Aku Mencintai Istriku, Tapi Aku Juga Sangat Menyayangi Ibuku yang Selalu Kuanggap Seperti Malaikat. Anehnya, Istriku Terus Mengeluh Jatah Belanja Kurang. Apa Dia Iri pada Ibuku? Sejuta Sebulan Masa Kurang? Menurut Kalian, Punya Istri yang Kurang Bersyukur Begini Harus Diapakan?

Aku selalu percaya bahwa ibuku adalah malaikat dalam hidupku.

Sejak kecil, beliau membesarkanku seorang diri setelah Ayah meninggal. Beliau bekerja sebagai penjahit dari pagi hingga larut malam agar aku bisa sekolah sampai akhirnya mendapat pekerjaan tetap di sebuah perusahaan logistik di Jakarta. Karena itulah, bagiku tidak ada pengorbanan yang terlalu besar untuk membalas semua jasanya.

Mungkin itulah sebabnya aku tidak pernah benar-benar mendengar apa yang berusaha disampaikan istriku.

Pagi itu aku berangkat kerja tanpa sarapan setelah pertengkaran hebat dengan Salma. Wajahnya yang pucat, tubuhnya yang semakin kurus, dan tangisan Sania yang masih bayi sama sekali tidak berhasil melunakkan hatiku.

Di dalam pikiranku hanya ada satu keyakinan.

Ibu pasti benar.

Di kantor, aku mencoba melupakan semuanya dengan menumpuk diri pada pekerjaan. Namun, saat jam makan siang, teleponku berdering.

“Ibu.”

Aku langsung mengangkatnya.

“Assalamu’alaikum, Rama.”

“Wa’alaikumsalam, Bu.”

“Ibu malu sekali hari ini. Besok ada arisan keluarga, tapi uangnya kurang lima ratus ribu. Kalau tidak ikut nanti orang-orang ngomongin Ibu.”

Tanpa berpikir panjang aku membuka aplikasi mobile banking.

“Sebentar ya, Bu. Rama transfer sekarang.”

“Alhamdulillah. Memang cuma kamu yang bisa diandalkan.”

Hatiku hangat mendengar pujian itu.

Namun beberapa menit kemudian, telepon lain masuk.

Nomornya Bu Siti.

“Pak Rama, maaf mengganggu.”

“Iya, Bu?”

“Salma tadi pinjam susu lagi buat Sania. Utangnya sudah lumayan banyak. Saya tidak keberatan membantu, tapi saya juga harus kulakan.”

Aku menarik napas panjang.

“Iya nanti saya bayar.”

“Pak… jangan marah sama Salma ya. Dia tadi sampai menangis karena malu terus-terusan utang.”

Aku hanya mengangguk walaupun Bu Siti tidak bisa melihatku.

Bagiku, Salma memang terlalu mudah mengeluh.

Sore harinya, Arman mengajakku pulang bersama.

“Bro, gue mau nanya.”

“Apa?”

“Gaji lo delapan juta, kan?”

“Iya.”

“Terus istri lo pegang berapa?”

“Satu juta.”

Arman hampir tersedak minumannya.

“Satu juta?”

“Iya.”

“Serius?”

Aku mengangguk.

“Rumah kontrakan?”

“Iya.”

“Listrik?”

“Iya.”

“Gas?”

“Iya.”

“Susu anak?”

“Iya.”

“Popok?”

“Iya.”

“Belanja?”

“Iya.”

Arman menatapku lama.

“Bro… lo yakin yang salah istri lo?”

Aku langsung kesal.

“Lo nggak ngerti kondisi gue.”

“Gue ngerti. Tapi lo pernah nggak hitung pengeluaran rumah?”

Aku tertawa kecil.

“Salma itu boros.”

Arman tidak membalas.

Ia hanya menggeleng pelan.

Malamnya, saat pulang ke rumah, suasana begitu sunyi.

Salma sedang menidurkan Sania sambil mengipasi putri kami dengan selembar kardus.

“Kenapa kipasnya nggak dinyalain?”

“Listrik diputus.”

Aku membeku.

“Maksudnya?”

“Belum bayar.”

Aku menoleh ke meteran listrik.

Benar.

Gelap.

“Kok bisa?”

Salma tidak menjawab.

Ia hanya menyerahkan beberapa lembar tagihan yang belum dibayar.

Listrik.

Air.

Kontrakan.

Utang warung.

Aku mulai menghitung dalam hati.

Semuanya jauh lebih besar daripada uang yang kuberikan.

Malam itu untuk pertama kalinya muncul pertanyaan kecil dalam kepalaku.

Apa benar Salma boros?

Namun pertanyaan itu segera kutepis.

Keesokan paginya, aku menerima foto dari Ibu.

Beliau sedang memakai kebaya baru berwarna hijau zamrud.

Di sampingnya Fera mengenakan gamis baru.

Keponakanku memegang sepeda listrik kecil sambil tersenyum lebar.

“Terima kasih ya, Nak. Berkat kamu kami jadi tidak malu.”

Aku ikut tersenyum.

Sampai tiba-tiba Arman datang dari belakang.

“Wah… keluarga lo?”

“Iya.”

“Keren juga.”

Aku memperbesar fotonya tanpa sengaja.

Di belakang mereka terlihat televisi layar besar yang baru.

“Loh…”

Aku memperhatikan lagi.

Ada kulkas dua pintu.

Mesin cuci baru.

Aku mengernyit.

Bukankah bulan lalu Ibu bilang kulkasnya rusak?

Saat malam tiba, aku menelepon Fera.

“Fer, TV baru?”

“Oh itu hadiah undian.”

“Kulkas?”

“Diskon.”

“Sepeda listrik?”

“Ya… hadiah juga.”

Jawabannya terdengar gugup.

Untuk pertama kalinya aku mulai merasa ada yang aneh.

Beberapa hari kemudian perusahaan mengadakan pelatihan di kota tempat tinggal Ibu.

Aku memutuskan mampir tanpa memberi tahu siapa pun.

Sesampainya di rumah, aku terkejut.

Rumah yang dulu sederhana kini tampak jauh lebih bagus.

Halamannya dipasang keramik.

Garasi berdiri kokoh.

Di dalamnya terparkir sebuah motor baru.

Aku masuk perlahan.

Tawa riang terdengar dari ruang tengah.

“Untung Rama itu gampang dibohongi.”

Suara Fera.

Aku berhenti melangkah.

“Kalau bilang buat arisan, langsung transfer.”

Semua tertawa.

Lalu suara Ibu terdengar.

“Namanya juga anak. Selama dia merasa berbakti, ya biarkan saja.”

Dadaku seperti dihantam batu.

“Lagian istrinya terlalu pelit. Kalau uang dipegang Salma nanti kita dapat apa?”

Aku tak sanggup bergerak.

Jantungku berdegup begitu keras.

Selama ini…

Semua itu…

Bohong?

Aku mendorong pintu hingga terbuka lebar.

Semua langsung terdiam.

“Rama…”

Wajah Ibu berubah pucat.

“Jadi selama ini uangku buat semua ini?”

Ibu buru-buru berdiri.

“Nak, dengarkan dulu.”

“Jawab saja!”

Tak ada yang berani bicara.

Aku melihat televisi baru.

Motor baru.

Perhiasan emas di tangan Ibu.

Ponsel terbaru milik Fera.

Semuanya terasa seperti tamparan.

“Salma sampai utang susu anakku.”

Air mataku mulai jatuh.

“Listrik rumahku diputus.”

Aku menatap Ibu.

“Tapi Ibu beli semua ini?”

Ibu mencoba menggenggam tanganku.

“Kamu kan anak laki-laki. Sudah kewajiban membantu keluarga.”

“Kalau sampai cucu Ibu tidak bisa minum susu juga kewajiban?”

Beliau terdiam.

Aku meninggalkan rumah itu tanpa berpamitan.

Sepanjang perjalanan pulang aku menangis.

Bukan karena kehilangan uang.

Melainkan karena selama ini aku menutup mata terhadap penderitaan orang yang setiap hari hidup bersamaku.

Sesampainya di rumah, kulihat Salma sedang menjahit kembali dasternya yang robek.

Sania tertidur dengan botol susu kosong di sampingnya.

Aku terduduk di lantai.

“Sal…”

Salma menoleh.

“Aku minta maaf.”

Ia hanya diam.

“Aku salah.”

Tangisku pecah.

“Aku benar-benar salah.”

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku menangis di hadapan istriku.

Salma juga ikut menangis.

Bukan karena marah.

Melainkan karena mungkin akhirnya aku mulai melihat apa yang selama ini ia rasakan.

Sejak hari itu semuanya berubah.

Aku mulai memegang sendiri seluruh gajiku.

Aku membuat anggaran rumah tangga.

Kebutuhan Salma dan Sania menjadi prioritas utama.

Aku tetap mengirim uang kepada Ibu, tetapi jumlahnya sesuai kemampuanku dan hanya untuk kebutuhan yang benar-benar penting.

Awalnya Ibu marah.

Beliau menelepon setiap hari.

Menuduh Salma telah mencuci otakku.

Aku hanya menjawab pelan.

“Bu, Rama tetap anak Ibu. Tapi sekarang Rama juga seorang ayah.”

Hubungan kami sempat renggang berbulan-bulan.

Namun perlahan Ibu mulai memahami ketika melihat aku tidak lagi bisa dipengaruhi.

Beberapa bulan kemudian aku mendapat promosi jabatan.

Penghasilanku meningkat.

Rumah kami mulai terasa lebih hidup.

Sania tumbuh sehat.

Salma bahkan bisa membuka usaha katering kecil dari rumah.

Suatu sore aku melihat daster yang dulu penuh tambalan.

Masih disimpan rapi di lemari.

“Kenapa tidak dibuang?”

Salma tersenyum kecil.

“Biar kita ingat.”

“Ingat apa?”

“Ingat bahwa rumah tangga tidak pernah hancur karena kekurangan uang.”

Aku memandangnya.

“Tapi karena salah menempatkan prioritas.”

Aku memeluk istriku erat.

Hari itu aku akhirnya benar-benar mengerti.

Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan.

Namun setelah seorang laki-laki menikah, ada amanah baru yang sama besarnya.

Istri yang mempercayakan hidupnya.

Anak yang menggantungkan masa depannya.

Mereka bukan pilihan kedua.

Mereka adalah keluarga yang Allah titipkan untuk dijaga.

Dan penyesalan terbesar dalam hidupku bukanlah uang jutaan rupiah yang pernah habis sia-sia.

Melainkan waktu bertahun-tahun yang kuhabiskan membuat wanita yang paling setia di sisiku merasa berjuang sendirian.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang