Namaku Liora.
Aku tinggal sendirian di sebuah apartemen kecil di lantai sebelas, tak jauh dari Stasiun Palmerah. Pekerjaanku sebagai editor berita membuat jam hidupku benar-benar berantakan. Kadang aku baru pulang pukul sembilan malam. Kadang pukul dua dini hari. Bahkan ada kalanya aku tiba di rumah saat langit mulai berubah kebiruan menjelang pagi.
Awalnya, kupikir aku hanya terlalu lelah.
Malam Kamis, aku pulang tepat pukul 01.36.
Aku melepas sepatu dan membiarkannya tergeletak begitu saja di dekat pintu.

Tasku kulempar ke atas sofa.
Setelah mandi, aku langsung tertidur tanpa sempat membereskan apa pun.
Keesokan paginya, sepatu itu sudah tersusun rapi.
Tasku berpindah ke kursi kerja.
Di atas meja makan, ada segelas air hangat yang masih terlihat baru disiapkan.
Aku berdiri terpaku di dapur.
“Kapan aku menyiapkan ini?”
Tidak ada jawaban.
Tiga hari kemudian, hal yang sama terjadi lagi.
Kali ini selimutku sudah terlipat rapi.
Pakaian kotorku sudah masuk ke keranjang.
Bahkan tanaman kecil di dekat jendela sudah disiram.
Aku mulai merasa takut.
Aku menelepon pengelola apartemen.
“Bu, mungkin Ibu lupa kalau tadi sempat membereskannya sendiri.”
“Saya tidak lupa.”
“Kunci unit hanya Ibu yang pegang?”
“Iya.”
“Kalau begitu, kecil kemungkinan ada orang yang masuk.”
Kalimat itu justru membuat bulu kudukku berdiri.
Kalau bukan aku…
Lalu siapa?
Hari itu juga aku membeli kamera keamanan dengan fitur perekam gerak. Aku memasangnya menghadap pintu masuk dan ruang tamu. Sudutnya cukup luas untuk menangkap hampir seluruh ruangan hingga ke pintu kamar tidur.
Aku sengaja pulang lebih malam dari biasanya.
Begitu masuk, aku melambaikan tangan ke arah kamera.
“Kalau memang ada orang, malam ini aku akan tahu.”
Pagi harinya, dengan tangan gemetar, aku membuka rekaman.
Video menunjukkan aku masuk pukul 01.18.
Aku melepas sepatu.
Aku mandi.
Lampu kamar padam.
Lalu…
Tidak ada apa-apa.
Beberapa jam kemudian aku keluar menuju kantor.
Tidak ada sosok lain.
Tidak ada pintu terbuka.
Tidak ada bayangan.
Namun saat aku melihat apartemen secara langsung, semuanya kembali berubah.
Sepatu tersusun.
Piring kotor sudah dicuci.
Tempat tidur rapi.
Aku menonton rekaman itu berulang-ulang sampai mataku sakit.
Tetap sama.
Seolah-olah tidak pernah ada orang lain selain diriku.
Malam berikutnya aku memasang kamera kedua di dalam kamar.
Hasilnya tidak berbeda.
Video hanya memperlihatkan aku tidur.
Tidak ada siapa pun yang masuk.
Tetapi saat bangun, baju yang kugantung di kursi sudah dilipat.
Aku mulai kehilangan selera makan.
Di kantor, teman dekatku, Nadia, langsung menyadari perubahan wajahku.
“Kamu sakit?”
Aku menggeleng.
“Liora, kamu kelihatan kayak nggak tidur seminggu.”
Aku akhirnya menceritakan semuanya.
Nadia diam cukup lama.
“Lior… jangan marah ya.”
“Apa?”
“Coba kamu cek karbon monoksida.”
Aku tertawa hambar.
“Apartemenku pakai listrik semua.”
“Bukan itu maksudku. Kadang orang yang kelelahan bisa ngalamin hal aneh. Halusinasi, lupa, jalan sambil tidur.”
Aku ingin mempercayainya.
Benar-benar ingin.
Malam itu aku mengikat pergelangan tanganku dengan pita kain ke kepala tempat tidur.
Kalau aku berjalan saat tidur, pita itu pasti terlepas.
Paginya aku terbangun.
Pita masih terikat.
Namun ruang tamu sudah bersih.
Di atas meja ada semangkuk bubur hangat.
Masih mengepul.
Aku bahkan menangis saat melihatnya.
Seseorang berada di rumahku.
Dan orang itu baru saja pergi sebelum aku bangun.
Aku melapor ke polisi.
Seorang petugas datang memeriksa.
Tidak ada bekas congkelan.
Tidak ada sidik jari asing.
Tidak ada jejak kaki.
Mereka menyarankan mengganti kunci digital.
Aku melakukannya hari itu juga.
Password baru.
Sidik jari baru.
Hanya aku yang bisa masuk.
Malamnya aku sengaja tidak tidur.
Aku duduk di sofa sambil memegang mug kopi.
Jam menunjukkan pukul dua.
Tiga.
Empat.
Tidak terjadi apa-apa.
Saat fajar mulai muncul, mataku akhirnya terpejam beberapa menit.
Ketika terbangun, kopi di mejaku sudah diganti dengan secangkir teh hangat.
Aku merasa seluruh tubuhku membeku.
Aku yakin hanya tertidur sebentar.
Mungkin lima menit.
Tak mungkin seseorang masuk, membuat teh, lalu menghilang tanpa suara.
Aku memutuskan pindah sementara ke rumah Nadia.
Aneh.
Selama seminggu di sana, tidak ada kejadian apa pun.
Aku mulai berpikir semua memang berasal dari apartemen itu.
Seminggu kemudian aku kembali.
Begitu membuka pintu, aroma melati samar memenuhi ruangan.
Padahal sebelum pergi aku sudah membuang semua pengharum ruangan.
Apartemen terlihat lebih bersih daripada saat kutinggalkan.
Di meja makan terdapat secarik kertas.
Tulisan tangan yang rapi.
“Akhirnya kamu pulang.”
Dadaku sesak.
Aku yakin seratus persen.
Kertas itu bukan milikku.
Aku membawa surat tersebut ke polisi.
Hasil pemeriksaan tidak menemukan sidik jari selain sidik jariku sendiri.
Aku hampir putus asa.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak tinggal di sana, aku memberanikan diri berbicara keras ke ruangan kosong.
“Kalau memang ada seseorang di sini… tolong keluar. Aku tidak akan berteriak.”
Sunyi.
Hanya suara pendingin ruangan.
Beberapa menit kemudian terdengar bunyi kecil dari balkon.
Aku perlahan mendekat.
Tak ada siapa-siapa.
Namun pintu balkon sedikit terbuka.
Padahal aku selalu menguncinya.
Saat hendak menutup kembali, mataku menangkap sesuatu di balkon apartemen sebelah.
Seorang perempuan tua sedang berdiri memandang ke arahku.
Ia tersenyum tipis.
“Kamu akhirnya sadar juga.”
Aku tercekat.
“Ibu bicara sama saya?”
“Iya.”
“Ibu tahu apa yang terjadi?”
Perempuan itu mengangguk pelan.
“Dulu yang tinggal di situ juga mengalami hal yang sama.”
“Apa maksud Ibu?”
“Dia selalu bilang ada seseorang yang merapikan rumahnya.”
Aku menelan ludah.
“Lalu?”
“Dia pindah.”
“Terus?”
“Ibunya datang mencariku.”
Aku menunggu.
“Ibunya bilang… sejak kecil anaknya punya kebiasaan aneh.”
“Apa?”
“Kalau melihat orang yang hidup sendirian dan terlalu sibuk sampai melupakan dirinya sendiri, dia diam-diam membantu.”
Aku mengerutkan dahi.
“Itu kan manusia.”
Perempuan tua itu tersenyum.
“Dulu memang.”
Jantungku berdetak makin cepat.
“Sekarang?”
Belum sempat ia menjawab, seorang pria memanggilnya dari dalam apartemen.
Ia hanya sempat berkata pelan,
“Kadang ada kebaikan yang tidak pernah benar-benar pergi.”
Pintu balkon sebelah tertutup.
Aku tidak pernah melihat perempuan itu lagi.
Beberapa hari kemudian aku mencari data penghuni lama apartemen melalui petugas administrasi.
Awalnya mereka menolak.
Namun setelah cukup lama membujuk, seorang staf akhirnya memperlihatkan arsip lama.
Penghuni terakhir sebelum aku adalah seorang perempuan bernama Sinta Rahma.
Profesi relawan.
Belum menikah.
Meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan saat membantu korban banjir di Bekasi.
Aku mencari namanya di internet.
Banyak artikel lama.
Banyak foto.
Semuanya menggambarkan sosok yang sama.
Perempuan yang selalu membantu siapa pun tanpa meminta balasan.
Di salah satu artikel terdapat kutipan dari sahabatnya.
“Sinta selalu bilang, rumah yang berantakan biasanya bukan karena pemiliknya malas. Tapi karena mereka terlalu lelah menjalani hidup.”
Aku mematung membaca kalimat itu.
Air mataku jatuh begitu saja.
Kalimat itu terasa seperti ditujukan kepadaku.
Malam itu aku pulang lebih awal.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku memasak makan malam sendiri.
Aku membersihkan apartemen perlahan.
Menyiram tanaman.
Melipat pakaian.
Sebelum tidur, aku meletakkan segelas teh hangat di atas meja.
“Kalau memang benar kamu pernah ada di sini… terima kasih.”
Tidak terjadi apa-apa malam itu.
Begitu juga malam berikutnya.
Dan malam-malam setelahnya.
Tidak ada lagi sepatu yang tersusun sendiri.
Tidak ada lagi selimut yang terlipat.
Tidak ada lagi bubur hangat di meja makan.
Seolah sosok itu benar-benar telah pergi.
Enam bulan kemudian hidupku berubah.
Aku tidak lagi bekerja sampai dini hari setiap hari.
Aku belajar pulang lebih cepat.
Belajar memasak.
Belajar merawat diriku sendiri.
Suatu malam, saat hendak mematikan lampu, mataku tertuju pada tanaman kecil di dekat jendela.
Di sela potnya terselip secarik kertas kecil yang sudah mulai menguning.
Aku yakin sebelumnya tidak pernah ada.
Dengan tangan bergetar, kubuka lipatan itu.
Hanya ada satu kalimat.
“Akhirnya, sekarang ada yang menjaga kamu.”
Aku tersenyum di tengah air mata.
Untuk pertama kalinya sejak tinggal di apartemen itu, aku tidak merasa takut lagi.
Karena aku akhirnya mengerti.
Bukan semua kehadiran yang tak terlihat datang untuk mencelakakan.
Kadang, di saat seseorang terlalu lelah hingga lupa menyayangi dirinya sendiri, semesta mengirimkan cara yang paling sunyi untuk mengingatkannya bahwa ia tidak pernah benar-benar sendirian.
