Aku benar-benar tidak mengerti.
Selama tiga tahun menikah, Aidah selalu bersikap sama setiap kali kami pulang ke rumah ibuku untuk menghadiri acara keluarga. Dia tak pernah ikut mengobrol di dapur, tak pernah membantu memasak, bahkan sering mengurung diri di kamar atau menjaga Rizki di sudut rumah. Berkali-kali aku menegurnya, berkali-kali pula dia hanya diam.
Namun hari itu, saat dia berkata ingin pulang sambil menangis, ada sesuatu yang berbeda.
“Aidah… tunggu!” Aku mengejarnya hingga ke halaman.

“Aku capek, Mas,” ucapnya lirih tanpa menatapku.
“Capek karena apa? Cuma diminta bantu masak saja.”
Dia menggigit bibirnya kuat-kuat. Wajahnya pucat.
“Aku nggak sanggup.”
“Kenapa nggak sanggup?”
Aidah memeluk Rizki lebih erat. Air matanya tak berhenti mengalir.
“Karena aku takut.”
Aku terpaku.
“Takut sama siapa?”
Dia menggeleng.
“Nggak usah dibahas sekarang.”
“Kalau kamu nggak jelasin, Mas nggak akan ngerti!”
Aidah menutup mata beberapa detik. Lalu dengan suara yang hampir tak terdengar, dia berkata,
“Aku takut sama kakak-kakakmu.”
Dadaku langsung panas.
“Apa maksudmu? Mereka nggak pernah ngapa-ngapain kamu.”
Dia tersenyum pahit.
“Itu karena Mas nggak pernah lihat.”
Aku ingin membalas, tetapi kata-kata itu membuatku ragu.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Dia hanya berkata pelan,
“Kalau Mas benar-benar ingin tahu, coba jangan ikut kerja besok pagi. Diam-diam lihat sendiri apa yang terjadi di dapur.”
Lalu dia berjalan menuju gerbang.
Aku tidak mengejarnya lagi.
Malam itu aku pulang sendiri setelah membantu persiapan sampai larut. Pikiran Aidah terus menggangguku. Selama ini aku selalu menganggap dia malas. Tapi bagaimana kalau aku memang tidak pernah melihat sesuatu yang sebenarnya terjadi?
Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, semua orang mulai sibuk.
Aku pura-pura membantu di halaman belakang. Setelah beberapa menit, diam-diam aku masuk melalui pintu samping yang mengarah ke dapur.
Aku berdiri di balik tirai.
Di dalam, ibu sedang mengaduk gulai. Mbak Ida, Mbak Rina, dan Mbak Siska sibuk memotong sayuran.
Tak lama kemudian Aidah datang.
Dia mengenakan celemek sederhana dan tanpa bicara langsung mencuci tumpukan piring yang menggunung.
Aku mengernyit.
Bukankah kemarin mereka bilang Aidah tidak pernah membantu?
Belum lima menit bekerja, suara Mbak Ida terdengar.
“Eh, pelan-pelan dong. Piring mahal itu.”
Aidah hanya mengangguk.
Beberapa saat kemudian…
“Ya ampun, bawangnya setebal itu? Memangnya di rumah diajarin masak kayak gitu?”
Yang lain tertawa kecil.
Aidah diam.
Dia beralih mengiris cabai.
“Jangan banyak-banyak. Cabai mahal.”
Dia mengurangi.
“Eh, sedikit amat. Nggak ngerti masak ya?”
Aku mulai mengepalkan tangan.
Belum selesai sampai di situ.
Saat Aidah hendak membantu mengangkat panci besar, Mbak Rina langsung berkata,
“Udah, udah. Nanti kalau jatuh malah nambah kerjaan.”
Semua tertawa lagi.
Ibuku hanya diam.
Aidah tersenyum tipis.
Senyum yang ternyata selama ini kupikir tanda dia baik-baik saja.
Padahal itu senyum seseorang yang sedang menahan malu.
Aku masih memutuskan diam.
Lalu datang tetangga yang ikut membantu.
“Lho, akhirnya menantu Ibu turun dapur juga?”
Sebelum Aidah sempat menjawab, Mbak Siska menyahut,
“Biasanya sih sembunyi di kamar. Hari ini mungkin lagi rajin.”
Mereka tertawa.
Aidah tetap diam.
Dadaku seperti diremas.
Selama ini…
Selama ini aku mempercayai cerita mereka tanpa pernah melihat sendiri.
Tiba-tiba aku teringat semua kejadian selama tiga tahun terakhir.
Setiap selesai acara, kakak-kakakku selalu berkata,
“Istrimu malas.”
“Istrimu gengsi.”
“Istrimu nggak mau capek.”
Dan aku selalu memarahi Aidah di rumah.
Tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Saat itu juga aku masuk ke dapur.
Suasana langsung hening.
“Aidah.”
Dia menoleh, tampak kaget melihatku.
“Ayo.”
“Mau ke mana, Mas?”
“Pulang.”
Semua orang menatap kami.
Mbak Ida langsung berdiri.
“Lho, kok pulang? Acara belum mulai.”
Aku menatapnya tenang.
“Iya. Kami pulang.”
“Kenapa?”
Aku menarik napas panjang.
“Karena ternyata selama ini Aidah memang nggak pernah nyaman ada di sini.”
Suasana semakin sunyi.
Mbak Rina tertawa kecil.
“Apaan sih? Lebay.”
Aku menggeleng.
“Baru lima belas menit aku berdiri di luar. Aku dengar semuanya.”
Wajah mereka berubah.
“Kalian bilang Aidah nggak pernah bantu. Padahal setiap dia datang, baru mulai kerja sudah disindir terus.”
“Itu kan cuma bercanda.”
“Bercanda?”
Aku menatap satu per satu.
“Kalau bercanda bikin orang menangis setiap pulang ke rumah, itu bukan bercanda.”
Tak ada yang menjawab.
Aku menoleh ke ibu.
“Ibu tahu?”
Ibu menunduk.
Beberapa detik kemudian beliau menghela napas.
“Ibu tahu.”
Aku membeku.
“Tapi Ibu pikir nanti lama-lama mereka akur sendiri.”
Aku benar-benar kecewa.
“Ibu… selama ini saya malah marahi Aidah.”
Air mata Aidah mulai jatuh lagi.
“Aku nggak pernah cerita karena nggak mau Mas bertengkar sama keluarga.”
Aku menggenggam tangannya.
“Maaf.”
Hanya satu kata itu yang mampu keluar.
Sepanjang perjalanan pulang, kami hampir tak berbicara.
Sesampainya di rumah, aku memeluk Aidah erat.
“Kenapa nggak pernah cerita?”
Dia tersenyum lemah.
“Aku pernah.”
“Kapan?”
“Tahun pertama nikah.”
Aku mencoba mengingat.
“Aku bilang kalau aku nggak nyaman.”
Dadaku sesak.
Lalu ingatanku kembali.
Saat itu aku menjawab,
“Namanya juga keluarga.”
Kalimat yang begitu mudah keluar.
Namun ternyata sangat melukai.
“Aku pikir kalau aku diam, lama-lama mereka berubah.”
“Kenapa tetap datang setiap ada acara?”
“Karena aku nggak mau Mas dijauhi keluarga gara-gara aku.”
Aku tak mampu menahan air mata.
Beberapa hari kemudian acara pernikahan selesai.
Tak ada kabar dari keluarga.
Hingga seminggu setelahnya, ibu datang sendirian ke rumah kami.
Beliau membawa beberapa kotak makanan.
“Aidah.”
Istriku keluar dari dapur.
Ibuku langsung menangis.
“Ibu minta maaf.”
Aidah buru-buru memegang tangan beliau.
“Jangan, Bu.”
“Ibu gagal jadi mertua.”
Aidah ikut menangis.
“Ibu dengar semua dari Alman.”
Beliau duduk perlahan.
“Ternyata selama ini kamu sering datang lebih pagi.”
Aidah mengangguk.
“Supaya bisa bantu sebelum ramai.”
“Kamu juga sering pulang paling akhir.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Soalnya aku cuci semua piring setelah tamu pulang.”
Ibuku menangis semakin keras.
“Kenapa nggak pernah bilang?”
Aidah tersenyum.
“Kalau saya cerita, nanti Ibu sedih.”
Ibuku memegang wajah Aidah.
“Anak baik seperti kamu malah paling sering disakiti.”
Hari itu hubungan mereka berubah.
Namun bukan berarti semuanya langsung membaik.
Beberapa bulan kemudian, acara syukuran kembali diadakan.
Kali ini di rumah Mbak Rina.
Aku sempat ragu mengajak Aidah.
“Kalau kamu nggak mau datang, nggak apa-apa.”
Dia tersenyum.
“Aku datang.”
Sesampainya di sana, suasana terasa canggung.
Tak ada lagi sindiran.
Tak ada lagi tawa mengejek.
Yang mengejutkan justru Mbak Ida menghampiri Aidah.
“Dah…”
“Iya, Mbak?”
“Maaf.”
Aidah diam.
“Aku iri sama kamu.”
Aidah tampak bingung.
“Iri?”
“Iya.”
Semua orang menoleh.
“Dulu Alman itu paling dekat sama kami.”
“Setelah nikah, dia lebih banyak sama kamu.”
“Aku merasa kehilangan adik.”
Aku baru mengerti.
Ternyata semua sindiran itu bukan karena Aidah malas.
Melainkan rasa iri yang dipendam bertahun-tahun.
Namun cara mereka mengekspresikannya sangat salah.
Aidah tersenyum pelan.
“Kalau Mbak kangen sama Alman, tinggal bilang.”
Mbak Ida tertawa sambil menangis.
“Aku malu.”
Aidah memeluknya.
“Aku juga minta maaf kalau selama ini terlalu banyak diam.”
Sejak hari itu suasana keluarga perlahan berubah.
Tak ada lagi yang memaksa Aidah masuk dapur.
Kalau ingin membantu, dia membantu.
Kalau ingin menemani Rizki bermain, tak ada yang mempermasalahkan.
Yang paling membuatku terharu justru ucapan ibuku beberapa bulan kemudian saat acara keluarga berikutnya.
Beliau berdiri di depan semua saudara.
“Lain kali jangan pernah ukur bakti seseorang dari berapa banyak bawang yang dia iris atau berapa lama dia berdiri di dapur.”
Semua terdiam.
“Karena ada orang yang diam-diam membantu tanpa ingin dipuji.”
Beliau menggenggam tangan Aidah.
“Dan selama ini, orang itu adalah menantuku.”
Aku memandang Aidah yang tersenyum sambil menahan air mata.
Saat itu aku sadar, yang paling menyakitkan bukanlah dimusuhi orang lain, melainkan ketika orang yang paling kita cintai lebih memilih mempercayai penilaian banyak orang daripada mendengarkan satu suara yang selalu ada di sampingnya.
Dan sejak hari itu, aku berjanji pada diriku sendiri, sebelum mempercayai cerita siapa pun, aku akan lebih dulu mendengar cerita dari orang yang setiap hari berjalan bersamaku. Karena terkadang, kebenaran tidak pernah berteriak. Ia hanya diam, menunggu seseorang yang benar-benar mau melihat.
