DIASPAL DENGAN RP500.000 DAN DIUSIR SAAT HAMIL TUA, WANITA INI TIDAK TAHU BAHWA PRIA PALING BERKUASA DI JAKARTA SEDANG BERGERAK UNTUK MEMBALASKAN DENDAMNYA!

Hujan turun tanpa belas kasihan ketika Aira Prameswari melangkah keluar dari gedung apartemen yang selama enam tahun ia sebut rumah. Satu koper lusuh, sebuah tas berisi dokumen penting, dan kandungan tujuh bulan yang membuat setiap langkah terasa berat menjadi seluruh harta yang tersisa. Pintu lobi tertutup di belakangnya tanpa sedikit pun keraguan, seolah bangunan mewah itu ingin menghapus jejak keberadaannya.

Ponselnya kembali bergetar.

Sebuah notifikasi transfer masuk.

Rp750.000.

Di bawah angka itu ada pesan singkat dari mantan suaminya.

“Anggap saja ini cukup sampai kamu menemukan cara untuk hidup sendiri.”

Aira menatap layar beberapa detik sebelum mematikannya. Dadanya sesak, tetapi tidak ada lagi air mata yang tersisa. Semua tangis telah habis sejak pagi ketika ia mengetahui bahwa suaminya, Arvin Mahendra, telah diam-diam memindahkan seluruh aset perusahaan ke bawah nama keluarganya sendiri. Perusahaan furnitur yang dulu mereka bangun dari sebuah garasi kecil kini bernilai ratusan miliar rupiah, tetapi di atas kertas, Aira tidak memiliki apa-apa.

Padahal, setiap desain yang membuat perusahaan itu terkenal berasal dari tangannya.

Ia mengusap perutnya perlahan.

“Tunggu sebentar lagi, Nak. Ibu belum menyerah.”

Angin sore membawa hawa dingin. Jalanan Jakarta dipenuhi kendaraan yang merayap. Aira mencoba memesan taksi daring berkali-kali, tetapi saldonya tidak mencukupi karena kartu kredit yang biasa digunakan telah diblokir.

Ia memilih berjalan menuju halte.

Belum sampai lima puluh meter, rasa nyeri tajam menyerang perutnya.

Ia berhenti, menarik napas panjang.

“Bukan sekarang…”

Seorang pedagang kopi keliling memperhatikan wajahnya yang pucat.

“Mbak, nggak apa-apa?”

Aira memaksa tersenyum.

“Saya baik-baik saja.”

Namun beberapa langkah kemudian, pandangannya mulai berkunang-kunang.

Saat tubuhnya hampir jatuh ke trotoar, seseorang menangkap bahunya.

“Pelan.”

Suara pria itu rendah namun tegas.

Aira mendongak.

Pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di depannya. Rambutnya mulai memutih di pelipis, tetapi sorot matanya tajam. Ia mengenakan kemeja sederhana tanpa logo apa pun, berbeda dengan dua pria berbadan tegap yang berdiri beberapa meter di belakangnya.

“Anda butuh dokter.”

“Saya… tidak punya biaya.”

Pria itu tidak menjawab.

Ia hanya memberi isyarat.

Beberapa detik kemudian sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka.

Aira menggeleng.

“Saya tidak mengenal Anda.”

“Nama saya Bima Adinata.”

Nama itu membuat pedagang kopi langsung terdiam.

Bima Adinata.

Pendiri salah satu grup industri terbesar di Indonesia.

Pria yang hampir tidak pernah muncul di televisi tetapi disebut-sebut memiliki pengaruh luar biasa di dunia bisnis.

Aira menatapnya penuh kebingungan.

“Mengapa Anda menolong saya?”

Bima memandang wajahnya cukup lama sebelum berkata pelan.

“Karena dulu ibumu pernah menyelamatkan hidup saya.”

Aira membeku.

“Ibu saya?”

“Dua puluh delapan tahun lalu.”

Kalimat itu membuat semua rasa sakit seolah berhenti sesaat.

Ibunya telah meninggal ketika Aira masih SMA. Ia tidak pernah mendengar cerita apa pun tentang pria itu.

“Ayo. Kita bicara di rumah sakit.”

Beberapa jam kemudian dokter memastikan bayi dalam kandungan Aira baik-baik saja. Kontraksi yang muncul hanyalah akibat kelelahan dan stres berat.

Bima duduk di ruang tunggu sambil memandangi hujan.

“Aku berutang nyawa kepada ibumu. Saat kami masih muda, mobilku mengalami kecelakaan di jalur Puncak. Banyak orang hanya menonton. Hanya ibumu yang berani menarikku keluar sebelum mobil itu terbakar.”

Aira mendengarkan dalam diam.

“Aku mencarinya bertahun-tahun, tetapi kami kehilangan kontak. Ketika akhirnya menemukannya, beliau sudah meninggal.”

Bima mengeluarkan sebuah amplop tua.

Di dalamnya terdapat foto seorang perempuan muda yang sedang tersenyum bersama pria yang wajahnya jauh lebih muda.

“Itu ibu saya…”

“Sejak saat itu aku berjanji, jika suatu hari menemukan keluarganya, aku akan membalas semua kebaikannya.”

Air mata Aira jatuh tanpa suara.

Selama ini ia mengira dunia telah sepenuhnya meninggalkannya.

Ternyata masih ada seseorang yang mengingat kebaikan ibunya.

Sementara itu, Arvin sedang menikmati makan malam bersama kekasih barunya di sebuah restoran mewah.

“Kamu yakin semuanya sudah beres?” tanya wanita itu.

Arvin tertawa kecil.

“Aira tidak punya siapa-siapa.”

Seorang asistennya berlari menghampiri dengan wajah panik.

“Pak… ada masalah.”

“Apa lagi?”

“Salah satu investor utama membatalkan kerja sama.”

Arvin mengernyit.

“Lalu?”

“Dua bank juga menunda pencairan kredit.”

Senyumnya mulai menghilang.

Pagi berikutnya masalah bertambah.

Pemasok utama menghentikan pengiriman.

Beberapa klien besar membatalkan kontrak.

Saham perusahaan turun tajam.

Arvin marah-marah sepanjang hari.

“Siapa yang bermain di belakangku?”

Tidak ada seorang pun yang mampu menjawab.

Yang tidak diketahui Arvin, di lantai paling atas sebuah gedung perkantoran, Bima hanya mengucapkan satu kalimat kepada tim hukumnya.

“Periksa semua transaksi perusahaan Mahendra Living selama lima tahun terakhir.”

Tim itu bekerja tanpa henti.

Dalam tiga hari mereka menemukan puluhan pelanggaran.

Penggelapan pajak.

Manipulasi laporan keuangan.

Penggunaan bahan baku ilegal.

Dokumen-dokumen itu kemudian dikirim kepada lembaga yang berwenang sesuai prosedur hukum.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada suap.

Hanya fakta.

Seminggu kemudian kantor Arvin didatangi penyidik.

Media mulai memberitakan kasus tersebut.

Reputasi yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan hari.

Arvin baru sadar ada kekuatan besar yang sedang bergerak.

Ia akhirnya mengetahui nama orang di balik semua itu.

Bima Adinata.

Wajahnya langsung pucat.

“Mustahil… aku tidak pernah punya masalah dengannya.”

Sementara itu, Aira memilih tinggal sementara di rumah sederhana milik Bima.

Rumah itu bukan istana mewah.

Hanya sebuah vila tenang di pinggiran Jakarta dengan taman luas dan udara segar.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia bisa tidur nyenyak.

Suatu sore Bima menghampirinya.

“Kamu mau terus bergantung padaku?”

Aira menggeleng.

“Tidak.”

“Bagus.”

Bima tersenyum tipis.

“Aku tidak ingin memberimu uang.”

Aira sedikit terkejut.

“Tapi aku ingin memberimu kesempatan.”

Ia meletakkan sebuah map.

Di dalamnya terdapat proposal pembangunan perusahaan desain interior baru.

“Semua desain tetap milikmu. Aku hanya menjadi investor.”

Aira memandangi map itu cukup lama.

“Kenapa percaya kepada saya?”

“Karena orang yang mampu membangun perusahaan dari nol sekali, bisa melakukannya dua kali.”

Kalimat itu membangkitkan sesuatu yang hampir mati dalam dirinya.

Harapan.

Beberapa bulan kemudian Aira melahirkan dua bayi perempuan dan satu bayi laki-laki dengan selamat.

Tangisan ketiga bayi memenuhi ruang bersalin.

Bima berdiri di luar ruangan sambil mengusap mata.

Dokter tersenyum.

“Selamat. Ibu dan ketiga bayinya sehat.”

Aira memeluk anak-anaknya sambil berbisik.

“Kita berhasil.”

Di hari yang sama, Arvin datang ke rumah sakit bersama pengacaranya.

Ia berniat mengajukan hak asuh demi menjaga citra keluarganya.

Namun baru memasuki lobi, ia dihadang beberapa petugas keamanan.

“Maaf, Anda tidak diizinkan masuk.”

“Apa maksudnya?”

Seorang pengacara senior menghampirinya.

“Kami mewakili Ibu Aira.”

Ia menyerahkan beberapa lembar dokumen.

“Klien kami memiliki bukti bahwa selama masa kehamilan Anda melakukan penelantaran, kekerasan psikologis, dan pemindahan aset secara melawan hukum.”

Wajah Arvin memucat.

“Selain itu, proses pidana terkait perusahaan Anda masih berjalan.”

Ia mencoba menerobos.

Namun dari kejauhan Bima muncul.

Tatapan keduanya bertemu.

Arvin mendadak kehilangan keberanian.

“Aku… aku hanya ingin melihat anak-anakku.”

Bima menjawab datar.

“Seorang ayah tidak muncul ketika semuanya sudah terlambat.”

Arvin terdiam.

Tidak ada lagi kata yang mampu keluar.

Enam bulan berlalu.

Perusahaan baru milik Aira berkembang pesat. Karya-karyanya kembali mendapat perhatian pasar karena keunikan desain yang menggabungkan unsur modern dan budaya Indonesia.

Suatu pagi ia menerima surat resmi.

Pengadilan memutuskan sebagian aset perusahaan lama dikembalikan kepadanya karena terbukti berasal dari hasil kerja bersama yang disembunyikan secara melawan hukum.

Aira tersenyum.

Bukan karena uang itu.

Melainkan karena keadilan akhirnya datang.

Ketika media meminta komentar mengenai kejatuhan mantan suaminya, ia hanya berkata singkat.

“Balas dendam terbaik bukanlah menghancurkan orang lain. Balas dendam terbaik adalah membangun kembali hidup kita tanpa kebencian.”

Beberapa wartawan kemudian bertanya kepada Bima mengapa ia begitu jauh membantu Aira.

Pria tua itu hanya menatap langit.

“Dunia sering kali terlihat kejam.”

Ia tersenyum kecil.

“Tetapi satu kebaikan yang dilakukan dengan tulus tidak pernah benar-benar hilang. Kadang ia kembali setelah puluhan tahun, pada saat yang paling dibutuhkan.”

Aira yang berdiri di sampingnya menggenggam tangan ketiga anaknya.

Ia akhirnya memahami bahwa hidup memang bisa merenggut hampir segalanya dalam satu hari.

Namun selama seseorang masih memiliki keberanian untuk bangkit dan tetap memilih menjadi pribadi yang baik, selalu ada jalan yang tidak pernah terlihat sebelumnya, menunggu untuk mengubah seluruh takdirnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang