AKU BERSEMBUNYI DI BAWAH RANJANG SAAT MALAM PERTAMA UNTUK MENGEJUTKAN SUAMIKU, TAPI JUSTRU MENDENGAR RENCANA BUSUK MEREKA UNTUK MERAMPAS SELURUH HARTA WARISANKU!

Aku membeku di bawah ranjang.

Suara pintu yang menutup terdengar seperti vonis kematian bagi hidupku.

Langkah sepatu hak tinggi Ibu Sandra menghilang di lorong hotel. Kini hanya ada Rendy di dalam kamar. Pria yang baru beberapa jam lalu mengucapkan janji suci di hadapanku sambil menatap mataku dengan penuh cinta, ternyata sedang menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan hidupku.

Aku menggigit bibir sekuat tenaga agar tidak menangis.

Pintu kamar mandi dibuka dengan sengaja.

Beberapa detik kemudian, Rendy berseru dengan nada dibuat-buat.

“Amanda? Sayang? Kamu di mana?”\

Aku langsung mengusap air mata dan menarik napas panjang. Jika aku keluar sekarang dalam keadaan panik, mereka akan tahu bahwa aku mendengar semuanya.

Aku harus berpura-pura.

Dengan tangan gemetar, aku merangkak keluar dari bawah ranjang saat Rendy membelakangiku.

“Boo…”

Rendy langsung berbalik sambil pura-pura terkejut.

“Astaga! Kamu ngapain di situ?”

Aku memaksakan senyum.

“Aku cuma mau bikin kejutan.”

Dia tertawa kecil lalu memelukku.

Pelukan itu membuatku mual.

Beberapa menit sebelumnya, mulut yang sama baru saja merencanakan menghancurkan hidupku.

“Aku benar-benar sayang sama kamu,” bisiknya.

Aku hampir muntah mendengar kebohongan itu.

Malam itu aku berpura-pura kelelahan dan mengatakan ingin tidur lebih awal.

Rendy tidak curiga sedikit pun.

Ia bahkan mencium keningku sebelum lampu dimatikan.

Aku tidak tidur semalaman.

Begitu Rendy tertidur pulas, aku diam-diam mengambil ponselnya.

Aku tidak berniat mengintip sebelumnya.

Namun sekarang aku harus menyelamatkan diri.

Untungnya sidik jarinya masih bisa membuka layar saat ia tertidur.

Yang pertama kulihat adalah grup WhatsApp bernama “Keluarga Bahagia”.

Anggotanya hanya tiga orang.

Rendy.

Ibu Sandra.

Dan seseorang bernama Tiara.

Isi percakapan membuat darahku terasa membeku.

Tiara mengirim foto dirinya memakai gaun merah sambil menulis,

“Sebentar lagi semua milik kita.”

Rendy membalas,

“Sabar sayang. Tinggal beberapa bulan.”

Lalu ada pesan suara dari Ibu Sandra.

“Amanda terlalu polos. Dia bahkan tidak membaca dokumen rekening bersama. Setelah asetnya pindah, kalian bisa menikah tanpa hambatan.”

Aku segera mengirim semua percakapan itu ke ponselku menggunakan email rahasia yang tidak pernah diketahui siapa pun.

Kemudian aku menghapus jejak pengiriman.

Sebelum mengembalikan ponsel, aku menemukan folder foto tersembunyi.

Di sana ada puluhan foto Rendy dan Tiara sedang berlibur ke Bali, Singapura, bahkan Jepang.

Tanggal fotonya membuat dadaku sesak.

Sebagian besar diambil saat Rendy sedang mengatakan bahwa ia sedang dinas ke luar kota.

Aku memejamkan mata.

Ternyata seluruh hubungan kami hanyalah sandiwara.

Keesokan paginya, aku berpura-pura menjadi istri yang sedang dimabuk cinta.

Aku tertawa.

Aku memasak sarapan.

Aku memuji suamiku.

Semua terlihat sempurna.

Di balik senyumku, aku mulai menyusun langkah.

Begitu Rendy berangkat bekerja, aku langsung menuju kantor pusat perusahaan ayahku.

Aku menemui pengacara keluarga yang sudah bekerja bersama keluarga Wijaya lebih dari dua puluh tahun.

Pak Hendra.

Begitu melihat wajahku yang pucat, ia langsung bertanya,

“Ada apa, Nona Amanda?”

Aku menyerahkan seluruh bukti.

Percakapan.

Foto.

Rekaman suara yang sempat kurekam diam-diam malam sebelumnya.

Pak Hendra membaca semuanya tanpa berbicara.

Beberapa menit kemudian wajahnya berubah serius.

“Ini bukan sekadar penipuan.”

“Lalu?”

“Ini sudah masuk kategori konspirasi untuk mengambil alih aset secara melawan hukum.”

Aku mengangguk pelan.

“Lalu apa yang harus saya lakukan?”

Pak Hendra tersenyum tipis.

“Kalau mereka ingin bermain sandiwara, kita akan membuat panggung yang lebih besar.”

Selama tiga bulan berikutnya aku menjalani kehidupan ganda.

Di depan Rendy aku menjadi istri penurut.

Di belakangnya aku bekerja sama dengan pengacara, auditor, dan penyidik swasta.

Kami menemukan fakta yang jauh lebih mengerikan.

Perusahaan keluarga Rendy ternyata bangkrut total.

Utangnya mencapai hampir seratus miliar rupiah.

Mereka juga terlibat pencucian uang melalui beberapa perusahaan fiktif.

Bahkan Tiara sebenarnya adalah orang yang menghubungkan mereka dengan jaringan investor ilegal di luar negeri.

Semua potongan puzzle mulai tersusun.

Suatu malam aku sengaja mengatakan kepada Rendy,

“Ayah akan menyerahkan sebagian saham perusahaan kepadaku bulan depan.”

Mata Rendy langsung berbinar.

“Benarkah?”

“Iya. Nilainya mungkin sekitar delapan ratus miliar.”

Ia langsung memelukku erat.

Dalam pelukan itu, aku bisa merasakan napasnya yang dipenuhi keserakahan.

Seminggu kemudian aku pura-pura jatuh sakit.

Dokter pribadi keluarga yang sudah mengetahui rencana kami bekerja sama sepenuhnya.

Ia mengatakan bahwa aku mengalami stres dan membutuhkan obat penenang ringan.

Persis seperti yang diinginkan Ibu Sandra.

Mereka mengira rencana mereka berjalan lancar.

Diam-diam, obat yang mereka selundupkan ke dalam minumanku langsung diganti oleh tim dokter.

Setiap pil menjadi vitamin biasa.

Aku berpura-pura semakin lemah.

Aku berpura-pura linglung.

Aku bahkan sengaja salah menyebut nama orang.

Suatu malam aku mendengar Rendy menelepon Tiara.

“Sebentar lagi berhasil.”

“Dia mulai gampang dibohongi.”

Aku tersenyum dalam hati.

Mereka tidak sadar bahwa justru mereka yang sedang masuk ke perangkap.

Empat bulan kemudian Pak Hendra memberi kabar.

“Semuanya siap.”

Hari itu aku mengundang seluruh keluarga besar, direksi perusahaan, notaris, dan beberapa investor ke acara makan malam keluarga.

Rendy mengira malam itu adalah malam ketika namanya akan resmi masuk jajaran direksi.

Ia datang mengenakan jas terbaiknya.

Ibu Sandra memakai perhiasan mewah.

Bahkan Tiara hadir diam-diam sebagai tamu investor.

Saat semua orang berkumpul, ayahku berdiri sambil membawa map biru.

Rendy tersenyum penuh kemenangan.

Namun ayahku berkata,

“Sebelum rapat dimulai, saya ingin memperkenalkan rekaman yang sangat menarik.”

Ruangan mendadak sunyi.

Layar besar menyala.

Suara pertama yang terdengar adalah suara Ibu Sandra.

“Dia sudah menandatangani dokumen rekening bersama.”

Lalu suara Rendy.

“Aku sudah tidak tahan berpura-pura mencintainya.”

Berikutnya suara mereka yang membahas obat tidur, pemindahan aset, dan rencana membuangku setelah semuanya selesai.

Wajah Rendy langsung pucat.

Ibu Sandra berdiri dengan panik.

“Itu rekayasa!”

Belum sempat ia melanjutkan, layar menampilkan foto-foto mesra Rendy bersama Tiara.

Tanggal.

Lokasi.

Bukti transfer.

Rekening luar negeri.

Semua muncul satu per satu.

Direktur bank yang hadir langsung mengenali beberapa transaksi.

Polisi yang sejak tadi menyamar sebagai tamu undangan akhirnya maju.

“Saudara Rendy, Saudari Tiara, dan Ibu Sandra, Anda bertiga diduga melakukan percobaan penipuan, konspirasi penggelapan aset, serta tindak pidana pencucian uang.”

Rendy langsung berlutut di depanku.

“Amanda… aku bisa jelaskan…”

Aku menatap pria itu tanpa sedikit pun rasa iba.

“Jelaskan apa? Bahwa semua pelukanmu palsu? Bahwa setiap kata cintamu hanya harga untuk membeli hartaku?”

Air matanya mulai jatuh.

“Aku terpaksa.”

Aku menggeleng.

“Orang yang terpaksa masih punya hati. Kamu sudah merencanakan menghancurkan hidupku bahkan sebelum kita menikah.”

Ibu Sandra mencoba melarikan diri melalui pintu belakang.

Namun dua polisi langsung menghentikannya.

Sementara Tiara menangis histeris ketika rekening-rekening luar negerinya dibekukan di tempat.

Rendy terus memohon.

“Amanda… tolong… aku benar-benar mencintaimu sekarang.”

Aku tersenyum tipis.

“Cinta tidak pernah lahir dari keserakahan.”

Polisi menggiring mereka keluar satu per satu.

Ruangan tetap sunyi.

Semua orang memandangku.

Ayah menghampiriku dan menggenggam tanganku.

“Ayah minta maaf.”

Aku menggeleng pelan.

“Bukan salah Ayah.”

Beberapa minggu kemudian, pernikahanku resmi dibatalkan melalui putusan pengadilan karena terbukti didasarkan pada penipuan yang terencana.

Seluruh aset keluarga tetap aman.

Perusahaan kami justru semakin berkembang karena berhasil menggagalkan upaya pengambilalihan ilegal.

Suatu sore aku menerima surat dari lembaga pemasyarakatan.

Pengirimnya adalah Rendy.

Aku tidak pernah membukanya.

Surat itu langsung kumasukkan ke dalam mesin penghancur kertas.

Beberapa luka memang bisa sembuh.

Namun tidak semua pengkhianatan layak diberi kesempatan kedua.

Hari itu, saat berjalan keluar dari kantorku, aku berhenti sejenak memandangi langit Jakarta yang mulai berwarna jingga.

Aku teringat malam ketika aku bersembunyi di bawah ranjang hanya untuk membuat kejutan kecil bagi pria yang kucintai.

Aku tidak pernah menyangka bahwa keputusan iseng itu justru menyelamatkan seluruh hidupku.

Kadang-kadang, takdir tidak datang dengan suara yang keras.

Ia datang dalam bentuk kebetulan yang tampak sepele.

Dan malam pertama pernikahanku, yang seharusnya menjadi awal sebuah keluarga, justru menjadi hari ketika topeng semua orang akhirnya terlepas.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang