Malam itu rumah terasa sunyi, tetapi aku tahu badai baru saja dimulai.
Sejak Nina membanting pintu kamarnya karena melihat Ridho dan Farhan menikmati makanan yang kubeli, suasana rumah berubah semakin dingin. Tidak ada lagi suara Adel yang biasanya berlarian di ruang tamu. Bocah kecil itu selalu berada di dalam kamar bersama ibunya.
Aku mencoba melupakan kejadian itu. Bagaimanapun juga, Nina tetap ibu dari cucuku. Aku tidak ingin terus-menerus bermusuhan dengannya.
Namun keesokan paginya, saat aku hendak memasak, aku terkejut melihat hampir semua bahan makanan di dapur menghilang.
Beras tinggal sedikit. Minyak goreng lenyap. Gula, telur, bahkan kopi yang kubeli dua hari lalu juga tidak ada.

“Ridho, kamu ambil makanan di dapur?”
Ridho menggeleng.
“Enggak, Bu.”
Farhan juga menggeleng sambil terlihat bingung.
Aku menghela napas panjang. Aku sudah tahu ke mana semua itu pergi.
Beberapa menit kemudian Nina keluar dari kamar sambil menggendong Adel.
“Ada apa, Bu? Ribut-ribut pagi.”
“Bahan dapur habis.”
“Oh.”
Hanya itu jawabannya.
“Nina, kamu tahu ke mana minyak sama telur?”
“Dipakai.”
“Semuanya?”
“Iya.”
Aku menatap wajahnya yang sama sekali tidak merasa bersalah.
“Masak buat apa sampai sebanyak itu?”
“Itu urusan aku.”
Jawaban itu menusuk dadaku.
Aku tidak ingin memperpanjang pertengkaran. Aku memilih diam.
Hari-hari berikutnya keadaan semakin aneh.
Setiap kali aku membeli sembako, dalam dua atau tiga hari semuanya menghilang.
Yang lebih aneh lagi, Nina hampir tidak pernah memasak.
Kalau bukan membeli makanan di luar, dia mengurung diri di kamar.
Lalu makanan sebanyak itu dipakai untuk apa?
Pertanyaan itu terus menghantuiku.
Suatu sore, ketika Nina sedang mandi dan Adel bermain bersama Farhan di teras, aku sengaja berdiri dekat jendela kamar mereka.
Dari balik ventilasi kecil, terdengar suara seseorang.
“Lima paket lagi besok.”
“Iya, stok masih banyak.”
Aku membeku.
Ada suara laki-laki.
Padahal di dalam hanya Nina seorang.
Aku mengintip perlahan.
Ternyata Nina sedang melakukan siaran langsung menggunakan ponselnya.
Di atas kasur berjajar makanan, minyak goreng, mie instan, biskuit, susu, bahkan beras ukuran lima kilogram.
Dia sedang menjual semuanya secara online.
Dadaku langsung sesak.
Jadi selama ini dia menyimpan bahan makanan di bawah ranjang bukan untuk dimakan.
Dia menimbunnya.
Kemudian menjualnya kembali.
Aku baru sadar mengapa setiap bulan Wahyu selalu mengirim uang lebih dari cukup, tetapi Nina masih terus meminta tambahan.
Rupanya uang itu dipakai membeli stok barang.
Malamnya aku menghubungi Wahyu.
Namun lagi-lagi aku tidak sanggup mengatakan semuanya.
Anakku terdengar sangat lelah.
“Bu, bulan ini Nina minta tambahan lima juta lagi. Katanya buat Adel masuk PAUD.”
Aku memejamkan mata.
“Kerja kamu gimana, Yu?”
“Lembur terus, Bu.”
Suara anakku terdengar serak.
“Aku lagi ambil proyek malam juga.”
Dadaku terasa diremas.
Anakku bekerja siang malam.
Sementara istrinya…
Aku menggigit bibir menahan tangis.
Beberapa minggu berlalu.
Suatu pagi rumah kami didatangi kurir bertubi-tubi.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sampai tujuh paket besar.
Semuanya atas nama Nina.
Ridho sampai heran.
“Bu, Kak Nina buka toko ya?”
Aku hanya diam.
Puncaknya terjadi tiga hari kemudian.
Wahyu pulang mendadak tanpa memberi kabar.
Dia berdiri di depan rumah sambil membawa tas ransel lusuh.
Tubuhnya jauh lebih kurus daripada terakhir kali pulang.
“Assalamualaikum.”
Aku langsung memeluknya.
Air mataku pecah.
“Kok pulang, Nak?”
“Kontrak proyek selesai.”
Belum sempat kami banyak bicara, Nina keluar dari kamar sambil tersenyum manis.
“Mas!”
Dia langsung memeluk Wahyu seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Malam itu mereka makan bersama.
Aku memperhatikan wajah anakku.
Dia tersenyum, tetapi matanya sangat lelah.
Saat semua sudah tidur, Wahyu menghampiriku.
“Bu.”
“Iya.”
“Tabungan aku habis.”
Aku terdiam.
“Aku kira selama ini Nina hemat.”
Air mata Wahyu mulai jatuh.
“Ternyata setiap bulan selalu kurang.”
Aku tidak bisa lagi menahan semuanya.
Pelan-pelan aku menceritakan apa yang kulihat.
Tentang makanan di bawah ranjang.
Tentang sembako yang menghilang.
Tentang paket-paket.
Tentang siaran langsung.
Wajah Wahyu perlahan berubah pucat.
“Aku enggak percaya.”
“Aku juga berharap semua itu salah.”
“Aku mau lihat sendiri.”
Keesokan harinya Wahyu pura-pura berangkat menemui teman.
Padahal dia bersembunyi di rumah tetangga.
Siang hari Nina kembali menerima beberapa paket.
Setelah memastikan rumah sepi, dia mulai membuka semuanya.
Kemudian menyusunnya di dalam kamar.
Tak lama kemudian dia membuka siaran langsung.
“Halo, Kak. Hari ini stok minyak murah ya…”
Wahyu melihat semuanya dari balik jendela.
Aku melihat kedua tangan anakku gemetar.
Dia masuk tanpa mengetuk pintu.
“Nina.”
Senyum Nina langsung hilang.
“Mas…”
“Ini semua apa?”
Nina terbata-bata.
“Buat… usaha.”
“Usaha?”
“Iya.”
“Pakai uang siapa?”
Nina terdiam.
“Pakai uang siapa?”
Suara Wahyu kali ini lebih keras.
Air mata Nina mulai turun.
“Aku mau bantu ekonomi keluarga.”
“Bohong.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Kalau memang bantu keluarga, kenapa ibuku sampai sering enggak punya beras?”
Nina menangis.
“Kenapa adik-adikku sering makan mie kosong?”
Tangisan Nina semakin keras.
“Kenapa ibuku harus menggadaikan cincin peninggalan ayah demi beli pizza buat adik-adikku?”
Kalimat terakhir membuat Nina membeku.
Dia menatapku.
Rupanya dia baru tahu cincin itu sudah tidak ada.
“Aku…”
Wahyu mengambil napas panjang.
“Aku lembur sampai muntah darah.”
Aku langsung menoleh.
“Muntah darah?”
Wahyu tersenyum pahit.
“Sudah dua kali masuk klinik, Bu.”
Tubuhku lemas.
“Aku enggak cerita karena takut Ibu khawatir.”
Air mataku mengalir deras.
Selama ini anakku menyimpan penderitaan sendirian.
Sementara uang hasil kerja kerasnya dihabiskan tanpa rasa bersalah.
Nina akhirnya berlutut.
“Aku salah…”
“Terlambat.”
“Tolong maafin aku.”
“Aku bisa maafin.”
Nina langsung mengangkat wajah.
“Tapi aku enggak bisa percaya lagi.”
Beberapa hari setelah kejadian itu, Wahyu memutuskan mengajak Nina menjalani konseling pernikahan.
Ternyata selama ini Nina memiliki kebiasaan berbelanja berlebihan yang sudah dimulai sejak sebelum menikah. Setiap kali merasa cemas atau kesepian, dia membeli barang dalam jumlah banyak agar merasa tenang. Lama-kelamaan kebiasaan itu berubah menjadi kecanduan. Barang-barang yang tidak terpakai dijual kembali, tetapi hasilnya selalu habis untuk membeli stok baru.
Bukan karena ingin membantu keluarga.
Melainkan karena tidak mampu menghentikan dirinya sendiri.
Proses pemulihan berlangsung lama.
Nina mulai belajar mengatur keuangan.
Dia meminta maaf kepadaku.
Meminta maaf kepada Ridho.
Meminta maaf kepada Farhan.
Yang paling membuatku terharu adalah saat dia mendatangiku sambil membawa sebuah kotak kecil.
“Bu…”
Aku membukanya perlahan.
Di dalamnya ada cincin emas.
“Aku sudah menebus cincin peninggalan Bapak.”
Aku menatapnya lama.
“Maaf karena Ibu harus kehilangan kenangan paling berharga.”
Aku tidak langsung mengambilnya.
Aku justru memegang kedua tangannya.
“Cincin ini bisa ditebus.”
Aku menatap matanya yang kini dipenuhi penyesalan.
“Tapi kepercayaan harus dibangun sedikit demi sedikit.”
Nina mengangguk sambil menangis.
Setahun kemudian rumah kami jauh berbeda.
Ridho sudah bekerja di bengkel.
Farhan berhasil masuk SMA dengan beasiswa.
Wahyu pindah kerja ke kota yang lebih dekat sehingga bisa pulang setiap akhir pekan.
Nina tidak lagi mengurung diri di kamar.
Dia membuka warung sembako kecil di depan rumah dengan modal yang jujur dan hasil kerja bersama suaminya.
Yang paling membuatku bahagia bukanlah warung itu.
Melainkan setiap sore ketika Adel berlari ke arahku sambil berteriak, “Nenek!”
Kini tak ada lagi yang melarangku memeluk cucuku.
Dan setiap kali melihat kamar yang dulu penuh bau busuk, aku selalu teringat satu pelajaran yang tak pernah kulupakan.
Bau paling menyengat bukan berasal dari telur yang membusuk di bawah ranjang.
Melainkan dari rahasia yang terlalu lama disembunyikan di dalam hati.
