Shinta Olivia masih memutar cincin itu di jarinya ketika aku menarik kursi dan duduk perlahan.
Bukan karena aku ingin melanjutkan makan malam.
Aku hanya ingin memastikan semua orang melihat wajahku dengan jelas saat aku menghancurkan pertunangan ini.
“Pak Hendra,” ucapku kepada kepala staf ayahku yang berdiri di dekat pintu, “tolong ambilkan map hitam dari ruang kerja.”
Dimas mendengus kecil.

“Citra, cukup. Kita bisa bicara setelah makan malam.”
Aku tidak mengalihkan pandangan darinya.
“Tidak. Kita bicara sekarang.”
Suasana di meja makan menjadi semakin tegang. Paman, bibi, dan para direktur senior dari kedua keluarga saling bertukar tatapan. Tidak ada seorang pun yang berani menyentuh makanan di hadapan mereka.
Shinta tampak mulai gelisah, tetapi masih berusaha mempertahankan senyum manisnya.
“Mbak Citra, mungkin ini hanya salah paham,” katanya. “Mas Dimas cuma meminjamkan cincin ini sebentar. Aku bahkan tidak tahu kalau cincin ini milik Mbak.”
Aku hampir tertawa.
“Benarkah?”
Shinta mengangguk cepat.
Aku menatap Dimas.
“Apakah kamu juga akan mengatakan hal yang sama?”
Dimas menyandarkan tubuhnya ke kursi, seolah semua yang terjadi hanya gangguan kecil.
“Shinta suka desainnya. Dia hanya mencobanya. Kamu tidak perlu memperbesar masalah.”
“Dia mengambilnya dari mana?”
Pertanyaan itu membuat wajah Dimas sedikit berubah.
Hanya sedetik.
Namun aku melihatnya.
“Dari apartemen,” jawabnya akhirnya.
Aku mengangguk pelan.
“Apartemen yang akses kartu pintunya hanya dimiliki oleh aku dan kamu?”
Dimas tidak menjawab.
Ayahnya, Surya Baskoro, yang sejak tadi diam, akhirnya meletakkan sendoknya dengan keras.
“Dimas, apa maksud semua ini?”
Dimas menoleh kepada ayahnya dengan wajah kesal.
“Ayah tidak perlu ikut campur. Ini masalah pribadi.”
“Masalah pribadi?” Suara Surya meninggi. “Kamu membawa perempuan lain ke meja keluarga calon istrimu, memasangkan cincin pertunangan di jarinya, lalu kamu menyebutnya masalah pribadi?”
Shinta langsung menundukkan kepala.
Namun tangannya tetap mencengkeram lengan Dimas.
Beberapa detik kemudian, Pak Hendra kembali membawa map hitam.
Aku menerimanya, membuka pengaitnya, lalu mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
Dimas menatap map itu dengan alis berkerut.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
“Aku sedang menjalankan hakku.”
Aku membalik halaman sampai menemukan pasal yang kucari.
“Perjanjian pertunangan antara keluarga Wulandari dan Baskoro, pasal sembilan ayat tiga. Salah satu pihak berhak membatalkan kerja sama pernikahan secara sepihak apabila pihak lain terbukti melakukan tindakan yang merusak reputasi, melanggar komitmen eksklusivitas, atau membahayakan kepentingan bisnis kedua keluarga.”
Wajah Dimas mulai menegang.
Aku melanjutkan dengan suara tenang.
“Pelanggaran terhadap pasal tersebut menyebabkan seluruh saham penjaminan milik pihak pelanggar dibekukan sampai proses audit selesai.”
Surya Baskoro berdiri mendadak.
“Audit?”
Aku menatapnya.
“Benar, Pak Surya.”
Dimas ikut berdiri.
“Kamu tidak bisa melakukan itu.”
“Aku bisa.”
“Citra, jangan sok berkuasa hanya karena ayahmu ada di sini.”
Ayahku, Wiratama Wulandari, akhirnya berbicara.
Suaranya rendah, tetapi langsung membuat ruangan membeku.
“Dia tidak membutuhkan kehadiranku untuk berkuasa.”
Dimas menatap ayahku dengan wajah pucat.
Ayah melanjutkan, “Delapan puluh persen negosiasi proyek ini disusun oleh Citra. Dana investasi juga berasal dari divisi yang dia pimpin. Kamu datang ke sini bukan sebagai penyelamat perusahaan kami. Justru perusahaanmu yang membutuhkan kerja sama ini.”
Kalimat itu seperti tamparan.
Shinta perlahan melepaskan tangannya dari lengan Dimas.
Aku melihat gerakan kecil itu.
Dimas juga menyadarinya.
Dia menoleh tajam kepada Shinta, tetapi wanita itu pura-pura tidak melihat.
Aku mengambil pulpen dari atas meja, lalu menandatangani halaman pembatalan.
Suara goresan tinta terdengar begitu jelas.
Setelah selesai, aku mendorong dokumen itu ke tengah meja.
“Mulai malam ini, pertunangan ini dibatalkan.”
Dimas tertawa pendek, tetapi tawanya terdengar dipaksakan.
“Kamu pikir aku akan memohon?”
“Tidak.”
Aku menutup pulpen.
“Aku hanya berharap kamu cukup dewasa untuk menerima konsekuensinya.”
Shinta tiba-tiba bangkit dari kursinya.
“Mbak Citra, tunggu. Ini semua bukan salah Mas Dimas.”
Semua mata beralih kepadanya.
Dia menarik napas, lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca.
“Mas Dimas bilang pertunangan kalian hanya formalitas. Dia bilang keluarga Baskoro tidak akan pernah membiarkan pernikahan ini batal karena proyek besar itu. Dia juga bilang setelah menikah, aku tetap bisa berada di sisinya.”
Dimas menoleh padanya dengan wajah marah.
“Shinta, diam.”
“Tapi Mas sendiri yang bilang begitu.”
“Cukup!”
Bentakan Dimas membuat Shinta terkejut.
Namun aku justru memperhatikan hal lain.
Kalimat Shinta mengonfirmasi sesuatu yang selama ini hanya menjadi kecurigaanku.
Dimas tidak sekadar berselingkuh.
Dia sudah menyusun hidup ganda dan yakin aku akan menerimanya demi bisnis.
Aku menatap Shinta.
“Lepaskan cincin itu.”
Wajahnya memucat.
“Apa?”
“Cincin itu bukan milikmu.”
Shinta menggigit bibir.
Untuk pertama kalinya, sikap manjanya lenyap.
Dia menarik cincin itu, tetapi cincin tersebut tersangkut di jarinya.
Tangannya mulai gemetar.
Dimas berdiri di sampingnya, tidak membantu sedikit pun.
Akhirnya Shinta berhasil melepaskannya dan meletakkannya di atas meja.
Cincin itu memantulkan cahaya lampu kristal.
Dulu aku menganggapnya simbol kestabilan.
Malam ini, benda itu hanya terlihat seperti bukti kebodohan.
Aku mengambil cincin itu dengan tisu, lalu menyerahkannya kepada Ibu Besar Baskoro.
“Cincin ini saya kembalikan kepada keluarga Baskoro.”
Nenek Dimas menerima cincin tersebut dengan tangan gemetar.
Wajahnya penuh malu.
“Citra, Nenek minta maaf.”
Aku menundukkan kepala dengan hormat.
“Kesalahan ini bukan kesalahan Nenek.”
Dimas menatapku seolah masih belum percaya bahwa aku benar-benar pergi.
“Kamu akan menyesal.”
Aku menatapnya.
“Tidak, Dimas. Aku hanya menyesal tidak melakukannya lebih cepat.”
Aku berdiri dan hendak meninggalkan ruangan ketika Pak Hendra mendekat, lalu berbisik di telingaku.
“Bu Citra, tim audit internal baru mengirimkan sesuatu. Ada transaksi mencurigakan dari rekening proyek Baskoro Corps.”
Aku berhenti melangkah.
“Apa nilainya?”
“Dua belas miliar rupiah.”
Seluruh tubuhku menegang.
“Ke mana dana itu dialihkan?”
Pak Hendra melirik Shinta.
“Ke perusahaan bernama Olivia Creative Holdings.”
Ruangan langsung hening lagi.
Shinta tampak seperti kehilangan seluruh darah dari wajahnya.
Dimas berteriak, “Itu tidak ada hubungannya dengan dia!”
Aku berbalik perlahan.
“Olivia?”
Shinta mundur satu langkah.
“Itu bukan perusahaan saya.”
Pak Hendra membuka tablet dan menunjukkan dokumen digital.
“Direktur utamanya adalah Shinta Olivia. Perusahaan didirikan delapan bulan lalu.”
Surya Baskoro menatap putranya dengan mata merah.
“Dimas, apa yang kamu lakukan?”
Dimas mengatupkan rahangnya.
“Itu hanya dana konsultasi.”
“Untuk perusahaan tanpa karyawan?” tanyaku.
Dia tidak menjawab.
Ayahku berdiri.
“Proyek dibekukan mulai malam ini.”
Surya Baskoro mendekati Dimas dan menamparnya.
Suara tamparan itu menggema di seluruh ruangan.
Shinta menjerit kecil.
Dimas memegang pipinya, lalu menatap ayahnya dengan penuh kebencian.
“Ayah lebih membela mereka daripada anak sendiri?”
“Aku membela perusahaan yang kamu hampir hancurkan!”
Dimas menunjuk ke arahku.
“Semua ini karena dia! Dia sengaja mempermalukanku!”
Aku tertawa kecil.
“Kamu masih belum mengerti. Aku tidak perlu mempermalukanmu. Kamu melakukannya sendiri.”
Dimas maju satu langkah ke arahku, tetapi dua petugas keamanan langsung berdiri di depan.
Shinta tiba-tiba menangis.
“Mas, kamu bilang uang itu aman.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Dimas membeku.
Shinta menutup mulutnya, menyadari kesalahan yang baru saja ia lakukan.
Aku mempersempit pandangan.
“Aman dari siapa?”
Shinta menggeleng panik.
“Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa-apa.”
Dimas mencengkeram pergelangan tangannya.
“Jangan bicara lagi.”
Shinta meringis kesakitan.
Aku memberi isyarat kepada petugas keamanan untuk memisahkan mereka.
Setelah tangannya terbebas, Shinta langsung berdiri di belakangku.
Sikapnya berubah total.
Wanita yang beberapa menit lalu memamerkan cincinku sekarang mencari perlindungan dariku.
“Aku punya bukti,” katanya dengan suara bergetar.
Dimas memaki.
“Shinta!”
“Aku punya rekaman percakapan dan salinan transaksi. Mas Dimas menyuruhku membuat perusahaan itu. Dia bilang uangnya akan dipakai sementara, lalu dikembalikan setelah proyek disetujui.”
Surya Baskoro terduduk lemas.
Ibu Dimas mulai menangis.
Aku menatap Shinta lama.
“Kenapa kamu menyimpan bukti?”
Dia menelan ludah.
“Karena aku tidak percaya sepenuhnya kepadanya.”
Jawaban itu begitu ironis hingga hampir membuatku tersenyum.
Seorang wanita yang datang untuk menghancurkan harga diriku ternyata juga tahu bahwa pria yang bersamanya tidak bisa dipercaya.
“Berikan semua bukti kepada tim hukum,” kataku.
Shinta mengangguk cepat.
“Aku akan memberikan semuanya.”
Dimas mengamuk.
“Kamu perempuan tidak tahu diri! Semua yang kamu pakai dibeli dari uangku!”
Shinta menatapnya dengan air mata mengalir.
“Dan semua janji Mas ternyata dibeli dari kebohongan.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat sesuatu yang manusiawi di wajahnya.
Bukan kemenangan.
Bukan kesombongan.
Hanya penyesalan.
Petugas keamanan membawa Dimas keluar dari ruang makan setelah ayahnya memerintahkan agar aksesnya ke seluruh rekening perusahaan dibekukan.
Shinta duduk lemas di kursi, sementara anggota keluarga Baskoro mulai meninggalkan ruangan satu per satu.
Jamuan makan yang dirancang untuk mengikat dua keluarga berakhir dengan runtuhnya satu dinasti bisnis.
Aku berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman.
Ayah menghampiriku.
“Kamu baik-baik saja?”
Aku mengangguk, meskipun dadaku terasa berat.
“Aku tidak sedih kehilangan Dimas.”
Ayah menatapku dengan tenang.
“Lalu kenapa matamu merah?”
Aku terdiam.
Karena yang menyakitkan bukanlah kehilangan pria itu.
Yang menyakitkan adalah menyadari bahwa selama dua tahun, aku menerima begitu sedikit dan menyebutnya kompromi.
Aku membiarkan sikap dinginnya.
Aku memaklumi ketidakhadirannya.
Aku bahkan meyakinkan diriku bahwa rasa hormat cukup untuk menggantikan cinta.
Ternyata rasa hormat pun tidak pernah ada.
“Aku marah kepada diriku sendiri,” kataku.
Ayah menggeleng.
“Jangan menghukum dirimu karena pernah percaya. Yang salah adalah orang yang menyalahgunakan kepercayaan itu.”
Tiga bulan setelah malam tersebut, hasil audit resmi keluar.
Dimas terbukti mengalihkan dana perusahaan, memalsukan laporan konsultasi, dan menggunakan nama Shinta untuk menyembunyikan transaksi.
Baskoro Corps terpaksa melakukan restrukturisasi besar. Surya Baskoro mengundurkan diri dari jabatan komisaris dan menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tim profesional.
Dimas dijatuhi hukuman penjara.
Shinta menjadi saksi utama.
Dia mengembalikan seluruh aset yang dibeli dari dana ilegal dan memulai hidup baru di kota lain.
Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Namun suatu sore, sebuah paket kecil tiba di kantorku.
Di dalamnya ada kotak beludru berisi cincin pertunangan lama.
Aku terkejut karena kupikir cincin itu sudah kembali ke keluarga Baskoro.
Di bawahnya terdapat surat pendek dari Ibu Besar Baskoro.
Citra, cincin ini tidak pantas lagi menjadi simbol dua keluarga. Lelehkanlah, jual, atau buang. Namun Nenek berharap kamu mengubahnya menjadi sesuatu yang baru, agar benda yang pernah menjadi lambang penghinaan bisa berubah menjadi lambang kebebasan.
Aku membawa cincin itu ke pengrajin perhiasan.
Berlian utamanya dilepas.
Emas putihnya dilebur.
Beberapa minggu kemudian, cincin itu berubah menjadi bros kecil berbentuk burung yang sedang membuka sayap.
Aku memakainya pada hari peresmian yayasan pendidikan baru milik Wulandari Group.
Yayasan itu didirikan untuk membantu perempuan muda memperoleh pendidikan bisnis dan perlindungan hukum agar mereka tidak mudah dimanipulasi oleh kekuasaan, hubungan, maupun uang.
Seorang wartawan bertanya kepadaku tentang bros tersebut.
“Apakah itu simbol keberuntungan?”
Aku menyentuh bros di dadaku dan tersenyum.
“Bukan.”
“Lalu simbol apa?”
Aku menatap kamera.
“Simbol bahwa sesuatu yang pernah digunakan untuk merendahkan kita tidak harus terus membawa rasa sakit. Kadang-kadang, kita hanya perlu keberanian untuk mengubah bentuknya.”
Malam ketika Dimas membawa wanita simpanannya ke meja keluargaku, dia mengira cincin itu membuktikan bahwa aku sudah kehilangan posisiku.
Dia salah.
Malam itu justru menjadi saat pertama kalinya aku benar-benar merebut kembali hidupku.
