Aku masih ingat kalimat yang paling sering kudengar waktu kecil.
“Kamu harus tahu diri.”
Bukan karena aku nakal.
Bukan karena aku malas.
Tapi karena, menurut ibu tiriku, aku hanyalah “anak sisa” yang ditinggalkan ibuku sejak bayi.
Namaku Alya.

Ayahku menikah lagi ketika aku berusia enam tahun. Sejak hari pertama Siska masuk ke rumah kami, ia tidak pernah memukulku di depan ayah. Tidak pernah berteriak saat ada orang lain.
Dia jauh lebih pintar.
Di depan ayah, dia memanggilku sayang.
Di belakang ayah, dia selalu berbisik,
“Ibumu saja membuangmu. Jadi jangan berharap ada orang yang benar-benar mencintaimu.”
Aku mempercayainya.
Anak kecil selalu percaya pada orang dewasa.
Setiap kali aku bertanya tentang ibuku, ayah hanya menjawab singkat,
“Ibumu sudah pergi.”
Lalu pembicaraan selesai.
Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa aku memang tidak pernah diinginkan.
Saat lulus SMA, aku langsung bekerja di toko roti. Aku tidak kuliah karena ayah sakit, sementara ibu tiriku selalu berkata uang keluarga lebih baik dipakai untuk adik tiriku, Nino.
“Alya perempuan. Nanti juga menikah.”
Aku diam.
Sudah terlalu terbiasa diam.
Beberapa tahun kemudian ayah meninggal karena stroke.
Di pemakaman, Siska bahkan sempat berkata pelan di telingaku,
“Sekarang kamu benar-benar tidak punya siapa-siapa.”
Aku pergi dari rumah dua minggu setelahnya.
Aku menyewa kamar kecil, bekerja siang malam, lalu perlahan membuka usaha katering rumahan. Tidak mudah. Berkali-kali rugi. Berkali-kali ditipu.
Tapi lima belas tahun berlalu begitu saja.
Usahaku berkembang.
Aku punya dapur sendiri.
Aku mempekerjakan belasan orang.
Dan yang paling penting, aku tidak lagi bergantung pada siapa pun.
Selama dua puluh tahun itu, aku tidak pernah kembali ke rumah lama.
Sampai suatu sore seorang pria tua datang ke kantorku.
“Apakah Anda Alya?”
Aku mengangguk.
Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana dengan rambut yang sudah memutih seluruhnya. Wajahnya tenang, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
“Saya Hendra. Dulu saya pengacara keluarga ibu kandung Anda.”
Jantungku seperti berhenti berdetak.
“Ibu kandung saya?”
Ia mengangguk pelan.
“Saya sudah mencari Anda hampir tiga tahun.”
Tanganku mulai dingin.
Selama dua puluh tahun aku hidup dengan keyakinan bahwa ibuku membuangku. Kini tiba-tiba muncul seseorang yang mengatakan pernah mengenalnya.
“Apa maksud Bapak?”
Pak Hendra mengeluarkan sebuah map cokelat tua yang tampak sudah usang.
“Sebelum meninggal, ibu Anda meninggalkan surat dan beberapa dokumen. Beliau berpesan agar semuanya hanya diberikan ketika Anda berusia tiga puluh lima tahun.”
Aku terdiam.
“Meninggal?”
“Iya.”
Air mataku langsung mengalir tanpa bisa kutahan.
Aku bahkan tidak tahu kapan ibuku meninggal.
Aku tidak pernah diberi kesempatan mengenalnya.
Pak Hendra menarik napas panjang.
“Kalau Anda bersedia, besok datanglah ke kantor saya. Ada banyak hal yang perlu Anda ketahui.”
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mempertanyakan seluruh masa kecilku.
Keesokan harinya aku datang tepat waktu.
Pak Hendra meletakkan sebuah amplop putih yang sudah menguning di atas meja.
“Ini surat tulisan tangan ibu Anda.”
Aku belum sempat menyentuhnya ketika pintu kantornya terbuka dengan keras.
Seseorang berlari masuk.
Aku membeku.
Siska.
Wajahnya jauh lebih tua daripada terakhir kali kulihat. Rambutnya dipenuhi uban. Pakaiannya sederhana. Tidak lagi tampak seperti perempuan yang selalu merasa paling berkuasa.
Begitu melihat amplop itu, wajahnya berubah pucat.
Tanpa berkata apa-apa, ia langsung berlutut di depanku.
“Alya… tolong… jangan buka amplop itu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Aku menatap perempuan yang dulu selalu membuatku merasa tidak berharga.
Kini dia gemetar di lantai.
“Kenapa?”
“Tolong… Ibu mohon… jangan dibuka.”
“Jawab pertanyaanku.”
Air matanya mulai jatuh.
“Kalau kamu membacanya… semuanya akan hancur.”
Aku tersenyum pahit.
“Hidupku sudah hancur sejak aku kecil.”
Pak Hendra memandang Siska dengan wajah dingin.
“Bu Siska, saya sudah memperingatkan Anda dua puluh tahun lalu. Kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya.”
Siska menangis semakin keras.
Aku akhirnya mengambil amplop itu.
Tanganku bergetar ketika membuka segelnya.
Di dalamnya ada beberapa lembar surat dan sebuah foto.
Foto seorang perempuan muda sedang memeluk bayi.
Aku langsung tahu.
Itu ibuku.
Dan bayi itu adalah aku.
Tangisku pecah.
Surat pertama dimulai dengan tulisan yang rapi.
Untuk putriku tercinta, Alya.
Kalau kamu membaca surat ini, berarti aku sudah tidak lagi berada di dunia.
Maaf karena aku tidak bisa membesarkanmu.
Bukan karena aku tidak menginginkanmu.
Kamulah alasan terbesar aku bertahan hidup selama mungkin.
Aku mulai sulit bernapas.
Air mata terus menetes di atas kertas.
Ibuku bercerita bahwa setelah melahirkanku, ia didiagnosis mengidap penyakit autoimun yang sangat berat. Kondisinya terus memburuk. Dokter mengatakan usianya tidak akan panjang.
Ia meminta ayahku berjanji akan menjaga dan mencintaiku.
Beberapa bulan setelah itu, ia meninggal.
Tidak ada cerita tentang meninggalkanku.
Tidak ada cerita tentang membuangku.
Semuanya bohong.
Aku membaca surat itu sampai selesai.
Di bagian akhir tertulis kalimat yang membuat dadaku sesak.
Jangan pernah percaya jika ada orang mengatakan Ibu meninggalkanmu. Sampai napas terakhirku, aku hanya memikirkanmu.
Aku menangis sejadi-jadinya.
Seluruh masa kecilku ternyata dibangun di atas kebohongan.
Aku menoleh ke arah Siska.
“Kenapa?”
Ia menutup wajahnya.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Ayahmu tidak pernah benar-benar mencintaiku.”
Ruangan kembali sunyi.
Siska akhirnya mengakui semuanya.
Setelah menikah dengan ayahku, ia selalu merasa kalah oleh kenangan tentang istri pertama.
Di setiap sudut rumah masih ada foto ibuku.
Di setiap pembicaraan keluarga besar, nama ibuku selalu disebut dengan penuh hormat.
Ia cemburu.
Sangat cemburu.
Karena itulah ia mulai mengubah cerita sedikit demi sedikit.
Ia mengatakan ibuku kabur.
Lalu mengatakan ibuku membuangku.
Lalu menghapus semua foto.
Membuang semua surat.
Menghalangi keluarga ibuku bertemu denganku.
Bahkan setiap kali ada seseorang datang mencariku, ia selalu berkata aku sudah pindah ke luar kota.
Pak Hendra membuka map lain.
“Masih ada yang perlu Anda ketahui.”
Di dalamnya terdapat salinan putusan pengadilan.
Ternyata keluarga ibu kandungku pernah menggugat hak asuh ketika aku masih kecil.
Mereka ingin membesarkanku.
Namun ayahku menolak.
Ia berjanji bisa menjagaku.
Sayangnya, setelah ayah mulai sakit, seluruh kendali rumah berada di tangan Siska.
Pak Hendra menatapku.
“Ayah Anda tidak pernah tahu apa yang dilakukan istrinya di belakangnya.”
Aku menutup mata.
Untuk pertama kalinya, aku tidak marah kepada ayah.
Mungkin ia memang gagal melindungiku.
Tapi ternyata ia juga menjadi korban kebohongan.
Pak Hendra lalu menyerahkan satu dokumen terakhir.
“Ini wasiat ibu Anda.”
Aku membacanya perlahan.
Ibuku ternyata memiliki sebidang tanah yang dibeli bersama orang tuanya sebelum menikah.
Tanah itu kini berada di kawasan yang berkembang pesat di pinggiran Jakarta.
Nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.
Selama ini aset itu dititipkan kepada Pak Hendra sampai aku ditemukan.
Siska kembali menangis.
“Aku tahu soal tanah itu.”
Aku memandangnya tajam.
“Karena itu kamu memohon agar aku tidak membuka amplop?”
Ia mengangguk pelan.
“Aku terlilit utang.”
Aku tertawa kecil.
Lucu sekali.
Selama bertahun-tahun aku dianggap beban.
Kini orang yang sama berharap diselamatkan oleh anak yang katanya tidak berharga.
“Alya… tolong bantu Ibu.”
Aku menggeleng perlahan.
“Ketika Ayah meninggal, kau bilang aku tidak punya siapa-siapa.”
Siska hanya menangis.
“Padahal selama ini, kamulah yang memastikan aku kehilangan semua orang.”
Ia tidak mampu menjawab.
Aku berdiri.
“Aku tidak akan membalas dendam.”
Matanya langsung berbinar.
“Tapi aku juga tidak akan membayar harga dari kebohonganmu.”
Aku keluar dari ruangan bersama Pak Hendra.
Beberapa bulan kemudian, aku akhirnya bertemu keluarga dari pihak ibu.
Seorang bibi langsung memelukku sambil menangis.
“Kami mencarimu selama dua puluh tahun.”
Seorang paman menunjukkan album foto yang selama ini mereka simpan.
Di setiap ulang tahunku, meski aku tidak pernah hadir, mereka tetap meniup lilin dan berdoa agar suatu hari bisa bertemu lagi.
Aku melihat puluhan foto.
Ada kue dengan namaku.
Ada balon.
Ada kursi kosong yang selalu disiapkan untukku.
Aku kembali menangis.
Ternyata selama ini bukan tidak ada yang mencintaiku.
Aku hanya dijauhkan dari mereka.
Tanah warisan itu akhirnya kujual sebagian.
Uangnya kupakai untuk membangun pusat pelatihan kuliner gratis bagi perempuan yang kehilangan keluarga, korban kekerasan rumah tangga, dan anak-anak yang tumbuh tanpa dukungan orang tua.
Di pintu masuk gedung itu, aku memasang sebuah kalimat sederhana.
Tidak ada anak yang lahir sebagai anak sisa.
Setiap anak berhak dicintai.
Beberapa tahun kemudian aku mendengar Siska menjual rumahnya untuk membayar utang. Nino merantau ke luar negeri dan jarang pulang. Tidak ada lagi orang yang menemaninya.
Suatu sore aku menerima sepucuk surat.
Tulisan tangannya masih sama.
Alya, maaf tidak akan pernah cukup. Aku baru mengerti rasanya ditinggalkan ketika semua orang pergi dariku. Semoga suatu hari nanti Tuhan mengampuniku.
Aku membaca surat itu sampai selesai.
Lalu melipatnya kembali.
Aku tidak membencinya lagi.
Karena kebencian hanya akan membuatku kembali menjadi anak kecil yang percaya bahwa dirinya tidak layak dicintai.
Aku memilih memaafkan, bukan karena ia pantas mendapatkannya, tetapi karena aku akhirnya tahu satu kebenaran yang mengubah seluruh hidupku.
Ibuku tidak pernah membuangku.
Sebaliknya, ia mencintaiku sampai napas terakhirnya.
Dan kadang-kadang, satu amplop yang dibuka pada waktu yang tepat mampu mengembalikan dua puluh tahun kehidupan yang pernah dirampas oleh sebuah kebohongan.
