Aku terus mengenakan cincin yang dulu dia bilang tidak boleh kulepas seumur hidup. Tapi ketika akhirnya kulepas malam itu, cincin itu masih hangat, seolah baru saja dipakai oleh orang lain beberapa detik sebelumnya.
“Apa pun yang terjadi…”
Suamiku, Adrian, menggenggam tanganku pada malam sebelum ia berangkat ke luar negeri.
“Jangan pernah melepas cincin itu.”
Aku tertawa kecil.

“Kenapa?”
“Janji saja.”
“Itu cuma cincin.”
Ia menggeleng.
“Bukan.”
“Suatu hari nanti kamu akan mengerti.”
Aku menganggapnya hanya ucapan romantis.
Tiga minggu kemudian pesawat yang ditumpanginya jatuh di Laut Sulawesi.
Tidak ada yang selamat.
Jenazah Adrian berhasil ditemukan.
Aku sendiri yang mengantar petinya ke pemakaman.
Sejak hari itu aku tidak pernah melepas cincin tersebut.
Bahkan saat mandi.
Saat memasak.
Saat tidur.
Tiga tahun berlalu.
Suatu malam jariku mulai bengkak.
Dokter menyuruhku melepas cincin itu beberapa hari.
Aku pulang sambil terus memandangi cincin emas sederhana itu.
Akhirnya aku menariknya perlahan.
Begitu cincin lepas…
Aku langsung membeku.
Logam itu hangat.
Bukan hangat karena jariku.
Hangat seperti baru dipakai seseorang.
Aku meletakkannya di meja.
Sepuluh menit kemudian kusentuh lagi.
Masih hangat.
Aku mulai merasa aneh.
Keesokan harinya aku membeli termometer inframerah.
Suhu meja.
Dua puluh enam derajat.
Suhu udara.
Dua puluh tujuh.
Suhu cincin.
Tiga puluh enam koma delapan.
Persis seperti suhu tubuh manusia.
Aku mengulanginya berkali-kali.
Hasilnya sama.
Aku membawa cincin itu ke toko perhiasan.
Pemilik toko memeriksanya.
“Tidak ada baterai.”
“Tidak ada alat elektronik.”
“Ini emas biasa.”
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Pukul dua dini hari, ponselku bergetar.
Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Kalau cincin itu kembali hangat, berarti waktunya sudah tiba.”
Aku membeku.
Jantungku berdegup begitu keras hingga telingaku berdenging.
Aku membalas tanpa berpikir.
“Siapa ini?”
Centang dua.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak ada jawaban.
Pagi harinya aku mencoba menelepon nomor itu.
Nomor tidak terdaftar.
Aku mendatangi gerai operator seluler.
Mereka mengatakan nomor tersebut tidak pernah aktif di jaringan mana pun.
Aku pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Siapa yang mengirim pesan itu?
Bagaimana mungkin nomor yang tidak ada bisa menghubungiku?
Malam berikutnya cincin itu kembali kupegang.
Masih hangat.
Aku tiba-tiba teringat sebuah laci kecil di ruang kerja Adrian yang belum pernah kubuka sejak kematiannya.
Bukan karena aku tidak mau.
Melainkan karena setiap kali mencoba, aku selalu menangis sebelum sempat menyentuhnya.
Laci itu terkunci.
Aku mencari-cari kuncinya.
Tidak ada.
Akhirnya kubawa meja kecil itu ke tukang kayu.
Ia membuka kuncinya dalam hitungan menit.
Di dalam hanya ada beberapa dokumen, sebuah flashdisk, dan amplop cokelat bertuliskan namaku.
Tulisan tangan Adrian.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
“Kalau kamu membaca surat ini, berarti sesuatu yang sangat tidak kuinginkan sudah terjadi.”
Air mataku langsung jatuh.
“Aku minta maaf karena tidak bisa menjelaskan semuanya sebelum berangkat. Semakin sedikit yang kamu tahu, semakin aman kamu.”
Aku terus membaca.
Adrian ternyata bukan hanya seorang insinyur pertambangan seperti yang kukenal.
Selama beberapa tahun terakhir ia menjadi konsultan bagi sebuah proyek eksplorasi mineral di Kalimantan.
Dalam proyek itu, ia menemukan penggelapan dana miliaran rupiah, penyelundupan logam langka, dan keterlibatan sejumlah pejabat serta pengusaha besar.
Ia mengumpulkan semua bukti.
Ia berniat menyerahkannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi setelah kembali ke Indonesia.
Tetapi sebelum berangkat, ia mulai merasa ada orang yang mengikutinya.
“Kalau aku gagal pulang, berarti mereka lebih cepat.”
Napas sesakku semakin berat.
Di akhir surat ada satu kalimat yang membuatku berhenti.
“Jangan pernah melepas cincin itu sebelum seseorang menghubungimu.”
Aku melihat cincin yang tergeletak di meja.
Tiba-tiba semuanya terasa saling berhubungan.
Pesan misterius.
Surat.
Permintaan Adrian.
Aku memasukkan flashdisk ke laptop.
Isinya puluhan folder.
Foto.
Rekaman suara.
Laporan transaksi.
Video.
Bahkan ada daftar nama lengkap.
Aku belum sempat membuka semuanya ketika layar laptop tiba-tiba mati.
Listrik rumah padam.
Padahal rumah tetangga masih terang.
Bel rumah berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Aku mengintip melalui kamera pintu.
Tidak ada siapa pun.
Ketika membuka pintu, hanya ada sebuah kotak kecil.
Di dalamnya terdapat ponsel jadul tanpa kartu SIM.
Begitu kuhidupkan, hanya ada satu pesan yang tersimpan.
“Jangan percaya polisi. Ada orang di dalam yang ikut terlibat. Besok pukul sembilan pagi datang sendiri ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Pakai cincinmu.”
Aku hampir menganggap semua ini jebakan.
Namun sesuatu di dalam diriku berkata bahwa Adrian telah merencanakan semuanya.
Keesokan paginya aku datang.
Aku memakai cincin itu kembali.
Seorang pria tua penjual kopi menghampiriku.
“Bu Maya?”
Aku terkejut.
Ia tersenyum tipis.
“Lepaskan cincin itu sebentar.”
Aku mundur.
“Siapa Bapak?”
Ia mengeluarkan sebuah foto.
Foto dirinya bersama Adrian.
Mereka sedang berjabat tangan.
“Nama saya Harun. Saya teman suami Ibu.”
Aku masih ragu.
Ia menunjuk cincin di jariku.
“Cincin itu bukan sekadar cincin kawin.”
Aku perlahan melepasnya.
Harun mengambil sebuah alat kecil seukuran pena.
Ketika diarahkan ke bagian dalam cincin, muncul titik cahaya biru.
“Ada ruang mikro di sini.”
Aku membelalak.
Ia membuka lapisan tipis bagian dalam cincin.
Di sana tersembunyi sebuah chip kecil yang nyaris tak terlihat.
“Adrian menyembunyikan salinan terakhir semua data di sini.”
Aku merasa lututku lemas.
“Kenapa tidak disimpan di flashdisk saja?”
Harun menghela napas.
“Karena dia tahu flashdisk bisa dicuri.”
“Tapi cincin yang selalu melekat di jari istrinya tidak akan pernah dicurigai.”
Aku menangis tanpa suara.
Ternyata selama tiga tahun aku membawa seluruh rahasia yang membuat suamiku kehilangan nyawa.
Harun segera menyalin isi chip ke perangkatnya.
Wajahnya berubah pucat.
“Mereka belum berhenti.”
“Apa maksudnya?”
“Seseorang baru saja mencoba mengakses data ini dari jarak jauh.”
Belum sempat aku bertanya, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di tepi jalan.
Empat pria turun.
Harun langsung menarik tanganku.
“Lari!”
Kami berlari melewati deretan kontainer.
Suara langkah kaki mengejar.
Aku hampir terjatuh.
Harun menyerahkan chip itu kepadaku.
“Kalau saya tertangkap, jangan berhenti.”
Kami berpisah.
Aku bersembunyi di balik gudang tua.
Dari celah dinding kulihat Harun sengaja berlari ke arah lain.
Semua pengejar mengikutinya.
Aku berhasil keluar menuju jalan raya.
Tanpa berpikir panjang aku langsung menuju kantor KPK.
Di sana aku meminta bertemu penyidik senior.
Awalnya mereka ragu.
Namun setelah melihat isi chip, suasana ruangan berubah.
Semua orang mendadak serius.
Penyidikan besar dimulai.
Dalam beberapa minggu berikutnya, berita nasional dipenuhi penangkapan para pejabat, pengusaha, dan perantara yang selama ini tak tersentuh hukum.
Kasus yang selama bertahun-tahun tertutup akhirnya terbongkar.
Nama Adrian disebut sebagai sumber utama pengungkapan jaringan tersebut.
Masyarakat menganggapnya pahlawan yang terlambat dihargai.
Namun satu pertanyaan masih menghantuiku.
Siapa yang mengirim pesan misterius itu?
Harun mengaku bukan dia.
Penyidik juga tidak menemukan jejak nomor tersebut.
Beberapa bulan kemudian aku mengunjungi makam Adrian.
Aku membawa bunga putih kesukaannya.
“Akhirnya selesai,” bisikku.
Angin sore bertiup pelan.
Aku memandangi cincin itu.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya berakhir, aku memutuskan menyimpannya di atas batu nisan.
“Janji sudah kutepati.”
Aku berbalik meninggalkan makam.
Belum sempat melangkah jauh, ponselku berbunyi.
Nomor tak dikenal.
Pesannya hanya satu kalimat.
“Terima kasih sudah menyelesaikan apa yang tidak sempat kuselesaikan.”
Aku langsung berlari kembali ke makam.
Cincinnya sudah tidak ada.
Aku mencari di tanah.
Di rerumputan.
Di sekitar batu nisan.
Tidak ada.
Padahal baru beberapa detik kutinggalkan.
Penjaga makam yang sedang menyapu memandangku bingung.
“Ibu mencari apa?”
“Cincin saya.”
Ia mengernyit.
“Sejak tadi saya memperhatikan. Ibu datang ke sini sendirian.”
“Lalu?”
“Ibu tidak pernah meletakkan cincin apa pun.”
Aku terdiam.
“Tapi saya melihatnya.”
Penjaga itu menggeleng pelan.
“Saya hanya melihat Ibu berdiri, tersenyum, lalu berbicara sendiri.”
Tanganku gemetar.
Aku membuka galeri ponsel.
Foto terakhir yang kuambil di makam memperlihatkan bunga putih di atas nisan.
Tidak ada cincin.
Aku memperbesar gambar berkali-kali.
Tetap tidak ada.
Di saat itulah aku akhirnya memahami ucapan Adrian bertahun-tahun lalu.
“Itu bukan cuma cincin.”
Mungkin sejak awal cincin itu bukan sekadar benda yang harus kupakai.
Melainkan sebuah janji.
Sebuah amanah.
Dan ketika amanah itu selesai kutunaikan, cincin itu pun pergi bersama rahasia terakhir yang selama ini dijaganya, meninggalkan keyakinan bahwa cinta sejati kadang tidak hanya bertahan setelah kematian, tetapi juga terus bekerja dalam diam hingga keadilan akhirnya menemukan jalannya.
