Pukul sebelas malam ketika aku menerima telepon dari orang tuaku, menyuruhku menjemput kakak laki-lakiku yang mabuk berat di sebuah hotel.

Pukul sebelas malam, ponsel Alina berdering tanpa henti. Di layar muncul nama ibunya. Begitu panggilan diangkat, suara panik langsung terdengar.

“Alina, cepat jemput Kak Raka. Dia mabuk berat di hotel. Mama sama Papa lagi di luar kota.”

Tanpa banyak bertanya, Alina segera mengambil kunci mobil. Selama perjalanan menuju sebuah hotel di kawasan Sudirman, Jakarta, ia sama sekali tidak menyangka bahwa malam itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Lorong menuju ballroom masih ramai oleh tamu yang baru selesai menghadiri pesta ulang tahun seorang pengusaha muda. Dari balik pintu yang belum tertutup rapat, suara tawa memenuhi udara.

Saat itulah Alina mendengar sebuah nama yang membuat langkahnya berhenti.

“Arga, kapan sih kamu kenalin pacar baru kamu?”

Suara itu disambut gelak tawa.

Kemudian terdengar suara pria yang begitu dikenalnya.

“Aduh, buat apa? Dia cuma pengisi waktu.”

Jantung Alina seperti berhenti berdetak.

Arga.

Pria yang sudah menemaninya selama hampir dua tahun.

Pria yang berkali-kali berkata bahwa ia ingin menikahinya.

Suara Arga kembali terdengar, lebih santai, bahkan terdengar bangga.

“Dia terlalu serius. Aku sih santai aja. Kalau nanti ada yang lebih cocok, ya selesai.”

Ruangan mendadak terasa sesak.

Tanpa sadar, Alina mendorong pintu hingga terbuka lebar.

Semua orang langsung menoleh.

Musik masih mengalun pelan, tetapi tidak ada lagi yang berbicara.

Arga berdiri membeku.

“Alina…”

Ia tampak kehilangan kata-kata.

Namun Alina tidak datang untuk membuat keributan.

Ia hanya berjalan melewati Arga, menghampiri kakaknya yang tertidur di sofa sambil memegang botol minuman.

“Kak, pulang.”

Raka mengangkat wajah dengan mata merah.

“Lho… kamu?”

Alina hanya mengangguk.

Saat membantu kakaknya berdiri, Arga mencoba mendekat.

“Boleh kita bicara?”

Alina menatapnya beberapa detik.

Tatapan itu begitu tenang hingga membuat Arga semakin gugup.

“Aku baru tahu,” ucap Alina lirih.

“Tahu apa?”

“Kalau ternyata aku cuma pengisi waktu.”

Ia tersenyum tipis.

“Tenang saja. Mulai malam ini, waktumu kembali sepenuhnya.”

Tanpa memberi kesempatan Arga menjelaskan, Alina membawa kakaknya keluar.

Di dalam mobil, Raka yang mulai sadar memandang adiknya.

“Aku dengar semuanya.”

Alina tetap menatap jalan.

“Jangan bilang Mama sama Papa.”

“Kenapa?”

“Aku malu karena terlalu percaya sama orang.”

Raka menghela napas panjang.

“Bukan kamu yang harus malu.”

Malam itu Arga menghubungi Alina puluhan kali.

Pesan demi pesan masuk.

“Aku cuma menjaga gengsi di depan teman-teman.”

“Aku nggak serius ngomong begitu.”

“Aku sayang sama kamu.”

Alina membaca semuanya tanpa membalas.

Lalu muncul satu pesan terakhir.

“Aku lagi jemput mantan aku di bandara. Dia baru pulang dari Singapura. Besok kita ketemu ya. Aku jelasin semuanya.”

Alina tertawa kecil.

Air matanya justru berhenti mengalir.

Ternyata tidak semua penjelasan layak didengar.

Nomor Arga langsung diblokir.

Beberapa hari berlalu.

Alina kembali bekerja sebagai arsitek interior.

Ia berusaha menjalani hidup seperti biasa, meski sesekali masih merasa sesak ketika melewati tempat-tempat yang pernah mereka datangi bersama.

Suatu malam, ayahnya mengajaknya berbicara.

“Ada keluarga sahabat Papa yang baru pulang dari Belanda. Putranya sekarang memimpin perusahaan konstruksi.”

Alina langsung mengerti arah pembicaraan itu.

“Papa mau menjodohkan aku?”

Ayahnya tersenyum.

“Papa cuma ingin kamu bertemu. Kalau tidak cocok, selesai.”

Biasanya Alina pasti menolak.

Namun kali ini ia hanya mengangguk.

“Baik.”

Seminggu kemudian, Alina bertemu pria itu.

Namanya Dimas Prasetyo.

Penampilannya sederhana.

Tidak banyak bicara.

Pertemuan mereka bahkan terasa canggung.

Yang mengejutkan, Dimas sama sekali tidak berusaha membuat dirinya terlihat sempurna.

“Ayah saya memang ingin kita saling mengenal,” katanya sambil tersenyum. “Tapi saya tidak percaya hubungan bisa dipaksakan. Jadi anggap saja kita sedang makan malam biasa.”

Alina mengangguk.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak perlu berpura-pura.

Mereka berbicara tentang pekerjaan.

Tentang perjalanan.

Tentang buku.

Tentang keluarga.

Tidak ada rayuan.

Tidak ada janji berlebihan.

Saat pulang, Dimas hanya berkata,

“Terima kasih sudah meluangkan waktu.”

Sederhana.

Tetapi terasa tulus.

Sebulan kemudian, Arga muncul di depan kantor Alina.

Wajahnya tampak lebih kurus.

“Aku sudah putus sama Tanya.”

Alina hanya diam.

“Aku sadar selama ini yang benar-benar ada buat aku cuma kamu.”

“Lalu?”

“Aku ingin mulai lagi.”

Alina tersenyum pelan.

“Kamu tahu apa yang paling lucu?”

“Apa?”

“Dulu aku rela menunggu berjam-jam demi bertemu kamu. Sekarang, lima menit saja rasanya terlalu lama.”

Arga mencoba memegang tangannya.

Alina mundur.

“Kesempatan kedua hanya pantas diberikan kepada orang yang menyesali kesalahan sebelum kehilangan, bukan setelah semuanya terlambat.”

Ia masuk kembali ke gedung.

Kali ini tanpa menoleh sedikit pun.

Hubungan Alina dan Dimas berkembang perlahan.

Tidak ada drama.

Tidak ada permainan.

Dimas selalu hadir ketika dibutuhkan, tetapi tidak pernah mengekang.

Suatu sore, mereka sedang mengunjungi proyek pembangunan rumah sakit di Bandung.

Hujan turun deras.

Seorang pekerja terjatuh dari perancah.

Tanpa berpikir panjang, Dimas berlari menolongnya.

Bajunya penuh lumpur.

Tangannya terluka.

Namun hal pertama yang ia lakukan adalah memastikan semua pekerja lain aman.

Saat melihat pemandangan itu, Alina menyadari sesuatu.

Karakter seseorang terlihat bukan ketika ia sedang berbicara tentang cinta.

Melainkan ketika ia memilih bertanggung jawab terhadap orang lain.

Enam bulan kemudian, Dimas melamar Alina.

Bukan di restoran mewah.

Bukan di atas kapal pesiar.

Melainkan di taman kecil tempat mereka pertama kali berjalan bersama setelah makan malam kedua.

“Kalau suatu hari nanti kita bertengkar,” kata Dimas sambil tersenyum gugup, “aku tidak janji akan selalu benar. Tapi aku janji tidak akan pernah merendahkanmu demi membuat diriku terlihat hebat di depan siapa pun.”

Kalimat itu membuat mata Alina berkaca-kaca.

Ia mengangguk.

“Ya.”

Hari pernikahan mereka berlangsung hangat.

Keluarga dan sahabat memenuhi ballroom hotel.

Di antara para tamu, Alina melihat seseorang berdiri sendirian di sudut ruangan.

Arga.

Ia hanya memandang dari jauh.

Tidak mendekat.

Tidak membuat keributan.

Sebelum pulang, ia menitipkan sebuah amplop kepada Raka.

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

“Aku akhirnya mengerti. Bukan karena aku kehilangan perempuan terbaik, tetapi karena aku kehilangan kesempatan menjadi laki-laki yang pantas untuknya.”

Alina membaca surat itu tanpa ekspresi.

Kemudian ia melipatnya kembali.

Tidak ada rasa benci.

Tidak ada keinginan membalas.

Yang tersisa hanyalah rasa syukur.

Dulu ia mengira malam ketika mendengar dirinya disebut hanya sebagai “pengisi waktu” adalah hari paling buruk dalam hidupnya.

Bertahun-tahun kemudian, ia justru menyadari bahwa malam itulah yang menyelamatkannya.

Karena kadang-kadang, sebuah hati memang harus dihancurkan terlebih dahulu agar tidak menghabiskan seumur hidup bersama orang yang salah.

Dan cinta yang sesungguhnya tidak pernah meminta seseorang untuk merasa cukup hanya ketika tidak ada pilihan yang lebih baik. Cinta yang benar akan membuatmu merasa menjadi satu-satunya pilihan, bahkan ketika dunia menawarkan ribuan kemungkinan lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang