Hari ini sepanjang pelajaran Gisha tidak bisa konsentrasi. Dia terus saja memikirkan ucapan Om Mardi. Banyak yang tidak dia ketahui tentang bapak. Termasuk semua cerita yang tadi Om Mardi sampaikan.

Tubuh Gisha membeku di tempat. Napasnya tercekat ketika suara motor Tante Rina berhenti tepat di halaman rumah. Jantungnya berdetak begitu keras sampai-sampai ia yakin suaranya bisa terdengar dari luar kamar.

“Gisha!”

Suara Tante Rina memanggil dari ruang depan.

Gisha refleks memasukkan kartu ATM milik ayahnya ke dalam saku rok. Uang yang tadi sempat ia ambil juga cepat-cepat diselipkan ke saku lain. Dengan tangan gemetar ia menutup kotak kayu, merapikan tumpukan uang sebisanya, lalu mengunci lemari dan pintu kamar seperti semula.

“Gisha! Kamu di mana?”

Langkah kaki Tante Rina mulai mendekat.

Gisha buru-buru keluar dari kamar, mengunci pintunya, lalu memasukkan kunci ke dalam kantong. Baru saja ia berhasil menutup pintu, Tante Rina sudah berdiri di ujung lorong.

“Kamu ngapain di depan kamar saya?”

Tatapan perempuan itu tajam, penuh curiga.

Gisha memaksa tersenyum.

“Tadi… aku lihat pintunya kebuka sedikit. Takut ada maling masuk.”

Tante Rina menatap lama wajah Gisha, seolah mencari kebohongan.

“Kamu bohong?”

“Nggak.”

Perempuan itu melangkah mendekat. Tangannya meraih gagang pintu, memastikan pintu memang terkunci.

“Hm.”

Ia tidak berkata apa-apa lagi, tetapi sorot matanya membuat bulu kuduk Gisha berdiri.

“Masuk sana. Jangan berkeliaran.”

“Iya, Tante.”

Gisha berjalan menuju kamarnya tanpa berani menoleh. Baru setelah pintunya tertutup rapat, ia mengembuskan napas panjang.

Nyaris saja.

Kalau Tante Rina datang satu menit lebih cepat, semuanya pasti sudah ketahuan.

Dengan tangan masih gemetar, Gisha mengeluarkan kartu ATM itu.

Benar.

Nama ayahnya tercetak jelas.

ARDIANSYAH PRATAMA.

Mata Gisha mulai basah.

“Pak…”

Selama ini ia mengira semua milik ayahnya sudah hilang. Ternyata kartu ATM itu benar-benar masih ada.

Ia teringat ucapan Om Mardi.

“Kalau kamu menemukan kartu ATM itu, jangan pernah kasih ke Tante Rina.”

Kenapa?

Apa sebenarnya yang disembunyikan?

Gisha membalik kartu itu. Tidak ada apa pun selain nomor kartu.

PIN.

Ia tidak tahu PIN-nya.

Mungkin ayah pernah memberitahunya?

Ia mencoba mengingat.

Suatu malam beberapa bulan sebelum kecelakaan itu, ayah pernah tertawa sambil berkata, “Kalau suatu hari Bapak lupa apa pun, Bapak nggak akan pernah lupa tanggal paling penting di hidup Bapak.”

Tanggal apa?

Tanggal ulang tahun ibu?

Tanggal lahir Gisha?

Tanggal pernikahan mereka?

Semuanya bercampur di kepala.

Ia tidak mungkin menebaknya sembarangan.

Kalau sampai salah berkali-kali, kartu itu bisa terblokir.

Malam itu Gisha nyaris tidak bisa tidur.

Di bawah bantalnya kini tersimpan dua benda yang mungkin bisa mengubah hidupnya.

Sejumlah uang.

Dan kartu ATM ayah.

Namun semakin ia memikirkannya, semakin banyak pertanyaan bermunculan.

Kalau benar setiap bulan ada uang kiriman dari seseorang, kenapa mereka tetap hidup susah?

Ke mana semua uang itu pergi?

Keesokan paginya, Gisha sengaja berangkat lebih awal.

Di gerbang sekolah, Om Mardi sudah menunggu.

Begitu melihat wajah Gisha yang tegang, lelaki itu langsung tahu ada sesuatu.

“Kamu nemuin sesuatu?”

Gisha mengangguk pelan.

“Ayo ikut Om sebentar.”

Mereka duduk di warung kecil yang masih sepi.

Dengan sangat hati-hati Gisha mengeluarkan kartu ATM dari dalam buku tulisnya.

Mata Om Mardi langsung membesar.

“Ya Allah… akhirnya.”

“Ini benar punya Bapak?”

“Iya.”

“Kenapa bisa ada di rumah Tante Rina?”

Om Mardi menghela napas panjang.

“Karena setelah ayahmu meninggal, semua barang pribadinya diambil Tante Rina.”

“Kenapa Om nggak lapor polisi?”

“Bukti Om belum cukup waktu itu.”

Gisha menggigit bibir.

“Om… PIN-nya aku nggak tahu.”

Om Mardi terdiam beberapa detik.

“Lima belas Agustus.”

Gisha mengangkat wajah.

“Itu ulang tahun ibumu.”

“Tapi Om yakin?”

“Ayahmu pernah cerita sendiri. Semua PIN miliknya pakai tanggal ulang tahun istrimu.”

Mata Gisha kembali berkaca-kaca.

Ayah ternyata masih begitu mencintai ibu.

“Kalau nanti berhasil dibuka…”

Om Mardi menatap Gisha serius.

“Jangan kaget dengan isinya.”

Gisha mengernyit.

“Maksud Om?”

“Besok hari Sabtu. Kita ke ATM.”

Sepanjang pelajaran, Gisha hampir tidak bisa berkonsentrasi.

Sabtu terasa begitu lama.

Ketika akhirnya hari itu tiba, Om Mardi mengajak Gisha ke sebuah ATM yang letaknya cukup jauh dari rumah mereka agar tidak bertemu orang-orang yang mengenal Tante Rina.

Tangan Gisha berkeringat saat memasukkan kartu.

Masukkan PIN.

Perlahan ia menekan.

Beberapa detik terasa seperti selamanya.

Lalu layar berubah.

PIN BENAR.

Gisha spontan memegang dada.

“Masuk…”

Om Mardi tersenyum tipis.

“Coba cek saldo.”

Gisha menekan menu informasi saldo.

Beberapa detik kemudian angka itu muncul.

Rp418.765.000

Gisha terpaku.

Ia mengedip berkali-kali.

“Om…”

Suaranya nyaris hilang.

“Ini salah?”

Om Mardi menggeleng.

“Bukan.”

“Empat ratus…”

Air mata Gisha jatuh begitu saja.

Selama ini ia sering tidak makan.

Sering dihina.

Sering memakai sepatu robek.

Sering dipukul hanya karena meminta uang sekolah.

Padahal…

Ayah meninggalkan uang sebanyak ini.

“Tapi… kenapa aku tetap miskin?”

Om Mardi mengepalkan tangan.

“Itulah yang dari dulu Om curigai.”

Mereka mencetak mutasi rekening.

Kertas kecil itu keluar perlahan.

Baris demi baris transaksi membuat wajah Om Mardi berubah.

Setiap tanggal lima.

Transfer masuk.

Rp10.000.000.

Selama hampir tiga tahun.

Tidak pernah putus.

Pengirimnya hanya tertulis satu nama.

HADI SURYATMA.

Nama yang tidak pernah Gisha kenal.

Namun ada yang lebih mengejutkan.

Beberapa hari setelah transfer masuk, hampir selalu ada penarikan tunai dalam jumlah besar.

Delapan juta.

Sembilan juta.

Sepuluh juta.

Dilakukan berkali-kali.

Lokasi ATM-nya…

Dekat rumah mereka.

“Itu…”

Suara Gisha bergetar.

“Siapa yang ambil?”

Om Mardi menatap Gisha.

“Kalau kartu ini selama ini ada di tangan Tante Rina…”

Kalimat itu tidak perlu diselesaikan.

Gisha sudah mengerti.

Selama bertahun-tahun.

Tante Rina mengambil uang ayahnya.

Lalu membiarkan Gisha hidup seperti pengemis.

Air mata Gisha jatuh tanpa suara.

Bukan karena uang itu.

Tetapi karena akhirnya ia sadar.

Ayahnya tidak pernah meninggalkannya dalam kemiskinan.

Ada seseorang yang sengaja merampas haknya sedikit demi sedikit.

Saat mereka masih terpaku memandangi mutasi rekening, ponsel Om Mardi tiba-tiba berdering.

Wajahnya berubah pucat setelah mengangkat telepon.

“Apa?”

“…”

“Iya, saya ke sana sekarang.”

Telepon ditutup.

“Ada apa, Om?”

Om Mardi menelan ludah.

“Tas ayahmu.”

Gisha langsung berdiri.

“Tas Bapak?”

“Satpam gudang tempat ayahmu dulu bekerja menemukan tas itu.”

“Mereka nemu?”

“Iya.”

“Di mana?”

“Di ruang arsip lama yang baru dibersihkan.”

Air mata Gisha kembali mengalir.

“Ayo kita ke sana.”

Namun sebelum mereka sempat beranjak, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan ATM.

Pintu belakang terbuka perlahan.

Seorang pria tua berjas mahal turun dengan wajah yang sangat dikenali Gisha.

Pria yang dulu bahkan tidak mau dipanggil kakek.

Tatapan pria itu langsung jatuh pada kartu ATM di tangan Gisha.

Lalu ia berkata dengan suara berat yang membuat dunia Gisha seolah berhenti berputar.

“Akhirnya… kamu menemukan warisan ayahmu. Sekarang saatnya kamu tahu kenapa ayahmu benar-benar dibunuh, bukan sekadar meninggal karena kecelakaan.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang