Aku tidak segera menjawab pertanyaan Siska.
Langkahku terhenti di depan pintu ruang perawat, sementara dari ujung koridor terdengar suara bor listrik dan denting logam. Rian masih berdiri di atas tangga, memperbaiki kisi-kisi pendingin yang bocor. Keringat membasahi pelipisnya meski udara di lantai itu cukup dingin.
Aku menoleh sekilas.
Dan seperti biasa, ia juga sedang memandangku.
Hanya satu detik.

Namun tatapan itu membuat sesuatu di dadaku bergerak, sesuatu yang selama bertahun-tahun kupaksa mati.
“Aku hanya memastikan pekerjaan teknisi tidak mengganggu pasien,” jawabku datar.
Siska menyeringai. “Tentu, Dok. Sangat profesional.”
Aku pergi tanpa menanggapi.
Sepanjang hari, pikiranku tidak tenang. Di ruang operasi, tanganku tetap stabil. Keputusanku tetap cepat. Suaraku tetap tegas. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa bayangan senyum Rian terus muncul di kepalaku.
Malamnya, saat hendak pulang, aku melihatnya duduk sendirian di bangku dekat pintu belakang rumah sakit. Seragam kerjanya masih kotor. Di tangannya ada sebungkus nasi dan air mineral.
Ia makan perlahan, ditemani suara ambulans yang keluar masuk.
Aku seharusnya berjalan melewatinya.
Namun kakiku berhenti.
“Kenapa belum pulang?”
Rian mengangkat wajah, tampak terkejut melihatku.
“Masih menunggu bus, Dok.”
“Perusahaanmu tidak menyediakan kendaraan?”
“Motornya rusak. Gaji bulan ini belum turun.”
Aku mengangguk kecil, lalu melirik jam tangan.
“Bus terakhir lewat tiga puluh menit lagi.”
“Iya.”
Entah apa yang merasukiku, aku berkata, “Aku bisa mengantarmu.”
Ia menatapku seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
“Tidak perlu, Dok. Rumah saya jauh.”
“Aku tidak bertanya jauh atau dekat.”
Rian tersenyum tipis. “Baik.”
Di dalam mobil, kami lebih banyak diam. Hujan mulai turun, membasahi jalanan Jakarta yang masih padat. Lampu kendaraan memantul di aspal seperti garis-garis panjang yang bergetar.
“Belok kiri setelah lampu merah,” katanya.
Aku mengikuti petunjuknya hingga kami masuk ke kawasan padat di pinggiran kota. Gangnya sempit. Rumah-rumah berdempetan. Anak-anak masih bermain di teras meski malam sudah larut.
“Kamu tinggal di sini?”
“Untuk sementara.”
Aku menghentikan mobil di depan rumah kontrakan kecil.
Sebelum turun, ia menatapku.
“Terima kasih, Dokter.”
“Sama-sama.”
Namun ia tidak langsung membuka pintu.
“Boleh saya tanya sesuatu?”
Aku menegang. “Apa?”
“Kenapa Dokter selalu terlihat sedih?”
Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada yang seharusnya.
Aku menatap lurus ke depan.
“Kamu terlalu banyak mengamati.”
“Pekerjaan saya memang begitu. Kalau tidak teliti, satu baut longgar bisa menjatuhkan seluruh mesin.”
“Aku bukan mesin.”
“Justru itu.”
Aku menoleh tajam. Rian sudah membuka pintu.
“Selamat malam, Dok.”
Ia turun dan menutup pintu sebelum aku sempat menjawab.
Sejak malam itu, aku semakin sering memikirkan Rian.
Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang dirinya. Ia selalu menyapa petugas kebersihan lebih dulu. Ia membantu mengangkat galon tanpa diminta. Ia tidak pernah marah ketika dokter atau perawat memperlakukannya seolah tidak terlihat.
Suatu siang, aku melihat seorang pasien lansia kebingungan mencari ruang radiologi. Rian sedang membawa kotak peralatan berat, tetapi ia tetap berhenti dan mengantar pasien itu sampai ke lift.
Ada kelembutan dalam caranya berbicara.
Kelembutan yang terasa akrab.
Terlalu akrab.
Beberapa hari kemudian, sistem pendingin di ruang ICU tiba-tiba mati total. Suhu ruangan naik cepat. Beberapa alat mulai menunjukkan peringatan.
Semua orang panik.
Rian datang bersama dua teknisi lain. Ia langsung membuka panel utama dan memeriksa kabel.
“Komponen kontrolnya terbakar,” katanya.
“Berapa lama?” tanyaku.
“Minimal dua jam.”
“Kita tidak punya dua jam.”
Aku berdiri di depannya dengan nada menekan.
“Pasien di dalam tidak bisa dipindahkan semuanya.”
Rian mengusap keringat dari dahinya. “Saya akan cari cara.”
“Kamu yakin?”
Ia menatapku langsung.
“Dokter percaya kepada saya?”
Aku terdiam sesaat.
“Ya.”
Itu pertama kalinya aku mengucapkan kepercayaan kepada seseorang tanpa ragu.
Rian bekerja hampir satu jam tanpa berhenti. Ia membongkar modul lama, menyambungkan kabel darurat, lalu meminta generator tambahan.
Saat sistem akhirnya menyala kembali, suara tepuk tangan terdengar dari para perawat. Beberapa orang bersorak lega.
Rian tersenyum, tetapi tiba-tiba tubuhnya oleng.
Aku langsung menangkap lengannya.
“Rian!”
Wajahnya pucat.
“Cuma pusing,” katanya.
“Kamu demam.”
Aku menyentuh dahinya. Panas.
Tanpa memberinya pilihan, aku membawanya ke ruang pemeriksaan. Hasil tes darah menunjukkan infeksi yang cukup berat dan anemia kronis.
“Kamu sudah tahu kondisi ini?” tanyaku.
Rian menghindari tatapanku.
“Sudah lama.”
“Kenapa tidak berobat?”
“Biaya.”
“Kamu bekerja di rumah sakit.”
“Saya hanya teknisi kontrak, Dok. Asuransinya terbatas.”
Aku merasakan kemarahan yang aneh, bukan kepada rumah sakit, melainkan kepadanya.
“Kamu bisa mati karena terus mengabaikan tubuhmu.”
Ia tertawa kecil. “Dokter marah karena khawatir?”
“Aku marah karena kamu ceroboh.”
“Bedanya tipis.”
Aku hendak membalas, tetapi ia tiba-tiba berkata, “Dulu ada seseorang yang juga selalu marah seperti itu.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Siapa?”
Rian diam.
“Apa maksudmu?”
Ia menatapku lama, lalu memalingkan wajah.
“Tidak ada.”
Sejak itu, kecurigaanku tumbuh.
Aku mulai merasa bahwa Rian menyimpan sesuatu.
Suatu malam, aku meminta bagian administrasi memberikan data kontraktor teknisi. Aku tahu itu tidak etis, tetapi rasa penasaran mengalahkan prinsip yang selama ini kupegang.
Nama lengkapnya tertulis jelas.
Rian Mahendra.
Usia tiga puluh empat tahun.
Tempat lahir Yogyakarta.
Tidak ada yang aneh.
Namun ketika melihat fotokopi kartu keluarganya, tanganku gemetar.
Nama ibunya adalah Ratih Mahendra.
Ratih adalah nama ibu Arga.
Arga, pria yang pernah kucintai.
Pria yang meninggalkanku tujuh tahun lalu, tepat dua minggu sebelum pernikahan kami.
Aku masih mengingat hari itu. Arga menghilang tanpa penjelasan. Teleponnya mati. Apartemennya kosong. Semua rencana kami runtuh begitu saja.
Beberapa bulan kemudian, aku menerima kabar dari seorang teman bahwa Arga telah meninggal dalam kecelakaan di luar kota.
Sejak saat itu, aku berhenti percaya pada cinta.
Malam berikutnya, aku menunggu Rian di ruang penyimpanan belakang.
Saat ia selesai bekerja, aku berdiri di depan pintu.
“Kamu kenal Arga Mahendra?”
Wajahnya langsung berubah.
Hanya sedikit, tetapi cukup untuk memastikan dugaanku.
“Jawab aku.”
Rian meletakkan kotak perkakasnya.
“Kenal.”
“Siapa dia bagimu?”
Ia menelan ludah.
“Saudara saya.”
Dunia seakan berhenti bergerak.
“Saudara?”
“Kakak tiri.”
Aku mendekatinya.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Karena saya tidak tahu harus mulai dari mana.”
“Kamu sengaja datang ke rumah sakit ini?”
Ia terdiam.
Jawabannya sudah jelas.
“Kamu mempermainkanku?”
“Tidak.”
“Lalu apa? Kamu mengawasiku? Menertawakanku?”
“Dokter salah paham.”
“Aku tidak salah paham. Kamu tahu siapa aku sejak awal.”
Rian menatapku dengan rasa bersalah.
“Ya.”
Aku menamparnya.
Suara itu menggema di ruangan sempit.
Rian tidak melawan.
Aku menahan air mata.
“Kakakmu menghancurkan hidupku. Lalu kamu datang dan membuatku terlihat bodoh untuk kedua kalinya.”
“Arga tidak meninggalkan Dokter karena tidak cinta.”
Aku membeku.
“Jangan bohong.”
“Dia pergi karena ayah kami.”
Rian menarik napas panjang.
“Ayah kami punya utang besar kepada kelompok penagih. Mereka mengancam ibu dan keluarga kami. Arga tahu kalau dia menikah dengan Dokter, Dokter akan ikut jadi sasaran.”
“Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa?”
“Karena dia pikir semakin Dokter membencinya, semakin mudah Dokter melupakan.”
Aku tertawa pahit. “Dia berhasil.”
“Tidak.”
Rian merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop tua.
“Dia menulis ini untuk Dokter sebelum kecelakaan.”
Tanganku gemetar saat menerima amplop itu.
Namaku tertulis di bagian depan dengan tulisan tangan Arga.
Aku mengenal setiap lekuk hurufnya.
“Kenapa baru sekarang?”
“Karena saya baru menemukannya enam bulan lalu, setelah ibu meninggal. Surat itu disimpan di dalam kotak dokumen.”
Aku membuka amplop dengan napas berat.
Viola, kalau suatu hari surat ini sampai kepadamu, mungkin aku sudah tidak punya kesempatan untuk menjelaskan. Aku pergi bukan karena berhenti mencintaimu. Aku pergi karena untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin memastikan orang yang paling kucintai tetap aman, meski harus membenciku seumur hidup.
Aku berhenti membaca.
Air mata yang bertahun-tahun kutahan akhirnya jatuh.
Rian berdiri diam di depanku.
“Ada satu hal lagi,” katanya.
Aku mengangkat wajah.
“Kecelakaan Arga bukan kecelakaan biasa.”
“Apa?”
“Rem mobilnya dipotong.”
Aku merasa darahku membeku.
“Siapa yang melakukannya?”
“Ayah kami.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Ayah takut Arga akan melapor ke polisi. Jadi dia membungkamnya.”
“Dan kamu tahu?”
“Saya baru tahu setelah ibu meninggal. Ada rekaman suara ayah di ponsel lama ibu.”
“Di mana ayahmu sekarang?”
“Masih hidup.”
Rian mengepalkan tangannya.
“Dan saya datang ke rumah sakit ini bukan hanya untuk menemui Dokter.”
Aku terdiam.
“Saya mencari bukti.”
Ia menjelaskan bahwa ayahnya kini menjadi pemasok komponen pendingin rumah sakit melalui perusahaan perantara. Beberapa kerusakan yang terjadi bukan akibat usia sistem, melainkan karena komponen murah sengaja dipasang untuk mengambil keuntungan.
Kerusakan ICU tempo hari hampir membunuh banyak pasien.
Rian sudah lama mengumpulkan dokumen, tetapi ia membutuhkan akses ke panel dan laporan teknis.
“Aku bisa membantumu,” kataku.
Rian menggeleng.
“Ini berbahaya.”
“Aku sudah kehilangan tujuh tahun karena kebohongan keluargamu. Aku tidak akan kehilangan satu hari lagi karena ketakutan.”
Kami mulai bekerja diam-diam.
Aku mengumpulkan laporan gangguan dan data pembelian. Rian memotret kode komponen yang tidak sesuai standar. Siska, setelah mengetahui sebagian cerita, membantu memeriksa jadwal pemasangan.
Semakin banyak bukti terkumpul, semakin jelas bahwa kerusakan itu direncanakan.
Namun seseorang mulai menyadari gerakan kami.
Suatu malam, saat Rian memeriksa ruang mesin di basement, sistem listrik padam. Aku menerima pesan singkat darinya.
Jangan turun.
Tentu saja aku turun.
Di ruang mesin, aku menemukan Rian tergeletak dengan luka di kepala. Seorang pria berdiri di dekat panel sambil memegang kunci besi.
Aku mengenalinya dari foto perusahaan.
Darma Mahendra.
Ayah Rian dan Arga.
Ia menatapku dengan dingin.
“Kamu seharusnya tidak ikut campur.”
Aku menahan takut.
“Polisi sudah menerima semua dokumen.”
Itu bohong.
Namun Darma ragu.
Rian bergerak perlahan, lalu menjatuhkan rak perkakas ke arah ayahnya. Aku menarik alarm kebakaran. Suara sirene memekakkan telinga.
Petugas keamanan datang beberapa menit kemudian.
Darma ditangkap malam itu.
Rekaman suara, dokumen korupsi, dan bukti sabotase akhirnya cukup untuk membawanya ke pengadilan.
Beberapa bulan kemudian, rumah sakit mengganti seluruh sistem pendingin. Direksi lama diperiksa. Nama Arga dibersihkan.
Rian sembuh dari lukanya, tetapi mengundurkan diri dari perusahaan kontraktor.
Ia membuka usaha servis kecil sendiri.
Aku sering mengunjunginya, awalnya dengan alasan memeriksa kesehatannya.
Kemudian tanpa alasan apa pun.
Suatu sore, kami duduk di depan bengkelnya sambil minum kopi.
“Kamu masih suka mengamati orang?” tanyaku.
Rian tersenyum.
“Hanya orang tertentu.”
“Aku dulu mengira sorot matamu terasa akrab karena kamu mirip Arga.”
“Dan sekarang?”
Aku menatapnya.
“Sekarang aku tahu kamu tidak mirip siapa pun.”
Senyumnya menghilang perlahan.
“Viola, saya tidak ingin menjadi pengganti kakak saya.”
“Kamu bukan pengganti.”
Aku menggenggam tangannya.
“Arga adalah masa lalu yang akhirnya bisa kumaafkan. Kamu adalah seseorang yang membuatku berani punya masa depan.”
Rian terdiam, lalu membalas genggamanku.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa takut.
Aku selalu menganggap perasaan adalah kelemahan.
Ternyata aku salah.
Perasaan bukanlah sesuatu yang membuat manusia rapuh.
Kebohonganlah yang membuat manusia hancur.
Dan kadang-kadang, orang yang datang dengan seragam penuh debu dan tangan penuh luka bukan datang untuk memperbaiki mesin yang rusak.
Ia datang untuk memperbaiki hati yang sudah terlalu lama membeku.
