Malam itu hujan turun tanpa henti membasahi jalanan Jakarta Selatan. Cahaya lampu apartemen memantul di genangan air ketika Alina Prameswari berdiri sendirian di depan pintu rumahnya dengan sebuah koper kecil di tangan. Di balik pintu yang baru saja tertutup, suara tawa seorang perempuan masih terdengar samar.
Suaminya sendiri yang menutup pintu itu.
Tidak ada air mata yang jatuh.

Bukan karena Alina tidak terluka, tetapi karena rasa sakit yang ia rasakan sudah terlalu dalam hingga bahkan menangis pun terasa sia-sia.
“Mulai malam ini kita selesai,” ucap Arga sebelum menutup pintu. “Aku memilih Naila. Dia sedang mengandung anakku.”
Kalimat itu terus bergema di kepala Alina saat ia melangkah menuju mobil taksi yang menunggu di pinggir jalan.
Lima belas tahun pernikahan berakhir hanya dalam waktu kurang dari lima menit.
Selama ini Alina percaya rumah tangga mereka baik-baik saja. Ia memang berhenti bekerja sebagai arsitek setelah Arga mendirikan perusahaan konstruksi. Ia memilih mendampingi suaminya, mengurus rumah, membantu administrasi perusahaan dari rumah, bahkan diam-diam menjual beberapa perhiasan warisan ibunya ketika perusahaan Arga hampir bangkrut delapan tahun lalu.
Tidak sekali pun ia mengungkit pengorbanan itu.
Baginya, pernikahan bukan soal menghitung siapa yang memberi lebih banyak.
Namun malam itu ia sadar, tidak semua orang memandang pernikahan dengan cara yang sama.
Taksi berhenti di depan rumah sahabatnya, Dian.
Begitu melihat wajah Alina, Dian langsung memeluknya tanpa bertanya apa pun.
“Kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau.”
Barulah Alina menangis.
Tangis yang ia tahan sepanjang perjalanan pecah begitu saja.
Keesokan paginya, saat Alina sedang membantu Dian menyiapkan sarapan, ponselnya berdering.
Nama penelepon membuatnya terdiam.
Pak Hendra.
Notaris keluarga.
“Bu Alina, saya sudah mencoba menghubungi Pak Arga sejak kemarin, tetapi tidak berhasil.”
“Ada apa, Pak?”
“Saya hanya ingin memastikan Ibu baik-baik saja. Ada beberapa dokumen yang seharusnya sudah saya serahkan beberapa bulan lalu.”
Alina mengernyit.
“Dokumen apa?”
“Maaf… saya kira Ibu sudah mengetahuinya.”
Beberapa jam kemudian mereka bertemu di kantor notaris.
Pak Hendra meletakkan sebuah map biru tua di atas meja.
“Ini amanat almarhum ayah Ibu.”
Alina membukanya perlahan.
Di dalamnya terdapat akta kepemilikan beberapa bidang tanah di kawasan BSD yang nilainya kini mencapai puluhan miliar rupiah.
Ada pula saham sebuah perusahaan logistik yang terus berkembang selama bertahun-tahun.
Tangannya mulai gemetar.
“Ayah tidak pernah menceritakan semua ini.”
Pak Hendra tersenyum tipis.
“Beliau memang berpesan agar semuanya diberikan kepada Ibu tepat ketika usia Ibu empat puluh tahun.”
“Tapi saya baru tiga puluh delapan.”
“Itu benar.”
“Lalu kenapa sekarang?”
Pak Hendra menarik napas panjang.
“Karena sebelum meninggal, ayah Ibu menambahkan satu syarat.”
“Apa?”
“Jika dalam keadaan darurat yang mengancam masa depan Ibu, saya boleh menyerahkan seluruh dokumen lebih awal.”
Alina terdiam.
Pak Hendra menatapnya penuh iba.
“Ketika saya mendengar kabar perceraian Ibu semalam, saya merasa inilah saat yang dimaksud.”
Alina menutup map itu perlahan.
Selama bertahun-tahun ia mengira dirinya tidak memiliki apa-apa selain rumah tangga yang kini telah hancur.
Ternyata, hidup masih menyimpan pintu lain yang belum pernah ia buka.
Sementara itu, kehidupan Arga justru terasa semakin sempurna.
Ia pindah ke apartemen mewah bersama Naila.
Mereka mengadakan pesta kecil untuk merayakan “awal kehidupan baru.”
Teman-teman bisnis Arga berdatangan membawa hadiah.
Semua mengira Arga sedang berada di puncak karier.
Tak seorang pun tahu kenyataan yang sebenarnya.
Perusahaan konstruksi miliknya sedang mengalami masalah arus kas yang serius.
Selama dua tahun terakhir, Arga menutup lubang utang dengan pinjaman baru.
Ia yakin proyek besar yang akan ditandatangani bulan depan akan menyelamatkan semuanya.
Yang tidak ia ketahui, perusahaan yang menjadi calon investor utama baru saja berganti pemegang saham.
Dan nama direktur barunya adalah seseorang yang sama sekali tidak pernah ia duga.
Dua minggu kemudian, Alina mengenakan setelan kerja berwarna putih untuk pertama kalinya setelah belasan tahun.
Ia berdiri di depan cermin dengan rambut yang dipotong lebih pendek.
Bukan untuk membalas dendam.
Bukan pula untuk membuat Arga menyesal.
Ia hanya sedang menemukan kembali perempuan yang pernah menghilang demi memenuhi mimpi orang lain.
Saat memasuki ruang rapat perusahaan logistik yang kini sebagian besar sahamnya menjadi miliknya, seluruh jajaran direksi berdiri menyambutnya.
“Selamat datang, Bu Alina.”
Alina tersenyum tenang.
Ia belum tahu bahwa beberapa bulan lagi, Arga akan datang ke gedung yang sama untuk memohon satu kesempatan terakhir, tanpa menyadari bahwa perempuan yang pernah ia usir dari rumah kini adalah satu-satunya orang yang mampu menyelamatkan hidup dan perusahaannya.
