Setiap sore, mobil tua milik Arga selalu berhenti beberapa meter sebelum gerbang sekolah dasar tempat putranya belajar. Bukan karena macet. Bukan juga karena ia terlambat. Ia hanya ingin melihat Reno berlari keluar kelas dengan senyum lebar yang selalu berhasil menghapus lelah setelah seharian bekerja sebagai teknisi pendingin ruangan di Jakarta.
Hari itu hujan turun deras.
Anak-anak berhamburan keluar sambil memakai jas hujan warna-warni. Para orang tua melambaikan tangan. Suasana yang biasanya riuh tiba-tiba berubah ketika seorang pria berjaket lusuh berdiri di tengah gerbang sekolah.

Tatapannya hanya tertuju pada Reno.
“Namamu Reno?”
Bocah delapan tahun itu mengangguk pelan.
Pria itu tersenyum tipis.
“Kau mirip sekali seseorang yang pernah kukenal.”
Sebelum Reno sempat menjawab, Arga sudah berlari menghampiri.
“Ada perlu apa?”
Pria itu menoleh. Wajahnya dipenuhi bekas luka kecil. Rambutnya mulai memutih meski usianya mungkin belum genap empat puluh lima tahun.
“Tidak ada. Aku hanya salah orang.”
Ia berbalik pergi begitu saja.
Namun sejak hari itu, ia muncul lagi.
Di depan sekolah.
Di halte bus.
Di minimarket dekat rumah.
Tidak pernah mengganggu. Tidak pernah memaksa berbicara. Ia hanya memandang Reno dari kejauhan.
Arga mulai resah.
Tetangganya menyuruh melapor ke polisi. Guru sekolah meminta petugas keamanan mengawasi area sekitar. Tetapi setiap kali polisi datang, pria itu selalu menghilang tanpa jejak.
Suatu malam, Arga menerima sebuah amplop tanpa nama pengirim.
Di dalamnya hanya ada sebuah foto lama.
Foto seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.
Perempuan itu adalah mendiang istrinya, Maya.
Sedangkan bayi itu…
Bukan Reno.
Arga membalik foto tersebut.
Di belakangnya tertulis dengan tinta yang hampir pudar.
“Masih ada satu janji yang belum kutepati.”
Tangannya langsung gemetar.
Maya telah meninggal empat tahun lalu karena gagal ginjal. Selama hidup bersama, Maya hampir tidak pernah membicarakan masa lalunya. Ia hanya mengatakan pernah tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah sebelum pindah ke Jakarta.
Tidak ada lagi.
Tidak ada cerita tentang keluarga.
Tidak ada cerita tentang teman lama.
Apalagi tentang bayi dalam foto itu.
Malam itu Arga hampir tidak tidur.
Esok paginya, ia memutuskan menemui pria misterius itu. Anehnya, seolah sudah menunggu, pria tersebut duduk di sebuah warung kopi sederhana dekat sekolah.
“Akhirnya kau datang.”
“Siapa kau?”
“Namaku Bima.”
“Lalu apa maumu?”
Bima tidak langsung menjawab.
Ia mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.
“Aku ingin memenuhi janji.”
Arga tidak menyentuh kotak itu.
“Janji apa?”
“Kepada Maya.”
Nama itu membuat suasana mendadak sunyi.
Bima menarik napas panjang.
“Dua belas tahun lalu aku bekerja sebagai relawan setelah gempa besar di daerahku. Maya juga menjadi relawan kesehatan. Kami hanya berteman, tetapi kami pernah berjanji akan mencari seorang anak yang hilang saat bencana.”
Arga mengerutkan dahi.
“Apa hubungannya dengan Reno?”
“Tidak ada.”
Jawaban itu justru membuat Arga semakin bingung.
“Lalu kenapa kau terus mengikuti anakku?”
Bima memandang ke arah jalan raya.
“Karena wajahnya sangat mirip dengan anak yang hilang itu.”
Arga terdiam.
Bima membuka kotak kayu tersebut.
Di dalamnya ada beberapa foto, gelang rumah sakit, dan sebuah liontin berbentuk burung.
“Maya menyimpan semua ini bersamaku. Ia berkata, kalau suatu hari aku menemukan anak itu, aku harus menyerahkan semuanya kepada keluarganya.”
“Tapi kenapa baru sekarang?”
“Aku koma selama hampir tiga tahun setelah kecelakaan kapal. Setelah sadar, aku kehilangan ingatan. Baru beberapa bulan lalu semuanya kembali sedikit demi sedikit.”
Arga menatap isi kotak itu.
Semuanya tampak tua.
Asli.
Bukan sesuatu yang dibuat tergesa-gesa.
“Aku mengira Reno adalah anak itu.”
“Dia bukan.”
“Aku tahu sekarang.”
Bima tersenyum getir.
“Aku sudah salah.”
Arga mulai melunak.
“Kalau begitu kenapa kau belum berhenti datang?”
“Karena setelah melihat Reno… aku sadar aku iri.”
“Iri?”
“Aku tidak pernah punya keluarga.”
Jawaban itu begitu sederhana, tetapi terdengar sangat jujur.
Arga mengajak Bima makan siang.
Dari situlah kisah sebenarnya mulai terbuka.
Bima ternyata pernah menjadi sopir ambulans kemanusiaan. Hidupnya dihabiskan berpindah dari satu lokasi bencana ke lokasi lain. Ia kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil. Tidak pernah menikah. Tidak punya saudara.
Satu-satunya orang yang benar-benar peduli kepadanya dahulu hanyalah Maya.
Namun hubungan mereka tidak pernah lebih dari sahabat.
Maya bahkan sering bercerita tentang Arga sebelum mereka menikah.
“Aku pernah menyuruhnya menerima lamaranmu.”
Arga tersenyum kecil.
“Benarkah?”
“Ia terlalu banyak berpikir.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arga mendengar cerita tentang sisi lain istrinya.
Seminggu kemudian mereka berdua memutuskan mencari anak yang ada dalam foto lama tersebut.
Petunjuk pertama berasal dari gelang rumah sakit.
Nomor registrasinya masih terbaca.
Setelah menghubungi rumah sakit lama yang kini telah berganti nama, mereka menemukan arsip digital yang nyaris dihapus.
Bayi itu bernama Faris.
Korban bencana.
Orang tuanya tidak pernah ditemukan.
Ia kemudian diadopsi oleh sebuah yayasan sosial.
Perjalanan berlanjut ke Yogyakarta.
Dari yayasan, mereka mendapat kabar bahwa Faris pernah diadopsi pasangan suami istri dari Surabaya.
Namun beberapa tahun kemudian keluarga itu pindah ke Kalimantan.
Mereka terus mengikuti jejak.
Perjalanan yang awalnya hanya demi memenuhi janji perlahan berubah menjadi misi yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Di tengah pencarian, Reno mulai akrab dengan Bima.
“Om Bima bisa main layangan?”
“Tentu.”
“Kalau menang nanti jangan curang.”
Bima tertawa keras.
Tawa yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak pernah keluar dari bibirnya.
Arga memperhatikan dari jauh.
Untuk pertama kalinya ia melihat pria itu tampak benar-benar hidup.
Empat bulan berlalu.
Mereka akhirnya menemukan Faris.
Bukan lagi anak kecil.
Melainkan seorang dokter muda berusia dua puluh empat tahun yang sedang bertugas di daerah pedalaman Kalimantan.
Pertemuan mereka berlangsung canggung.
Faris sudah mengetahui bahwa dirinya anak angkat.
Namun ia tidak pernah tahu bagaimana masa kecilnya.
Ketika melihat liontin burung itu, matanya langsung berkaca-kaca.
“Ibu angkatku pernah bilang… aku ditemukan sambil menggenggam benda ini.”
Bima menyerahkan seluruh isi kotak.
“Maya ingin semua ini kembali kepadamu.”
Faris memegang foto lama tersebut lama sekali.
“Aku berharap bisa mengucapkan terima kasih kepadanya.”
Arga menjawab pelan.
“Dia pasti senang melihatmu sekarang.”
Mereka duduk hingga malam.
Menceritakan masa lalu yang akhirnya menemukan ujungnya.
Saat hendak pulang, Faris memanggil Bima.
“Om.”
“Iya?”
“Kalau tidak keberatan… sesekali datanglah ke rumah.”
Bima tampak bingung.
“Aku?”
“Iya.”
“Aku bukan siapa-siapamu.”
Faris tersenyum.
“Orang yang menjaga kenangan tentang asal-usulku selama belasan tahun bukanlah orang asing.”
Kalimat itu membuat mata Bima memerah.
Beberapa bulan kemudian, hidup kembali berjalan normal.
Arga tetap bekerja.
Reno tetap sekolah.
Faris sesekali mengirim kabar dari tempat tugasnya.
Sedangkan Bima…
Ia tidak lagi sendirian.
Setiap akhir pekan, rumah Arga selalu ramai.
Reno akan memaksa Bima bermain bola di halaman.
Faris datang jika sedang cuti.
Mereka makan bersama, tertawa bersama, dan mengenang Maya tanpa lagi dipenuhi kesedihan.
Suatu sore, Reno bertanya kepada ayahnya.
“Yah, kenapa Om Bima selalu bawa kue kalau ke sini?”
Arga tersenyum.
“Karena dulu dia kehilangan banyak kesempatan untuk pulang ke rumah.”
“Kalau begitu sekarang rumahnya di sini ya?”
Arga menatap Bima yang sedang tertawa bersama Faris.
Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Kadang-kadang, keluarga tidak lahir dari hubungan darah.
Mereka lahir dari janji yang ditepati, kesetiaan yang tidak pernah pudar, dan keberanian untuk tetap peduli, bahkan setelah waktu hampir menghapus semua kenangan.
