PUTRA KAMI YANG BARU BERUSIA TUJUH TAHUN MENYENTUH JEMARI ISTRUKU YANG MASIH HANGAT DI DALAM PETI DAN MENGUNGKAP RENCANA KAKAKKU YANG HENDAK MEMBUAT ISTRUKU GIVING UP LIFE UNTUK MEREBUT BISNIS DAN HAK ASUH ANAK KAMI

Aku masih bisa mengingat dengan jelas panas matahari yang menyengat kulitku ketika berdiri di tepi liang lahat itu. Bau tanah basah bercampur bunga melati memenuhi udara. Orang-orang menangis. Doa-doa dipanjatkan. Semua orang percaya istriku telah pergi untuk selamanya.

Semua orang.

Kecuali putraku.

Bima yang baru berusia tujuh tahun tiba-tiba berlari menuju peti mati dan menyelipkan jemarinya ke celah sempit yang belum tertutup rapat.

“Ayah! Tangan Mama hangat! Mama masih bernapas!”

Detik itu juga dunia seolah berhenti.

Aku menghantam pengunci peti dengan kedua tangan hingga kulit jariku robek. Saat tutup peti akhirnya terbuka, semua pelayat menjerit.

Maya membuka matanya.

Dadanya bergerak pelan. Bibirnya pecah-pecah. Kuku-kukunya patah penuh darah, seolah ia sudah berjam-jam berusaha keluar dari peti yang mengurungnya.

Aku mengangkat tubuhnya sambil berteriak meminta ambulans.

Di tengah napas yang tersengal, Maya hanya sempat membisikkan satu nama.

“Dewi…”

Aku langsung menoleh.

Kakakku berdiri beberapa meter dariku. Wajahnya sama sekali tidak terlihat terkejut. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa syukur karena adik iparnya ternyata masih hidup.

Tatapannya justru seperti seseorang yang baru saja kehilangan kesempatan besar.

Perasaan dingin merayap di sepanjang tulang punggungku.

Ambulans membawa Maya ke rumah sakit terdekat. Dokter berlari memasukkannya ke ruang gawat darurat. Aku hanya bisa duduk di lorong bersama Bima yang terus menggenggam bajuku.

Beberapa jam kemudian seorang dokter keluar.

“Kami berhasil menyelamatkannya.”

Aku hampir jatuh berlutut.

“Tapi ada sesuatu yang aneh.”

Dokter menunjukkan hasil pemeriksaan laboratorium.

“Di dalam tubuh istri Anda ditemukan kadar obat penenang yang sangat tinggi. Jumlahnya cukup untuk membuat seseorang tampak meninggal tanpa benar-benar kehilangan fungsi organ.”

Aku menatap dokter tanpa berkedip.

“Artinya…?”

“Ini bukan kematian alami.”

Kepalaku berdengung.

Seseorang telah mencoba mengubur istriku hidup-hidup.

Aku langsung teringat Dewi.

Namun aku tidak punya bukti.

Maya baru sadar keesokan harinya.

Wajahnya masih pucat, tetapi matanya langsung mencari aku dan Bima.

Begitu kami tinggal bertiga di kamar, ia mulai menangis.

“Aku mendengar semuanya.”

“Apa?”

“Saat tubuhku tidak bisa bergerak, aku masih sadar.”

Dadaku terasa sesak.

“Aku mendengar Dewi berbicara dengan seseorang.”

“Dia bilang setelah aku dikuburkan, semuanya akan selesai. Bisnis keluarga akan sepenuhnya menjadi miliknya. Dan Bima akan diasuh olehnya karena kamu dianggap tidak mampu mengurus anak sendirian.”

Aku mengepalkan tangan.

“Tapi kenapa?”

Maya memejamkan mata.

“Karena ayahmu pernah mengubah surat warisan.”

Aku terdiam.

Selama ini aku tidak pernah peduli soal warisan.

Maya melanjutkan.

“Sebulan lalu ayahmu ternyata meninggalkan surat tambahan yang belum pernah dibuka. Dalam surat itu disebutkan kalau saham terbesar perusahaan akan diberikan kepada kamu dan Bima setelah lima tahun.”

Aku benar-benar tidak tahu.

Maya tersenyum pahit.

“Dewi tahu lebih dulu.”

Malam itu aku pulang ke rumah hanya untuk mengambil beberapa pakaian.

Begitu membuka pintu, aku melihat ruang kerja berantakan.

Laci-laci terbuka.

Berkas-berkas hilang.

Seseorang jelas sedang mencari sesuatu.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lantai atas.

Aku naik perlahan.

Di ruang kerja ayah, kulihat Dewi sedang membuka brankas.

Ia membeku saat melihatku.

“Arga?”

“Apa yang sedang kamu cari?”

Ia langsung tersenyum tenang.

“Aku hanya merapikan dokumen.”

Aku menatap koper hitam di sampingnya yang sudah penuh map.

“Kamu menyebut merampok rumah keluarga sebagai merapikan?”

Wajahnya berubah dingin.

“Aku sudah mengurus perusahaan ini bertahun-tahun. Semua itu milikku.”

“Bukan dengan membunuh Maya.”

Untuk pertama kalinya ekspresi Dewi retak.

“Jangan sembarangan menuduh.”

“Aku sudah tahu soal obat penenang.”

Ia tertawa pelan.

“Kalau memang aku pelakunya, buktikan.”

Lalu ia pergi begitu saja.

Aku sadar dia terlalu percaya diri.

Artinya semua bukti sudah dihilangkan.

Beberapa hari kemudian Maya mulai pulih.

Namun sesuatu yang aneh terjadi.

Bima tiba-tiba berkata,

“Ayah, aku ingat waktu Tante Dewi datang malam itu.”

Aku menoleh.

“Malam apa?”

“Malam sebelum Mama pingsan.”

Aku dan Maya saling memandang.

Bima mengambil tas sekolahnya lalu mengeluarkan sebuah mobil-mobilan kecil.

“Itu punya siapa?”

“Tante Dewi kasih.”

Aku membalik mainan itu.

Di bagian bawah terdapat kamera kecil seukuran kuku.

Aku membeku.

Seseorang ternyata sengaja memasang kamera di rumah kami.

Aku segera membawa benda itu kepada seorang teman lama yang bekerja di bidang keamanan digital.

Setelah memeriksa kartu memorinya, ia memanggilku dengan wajah serius.

“Arga… kamu harus lihat ini.”

Rekaman memperlihatkan malam sebelum Maya pingsan.

Dewi datang membawa makanan.

Ia memeluk Maya.

Saat Maya mengambil minuman di dapur, Dewi diam-diam menuangkan cairan bening dari botol kecil ke dalam gelas.

Seluruh tubuhku gemetar.

Lalu terdengar suara Dewi yang tidak sadar sedang direkam.

“Besok semuanya selesai.”

“Itu cukup untuk membuatnya terlihat mati.”

Aku langsung menyerahkan rekaman kepada polisi.

Dewi ditangkap dua hari kemudian.

Namun saat diperiksa, ia tetap tenang.

“Video itu tidak membuktikan apa pun.”

Polisi memang kesulitan.

Botol racun sudah tidak ditemukan.

Sidik jari tidak ada.

Kasus hampir berhenti.

Sampai sebuah kejutan datang dari orang yang tidak pernah kami duga.

Seorang perempuan tua datang ke kantor polisi.

Namanya Bu Ratna.

Ia mantan perawat pribadi ayah kami.

Tangannya gemetar ketika menyerahkan sebuah flashdisk.

“Saya sudah diam terlalu lama.”

Di dalam rekaman itu terlihat ayah kami beberapa bulan sebelum meninggal.

Ia sedang berbicara kepada kamera.

“Dewi memaksa saya mengubah surat warisan.”

“Dia mengancam akan mencelakai Arga dan keluarganya.”

“Kalau sesuatu terjadi pada saya atau Maya, polisi harus menyelidiki Dewi.”

Ruangan menjadi sunyi.

Bahkan polisi yang memutar video itu ikut terdiam.

Dewi akhirnya kehilangan ketenangannya.

“Itu bohong!”

Namun semuanya terlambat.

Penyelidikan dibuka kembali.

Jejak transaksi ke rekening seorang dokter palsu ditemukan.

Dokter yang menyatakan Maya meninggal ternyata menerima uang dalam jumlah besar seminggu sebelum kejadian.

Ia akhirnya mengaku.

Dewi membayarnya agar membuat surat kematian palsu.

Ketika sidang dimulai, ruang pengadilan dipenuhi wartawan.

Semua orang ingin melihat bagaimana seorang kakak kandung hampir mengubur adiknya sendiri demi harta.

Hakim menjatuhkan hukuman berat kepada Dewi.

Ia menangis untuk pertama kalinya.

Bukan karena menyesal.

Melainkan karena seluruh kekuasaan yang selama ini ia banggakan hilang dalam sekejap.

Perusahaan keluarga kemudian diserahkan kepadaku sesuai wasiat ayah.

Namun aku tidak pernah merasa menang.

Aku menjual sebagian besar aset perusahaan dan menggunakan hasilnya untuk mendirikan yayasan bantuan hukum bagi korban penipuan warisan dan kekerasan dalam keluarga.

Maya perlahan kembali menjalani hidupnya.

Bekas luka di kukunya tidak pernah hilang.

Setiap kali melihatnya, aku selalu teringat betapa dekatnya kami kehilangan segalanya.

Suatu sore, beberapa bulan setelah semua berakhir, kami bertiga mengunjungi TPU Cikadut.

Liang yang dulu hampir menjadi tempat peristirahatan Maya kini dipenuhi rumput hijau.

Bima berdiri memandangi nisan kosong yang dulu telah disiapkan untuk ibunya.

“Mama.”

“Iya, Nak?”

“Aku senang waktu itu aku pegang tangan Mama.”

Maya memeluknya erat.

“Kalau bukan karena kamu, Mama mungkin benar-benar tidak ada di sini.”

Bima tersenyum polos.

“Aku cuma merasa tangan Mama hangat. Guru pernah bilang kalau orang yang tidur itu badannya masih hangat.”

Aku memandang langit yang mulai berwarna jingga.

Kadang keajaiban tidak datang dalam bentuk mukjizat besar.

Kadang keajaiban hadir melalui keberanian seorang anak kecil yang menolak percaya bahwa orang yang paling dicintainya telah pergi.

Dan sejak hari itu aku belajar bahwa cinta yang tulus sering kali melihat kebenaran lebih cepat daripada mata orang dewasa yang terlalu mudah percaya pada apa yang tampak di permukaan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang