forensik segera memeriksa perangkat tersebut.
Nomor serinya ternyata berasal dari luar negeri.
Perangkat itu bukan barang yang bisa dibeli sembarangan.
Sementara itu, rekaman CCTV dari gedung parkir balai kota mulai diperiksa.
Dalam salah satu rekaman, terlihat seseorang mengenakan seragam teknisi memasuki area parkir sehari sebelumnya.
Namun wajahnya tertutup masker.
Yang aneh, orang itu lolos pemeriksaan karena membawa surat tugas palsu.
Beberapa hari berlalu.
Dimas kembali bekerja seperti biasa.
Ia mengira semuanya telah selesai.
Suatu malam, ketika hendak pulang, ia merasa ada motor yang terus mengikutinya.
Setiap kali ia belok, motor itu ikut belok.
Ia sengaja memasuki jalan sempit.
Motor tersebut masih mengikuti.
Pengalaman bertahun-tahun di jalan membuat Dimas sadar ia sedang diawasi.
Ia langsung menuju kantor polisi terdekat.
Motor itu berbalik arah.
Keesokan harinya, petugas keamanan pemerintah mendatanginya.
“Bapak diminta tinggal sementara di rumah aman.”
“Kenapa?”
“Karena kemungkinan besar orang yang memasang alat itu tahu Anda yang menemukannya.”
Dimas baru menyadari bahwa hidupnya telah berubah.
Di rumah aman, ia diminta melihat beberapa foto.
Salah satunya membuatnya terdiam.
“Itu…”
“Kamu kenal?”
“Itu pelanggan bengkel lama saya.”
Pria dalam foto itu pernah beberapa kali memperbaiki mobil mewah di bengkel tempat Dimas bekerja.
Namanya Arman.
Pendiam.
Sopan.
Tidak pernah menawar harga.
Namun Dimas ingat satu hal.
Arman selalu datang dengan kendaraan berbeda.
Saat itu Dimas menganggap ia kolektor mobil.
Ternyata bukan.
Arman adalah spesialis modifikasi kendaraan untuk jaringan kriminal.
Informasi kecil dari Dimas membuka penyelidikan baru.
Polisi mulai menghubungkan transaksi, rekaman CCTV, dan pergerakan beberapa kendaraan.
Sedikit demi sedikit, sebuah jaringan besar mulai terungkap.
Mereka bukan hanya memasang alat pelacak.
Mereka menjual informasi perjalanan pejabat, pengusaha, hingga saksi kasus korupsi kepada pihak yang berkepentingan.
Beberapa minggu kemudian, puluhan orang ditangkap.
Gudang rahasia berisi ratusan perangkat pelacak ditemukan di pinggiran kota.
Berita itu memenuhi media nasional.
Nama Dimas ikut disebut sebagai warga sipil yang membantu menggagalkan operasi ilegal tersebut.
Namun ia tidak menikmati popularitas itu.
Ia justru merasa tidak nyaman ketika banyak orang mengenal wajahnya.
Suatu sore, Wali Kota Surya mengundangnya ke balai kota.
Tidak ada konferensi pers.
Tidak ada kamera.
Hanya sebuah ruangan sederhana.
“Apa yang kamu inginkan sebagai balasan?” tanya Surya.
Dimas tersenyum kecil.
“Saya tidak menyelamatkan Bapak untuk mendapatkan hadiah.”
“Semua orang punya kebutuhan.”
Dimas terdiam sejenak.
“Saya hanya ingin ibu saya bisa berobat tanpa khawatir biaya.”
Surya mengangguk.
“Itu akan kami bantu. Tapi saya ingin menawarkan sesuatu yang lain.”
Dimas mengernyit.
“Kami sedang membentuk tim inspeksi kendaraan operasional pemerintah. Kami butuh orang yang berpengalaman, jujur, dan berani mengambil keputusan meski berisiko.”
Dimas tidak langsung menjawab.
Ia memandang keluar jendela.
Beberapa bulan lalu, ia hanyalah kurir yang mengejar bonus harian.
Kini hidup memberinya jalan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Seminggu kemudian, ia resmi bergabung sebagai pemeriksa teknis kendaraan pemerintah.
Pekerjaannya sederhana, tetapi tanggung jawabnya besar.
Ia memeriksa setiap kendaraan dengan teliti, sekecil apa pun kejanggalannya.
Suatu pagi, seorang pegawai baru bertanya, “Pak Dimas, kenapa Bapak selalu melihat bagian bawah mobil lebih lama daripada yang lain?”
Dimas tersenyum sambil berjongkok memeriksa rangka kendaraan.
“Karena kadang bahaya terbesar bukan yang terlihat di depan mata.”
Pegawai itu tertawa kecil, mengira itu hanya nasihat biasa.
Padahal Dimas tahu betul maknanya.
Hari ketika ia memutuskan menghentikan sebuah mobil di tengah jalan bukanlah hari ketika ia menjadi pahlawan.
Itu adalah hari ketika ia memilih untuk tidak mengabaikan suara hati dan pengetahuan yang dimilikinya.
Dan terkadang, satu keputusan berani dari orang yang dianggap paling biasa justru mampu mengubah nasib banyak orang.
