Aku sengaja datang ke acara perjodohanku dengan eyeliner yang sengaja kubuat berantakan, rambut dicat warna abu-abu keunguan, jaket kulit penuh rantai, dan sepatu bot setinggi betis. Kalau calon suamiku masih mau menikahiku setelah melihat penampilan seperti itu, berarti dia memang sudah kehilangan akal.
Aku yakin rencanaku sempurna.

Sampai pria itu berdiri, menatapku beberapa detik, lalu berkata pelan di depan semua tamu,
“Bagus. Berarti kamu cukup berani menjadi dirimu sendiri.”
Ruangan yang tadinya riuh langsung sunyi.
Aku yang seharusnya menang justru kehabisan kata-kata.
Namaku Alina, dua puluh tiga tahun. Anak tunggal seorang pengusaha properti yang percaya bahwa semua masalah hidup bisa diselesaikan dengan kontrak dan tanda tangan. Sejak kecil aku terbiasa hidup nyaman, tetapi satu hal yang selalu kubenci adalah ketika orang lain menentukan masa depanku.
Dan sekarang, Ayah memutuskan aku harus menikah dengan seorang pria bernama Raka Mahendra.
Usianya tiga puluh enam tahun.
Pemilik perusahaan teknologi logistik yang sedang berkembang pesat.
Katanya mapan.
Katanya bertanggung jawab.
Katanya tenang.
Bagiku, semua itu hanya sinonim dari membosankan.
Aku sudah mencoba protes, mogok makan, bahkan mengancam kabur ke Bali bersama sahabatku. Hasilnya nihil. Ayah hanya berkata bahwa perjodohan ini bukan transaksi bisnis, melainkan cara agar aku belajar bertanggung jawab.
Aku tentu tidak percaya.
Karena itulah aku berdandan seperti anak jalanan pada hari pertemuan keluarga.
Semua bibi menatapku dengan wajah ngeri.
Ibuku hampir pingsan.
Sedangkan Raka…
Dia malah tersenyum kecil.
“Kamu sengaja melakukan ini supaya aku mundur?”
Aku melipat tangan.
“Kalau tahu, kenapa masih datang?”
“Karena aku penasaran.”
“Penasaran apa?”
“Seberapa jauh kamu mau berusaha demi menghindariku.”
Jawaban itu membuatku kesal tanpa alasan yang jelas.
Pria itu terlalu tenang.
Tidak ada ekspresi marah.
Tidak ada tatapan meremehkan.
Seolah semua tingkahku hanyalah angin lalu.
Seminggu kemudian, pernikahan tetap berlangsung.
Aku memasuki rumah baruku dengan satu tekad.
Kalau tidak bisa menggagalkan pernikahan ini, setidaknya aku bisa membuat suamiku menyerah.
Malam pertama, aku memutar musik rock sekeras mungkin sampai seluruh rumah bergetar.
Raka hanya keluar dari ruang kerja sambil membawa secangkir teh.
“Apa ada konser?”
“Aku sedang bersenang-senang.”
“Silakan.”
Lalu dia kembali masuk ke ruang kerjanya.
Aku berkedip.
Hanya itu?
Besok paginya aku sengaja mengacak-acak lemari pakaiannya.
Semua kemeja putihnya kususun berdasarkan warna yang salah.
Dasi-dasinya kutukar tempat.
Kaos kaki kubuat tidak berpasangan.
Ketika dia bersiap berangkat kerja, aku menunggu ledakan emosinya.
Namun Raka hanya melihat isi lemari selama beberapa detik.
“Lumayan kreatif.”
“Lumayan?”
“Iya. Tapi kamu lupa satu laci.”
Dia membuka laci lain yang ternyata berisi pakaian cadangan yang sudah tersusun rapi.
Aku melongo.
“Tidak lucu kalau semua barang penting hanya disimpan di satu tempat.”
Aku menggertakkan gigi.
Orang ini benar-benar menyebalkan.
Hari-hari berikutnya aku mencoba berbagai cara.
Membakar roti sampai gosong.
Mengisi kulkas dengan minuman bersoda dan mi instan.
Membiarkan ruang tamu berantakan.
Mengundang teman-temanku bermain gim sampai tengah malam.
Raka tidak pernah memarahiku.
Kalau rumah berantakan, dia ikut membereskan.
Kalau makananku gagal, dia memasak.
Kalau aku pulang larut malam, dia hanya memastikan sopir menjemputku dengan selamat.
Sikapnya justru membuatku semakin bingung.
Suatu malam aku akhirnya bertanya.
“Kamu sebenarnya marah atau tidak?”
Dia menutup laptopnya.
“Marah.”
Aku langsung tersenyum.
“Nah, akhirnya.”
“Tapi kemarahanku bukan karena rumah berantakan.”
“Lalu?”
“Karena kamu selalu berusaha membuktikan bahwa kamu tidak pantas dicintai.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku tidak bisa membalas.
Hari-hari setelahnya berubah perlahan.
Aku mulai memperhatikan kebiasaan Raka.
Dia selalu pulang sebelum makan malam.
Setiap Jumat dia mengunjungi panti asuhan tanpa membawa wartawan.
Diam-diam dia membayar biaya operasi anak salah satu pegawainya.
Dia hafal nama seluruh petugas keamanan di kantornya.
Tidak pernah meninggikan suara.
Dan selalu mengucapkan terima kasih kepada siapa pun.
Aku mulai bertanya-tanya.
Kalau dia sebaik ini, kenapa belum menikah sampai usia tiga puluh enam?
Jawabannya datang tanpa kuduga.
Suatu sore aku melihat seorang perempuan datang ke kantor.
Cantik.
Elegan.
Usianya mungkin seumuran Raka.
Mereka berbicara cukup lama.
Aku tidak sengaja mendengar seorang staf berbisik.
“Itu mantan tunangannya.”
Dadaku mendadak terasa aneh.
Malamnya aku berpura-pura tidak peduli.
“Siapa perempuan tadi?”
“Mantan.”
“Oh.”
“Dulu kami hampir menikah.”
“Oh.”
“Tapi dia memilih orang lain.”
Aku tidak tahu kenapa, tetapi kata “oh” yang keluar dari mulutku terasa sangat pahit.
Beberapa hari kemudian, perempuan itu datang lagi.
Kali ini langsung ke rumah.
“Aku ingin bicara denganmu,” katanya kepadaku.
Kami duduk di taman belakang.
“Aku datang bukan untuk merebut suamimu.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin minta maaf.”
Dia menarik napas panjang.
“Dulu aku meninggalkannya demi pria yang lebih kaya. Aku pikir uang adalah segalanya.”
“Lalu?”
“Pria itu bangkrut dan meninggalkanku. Baru setelah itu aku sadar… Raka adalah orang terbaik yang pernah kutemui.”
Aku diam.
“Aku hanya ingin bilang… kalau kamu menyia-nyiakannya, suatu hari kamu akan menyesal seumur hidup.”
Perempuan itu pergi.
Aku masih duduk cukup lama.
Malam itu, untuk pertama kalinya aku menunggu Raka pulang.
Aku memasak.
Hasilnya memang tidak terlalu enak.
Supnya terlalu asin.
Ayamnya sedikit gosong.
Namun Raka tetap menghabiskan semuanya.
“Enak?” tanyaku ragu.
Dia tersenyum.
“Ini makanan terenak yang pernah kumakan.”
“Itu bohong.”
“Iya.”
Kami sama-sama tertawa.
Sejak malam itu, rumah kami perlahan berubah menjadi rumah sungguhan.
Aku mulai belajar memasak.
Dia mengajariku mengatur keuangan.
Kami menonton film bersama setiap akhir pekan.
Kadang bertengkar karena hal-hal sepele.
Kadang saling diam beberapa jam.
Lalu berdamai lagi.
Aku mulai merasa bahagia.
Sampai suatu pagi aku menemukan sebuah map cokelat di ruang kerja Raka.
Di dalamnya ada dokumen yang membuat seluruh tubuhku membeku.
Akta perjanjian.
Ditandatangani Ayahku.
Nilainya puluhan miliar rupiah.
Di bagian akhir tertulis bahwa kerja sama kedua keluarga hanya akan berlaku apabila pernikahan kami tetap berlangsung minimal satu tahun.
Tanganku gemetar.
Jadi benar.
Pernikahan ini memang bagian dari kesepakatan bisnis.
Saat Raka pulang, aku langsung melempar map itu ke meja.
“Jelaskan.”
Dia menatap dokumen itu lama.
Lalu menghela napas.
“Aku memang tahu soal kontrak itu.”
Air mataku langsung jatuh.
“Jadi selama ini aku hanya syarat dalam sebuah transaksi?”
“Tidak.”
“Lalu apa?”
“Aku menerima perjodohan ini karena kontrak. Itu benar.”
Dadaku semakin sakit.
“Tapi aku bertahan setiap hari setelah menikah… karena aku benar-benar jatuh cinta.”
Aku tidak sanggup berkata apa-apa.
Dia melanjutkan dengan suara pelan.
“Seminggu sebelum pernikahan, aku menemui ayahmu.”
Aku mengangkat kepala.
“Aku bilang kontrak itu tidak perlu. Aku siap membatalkan semua kerja sama kalau kamu menolak.”
Aku terpaku.
“Tapi ayahmu memintaku memberi waktu. Katanya, di balik semua kenakalanmu, kamu hanya belum pernah bertemu seseorang yang cukup sabar untuk benar-benar mendengarkanmu.”
Air mataku mengalir semakin deras.
Raka mengambil sebuah amplop dari laci.
“Ini surat pembatalan kontrak. Sudah kutandatangani tiga bulan lalu. Tinggal dikirim.”
Aku membuka amplop itu.
Tanggalnya benar.
Tiga bulan lalu.
Artinya, jauh sebelum aku mulai berubah.
“Aku tidak pernah ingin mempertahankan pernikahan ini dengan uang atau perjanjian,” katanya lirih. “Kalau suatu hari kamu ingin pergi, aku akan membiarkanmu pergi sebagai perempuan yang bebas memilih.”
Aku menangis tanpa suara.
Selama ini aku mengira sedang melawan pria yang ingin mengurung hidupku.
Padahal, sejak awal dia justru orang pertama yang benar-benar memberiku kebebasan untuk menentukan pilihan sendiri.
Aku mengambil surat itu.
Perlahan kusobek menjadi dua.
Lalu empat.
Lalu berkeping-keping.
Raka menatapku bingung.
Aku tersenyum sambil menyeka air mata.
“Kalau sekarang aku tetap tinggal…”
Aku menggenggam tangannya erat.
“…itu bukan karena kontrak. Bukan karena Ayah. Bukan karena siapa pun.”
Aku menarik napas panjang, lalu menatap matanya yang selama ini selalu penuh kesabaran.
“Aku tinggal karena akhirnya aku sadar… pria yang kukira terlalu tua untuk menjadi pasangan, ternyata adalah orang yang paling dewasa untuk menjadi rumah.”
