ANAK JALANAN BERUSIA DUA BELAS TAHUN YANG MELINDUNGI GADIS KECIL KAYA SELAMA TIGA BULAN AKHIRNYA BERTEMU IBUNYA DI LAMPU MERAH, TAPI ADIK IPAR SANG IBU MENGANCAM NYAWA MEREKA DENGAN SENJATA

Namaku Rafi. Usia baru dua belas tahun, tapi hidup sudah mengajariku lebih banyak daripada yang dipelajari kebanyakan orang dewasa. Aku tinggal di bawah kolong jembatan layang di Jakarta Selatan, tidur beralaskan kardus bekas dan bangun setiap pagi hanya untuk memastikan aku masih bisa bertahan hidup satu hari lagi. Aku mengelap kaca mobil di lampu merah, mengumpulkan kaleng bekas, lalu berharap ada sisa makanan yang dibuang pedagang pasar.

Dulu aku berpikir tidak ada lagi yang bisa membuat hidupku berubah.

Sampai aku menemukan seorang anak perempuan kecil menangis sendirian di belakang tumpukan sampah.

Ia mengenakan gaun yang sudah kotor, tetapi jelas sangat mahal. Sepasang sepatu mungilnya hilang sebelah. Jepit rambut berbentuk kupu-kupu masih menempel di rambutnya yang kusut. Wajahnya dipenuhi air mata.

“Ayah… Mama…”

Suara kecil itu membuatku berhenti.

Aku baru hendak menghampirinya ketika dua pria bertubuh besar muncul di ujung gang. Mereka melihat sekeliling sambil memperlihatkan foto seorang anak.

“Kalau ketemu bocah ini, langsung kabari.”

Nada suara mereka membuat bulu kudukku berdiri.

Entah mengapa, aku langsung yakin mereka bukan orang baik.

Tanpa berpikir panjang, aku mengangkat anak itu dan menyembunyikannya di gerobak kardusku. Aku mendorong gerobak sekencang mungkin melewati gang sempit hingga napasku hampir putus.

Anak itu terus menangis.

Aku mencoba menenangkannya.

“Mulai sekarang Abang yang jagain.”

Sejak hari itu aku memanggilnya Nayla.

Selama tiga bulan kami hidup bersama.

Aku rela kelaparan supaya Nayla bisa minum susu. Kalau mendapatkan uang lebih, aku membelikannya roti atau pisang. Saat hujan turun, aku membiarkannya tidur di bagian gerobak yang paling kering sementara aku duduk di luar kehujanan.

Lama-kelamaan Nayla berhenti menangis.

Ia mulai tertawa.

Setiap pagi ia memelukku.

“Abang…”

Satu kata itu membuatku merasa untuk pertama kalinya ada seseorang yang benar-benar membutuhkan kehadiranku.

Aku tidak tahu siapa keluarganya.

Aku hanya tahu siapa pun yang mengejarnya bukan orang yang boleh menemukannya.

Semua berubah pada pagi ketika Nayla demam tinggi.

Tubuhnya panas sekali.

Ia tidak sanggup membuka mata.

Aku panik.

Aku menggendongnya ke apotek terdekat.

“Tolong… saya cuma butuh obat penurun panas…”

Penjaga apotek bahkan tidak melihat kondisi Nayla.

“Pergi! Jangan mengemis di sini!”

Pintu ditutup tepat di depan wajahku.

Aku menggigit bibir hingga berdarah.

Aku tidak boleh menyerah.

Aku membawa Nayla menuju kawasan elite. Di sana mungkin ada orang yang masih memiliki hati.

Hujan turun semakin deras.

Kami tiba di sebuah lampu merah.

Aku mengetuk kaca sebuah SUV hitam.

“Tolong… anak ini sakit…”

Wanita di kursi belakang menoleh.

Tatapannya langsung membeku.

“Nayla!”

Ia menjerit begitu keras hingga semua orang menoleh.

Tasnya terjatuh.

Air matanya langsung mengalir.

“Itu putriku!”

Aku belum sempat memahami apa yang terjadi ketika pria yang duduk di sampingnya menurunkan kaca mobil.

Wajahnya pucat.

Matanya penuh kepanikan.

Ia mengeluarkan pistol.

“Serahkan anak itu.”

Ujung laras dingin itu menempel di dahiku.

Jantungku berdetak sangat keras.

Wanita itu berteriak.

“Raka! Jangan!”

Pria bernama Raka tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dariku.

“Kalau anak ini masih hidup, semuanya selesai.”

Kalimat itu terdengar aneh.

Mengapa pamannya sendiri ingin mengambil Nayla dengan pistol?

Aku memeluk Nayla semakin erat.

“Bu… dia takut sama orang jahat…”

Indira, wanita itu, langsung menangis lebih keras.

“Nayla… Mama di sini…”

Tiba-tiba Nayla membuka matanya sedikit.

Ia memandang wajah Indira.

“Mama…”

Satu kata itu membuat dunia seolah berhenti.

Lampu lalu lintas berubah hijau.

Mobil-mobil mulai membunyikan klakson.

Namun tak seorang pun bergerak.

Raka menarik pelatuk sedikit.

“Tinggalkan anak itu!”

Belum sempat ia melakukan apa pun, suara sirene terdengar dari kejauhan.

Raka langsung menoleh.

Kesempatan itu kugunakan untuk berlari.

Aku tidak tahu harus ke mana.

Yang kupikirkan hanya menyelamatkan Nayla.

Raka keluar dari mobil sambil mengejarku.

Orang-orang mulai berteriak.

“Dia bawa pistol!”

Aku berlari memasuki gang sempit yang hanya kukenal sendiri.

Hujan membuat jalan licin.

Napasku hampir habis.

Nayla semakin lemas di punggungku.

Raka terus mengejar.

“Aku bilang berhenti!”

Terdengar suara tembakan.

Peluru mengenai dinding tepat di samping kepalaku.

Aku tidak berhenti.

Aku terus berlari.

Gang itu berakhir di sebuah jalan besar.

Tepat ketika Raka hampir menangkapku, beberapa mobil polisi datang dari arah berlawanan.

Raka membeku.

Indira turun dari mobil sambil berlari.

“Rafi! Serahkan Nayla padaku!”

Aku menatap wajahnya.

Ada sesuatu dalam matanya.

Ketulusan.

Aku perlahan menyerahkan Nayla.

Indira memeluk putrinya sambil menangis histeris.

“Aku janji Mama tidak akan kehilangan kamu lagi…”

Polisi langsung mengepung Raka.

Namun yang terjadi berikutnya membuat semua orang terkejut.

Raka justru tertawa.

“Kalian terlambat.”

Ia membuang pistolnya.

“Aku memang sengaja membawa kalian ke sini.”

Beberapa mobil hitam tiba-tiba muncul dari ujung jalan.

Belasan pria bersenjata turun bersamaan.

Mereka ternyata kelompok yang menculik Nayla.

Situasi berubah menjadi kacau.

Warga berlarian.

Polisi berlindung.

Baku tembak tak terhindarkan.

Aku melihat salah satu pria menyelinap dari belakang menuju Indira yang sedang memeluk Nayla.

Tanpa berpikir panjang aku berteriak.

“Bu! Belakang!”

Pria itu mengangkat pisau.

Aku langsung menerjang tubuhnya.

Kami sama-sama jatuh ke aspal.

Pisau itu menggores lenganku cukup dalam.

Sakitnya luar biasa.

Tetapi pisau itu gagal mengenai Indira.

Polisi akhirnya berhasil melumpuhkan seluruh kelompok tersebut.

Beberapa ditangkap hidup-hidup.

Termasuk Raka.

Di kantor polisi, semuanya mulai terungkap.

Tiga bulan sebelumnya, Raka bekerja sama dengan kelompok kriminal untuk menculik Nayla.

Ia ingin memaksa Indira menyerahkan seluruh saham perusahaan keluarga.

Namun Nayla berhasil melarikan diri ketika para penculik berpindah tempat persembunyian.

Mereka terus mencarinya selama berbulan-bulan.

Raka berpura-pura membantu pencarian sambil mengendalikan semua informasi dari dalam keluarga.

Tak seorang pun pernah mencurigainya.

Kalau hari itu aku menyerahkan Nayla tanpa bertahan, mungkin ia sudah dibunuh untuk menghilangkan semua jejak.

Seminggu kemudian aku masih dirawat di rumah sakit.

Luka di lenganku cukup dalam.

Aku merasa canggung berada di ruangan yang bersih.

Kasur empuk membuatku sulit tidur.

Suatu sore Indira datang bersama Nayla.

Begitu melihatku, Nayla langsung turun dari kursi roda kecilnya dan memelukku.

“Abang…”

Aku tersenyum.

Indira menggenggam tanganku.

“Aku sudah mencari tahu tentangmu.”

Aku menunduk.

“Tidak ada yang perlu dicari, Bu.”

“Ada.”

Ia menggeleng pelan.

“Kamu tidak pernah punya keluarga karena kehilangan orang tuamu saat banjir sepuluh tahun lalu.”

Aku terdiam.

Aku bahkan hampir lupa wajah ayah dan ibuku.

Indira mengeluarkan sebuah map.

“Aku ingin mengadopsimu.”

Aku membelalak.

“Apa?”

“Aku tidak bisa membalas semua yang sudah kamu lakukan. Tapi kalau kamu bersedia, mulai hari ini kamu tidak perlu tidur di jalan lagi.”

Air mataku langsung jatuh.

“Aku cuma anak jalanan.”

“Bukan.”

Indira tersenyum.

“Kamu anak paling berani yang pernah kutemui.”

Beberapa bulan kemudian hidupku berubah sepenuhnya.

Aku mulai sekolah.

Aku belajar membaca lebih lancar.

Aku punya kamar sendiri.

Aku punya seragam.

Aku bahkan punya sepeda.

Namun yang paling berharga bukan semua itu.

Setiap pagi Nayla selalu mengetuk pintu kamarku.

“Abang, ayo sarapan.”

Ia masih memanggilku Abang.

Dan aku selalu menjawab dengan senyum.

Suatu hari sekolahku mengadakan acara penghargaan bagi orang-orang yang berjasa menyelamatkan nyawa.

Namaku dipanggil ke atas panggung.

Aku gugup.

Di hadapan ratusan orang, kepala sekolah bertanya,

“Kalau waktu bisa diputar kembali, apakah kamu masih akan memilih melindungi Nayla meski tahu nyawamu sendiri terancam?”

Aku menoleh ke arah bangku penonton.

Indira tersenyum sambil memegang tangan Nayla.

Aku menarik napas panjang.

“Ya.”

“Kenapa?”

Karena dulu aku berpikir aku tidak punya siapa-siapa. Tapi ternyata, kadang keluarga bukanlah orang yang memiliki darah yang sama dengan kita. Keluarga adalah orang yang memilih tetap saling menjaga, bahkan ketika seluruh dunia terasa memusuhi mereka.

Ruangan itu hening.

Kemudian tepuk tangan bergema memenuhi aula.

Di antara suara tepuk tangan itu, Nayla berdiri sambil melambaikan tangan kecilnya.

“Itu Abangku!”

Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak lagi merasa seperti anak jalanan yang tak berarti.

Aku hanya seorang kakak yang pernah memilih melindungi seorang adik kecil.

Dan pilihan itu ternyata menyelamatkan bukan hanya hidup Nayla, tetapi juga hidupku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang