Aku berdiri di depan batu nisan atas namaku sendiri tepat pada hari ulang tahunku yang ke-25. Dan orang yang menangis di depan makam itu adalah orang yang dulu paling menginginkan aku lenyap dari dunia ini.
Gerimis tipis di bulan November turun perlahan, menyelimuti area pemakaman dengan kesunyian dingin berwarna kelabu.
Aku berdiri di bawah sebuah pohon tua, menggenggam erat payung hitam di tanganku tanpa mengalihkan pandangan dari sebuah batu nisan yang hanya berjarak beberapa meter di depanku.

Di sana terukir dengan jelas sebuah nama.
Isabella Santiago.
Tanggal lahir.
Tanggal kematian.
Dan sebuah foto yang sangat kukenal.
Itu adalah aku.
Atau lebih tepatnya, perempuan yang diyakini semua orang telah meninggal tiga tahun lalu.
Angin dingin berembus pelan.
Aku menarik napas panjang.
Tiga tahun.
Selama tiga tahun aku hidup dengan identitas baru.
Selama tiga tahun aku melihat orang lain mengambil alih kehidupan yang dulu menjadi milikku.
Selama tiga tahun aku menyimpan rahasia yang tak bisa kuceritakan kepada siapa pun.
Dan kini, tepat pada hari ulang tahunku yang kedua puluh lima, aku kembali.
Bukan untuk merebut kembali semua yang hilang.
Itu bukan tujuanku.
Tatapanku beralih kepada seorang pria yang sedang berlutut di depan makam itu.
Jas hitamnya basah oleh hujan. Tangannya gemetar ketika menyentuh batu nisan.
“Aku minta maaf, Bella…” bisiknya lirih. “Kalau saja waktu bisa diputar kembali…”
Aku mengenalnya.
Arga Pratama.
Suamiku.
Atau mantan suamiku, karena secara hukum aku sudah dinyatakan meninggal.
Dulu aku percaya tidak ada laki-laki yang lebih mencintaiku selain Arga.
Kami menikah saat usia masih muda. Aku membangun perusahaan desain interior dari nol sementara Arga mengembangkan bisnis properti milik keluarganya. Kami saling mendukung, saling menguatkan, hingga sebuah kecelakaan di jalan tol mengubah semuanya.
Mobilku jatuh ke jurang setelah direm mendadak oleh sebuah truk.
Tim penyelamat hanya menemukan mobil yang hangus terbakar.
Mayat di dalamnya tak lagi bisa dikenali.
Semua orang percaya aku telah meninggal.
Tetapi kenyataannya, beberapa menit sebelum mobil itu terbakar, seseorang telah menarikku keluar.
Bukan polisi.
Bukan tim penyelamat.
Melainkan seorang pria tua bernama Pak Yusuf.
Ia adalah mantan dokter militer yang sedang melewati jalan itu.
Tubuhku penuh luka dan mengalami cedera kepala berat.
Selama berminggu-minggu aku koma di sebuah klinik kecil di desa terpencil di Jawa Tengah.
Ketika sadar, aku kehilangan sebagian ingatan.
Aku bahkan tidak ingat namaku sendiri.
Pak Yusuf merawatku seperti anaknya.
Sedikit demi sedikit ingatanku kembali.
Namun bersamaan dengan itu, aku mendengar sesuatu yang membuat darahku membeku.
Suatu malam aku tak sengaja mendengar Arga berbicara melalui telepon saat ia datang mencari informasi tentang korban kecelakaan.
“Pastikan semuanya selesai. Jangan sampai ada yang tahu rem mobil itu sudah dirusak.”
Kalimat itu terus menghantuiku.
Aku belum tahu siapa yang diajak bicara.
Aku juga belum tahu apakah Arga pelakunya.
Tetapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku takut kembali.
Pak Yusuf memintaku menghilang.
“Kalau benar ada yang mencoba membunuhmu, pulang sekarang hanya akan membuatmu mati sungguhan.”
Aku menuruti sarannya.
Aku mengganti identitas menjadi Alya.
Aku bekerja di sebuah studio arsitektur kecil di Bandung.
Selama tiga tahun aku membangun hidup baru sambil diam-diam menyelidiki masa laluku.
Aku menyewa seorang penyelidik.
Sedikit demi sedikit fakta mulai terungkap.
Rem mobilku memang dirusak.
Pelakunya bukan orang sembarangan.
Dan orang yang membayar mereka berasal dari lingkaran terdekatku.
Aku mengira itu Arga.
Sampai penyelidik itu menyerahkan sebuah rekaman CCTV dari kantor lama kami.
Dalam rekaman itu terlihat jelas seseorang menyelinap ke area parkir malam sebelum kecelakaan.
Perempuan itu memakai masker.
Tetapi wajahnya terlihat ketika masker itu sempat terlepas.
Nadia.
Adik kandungku.
Perempuan yang selama ini menangis paling keras di pemakamanku.
Aku tidak langsung percaya.
Aku memeriksa ulang semuanya.
Rekening bank.
Percakapan.
Transfer uang.
Semuanya mengarah kepada Nadia.
Motifnya sederhana sekaligus mengerikan.
Ayah kami meninggalkan hampir seluruh saham perusahaan keluarga atas namaku.
Selama aku hidup, Nadia hanya mendapatkan sebagian kecil.
Jika aku meninggal tanpa anak, seluruh aset otomatis berpindah kepada ibu kami.
Dan beberapa bulan setelah aku dinyatakan meninggal, ibu wafat karena serangan jantung.
Seluruh warisan akhirnya jatuh ke tangan Nadia.
Rencana yang sangat rapi.
Yang tidak pernah ia perhitungkan hanyalah satu hal.
Aku selamat.
Aku kembali ke Jakarta tanpa memberi tahu siapa pun.
Hari ini aku hanya ingin melihat satu hal.
Apakah Arga benar-benar terlibat?
Setelah hampir satu jam, Arga berdiri.
Ia mengusap air mata, lalu berkata pelan.
“Aku tahu kamu masih hidup.”
Jantungku seakan berhenti berdetak.
“Aku tahu sejak dua bulan lalu.”
Aku menggenggam payung semakin erat.
Arga tidak menoleh.
Ia tetap memandang batu nisan.
“Aku sengaja tidak mencarimu. Karena aku ingin kamu tetap aman.”
Aku keluar dari balik pohon.
Langkah kakiku membuatnya menoleh.
Wajahnya langsung pucat.
Payung di tangannya jatuh.
“Bella…”
Untuk beberapa detik kami hanya saling memandang.
“Ternyata benar kau tahu.”
Arga mengangguk perlahan.
“Aku melihatmu dari kejauhan di Bandung. Tapi aku tidak mendekat.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang mencoba membunuhmu masih bebas.”
Aku tertawa pahit.
“Dan kau berharap aku percaya begitu saja?”
“Aku memang pantas dicurigai.”
Ia mengeluarkan sebuah map cokelat dari tasnya.
Di dalamnya ada puluhan dokumen.
Laporan polisi.
Hasil investigasi.
Foto-foto.
Rekaman transaksi.
“Aku menghabiskan tiga tahun mencari siapa yang melakukannya.”
Aku membuka halaman demi halaman.
Semuanya sama persis dengan hasil penyelidikanku.
Bahkan lebih lengkap.
“Aku tahu Nadia berada di balik semuanya,” katanya lirih. “Tapi dia juga bukan otak utamanya.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa maksudmu?”
“Dia hanya dimanfaatkan.”
Arga menyerahkan sebuah flashdisk.
“Kau harus melihat ini.”
Kami menuju sebuah kafe yang sepi.
Laptop dinyalakan.
Video dari kamera tersembunyi mulai diputar.
Di sana terlihat Nadia sedang bertengkar dengan seseorang.
Orang itu bukan orang asing.
Melainkan pengacara keluarga kami.
Pak Hendra.
Pria yang selama puluhan tahun dipercaya ayahku.
“Kalau Bella hidup, semua rencana kita hancur!” bentak Pak Hendra.
Nadia menangis.
“Aku cuma ingin dia menandatangani surat pengalihan saham. Aku tidak pernah menyuruh membunuhnya.”
Pak Hendra tertawa dingin.
“Tapi sekarang semuanya sudah terlambat.”
Tubuhku membeku.
Selama ini kami berdua sama-sama salah.
Nadia memang serakah.
Tetapi ia tidak pernah menginginkan kematianku.
Pak Hendra memanfaatkan kebenciannya untuk mengambil alih perusahaan lewat berbagai dokumen palsu.
Setelah ayah meninggal, ia perlahan menguasai seluruh aset melalui manipulasi hukum.
Aku menutup laptop.
“Kenapa kau tidak menyerahkannya ke polisi?”
Arga menatapku lekat.
“Karena buktinya belum cukup.”
“Tapi sekarang?”
Ia tersenyum tipis.
“Sekarang saksi utamanya sudah kembali.”
Keesokan paginya kami melapor.
Penyelidikan dibuka kembali.
Pak Hendra mencoba melarikan diri ke luar negeri.
Namun ia ditangkap di bandara Soekarno-Hatta.
Nadia juga ditahan karena keterlibatannya dalam pemalsuan dokumen dan konspirasi.
Ketika kami bertemu di ruang tahanan, wajahnya jauh berbeda.
Ia tampak lebih tua.
Lebih rapuh.
Air matanya mengalir tanpa henti.
“Kak… aku iri padamu sejak kecil.”
Aku diam.
“Ayah selalu membanggakanmu. Semua orang memujimu. Aku hanya ingin sekali saja menjadi yang lebih baik darimu.”
“Apa itu cukup untuk menghancurkan hidupku?”
Ia menunduk.
“Tidak. Dan aku akan menyesalinya seumur hidup.”
Aku pergi tanpa mengucapkan apa pun.
Beberapa bulan kemudian, pengadilan memutus perkara itu.
Pak Hendra dijatuhi hukuman berat sebagai dalang percobaan pembunuhan, penipuan, dan penggelapan aset perusahaan.
Nadia menerima hukuman lebih ringan karena bekerja sama mengungkap seluruh jaringan kejahatan itu.
Namaku dipulihkan secara hukum.
Status kematianku dibatalkan.
Aku kembali memiliki identitas yang selama tiga tahun hanya hidup di atas sebuah batu nisan.
Namun aku tidak kembali menjadi Isabella yang dulu.
Aku menjual sebagian besar saham perusahaan dan mendirikan yayasan yang membantu korban kejahatan finansial dan perempuan yang kehilangan identitas akibat tindak kriminal.
Suatu sore, beberapa bulan setelah semuanya berakhir, aku kembali mengunjungi pemakaman.
Batu nisan atas namaku masih berdiri.
Aku tidak meminta siapa pun membongkarnya.
Aku hanya mengganti tulisannya.
Di bawah namaku kini tertulis kalimat sederhana.
“Di sini tidak dimakamkan seorang perempuan. Di sini dimakamkan kehidupan lamanya.”
Aku tersenyum kecil.
Karena perempuan yang pernah mati tiga tahun lalu memang tidak pernah benar-benar hidup.
Dan perempuan yang melangkah meninggalkan pemakaman hari itu akhirnya tahu bahwa terkadang, kehilangan seluruh masa lalu adalah satu-satunya cara agar seseorang benar-benar bisa memulai hidup yang baru.
