Sita baru mendapat kabar jika putranya yang masih duduk di bangku SD, sekarang ada di kantor polisi.

Sita tidak pernah menyangka bahwa dalam satu pagi, hidup yang selama ini ia banggakan akan runtuh seperti istana pasir yang diterjang ombak.

Telepon pertama memberitahunya bahwa putranya, Evan, dibawa ke kantor polisi setelah seorang teman sekolah mengalami luka serius akibat perkelahian. Telepon kedua datang hanya tiga puluh menit kemudian. Ayahnya ditangkap atas dugaan penggelapan dana perusahaan. Belum sempat ia mencerna semuanya, sekretaris suaminya mengabarkan bahwa Riko menghilang dan tidak menghadiri rapat penting yang seharusnya menentukan masa depan kariernya.

Semua terjadi terlalu cepat.

Sita duduk di lantai kamarnya yang berantakan. Vas bunga pecah. Bingkai foto keluarga tergeletak miring. Di dalam foto itu, mereka tampak tersenyum sempurna. Tak seorang pun akan percaya bahwa keluarga yang terlihat begitu bahagia ternyata sedang berada di ambang kehancuran.

Dengan tangan gemetar, ia memutuskan pergi ke kantor polisi.

Begitu turun dari mobil, puluhan mata langsung memandang ke arahnya. Beberapa orang berbisik. Seorang wanita bergaun putih berdiri di dekat pintu masuk sambil menatapnya penuh kebencian.

Itu adalah ibu korban.

Wanita itu melangkah mendekat.

“Akhirnya kamu datang juga.”

Sita menundukkan kepala.

“Saya benar-benar minta maaf…”

Wanita itu menggeleng.

“Maaf tidak bisa menghapus trauma anak saya.”

Sita tidak mampu membalas. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa semua kekayaan dan status sosialnya tidak memiliki arti apa pun.

Di ruang pemeriksaan, Evan duduk dengan wajah pucat.

Anak itu tidak menangis.

Ia hanya memandangi lantai.

“Evan…” bisik Sita.

Anak itu mengangkat wajahnya perlahan.

“Mama…”

Sita langsung memeluknya.

“Kamu kenapa melakukan ini?”

Beberapa detik berlalu sebelum Evan menjawab.

“Aku enggak sengaja…”

Seorang penyidik meletakkan sebuah tablet di atas meja.

“Silakan lihat rekaman CCTV sekali lagi.”

Video itu diputar.

Terlihat korban lebih dulu mendorong Evan hingga jatuh. Anak-anak lain hanya menonton.

Korban kembali menghina Evan sambil menunjuk-nunjuk wajahnya.

Tiba-tiba Evan bangkit dan mendorong balik.

Korban kehilangan keseimbangan, terjatuh ke tepi bangku beton, lalu bagian perutnya menghantam sudut besi yang menonjol.

Semua terjadi hanya dalam hitungan detik.

Penyidik berkata pelan.

“Yang menyebabkan luka serius bukan pukulannya. Korban jatuh dengan posisi yang sangat tidak beruntung.”

Air mata Sita langsung mengalir.

Berita yang beredar di media sosial ternyata sudah dibesar-besarkan.

Meski begitu, Evan tetap harus menjalani pendampingan psikologis karena menggunakan kekerasan.

Sita mengangguk pelan.

Ia tidak lagi berusaha mencari pembelaan.

Kesalahan tetaplah kesalahan.

Saat keluar dari kantor polisi, teleponnya kembali berdering.

Nomor yang sangat dikenalnya.

Riko.

Sita langsung mengangkat.

“Mas! Kamu di mana?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik.

Suara Riko terdengar sangat pelan.

“Aku di rumah sakit.”

Jantung Sita kembali berdegup kencang.

“Rumah sakit mana?”

“Aku kecelakaan tadi pagi.”

Sita langsung melaju menuju rumah sakit.

Sesampainya di sana, ia melihat Riko terbaring dengan lengan diperban.

Namun yang membuatnya terkejut bukan kondisi suaminya.

Di samping tempat tidur berdiri seorang pria tua berjas sederhana.

Begitu melihat Sita, pria itu tersenyum tipis.

“Akhirnya kita bertemu.”

Sita mengernyit.

“Maaf… kita kenal?”

Pria itu mengangguk.

“Saya pemilik perusahaan tempat ayahmu bekerja.”

Tubuh Sita mendadak kaku.

Pria itu duduk perlahan.

“Saya ingin mengatakan sesuatu yang mungkin sulit kamu terima.”

Ruangan mendadak terasa sunyi.

“Selama lima tahun terakhir, ayahmu bukan hanya menggelapkan uang perusahaan.”

Sita menatap pria itu tanpa berkedip.

“Ia juga memalsukan laporan keuangan dan berusaha menjebak suamimu.”

Sita langsung menoleh ke arah Riko.

Riko hanya menghela napas.

“Aku sebenarnya sudah tahu sejak enam bulan lalu.”

Sita membelalakkan mata.

“Kamu tahu?”

Riko mengangguk.

“Aku sedang mengumpulkan bukti.”

“Kenapa enggak bilang?”

“Aku ingin melindungi kamu.”

Pria tua itu mengeluarkan sebuah map.

“Suamimu menolak menerima uang yang diberikan ayahmu setiap bulan.”

Sita teringat ucapan ibunya.

Ayahnya memang sering meminta uang kepada Riko.

Namun selama ini ia mengira itu hanya bantuan biasa.

Pria tua itu melanjutkan.

“Karena menolak ikut bekerja sama, suamimu justru difitnah tidak loyal.”

Sita mulai menangis.

Selama bertahun-tahun ia justru sering menyalahkan Riko.

Menganggap suaminya kurang ambisius.

Menganggap ayahnya jauh lebih hebat.

Padahal kenyataannya justru sebaliknya.

Riko menggenggam tangan istrinya.

“Aku enggak ingin kamu membenci ayahmu.”

“Tapi semua ini…”

“Biarkan hukum yang menyelesaikannya.”

Malam itu, Sita pulang ke rumah orang tuanya.

Rumah mewah yang biasanya dipenuhi suara tawa kini terasa sunyi.

Maria duduk sendirian di ruang tamu.

Wajahnya tampak jauh lebih tua dibanding beberapa hari lalu.

“Aset kita akan disita,” ucapnya lirih.

Sita duduk di samping ibunya.

Untuk pertama kalinya mereka berpelukan sambil menangis.

Tidak ada lagi pembicaraan tentang tas bermerek.

Tidak ada lagi pesta.

Tidak ada lagi gengsi.

Yang tersisa hanya dua perempuan yang sama-sama kehilangan tempat bersandar.

Seminggu kemudian, berita penangkapan ayah Sita memenuhi televisi nasional.

Media juga mulai mengungkap kehidupan mewah wanita simpanannya.

Mobil-mobil mewah disita.

Rumah-rumah mewah dipasang garis penyitaan.

Semua yang selama ini dibanggakan ternyata dibangun dari uang yang bukan haknya.

Ironisnya, publik justru mulai memuji sikap Riko.

Ia menolak terlibat meski mendapat tekanan.

Perusahaan kemudian mengangkatnya menjadi direktur operasional.

Saat kabar itu diumumkan, Riko hanya tersenyum.

“Aku enggak merasa menang.”

“Kenapa?”

“Karena keluargamu tetap hancur.”

Beberapa bulan berlalu.

Evan rutin mengikuti konseling.

Perlahan-lahan ia berubah menjadi anak yang lebih tenang.

Suatu sore, ia menghampiri Sita.

“Mama.”

“Iya?”

“Aku mau minta maaf.”

“Untuk apa?”

“Aku selama ini sering marah.”

Sita memeluk putranya.

“Mama juga minta maaf.”

“Mama salah apa?”

“Mama terlalu sibuk mengajarimu cara menjadi yang paling hebat.”

Evan menatap ibunya.

“Padahal?”

“Padahal Mama lupa mengajarimu menjadi orang baik.”

Kalimat itu terus terngiang dalam kepala Sita.

Beberapa bulan setelah persidangan selesai, ayahnya divonis hukuman penjara bertahun-tahun.

Saat Sita menjenguknya, pria yang dulu selalu tampil gagah itu kini tampak kurus dan rambutnya mulai memutih.

“Ayah menyesal,” katanya lirih.

Sita tidak menjawab.

Ia hanya menggenggam tangan ayahnya dari balik meja.

“Jaga ibumu.”

Air mata mereka jatuh bersamaan.

Tidak ada lagi kemarahan.

Yang tersisa hanyalah penyesalan yang tak mungkin diputar kembali.

Setahun kemudian, Sita menjual rumah mewah mereka.

Ia memilih tinggal di rumah yang jauh lebih sederhana bersama Riko dan Evan.

Tetangga baru tidak mengenal masa lalu mereka.

Mereka hanya melihat sebuah keluarga kecil yang hidup biasa.

Suatu pagi, saat mengantar Evan ke sekolah, putranya tiba-tiba berkata,

“Mama.”

“Iya?”

“Aku sekarang tahu.”

“Tahu apa?”

“Orang kaya belum tentu bahagia.”

Sita tersenyum.

“Lalu menurutmu orang yang benar-benar kaya itu seperti apa?”

Evan berpikir beberapa saat sebelum menjawab.

“Yang masih bisa tidur nyenyak karena enggak mengambil milik orang lain.”

Sita menghentikan langkahnya.

Matanya kembali basah.

Ia sadar, semua yang mereka kehilangan ternyata telah mengembalikan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Nama baik bisa dibangun kembali.

Harta bisa dicari lagi.

Rumah bisa dibeli kembali.

Namun kejujuran, rasa syukur, dan kasih sayang hanya akan tumbuh ketika seseorang berani menerima kenyataan, mengakui kesalahan, lalu memulai hidup yang baru dengan hati yang lebih bersih.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang