Liburan semester selalu menjadi alasan terbaik bagiku untuk pulang ke rumah. Setelah berbulan-bulan tenggelam dalam tugas kuliah di Yogyakarta, akhirnya aku kembali ke Bandung, ke rumah yang selama ini selalu kuanggap sebagai tempat paling aman di dunia.
Namun semua keyakinan itu runtuh hanya karena sebuah notifikasi yang muncul di layar ponsel Ayah.
Saat itu ponselnya sedang diisi daya di ruang tamu. Aku hanya berniat meminjamnya untuk mencari resep makanan karena baterai ponselku habis. Tapi sebelum sempat membuka peramban, sebuah pesan WhatsApp masuk.
“Pak Ardi, besok jangan lupa hadir rapat warga pukul 19.00 di Tower B.”
Di bawah nama grup tertulis jelas.

Komunitas Warga Emerald Residence Surabaya.
Aku mengernyit.
Seumur hidupku, keluargaku tinggal di Bandung. Ayah selalu berkata pekerjaannya sebagai pemasok alat kesehatan membuatnya sering bepergian ke Jakarta, Semarang, atau Surabaya. Tapi tinggal di apartemen? Menjadi anggota grup warga?
Aku membuka grup itu.
Ratusan pesan memenuhi layar.
Ada pembahasan parkir, iuran keamanan, perayaan ulang tahun anak-anak, hingga pengumuman mengenai kolam renang yang sedang diperbaiki.
Lalu sebuah foto menarik perhatianku.
Foto acara malam tahun baru.
Seorang pria sedang memangku anak laki-laki berusia sekitar empat tahun sambil tersenyum.
Wajah pria itu hanya terlihat dari samping.
Tetapi aku mengenali jam tangan, cincin, dan bekas luka kecil di pipinya.
Itu Ayah.
Tanganku mulai dingin.
“Alya.”
Suara Ayah membuatku tersentak.
Aku buru-buru mengunci layar.
Ayah tersenyum seperti biasa.
“Lagi ngapain?”
“Tidak apa-apa. Tadi cuma lihat jam.”
Beliau mengambil ponselnya tanpa curiga.
Sejak sore itu, aku tidak bisa menikmati makan malam.
Setiap kali Ayah berbicara, aku justru sibuk mengingat foto tadi.
Kalau anak itu siapa?
Kenapa Ayah ada di sana?
Kenapa beliau menjadi anggota grup warga?
Seminggu kemudian Ayah kembali berkata akan berangkat ke Jakarta selama tiga hari.
Begitu mobilnya keluar dari garasi, aku langsung membuka laptop.
Aku mencari nama apartemen itu.
Lalu aku menemukan akun media sosial seorang agen properti yang pernah mengunggah video unit Emerald Residence.
Di kolom komentar ada seorang perempuan bernama Rania.
Komentarnya sederhana.
“Unit kami memang nyaman sekali.”
Aku membuka profilnya.
Tidak dikunci.
Foto-fotonya memperlihatkan seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun.
Cantik.
Sederhana.
Di salah satu unggahan terdapat seorang anak laki-laki.
Wajahnya membuatku berhenti bernapas beberapa detik.
Anak itu memiliki lesung pipi yang sama persis dengan Ayah.
Bahkan bentuk matanya identik.
Aku mencoba berpikir rasional.
Mungkin hanya kebetulan.
Namun kemudian aku melihat foto lain.
Di meja makan terdapat tangan seorang pria sedang menuangkan sup.
Jam tangan pria itu sama dengan milik Ayah.
Aku memperbesar gambar.
Bekas luka kecil di jari telunjuknya pun sama.
Air mataku mulai jatuh.
Selama dua puluh dua tahun hidupku, aku tidak pernah membayangkan harus menyelidiki ayahku sendiri.
Aku tidak langsung memberi tahu Ibu.
Beliau memiliki riwayat tekanan darah tinggi.
Aku takut beliau tidak sanggup menerima kenyataan.
Sebaliknya, aku memutuskan pergi ke Surabaya sendirian.
Aku menggunakan tabungan hasil bekerja paruh waktu.
Sesampainya di Surabaya, aku menyewa kamar hotel sederhana yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari apartemen itu.
Hari pertama aku hanya mengamati.
Pukul delapan pagi.
Ayah keluar dari lobi.
Beliau mengenakan pakaian santai, bukan pakaian kerja.
Di sampingnya berjalan perempuan yang kulihat di Instagram.
Rania.
Anak laki-laki itu menggandeng tangan Ayah sambil tertawa.
“Papa, nanti sore kita ke taman ya.”
Papa.
Dadaku seperti diremas.
Ayah mengusap kepala anak itu.
“Iya, nanti Papa pulang cepat.”
Aku hampir kehilangan keseimbangan.
Selama ini beliau selalu berkata belum sempat memiliki cucu karena aku belum menikah.
Ternyata beliau sudah dipanggil Papa oleh anak lain.
Aku mengikuti mereka dari kejauhan.
Mereka tampak seperti keluarga yang sangat bahagia.
Makan bersama.
Belanja.
Mengantar anak ke taman bermain.
Tak ada sedikit pun tanda bahwa hubungan mereka disembunyikan.
Yang lebih menyakitkan, senyum Ayah di sana jauh lebih lepas dibanding saat berada di rumah.
Malamnya aku duduk sendirian di hotel.
Aku menangis sampai pagi.
Tetapi setelah emosi mereda, pikiranku mulai bekerja.
Ada sesuatu yang aneh.
Kalau benar Ayah memiliki keluarga kedua, mengapa perempuan itu tidak pernah mengunggah wajahnya secara jelas?
Mengapa semua foto selalu memperlihatkan punggung atau samping wajah?
Keesokan harinya aku memberanikan diri mendatangi Rania.
Aku mengaku sebagai mahasiswa yang sedang melakukan survei lingkungan apartemen.
Dia ramah sekali.
Kami mengobrol hampir satu jam.
Tak ada sikap mencurigakan.
Sebelum pulang, seorang kurir datang membawa paket.
Rania menandatangani penerimaan.
Nama penerimanya membuatku terdiam.
Rania Prasetyo.
Bukan Rania Ardi.
Aku bertanya dengan hati-hati.
“Suami Mbak sedang bekerja?”
Wajahnya berubah muram.
“Suami saya meninggal empat tahun lalu karena kecelakaan.”
Aku membeku.
“Lalu… anak Mbak?”
“Iya. Kevin.”
“Dia sering memanggil seseorang dengan sebutan Papa?”
Rania tersenyum tipis.
“Itu Om Ardi.”
“Kevin kehilangan ayahnya saat masih bayi. Sejak tiga tahun terakhir, Om Ardi membantu kami. Kevin sendiri yang mulai memanggil beliau Papa. Berkali-kali kami larang, tapi anak kecil susah mengerti.”
Aku semakin bingung.
“Kalau begitu… hubungan Mbak dengan Om Ardi?”
Rania memandangku cukup lama.
“Lho, kamu sebenarnya siapa?”
Aku menarik napas panjang.
“Aku Alya.”
“Putri Pak Ardi.”
Wajah Rania langsung pucat.
Dia mempersilahkanku masuk.
Beberapa menit kemudian, dia membawa sebuah map cokelat.
Di dalamnya terdapat puluhan dokumen.
Tagihan rumah sakit.
Surat operasi.
Bukti transfer.
Foto-foto lama.
Empat tahun lalu, suami Rania meninggal ketika sedang mengantar barang untuk perusahaan Ayah.
Kecelakaan itu bukan kesalahan siapa pun.
Tetapi Ayah merasa sangat bersalah karena suami Rania bekerja lembur atas permintaannya.
Sejak saat itu Ayah diam-diam membiayai pendidikan Kevin, membeli apartemen agar mereka memiliki tempat tinggal yang layak, bahkan mendirikan perusahaan cabang di Surabaya agar bantuan yang diberikan terlihat sebagai hubungan profesional.
“Beliau berkali-kali bilang tidak boleh memberi tahu keluarganya.”
“Kenapa?”
“Karena beliau takut istri dan anaknya salah paham.”
Aku menatap semua dokumen itu.
Tangisku pecah.
Semua dugaan burukku ternyata keliru.
Namun satu pertanyaan masih tersisa.
“Kalau memang niatnya baik, kenapa harus disembunyikan?”
Rania hanya menggeleng.
“Itu yang harus kamu tanyakan sendiri kepada beliau.”
Malam itu juga aku menelepon Ayah.
“Ayah di mana?”
“Di Jakarta.”
“Ayah bohong.”
Suara di seberang langsung terdiam.
“Aku di Surabaya.”
“Lagi di Emerald Residence.”
Beberapa detik kemudian sambungan terputus.
Setengah jam berikutnya Ayah datang.
Beliau tampak jauh lebih tua daripada yang kuingat.
Kami duduk di taman apartemen tanpa bicara cukup lama.
Akhirnya Ayah membuka suara.
“Ayah memang salah.”
“Bukan karena membantu mereka.”
“Tapi karena memilih menyembunyikannya.”
Beliau bercerita bahwa setiap kali ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Ibu, beliau selalu mengurungkan niat.
Beliau takut dituduh berselingkuh.
Takut kehilangan keluarga.
Semakin lama ditutupi, kebohongan itu semakin besar.
Aku memandang wajah Ayah yang dipenuhi penyesalan.
“Kalau aku tidak datang ke sini?”
“Mungkin Ayah akan terus berbohong.”
Beliau menunduk.
“Iya.”
Beberapa hari kemudian kami pulang ke Bandung bersama.
Ayah mengaku semuanya kepada Ibu tanpa ada yang disembunyikan lagi.
Awalnya Ibu sangat marah.
Beliau bahkan tidak mau berbicara selama beberapa hari.
Namun setelah membaca seluruh dokumen dan bertemu langsung dengan Rania serta Kevin, perlahan kemarahannya berubah menjadi tangis.
“Ternyata selama ini kamu menanggung semua sendiri,” kata Ibu pelan.
Ayah mengangguk.
“Aku hanya tidak tahu cara menjelaskan tanpa membuatmu terluka.”
Sejak hari itu tidak ada lagi perjalanan dinas yang diselimuti kebohongan.
Jika Ayah pergi ke Surabaya, beliau akan mengatakannya terus terang.
Kadang Ibu ikut menemani.
Kadang aku juga.
Kevin akhirnya berhenti memanggil Ayah dengan sebutan Papa setelah perlahan mengerti siapa sebenarnya pria yang selama ini membantunya.
Ia mulai memanggilnya Om Ardi dengan bangga.
Aku belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.
Rahasia, bahkan yang lahir dari niat baik, tetap bisa menghancurkan kepercayaan.
Karena dalam sebuah keluarga, bukan hanya kebenaran yang penting, tetapi juga keberanian untuk mengatakannya sebelum prasangka mengambil alih segalanya.
